Januari 1973
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Potret Taman untuk Allen Ginsberg


Ia menebak dari warna kulit saya
dan berkata, 'Tuan pasti dari dunia ke-3.'
Lalu ia, dari dunia pertama, mengunyah makan pagi
seraya mengutip Mao Tse-tung
dan sebuah sajak gunung - ramah sekali.

Bisakah ia tidur
sebelum anggur
lalu mungkin mimpi
di lindungan malaikat masehi?

Ia telah jalan dalam angin
dan mengucup es-krim
dan membaca berita di halaman pertama
tentang sebuah perang
di Asia Tenggara

Ia kini duduk bersila
di bangku taman kota praja
mungkin semadi
mungkin aku tidak mengerti
karena ia berkata:
'Di Vietnam tak ada orang mati'
'Tak ada Vietnam dan Orang tak mati.'

Lalu ia mencari kepak burung
ia mencari merpati
ia mencari lambang
ia mencari makna hari.
Ia mencari seakan ia tahu apa yang ia
ingin temukan dan tiba-tiba ia menuliskan:

'Revolusi, Revolusi, Tak bisa Dipesan Hari Ini.'
Lalu ia bangkit ia mual ia mencium
bau biasa dari kakus umum;
ia basah oleh tangis dan ia meludah:
'Kencingilah kaum borjuis!'
Adakah ia Nabi?

Tuhan. Di taman ini orang juga ngelindur
tentang perempuan-perempuan berpupur
dan sebuah mulut berahi kudengar memaki:
'Bangsat, kenapa aku di sini!'
Atau mungkin ia ngelindur tentang sebuah dusun
yang hancur dan sisa infantri dan mayat
dan ulat dan ruh dan matahari?

Aku dengar seorang-orang tua, yang kesal dan
berkata: 'Di sekitar hari Natal, pernah terjadi
hal yang tak masuk akal. Misalnya mereka
membom Hanoi sebelum (bukan sesudah) aku minum
kopi.'

1973
"Puisi: Potret Taman untuk Allen Ginsberg (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Potret Taman untuk Allen Ginsberg
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Barangkali Telah Kuseka Namamu


Barangkali telah kuseka namamu
dengan sol sepatu
Seperti dalam perang yang lalu
kauseka namaku.

Barangkali kau telah menyeka bukan namaku
Barangkali aku telah menyeka bukan namamu
Barangkali kita malah tak pernah di sini
Hanya hutan, jauh di selatan, hujan pagi.


1973
"Puisi: Barangkali Telah Kuseka Namamu (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Barangkali Telah Kuseka Namamu
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Gatoloco


Aku bangun dengan 7.000.000 sistem matahari
bersatu pada suatu pagi

Beri aku es! teriakku,
Tiba-tiba kulihat Kau di sudut itu.

Keringatku tetes, Gusti, apakah yang telah terjadi?
"Tak ada yang terjadi. Aku datang kemari."

Memang kamar seperti dulu kembali.
Kulihat kusam sawang pada kisi-kisi.

Kulihat bekas hangus, tahi tikus.
Kulihat mata kelelawar.

Kulihat puntung separuh terbakar.
Kulihat hitam kayu oleh lampu, dan wajahku
pada kaca almari itu.

Tapi di luar tak ada angin, hanya awan lain.
Tak ada getar, hanya gerak. Tak ada warna,
hanya cahaya. Tak ada kontras, hanya ....

"Jangan cemas," gurau-Mu. "Aku tak 'kan menembakkan pistol
ke pelipismu yang tolol."

Tapi Kau datang kemari untuk menggugatku.
"Jadi kau tahu Aku datang menggugatmu."

Mimpikah aku? Mengapa tak tenang tempurung kepala
oleh celoteh itu?

"Celoteh dan cerewetmu!" Tiba-tiba Kau menudingku.

Sesaat kudengar di luar gerimis kosong, sekejap
lewat bukit yang kosong. Sesaat kudengar suaraku.

Ah, kefasihanku. Tiba-tiba aku membenci itu.
Aku memang telah menyebut nama-Mu.

"Kau tak menyebut nama-Ku, kau menyebut namamu."
Makin suram kini suara-Mu.

Hei, berangkatlah dari sini! Aku tahu ini hanya mimpi!
"Tidak. Ini bukan mimpi."

Kalau begitu inilah upacara-Mu.
"Benar, inilah upacara-Ku."

Ya, barangkali aku telah tak peduli selama ini.
Tapi apakah apakah yang Kau kehendaki? Mengembalikan posisiku
pada debu, kembali?

"Tidak. Tapi pada kolong dan kakerlak, pada kitab
dan kertas-kertas dan kepinding yang mati setiap pagi hari.
Padamu sendiri."
Kini aku tahu. Aku milik-Mu.
"Dan Aku bukan milikmu."

Aku memang bukan santri, bukan pula ahli.
"Mengapa kau kini persoalkan perkara itu lagi?
Kau hanya pandai untuk tak mengerti."

Oke. Kini aku mencoba mengerti. Ternyata Kau tetap
ingin mengekalkan teka-teki dan mengelak dari setiap ujung
argumentasi. Tapi mengapa kau tetap di sini?

"Sebab kulihat matamu basah dan sarat."
Ah, begitukah yang Kau lihat?

Kulihat memang garis-garis yang kuyup bertemu dengan
garis-garis yang kuyup. Butir-butir yang miskin berkeramas
dalam butir-butir yang miskin. Ada garis-garis buram,
seolah kelam terkena oleh bulan.

Dan kurasa angin terjirat. Kudengar hujan yang gagal.
Langit berat. Dan panas lembab dalam ruang yang sengal.

"Agaknya telah sampai kini batasmu."
Aku tahu.

"Artinya dari kamar ini kau tak akan berangkat lagi."
Artinya dari kamar ini mungkin aku tak berangkat lagi.

"Kau tak bisa lagi memamerkan-Ku."
Aku tak bisa lagi memamerkan-Mu.

"Tak bisa berkeliling, seperti penjual obat, seorang pendebat."
Tak bisa lagi berkeliling.

"Tak bisa lagi bersuara tengkar dari seminar ke seminar,
memenangkan-Ku, seperti seorang pengacara. Sebab kau hanya
pengembara, yang menghitung jarak perjalanan, lelah tapi
pongah, dengan karcis dua jurusan."

Sebab aku hanya seorang turis, tak lebih dari itu?
Gusti, beranjaklah dari sini. Telah Kau cemoohkan tangis
pada mataku.


1973
"Puisi: Gatoloco (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Gatoloco
Karya: Goenawan Mohamad