Januari 1990
Kesaksian Bapak Saijah


Ketika mereka bacok leherku,
dan parang menghunjam ke tubuhku
berulang kali,
kemudian mereka rampas kerbauku,
aku agak heran
bahwa tubuhku mengucurkan darah.
Sebetulnya sebelum mereka bunuh
sudah lama aku mati.

Hidup tanpa pilihan
menjadi rakyat Sang Adipati
bagaikan hidup tanpa kesadaran,
sebab kesadaran dianggap tantangan
kekuasaan.

Hidup tanpa daya
sebab daya ditindih ketakutan.
Setiap hari seperti mati berulang kali.
Setiap saat berharap menjadi semut
agar bisa tidak kelihatan.

Sekarang setelah mati
baru aku menyadari
bahwa ketakutan membantu penindasan,
dan sikap tidak berdaya
menyuburkan ketidakadilan.

Aku sesali tatanan hidup
yang mengurung rakyat sehingga tak berdaya.
Meski tahu akan dihukum tanpa dosa,
meski merasa akan dibunuh semena-mena,
sampai saat badan meregang melepas nyawa,
aku tak pernah mengangkat tangan
untuk menangkis atau melawan.
Pikiran dan batin
tidak berani angkat suara
karena tidak punya kata-kata.

Baru sekarang setelah mati
aku sadar ingin bicara
memberikan kesaksian.

O, gunung dan lembah tanah Jawa!
Apakah kamu surga atau kuburan raya?
O, tanah Jawa,
bunda yang bunting senantiasa,
ternyata para putramu
tak mampu membelamu.

O, kali yang membawa kesuburan,
akhirnya samudera menampung air mata.
Panen yang berlimpah setiap tahun
bukanlah rezeki petani yang menanamnya.

O, para Adipati Tanah Jawa!
Tatanan hidup yang kalian tegakkan
ternyata menjadi tatanan kemandulan.
Tatanan yang tak mampu mencerdaskan
bangsa.

Akhirnya kita dijajah oleh Belanda.
Hidup tanpa pilihan
adalah hidup penuh sesalan.
Rasa putus asa
menjadi bara dendam.
Dendam yang tidak berdaya
membusukkan kehidupan.
Apa yang seharusnya diucapkan
tidak menemukan kata-kata.
Apa yang seharusnya dilakukan
tidak mendapat dorongannya.

Kesaksianku ini
kesaksian orang mati
yang terlambat diucapkan.
Hendaknya ia menjadi batu nisan
bagi mayatku yang dianggap hilang
karena ditendang ke dalam jurang.
 

Depok, 17 Januari 1991
"Puisi: Kesaksian Bapak Saijah (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Kesaksian Bapak Saijah
Karya: W.S. Rendra
Der Prozess


Dengan puntung obat nyamuk
ia tuliskan "Hu" pada pintu
Lalu matahari masuk
dan ia membeku

Dan kantor polisi itu sepi
oleh bau orang mati
Dan kertas-kertas sibuk, meski cuma berdiri:
"Tuliskan lagi, tuliskan lagi"

Namanya Sakerah. Umur 35.
Ia tidak mati disiksa. Lihat tandanya.
Bahkan kami sendiri lupa
ada orang dalam sel ke-3.
 
1976
"Puisi: Der Prozess (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Der Prozess
Karya: Goenawan Mohamad
Dalam Kereta


Bukannya aneh, bukannya dalam kereta aku kembali teringat
Apakah karena gemuruh yang melintas di sini.

Aku kembali teringat perjalanan kita yang singkat bukan karena jarak yang dekat
Tapi jarak terlipat oleh keasikan kita yang nikmat.

Tidak seperti biasa, kita begitu menjadi kanak-kanak
Bahkan kadang-kadang norak.

Tak terganggu stasiun berteriak-teriak dan suara kereta yang bergerak-gerak
Bukannya aneh kita menikmati kesendirian dalam keramaian.

Stasiun demi stasiun terlewati tanpa kita sadari
Sampai kita kembali menjadi diri kita lagi.

Kau dimana sekarang sayang
Lalu apa yang ada di sini (dada) yang terus bergemuruh ini.
 
  
"Puisi: Dalam Kereta (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Dalam Kereta
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Kapal Rusak

Gesekan ombak di haluan
adakah pelabuhan akan terjangkau.

Gesekan sebuah jentera
membangun seribu tanya.

Kapal rusak di tengah samudera
dipermainkan ombak semaunya.
  
Tanjungbalai Karimun, 1977
"Puisi: Kapal Rusak (Karya Aldian Aripin)"
Puisi: Kapal Rusak
Karya: Aldian Aripin
Aku Berada Kembali

Aku berada kembali. Banyak yang asing:
air mengalir tukar warna, kapal kapal,
elang-elang
serta mega yang tersandar pada khatulistiwa lain;

rasa laut telah berubah dan 'ku punya wajah
juga disinari matari lain.

Hanya
Kelengangan tinggal tetap saja.
Lebih lengang aku di kelok-kelok jalan;
lebih lengang pula ketika berada antara
yang mengharap dan yang melepas.

Telinga kiri masih terpaling
ditarik gelisah yang sebentar-sebentar
seterang
guruh.

1949
"Puisi: Aku Berada Kembali (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Aku Berada Kembali
Karya: Chairil Anwar
Di Jazirah Burung Hantu
Di Jazirah Burung Hantu selalu datang
ombak yang saling memperebutkan batas
yang kita
tak pernah tahu.

Merambat, melepas
telapak teluk, baris cadas,
dalam suara sibuk
pasang yang menorehkan bekas.

Tapi kali ini balsam hutan memilih warna jintan
di ceruk selatan pelabuhan.
Pesta tengah Mei
setelah unggas tak pergi lagi.

Sementara kau akan dengar juga teriak mercu
menabrak kabut, menyibak gelap,
menggapai
kapal-kapal lunglai,

layar yang tiarap
di sela-sela grimis keras, grimis kerap,
kepada siapa akanan
berhenti membiru, dalam sore yang jadi sembab.

Paginya teluk akan timpas
dan akan pulang, semua pulang,
pemburu-pemburu udang karang
ke pantai yang hanya bekas.

Dan kau bertanya adakah lusa akan kaulihat kembali
perbani, bulan yang jalan seperti gadis peniti tali
dalam sebuah sirkus senja
antara pucuk karang dan pohon elma.

Tapi di Jazirah Burung Hantu, sepi
adalah suara takzim
gumam darun-daun hikori: suara mualim
pada peta navigasi.

Dan kau akan datang ke sana, mengikuti arahnya,
seakan ombak, seakan ombak,
biru, kelabu, selalu -
sebelum pergi.


1990
"Puisi: Di Jazirah Burung Hantu (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Di Jazirah Burung Hantu
Karya: Goenawan Mohamad
Buat H.J. dan P.G.
Seperti sebuah makam yang tenang:
dua leli paskah
disematkan
pada mawar hitam.

Seperti kelebat jam yang datang:
kupu-kupu putih
melenyapkan putih
ke loteng lengang.

Seperti sebuah bel yang riang,
kabar itu datang ke ruang
telah kuketok kawat,
"Bapak, saya agak tiba terlambat."

Maka aku berbisik hati-hati
kepada malaikat yang tiba pagi,
"Hari ini aku
belum ingin mati."

"Sebab anakku
akan terbang kemari
dari rumahnya yang jauh
di sebuah negeri yang teduh."

Lalu kutunjukkan potretmu: 1985
ketika kau senyum
pada stang sepeda
di depan rumpun asalea.

Dan malaikat itu tertawa.

Adakah yang lebih sakral, anakku,
pada potret-potret lama
kecuali tempat yang kita kenal
saat-saat yang tak pernah baka?


1990
"Puisi: Buat H.J. dan P.G. (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Buat H.J. dan P.G.
Karya: Goenawan Mohamad
Nota untuk Umur 49 Tahun


Pasir dalam gelas waktu
menghambur
ke dalam plasmaku.

Lalu di sana tersusun gurun
dan mungkin oase
tempat terakhir burung-burung.


1990
"Puisi: Nota untuk Umur 49 Tahun (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Nota untuk Umur 49 Tahun
Karya: Goenawan Mohamad
Gereja St. Antonius, Solo
Burung Dara Rohul kudus
terbang di tingkap bundar.
Di atas altar.
Ya, Bapa.
Ketika orgel berbunyi
tampak wajah-Mu
di dalam cahaya.
Dan di lantai:
Wajahku yang dina.
Ya, Bapa,
kulihat wajah-Mu
kulihat wajahku
ketika orgel berbunyi
dan dosa bersuara
Burung Dara Rohul kudus
terbang di tingkap bundar
di atas altar.
Ya, Bapa.
Ketika Kau jamah dahiku
gemetarlah aku.
 
 
"Puisi: Gereja St. Antonius, Solo (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Gereja St. Antonius, Solo
Karya: W.S. Rendra
Lonceng-lonceng Berkelenengan

Lonceng-lonceng berkelenengan
di malam yang dingin itu.
Dan sejuta nafiri dari sorga
membangunkan orang-orang lapar
dengan lagu yang ganjil
yang hanya dimengerti
oleh sepi yang ajaib.
Dan gemanya beralun-alun
diiringi suara dunia
yang kurang ajar dan menyenangkan.

Lonceng-lonceng berkelenengan
pada jam duabelas
di tengah malam
Maka, ketika aku tengah ngembara
tanpa uang di dalam saku
Tuhan pun lahir di dalam hatiku.
Engkau lahir
di dalam hatiku yang lalai.
Di sana akan Kau dapati
cendawan dan batu lumutan
serta dibawa hatiku itu
sebuah perut yang selalu bimbang.

Lonceng-lonceng berkelenengan.
Dan kita berjalan
menuju ke tepi kota
yang berudara bau sampah.
Yesus Kecil, tutuplah mata-Mu!
Tidurlah di antara dosa-dosa!
Besok pagi akan kubawa Kau ke kali
menikmati mandi yang merdeka
sambil mendengarkan sumpah serapah orang tani
yang tergencet hidupnya.

Lonceng-lonceng berkelenengan.
Dan kita akan menempuh hidup ini
sambil menebak sebuah teka-teki
ialah: nasib insani.
Yesusku!
Engkau lahir. Engkau manusia.
Engkau Tuhan.
Engkaulah Pembuat Nasib
yang tergantung pada nasib.

Lonceng-lonceng berkelenengan.
Dan waktu akan terbang
melayang-layang.
Kemudian datanglah saat itu
aku akan menyalib-Mu.
Dan Engkau mati
untuk menebusku!

Lonceng-lonceng berkelenengan.
Lonceng-lonceng berkelenengan.
Di dalam hatiku Engkau dilahirkan
dan disalibkan.
 
 
"Puisi: Lonceng-lonceng Berkelenengan (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Lonceng-lonceng Berkelenengan
Karya: W.S. Rendra
Ya, Bapa

Malam begini ia datang: itu, dosa itu, merasuki dada.
Pecah semua. Pecah semua.

Wajah Bapa di pigura, jantung dengan mahkota duri,
lambung yang terbedah, darah kasih yang merah.
Pecah semua. Pecah semua.

Bapa! Cium keningku hitam, tumpangkan satu tangan
kerna aku harus bangun lagi, sendiri dan tatapkan mata.

Atau beri aku peti mati, maha kurban, baptis darah.
Biar sudah tuntas semua.

Tapi seandai Kau beri juga burung pagi di jendela
kukata juga: mau Bapa, punya Bapa.
Lalu kupaksa tautkan urat-urat daging pada tulang.

Lalu cium keningku hitam, tumpangkan satu tangan.

Bapa.

Kerna besok harus bangun lagi, sendiri dan buka mata.
 
 
"Puisi: Ya, Bapa (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Ya, Bapa
Karya: W.S. Rendra