Februari 1990
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ibadah Semak-semak

Kukubur harapan yang koyak, dalam badai
kesunyian batinku. pada sebuah bukit semak-semak 
merimbun. di seberang sungai: ilalang liar dan
gubuk tanpa penghuni.

Aku tafakur: mengeja kata-kata yang meluncur,
dalam doa tak jumpa amin.

Kubuka kitab: kalimat dan bahasa tak bisa dibaca.
kukubur imanku dalam ibadah senyap, berlembar-lembar
madah digumamkan.

Aku ziarah, menatap tubuhku sendiri,
yang beku dicekam sunyi.

"Puisi: Ibadah Semak-semak (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Ibadah Semak-semak
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pengantin yang Terbaring

Kau baringkan diriku di atas tanah. betapa
fana gairah yang meletupkan kebencian. dan
aku mabuk bercumbu dengan pikiran sendiri.

Seperti inikah kenikmatan senggama?
kita tebar ribuan benih yang menjamurkan
kebencian dan kecewa. gemeretak bunyi tulang
yang membajak tanah kering dan batu bebukitan.
kecipak air dalam sungai tanpa arus. tak
ke mana-mana.

Seperti inikah? kaubaringkan diriku di atas
tanah. dan nafasku menyebarkan aroma yang
dihirup para serangga. dan mengembunkan uap
yang menyejuki cacing-cacing tanah dan ulat-ulat.

1993
"Puisi: Pengantin yang Terbaring (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Pengantin yang Terbaring
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Para Penziarah Sejarah

Bunga-bunga berdarah ditaburkan di atas mimpi kematianku.
manusia. segumpal kesamaran tipu daya dan ketelanjangan jiwa.
manusia membukit dalam hutan fatamorgana. bentangan tanah
di bawah putaran musim dan sistem tata surya yang kacau.
belahan-belahan batu gunung mengalirkan sungai warna merah
menuju rumah-rumah belasungkawa. orang-orang berpesta
dengan golok dan pedang di tangan. orang-orang yang meringkuk
di balik kesombongan sejarah yang ditulis di atas lontar terbakar,
menyusun rencana ajal demi ajal dengan pidato suci dalam narasi
kebenaran yang panjang dan memabukkan.

Seorang bayi menunggu ajal ibu yang menyusuri sela-sela tanah pecah.
menyusu peradaban gelap dan mati. seorang bayi sejarah di tumpukan
tubuh-tubuh sepi: bagai rumah jiwa kosong dengan dinding bertempelan
gambar pertumpahan darah dan papan reklame ideologi,
pidato moral dan kobaran perang melawan diri sendiri. manusia ...

Seorang bayi memeluk ajal ibu yang meringkik bagai kuda tunggang
el-maut. terhunus pedang dari susunya yang tak pernah mengalirkan
kehidupan. jutaan bayi lain merangkak menuju kesia-siaan yang gila.
tuhan yang kukenal kucari-cari... tapi aku hanya melihat mereka. manusia.

Melbourne, 2002
"Puisi: Para Penziarah Sejarah (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Para Penziarah Sejarah
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Nikah Maria

Tubuhku masih kusisakan bagi seratus peziarah.
satwa-satwa berlari melawan mata angin.
serangga mendengung dan menggeriap di pusarnya.
tumbuhan mati dan hangus. tak ada lagi
upacara penebusan itu.

Yesus menyalibku di Golgota tua
dan mengubur hatiku di tanah kana'an.
nafsuku padam di Sodom dan Gomora.
cintaku terinjak ribuan musafir di gurun Gobi.

Santa Maria, dekaplah tubuh yang mendidih ini.
jilat dan gigitlah seperti kembara yang haus.
jelajahi tanpa sisa. kulumuri tubuhku
dengan anggur dan darah
bagi dosa yang sesungguhnya. 
lalu, kukecup liang vaginamu yang perawan. 
satu dengusan saja.

Tapi, jangan biarkan jiwaku tua dan padam!

Santa Maria Bunda Allah yang suci.
kubur tubuhku dalam segala ketaksadaran hidup.
agar puisi cintaku legam dan abadi.

Bonn, 2002
"Puisi: Nikah Maria (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Nikah Maria
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kesaksian tentang Topeng

Lela lela Indonesia tak ledhung-ledhung
lela lela hati lara tak ngidung-ngidung
lela lela telah merdeka tak ledhung-ledhung

Langit menjaring
wajah kita yang mengapung
wajah menjadi topeng-topeng tak terasa
kita kaget renggut topeng
tapi topeng menyatu wajah

Inilah wajah baru tanah airku?
Topeng-topeng-topeng
wajah-wajah semakin tak jelas
bencana-bencana dalam bentuk culas

Aku marah jiwa tercacach
langit bagai penuh getah
tanah kelahiran bak cermin pecah
tapi tanah kelahiran tetap dikembangkan

Ada rupa, rupanya topeng
ada suara, suaranya topeng
ada tawa, tawanya topeng
ada gerak, geraknya topeng.

"Puisi: Kesaksian tentang Topeng (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Kesaksian tentang Topeng
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Akhir Sebuah Perjalanan

Gemuruh kereta membawa serta
mimpi, harap, duka, dan penat perempuan lepas baya
tersangkut di sepanjang kilometer Yogya-Jakarta
ketika lembaran koran di mukanya bicara tentang dunia
tapi hatinya bicara tentang diri.

Kabut-kabut terangkat dari bumi
dan matahari belum memberi warna pelangi
di sampingnya masih mengaum garang suara Leo Kristi
tapi tidak tentang cinta pula
manusia-manusia paling dekat dengan kehidupan
namun tentang cinta pada
mereka yang masih dahaga dalam laut kemerdekaan.

Adalah ini ilusi 
adalah ini halusinasi
adalah ini frustasi
tak harus perempuan itu bicara seperti ini
karena dari akhir perjalanan hari ini
masih diulang nanti lagi dan lagi.

Jakarta, 1978
"Puisi: Akhir Sebuah Perjalanan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Akhir Sebuah Perjalanan
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Suara-Suara Pagi Putih Buat Kartini

Ada risik angin di ladang ketika pagi belum datang
dan nafas hangat bocah dusun dalam pelukan
mimpi tentang mandi dengan sabun wangi
dan sarapan pagi yang bukan ubi
sementara perempuan-perempuan ibunya
siap menyalakan api
ada lengkingan di dalam hati:
"datanglah matahari
berikan kehangatan dan harapan hari ini
untuk diriku, untuk anakku, untuk kerabatku
kata orang, Kartini pernah datang untuk kami
kata orang, Kartini juga telah menyalakan api
lantas membakar gelap yang menyelubungi umat
hari ini di pendapa desa konon ada sedikit pesta
dan bu lurah akan bicara tentang Kartini
datanglah matahari
terangi jalan setapak di ujung rumah ini
ke sana pula aku mesti pergi
bukankah aku juga anak Kartini?"
…………………….
Kartini kau dengarlah suara-suara
kala pagi putih di sudut desa
buminya perempuan-perempuan sederhana
yang sampai sekarang masih selalu rindu cahaya.

Jakarta, 1979
"Puisi: Suara-Suara Pagi Putih Buat Kartini (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Suara-Suara Pagi Putih Buat Kartini
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Anak

Berikan nafasmu pada nafasku
berikan darahmu pada darahku
berikan niatmu pada niatku
berikan sucimu pada suciku
maka kembalilah Hawa ke tulang rusuk Adam
maka menyatulah Adam ke pusat benderang
malam menyembunyikan beritanya
adalah sepasang sayap malaikat menyusupkan sukma
dan adalah anakmu anakku, anakku anakmu
penyangga firman abadi.

Lalu batinku
cucu Adam yang bermahkota tabularas
sakitku bahagiaku
sempurnalah benih di ladang iman
sempurna, sempurna, sempurna.

Jakarta, 1980
"Puisi: Anak (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Anak
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak tentang I Mawit

Mungkin saja kau tak lihat sosok bayangannya lelaki tua
pernah kehilangan kemerdekaannya
yang tetes keringatnya dirampas untuk negara
saat luluh penyesalan demi penyesalannya
mungkin saja keluhmu ada dalam keluhnya

I MAWIT tua yang tak sadar akan haknya
insan sederhana yang berucap dengan hatinya 
"saya bodoh, tidak tahu harus berbuat apa"

Bah, cita-cita sederhana 
ternyata tak sejalan dengan tatacara
dan itulah salah
dan itulah pelanggaran
I MAWIT menebusnya masuk lembaga pemasyarakatan.

Hari ini pak tua tak lagi menyapa
matahari yang rindu seribu upacara kampungnya
yang ada hanya resah
"sakitlah bila sakit karunia bagi istriku,
berhentilah sekolah bila jalan tergampang
bagi penghematan keluarga",
dan I MAWIT menatap kosong persada BALI nya
remuk menimbun nasib
makan dan hutang, liar perburuan 
"BATHARA, aku rindu keadilan itu".
tapi itu tak diserukan!

Jakarta, 1980
"Puisi: Sajak tentang I Mawit (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak tentang I Mawit
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Nada Minor

Bernyanyilah para sosiawan
dalam suatu acara penutupan rapat tahunan
lagu tentang keprihatinan
di antara gebyar lampu gemerlapan
nada-nada biarkan lepas mencari cakrawala
merdeka berkabar pada penjaga menara sorga
nada-nada biarkan lepas bersahaja
menyusup di antara pojok kampung dan desa
di sini nyaman AC menghantar kenikmatan
sementara nada-nada berhamburan
bersama riuh tepuk dan arif senyuman
Jembatan semanggi kekar janji tertanam di kakimu
nada-nada mencari ujung pohon angsana
sementara malam berdesah-desah tanpa hirau yang risau.

Jakarta, 1980
"Puisi: Nada Minor  Karya: Diah Hadaning"
Puisi: Nada Minor
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Betal Sebuah Fatal

Matahari hitam
di atas bukit padas
menghantar kota lama
terbenam tuntas
Betal, batu kecil yang hilang

Matahari hitam
meluncur ke dasar waduk
langit pun sepi sendiri
penghuni telah lama pergi
membawa sejumlah hari nanti.

Matahari hitam
menyimpan gaung balada
kenangan sirna
sembunyi yang sempurna
Betal, batu kecil yang hilang.

1981
"Puisi: Betal Sebuah Fatal (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Betal Sebuah Fatal
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Lapar

Kubungkam laparku dengan
mengunyah batu-batumu
melulur tulang-tulangmu
menghisap-hisap deritamu.

Kubungkam dahagaku dengan
meminum ombak-ombakmu
mencucup keluh-keluhmu
mengulum-ngulum tangismu.

Diamku adalah rakusku
diamku adalah bukan suntukku
ketika habis sudah
segala pada dirimu, ibu
ibu dari segala penderitaan
hidup matinya kampung halaman.

Jakarta
Nopember, 1990
"Puisi: Sajak Lapar (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak Lapar
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Cemasku Cemas Jepara Cemas Muria

Kota tua dalam kesiur mahoni
rumah tua dalam kesiur kenari
diam-diam sembunyikan dalam-dalam
cemas langit hujan asam
karena satu siang orang bilang
kota ini daerah bahaya tiga
Jika Muria kehilangan sakral abadi para wali
Jika Muria kerajaan teknologi
sesiapa mengisi lembah kopi
sesiapa menggoresi dada sendiri
wajahku ada di wajahnya.

Bogor
April, 1992
"Puisi: Cemasku Cemas Jepara Cemas Muria (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Cemasku Cemas Jepara Cemas Muria
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mozaik Surabaya

Selamat malam Leo Kristi
perjalanan panjang melayari peradaban
mengayuh harapan-harapan
cita-cita lama suntingan jiwa itu
adakah yang berkerlip di sana
sebutir bintang di langit fajar
sementara hidup kian terpeta dalam mozaik.

Selamat malam Leo Kristi
ketegaran dalam lagu-lagu perjuangan itu
adakah senyum yang mengunci perbincangan
di plaza obor-obor nyala dan padam bergantian
wajah-wajah sahabat jauh di bawah bayangan bulan
di aula tikar plastik lelah digelar
menunggu orang-orang tak henti mencari
Surabaya memang bukan mozaik besar Darmahusada
Kalimas dan Jembatan Merah masih kulihat ramah
sementara perubahan terus membuncah
malam itu Blauran yang kusam
masih menyimpan lirik lagumu.

Surabaya, 1994
"Puisi: Mozaik Surabaya (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Mozaik Surabaya
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Saat Pulang

Seseorang tersesat mencari jalan pulang
karena tak menemukan kembali tanda-tanda alam
pernah direkat dalam kenangan siang malam
rumah di lembah itu benarkah?
jalan menurun itu manakah?
semua jauh berubah
bahkan bayangannya bagai asing meruncing.

Tak nampak lagi di tikungan pohon trembesi
tak nampak lagi wora-wari bang di seberang
rumpun-rumpun telah hilang
dan sungai jernih sewindu lalu
sudahkah raib ke hulu.

Dan akulah seseorang itu
melayang-layang dalam arus waktu
menembus abad sementara otak tersengat
karena kehilangan jalan pulang

yang telah dikemas peradaban
o, tanah kelahiran dalam kenangan panjang
benarkah kau daerah bahaya tiga?
(Jepara yang tua tak menyahut saat kusapa)

Bogor
Mei, 1994
"Puisi: Saat Pulang (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Saat Pulang
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sebuah Ingatan tentang Kemantran

I
Pasti suaranya yang menyusup
celah mahoni di Jalan Manggarai Utara
saudaraku, datang dan lihatlah
kuusung kawasan itu
yang selama ini menyibuki kepalamu
ketika aku membuka pintu
Wijati telah berdiri dalam sengatan matahari
di kedua tangannya
mengepul nasi racik dan teh poci
Kemantran ada di dalam sini
bagi yang lain, jangan habis buat sendiri
aku menerimanya
dan Wijati tersenyum lega
di mataku berkelebatan
orang-orang tercinta tersebar di Nusantara.

II
Kemantran yang selalu muncul dalam ingatan
diam-diam menyeruak dalam impian
barangkali sudah saatnya kita memberi warna
lebih hijau walau hanya dengan kata
aku masih terus memimpikannya
aku masih terus memikirkannya
barangkali akan menjadi sesal
tak segera salami paginya yang kental.

Barangkali akan menjadi luka
jika tak kuketuk-ketuk gapuranya
kubayangkan lelaki sederhana itu berkata dengan repot:
ah, lupakan orang-orang yang ribut di mimbar
yang bicara gagap tentang pembangunan
nikmati saja hari yang hangat
sambil menuang pocimu nikmat

Lalu Kemantran mengambang di udara
dan senyummu bertebaran
(-lho, senyuman kok bertebaran
Jangan begitu ah, bilangnya -
Wijati mengingatkan)

III
Aku telah menyusuri pematangnya yang tersisa
lewat gurat-gurat di wajah Wijati
dan menyeruput aroma teh malamnya yang hangat
saat menyisir malam di motor Nurhidayat
semua telah larut dan mengendap
jika rasa ingin sua tinggal mengaduknya

Kemantran
di sana tak kan pernah kutemukan
perihal ontran-ontran
segala yang buruk telah dikubur di bulakan

(Wijati, Wijati, jalan setapak
jangan kau tinggalkan)

Jika hari ini kau ke depan
jika lusa aku ke depan
jelas bukan karena asap menyan
tapi kerja keras meski jatuh tanpa matras
kita sama-sama merambah belantara
karena ibumu ibuku ya Ibu Bumi
karena bapamu bapaku ya Bapa Angkasa.

Bogor, 1994
"Puisi: Sebuah Ingatan tentang Kemantran (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sebuah Ingatan tentang Kemantran
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Abstraksi Orang Salih

Ketika sungai lupa arah surutnya
ketika hujan lupa bumi tampungnya
ketika rumah lupa pintu-pintu yang terbuka
ketika orang-orang lupa letak mata dan hatinya.

Orang-orang salih
kilau embun yang kau rindu di siang panjang
sementara angina mati dan teknologi merusak janji.

Orang-orang salih
biru gunung yang kau rindu di siang panjang
sementara alam satwa menjauhi manusia

Orang-orang salih
beranda hening yang kau rindu aroma kemuning
sementara gempa porandakan kota-kota.

Ketika sungai lupa
ketika hujan lupa
ketika rumah lupa
orang-orang salih sebutir bintang di langit tuhan.

Bogor
Maret, 1995
"Puisi: Abstraksi Orang Salih (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Abstraksi Orang Salih
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Surat Seorang Anak Pulau

Seorang anak menulis surat kepada
malaikat yang pernah ditemui dalam mimpi
penyelamat pernah diceritakan gurunya yang penyakitan:

Pulau ini kian sepi hari ke hari
sejak guru tambah sakit
segala apa terus membelit
ketika senja hilang nuansa
laut dan ombak tak menyapa
angin mengoyak udara
sekolah kami roboh
sisakan kenangan pahit dan senyum bodoh
anak-anak kembali melaut ikut bapaknya
perempuan merajut jala di teritis rumah.

Guru rindu pulang tanah kelahiran
di daratan, namun tak apa pun dia punya
sesiang aku menangis panjang di sisi baringnya
doa apa lagi harus kulantunkan.

Bogor
Oktober, 1995
"Puisi: Surat Seorang Anak Pulau (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Surat Seorang Anak Pulau
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Prasetia Cucu Ki Suto Legowo

Dia mengaku cucu Ki Suto Legowo
lahir dari perempuan gapura bunda
namanya tersimpan sepanjang kurun
berada di antara ombak-ombak laut
berada di antara kampung tua merah hitam
cintanya tanah merdeka
meski kerap hadir bencana.

Sampai denyut jagad menyatu pada hati 
sampai cakrawala menyatu pada dahi
prasetia cucu Ki Suto Legowo.

Bendera berkibar di mana-mana
dan berkibar di hatinya
janur kuning beruntaian di gapura
dan beruntai di lehernya
mega-mega berlintasan di langit
dan berlintasan di angannya
di depan istana usai upacara bendera
dia melihatmu dan beburung terbang ke matahari.

Bogor, 1995
"Puisi: Prasetia Cucu Ki Suto Legowo (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Prasetia Cucu Ki Suto Legowo
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ekspresi Sunyi Sang Paranggi
Bagi Umbu Landu Paranggi

Melangkah seiring angin sabana
menyusuri ladang kehidupan tak pernah henti
banyak yang dicari dalam hidup ini
tak hanya secangkir kopi
berapa juta langkah harus dihitung
tapi siapa peduli
Malioboro sampai Bali luasnya sepetak hati
menembang malam-malam
tentang bayang kehidupan
hanya maya
hanya nadi
hanya kata
hanya diri
angin bersarang di hutan sisa peradaban
di sekeliling hanya ada gaduh gergaji
selebihnya galau televisi
kidung apa lagi
malam ini
meraja di sanubari
setelah usai meditasi
Sang Paranggi, Paranggi, Paranggi
rembulan purbani memanggili namanya
bunga sukla di pura-pura
mengambar wangi.

Bogor
Maret, 1996
"Puisi: Ekspresi Sunyi Sang Paranggi (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Ekspresi Sunyi Sang Paranggi
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Tikungan

Berjalan menghela langkah
melangkah menghela api
apinya hasrat
apinya jiwa.

Semakin terasa
ada yang tak semestinya
digelar di negeri ini.

Teduh hilang sudah
macan api menghadang
di tikungan.

Sementara ramalan-ramalan
bertebaran di mana-mana
ramalan hidup
ramalan mati.

Gerhana rembulan
bintang kemukus
bahasa alam

Sembunyikan dendam
isyaratkan banjir anyir
sebut Gusti-mu!

Januari, 1998
"Puisi: Di Tikungan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Di Tikungan
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tanda-tanda Zaman

Telah kueja
tanda-tanda zaman
telah kudoa
jangan hilang peradaban.

Kalabendana
itu pembawa petaka
gerhana bulan total
itu celaka bila gagal
gerhana matahari cincin
itu perjuangan jangan bacin
bintang berekor
hokum karma hancurkan pamor
tembang dolanan
itu gambaran keadaan.

Tanda-tanda zaman
peringatan dari Tuhan.

Tanda-tanda zaman
jangan pernah diabaikan.

Agustus, 1998
"Puisi: Tanda-tanda Zaman (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Tanda-tanda Zaman
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Pandan Duri

Menyisir siang di pesisir
pandan duri menulisi pasir
mengubah ha na ca ra ka
pencerahan darah
luruskan sejarah
jangan lupakan garismu itu
pesan gaib
tapak hilang dibasuh ombak
pandan duri menusuki
baringkan janji 
di ombak ini
jangan sampai tersentuh petinggi
pandan duri menari
di bawah sengat matahari.

Parangtritis
Mei, 2000
"Puisi: Sajak Pandan Duri (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak Pandan Duri
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kudus antara Sejarah dan Legenda

Menyisir angin pohonan tua
menghitung jejak abad
yang terbaca
tajuk pengkhianatan
partitur masa silam
sementara bayang menara tak menyapa
saat langkah terhela-hela
lintasi halaman mushola.

Tembang kuusung dari Barat
menjadi serat
kota tua mengulang sejarahnya.

Kerakusanmu di masa lalu itu Penangsang
abadi menjadi sayatan luka
dan matahari warna saga
sempurnakan dendam Ibuku Njeng Ratu
yang menurut keadilan
dikoyak legenda semena-mena
sementara angin berhembus dari Muria
mengirim sisa parijata.

Angin menidurkan kota
orang pun lupa datang lupa dendang
saat sejarah coba kutimang.

Kudus
Mei, 2000
"Puisi: Kudus antara Sejarah dan Legenda (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Kudus antara Sejarah dan Legenda
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Fragmen

Percakapan para pencari makna
menyeruak di antara bintang
meneduhkan malam
sementara di kota raya
anggur tumpah di meja perjamuan
orang memasang topeng sambil bersalam
angin menyabarkan orang di jalan:
biarkan dulu diam-diam bumi sudah menanti
para pencari makna menghentikan percakapan
lalu berdoa dengan lega.

April, 2002
"Puisi: Fragmen (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Fragmen
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Balada Lelaki dari Pulau Muna

Lelaki dari telatah timur
terus memikir
terus berdzikir
siratan gelisah dahsyat dalam jiwa
saat sadari jalan 'nuju ke dunia
: tak bisa direka-reka
semua oleh kehendak-Nya.

Lelaki dari pulau Muna
ada matahari bersinar dalam dada
ada dawai malaikat dalam jiwa
terus melangkah memasuki ruang dan waktu
menghitung jejak tanpa angka
ada tanya tak pernah terjawab
tentang dosa
tentang sorga
tentang neraka
segala berubah ia tahu
tak harus ada target ia tahu
sementara proses jadi bagian dari hidup
gesekan dan benturan
saling menyapa siang dan malam.

Suatu malam kudengar desisnya
di antara desau angin kota budaya
: aku mata air mengalir, menderas
aku tak pernah simpan kitab
kitabku kehidupan guruku alam semesta
kini aku segala bagian getar di udara.


Wisma Seni, Solo
Maret, 2003
"Puisi: Balada Lelaki dari Pulau Muna (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Balada Lelaki dari Pulau Muna
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Membaca Bahasa Makam

Memetik Pesan Muara Tura

Pagi tak pernah hilang mentari
setiap langkah pelan dua perempuan
menapaki jalan menuju makam
Ning dan Ning
mawar merah dalam genggaman
aroma melati dalam jiwa
getar rasa beri salam
getar doa limbang makna
dua perempuan hela kenangan panjang
aksara-aksara itu
pernah diukir jemari seorang lelaki
tentang hidup dan kehidupan
dua perempuan membaca dalam hening.

Sementara bunga ditabur di pusara
sementara embun menetes dari sepasang mata
sementara tembang meneduh dari seruas bibir 
Ning dan Ning
mengeja bahasa gaib.

Selembar daun kabut melayang
bawa pesan ribuan hari tersimpan
tentang setia makna gerak ombak
saat kemarau di muara tua
gurit yang tak pernah tersurat
sarang musim datang dan pergi
dengan bahasanya sendiri
zaman berubah banyak insane hilang arah
banaspati kalabendu berhala dan rangda itu
mengintai melati di kalbu
pelihara bunga nuranimu
angin muara tua sabar kirim pesan
aksara purba sisa peradaban.

Dua perempuan Ning dan Ning
saling mengerti mematri haru di hati
saling cermati pesan gaib si kakang
keindahan pantas dilestarikan
getarnya jadi tembang pesisiran.

Bogor
April, 2004
"Puisi: Membaca Bahasa Makam (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Membaca Bahasa Makam
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Yogya Sebuah Pertanda

Dalam bayang karakter nawa
telah terbaca satu pertanda
raibnya sebuah tiara purba
raibnya nyawa-nyawa
syairmu teronggok di sisa runtuhan rumah tua
lepas fajar di yogya
mencari lembar sejarahmu
untaian merjan bumi Mataram
kidungmu kidung sarira hayu
mantramu sastra binedhakti
caraka balik lumat batu akik
o, wong sidik.

Simak angka-angka biarkan bicara
bulan mei hari kedua puluh tujuh
di tikungan jaman penuh ontran-ontran
tangan gaib gusti pangeran
menepuk bumi kesayangan
saat jiwa rindu kehadiran
sang danyang gaib pulau jawa
sabdo palon menagih janji
bukan dosa bunda pertiwi
jika teraju emasku: seonggok kayu
jika taman sariku: abu
jika rumah tuaku: serpih sembilu.


Teratak Gondosuli,
Juni 2006
"Puisi: Yogya Sebuah Pertanda (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Yogya Sebuah Pertanda
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Buat Kau

Di sinilah hujan itu menggali jurang
yang membuat kau adalah kau
dan aku adalah aku.

Di balik rumpun bunga
mata Sartre tajam padaku.

Sehabis bersetubuh denganmu
sadarlah aku,
bahwa telah kubangun adamu
dan telah kaubangun adaku,

sebab tanpa kau
aku hanyalah batu.

Sesudah itu
kepastian menumbuhkan pohon-pohon berkabut
dan ludahmu yang tak kusengaja tertelan masuk perutku
akan kekal bersama rohku.

1978
"Puisi: Sajak Buat Kau (Karya D. Zawawi Imron)"
Sajak Buat Kau
Karya: D. Zawawi Imron
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Padang Terakhir

Aduh beratnya menunggu dalam debaran!
Mata sunyi kedupan
Tak ada gagak terbang
berkabar tentang kejadian.

Penat kelabu merapuh tulang
Senja pun datang atas nama bulan
Subur sawah dan ladang
Di bawah langit perada emas
Ada gemuruh di kejauhan
adakah lagi kecemasan?

Perempuan-perempuan yang mencium pusar suami
Berita dari padang lalang
Mayang kembali akan diperah
Boleh merambat kacang-kacangan
berbunga kupu-kupu.

Dilepas cerita
Lompat demi lompat
di padang kejantanan
Mekar bunga di sanggul perempuan

Pangeran Wetan tertegun
Telaga bening di palung jiwa
Gua maha gua
Ditatapnya ujung tiang menjunjung bulan
angin perlahan nimbulkan kibaran-kibaran

Hai, benderaku!
Demi makna nyiur melambai
Demi arah duri-duri ujung tangisan!
Jangan sekali-kali engkau berkibar
menantang musuh!

"Puisi: Padang Terakhir (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Padang Terakhir
Karya: D. Zawawi Imron
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Padang Parapat

Raja musuh dari seberang
membangun teratak di Batang-batang
darah rakyat di-pesta-pora
nyawa seharga sampah.

Mentari tampak
Tampaklah Pengeran Wetan
adik kembar Pangeran Lor
Derap kuda, derap hati
menapak bebatu kapur
datang membawa daun nanas bertangkai
Langit matang biru
restu seluruh ibu
sorak berguling di atas dataran.

Gemertak rahang beruang
dalam campuh perang kembang
Bumi yang direngkah kemarau
meminum lahang merah.

Dua pasang mata bertatapan
Kebowaju gemetar,
- Musuh yang mati hidup kembali?

Sekali ayunan tombak
menembus dada bidangnya
Rebah andalan orang seberang
luka tanpa darah
Musuh lari terbirit-birit
Awan yang kocar-kacir
tak tahu tempat menghilir.

"Puisi: Padang Parapat (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Padang Parapat
Karya: D. Zawawi Imron
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bulan Tertusuk Lalang

Bulan rebah
angin lelah di atas kandang.

Cicit-cicit kelelawar
menghimbau di ubun bukit
di mana kelak kujemput anak cucuku
menuntun sapi berpasang-pasang.

Angin termangu di pohon asam
bulan tertusuk lalang.

Tapi malam yang penuh belas kasihan
menerima semesta bayang-bayang
dengan mesra menidurkannya
dalam ranjang-ranjang nyanyian.

1978 
"Puisi: Bulan Tertusuk Lalang (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Bulan Tertusuk Lalang
Karya: D. Zawawi Imron
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Catastrophe

Hun vijver werd moeras,
Rust werd gevaar,
En nymphen zonken
Zwaar toen zij niet
Meer zwemmen konden.

Het bleekgroen riet
Week, door zwart poelgewas
Verstikt en overwoekerd,
Van de verwaasde oev’ren.

Toen enklen boven dreven,
Gezwollen als verworgden,
De heren los,
Doken die overleefden
Dieper in het bos.

Maar steeds naar de ramp getrokken
Zagen zij and’re doden
Die niet verdronken:
Zij die niet vloden

Liggend in 't slib, de voeten
Domplend in drabbig water,
Een prooi voor iedren sater,
Wiens bronst hen komt bezoeken. 


Jakarta, 23 September 1945
"Puisi: Catastrophe (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Catastrophe
Karya: Chairil Anwar
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Aku

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau.

Tak perlu sedu sedan itu.

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang.

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri.

Dan aku akan lebih tidak perduli.

Aku mau hidup seribu tahun lagi.
  
1943
"Puisi: Aku (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Aku
Karya: Chairil Anwar

Puisi Aku ini sering dicari dengan kata kunci:
  • Puisi Chairil Anwar 1000 Tahun Lagi
  • Puisi Chairil Anwar Aku ini Binatang Jalang
  • Puisi Chairil Anwar Aku mau Hidup Seribu Tahun Lagi
  • Puisi Chairil Anwar Binatang Jalang
  • Puisi Chairil Anwar Hidup 1000 Tahun Lagi
  • Puisi Chairil Anwar Hidup Seribu Tahun Lagi
  • Puisi Chairil Anwar Aku Ingin Hidup 1000 Tahun Lagi
  • Puisi Chairil Anwar Aku adalah Binatang Jalang
  • Puisi Chairil Anwar Kalau Sampai Waktuku


Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
R!

Meminta kasih?
Aku tak mau!
Kasih akan kurampas, kurampok!

Jangan percaya mulutku manis!
Semua perkataanku bohong belaka.
Aku ini penipu besar
Penipu engkau, penipu aku.

Aku ini setan dan dewa sekali.
Tempatku surga dan neraka-api!


"Puisi: R! (Karya Amal Hamzah)"
Puisi: R!
Karya: Amal Hamzah
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kesombongan

Wah!
Manusia sombong pernah berkata
"badan kami ini dapat mati
tapi jiwa kami baka selama!"

Aku tiada perduli!

Satu padaku:
hari yang kuhadapi
akan kureguk sepuas-puasnya!


"Puisi: Kesombongan (Karya Amal Hamzah)"
Puisi: Kesombongan
Karya: Amal Hamzah
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Lingkaran Gila

Reni,
Engkau ini terlalu idealistis
ini dunia bukan swarga
seperti engkau mimpikan
dari dinding kamarmu
empat segi.

Aku lecuti engkau
dengan perkataan
pedas, pedas,
aku benci melihat
orang yang mau melambung tinggi
tinggalkan kenyataan:
dunia neraka!

Swarga? Tidak ada!
Juga tidak nirwana
ciptaan sang Buddha!

Ini hidup
perjuangan
antara si lemah
dan si kuat
antara si miskin
dan si kaya!

Kasihan?
Kasihan juga maya!
Kasihan hanya
untuk propaganda.

Kalau kasihan:
angkat orang
yang bergelimpangan
di jalanan
beratus-ratus mati
setiap hari....

Ini dunia racun
Engkau racun
Aku racun
Aku dan engkau sama-sama meracun.

Lalu gila kita meringis:
Inilah bahagia utama ...
(Dalam hati sama-sama kita ogah percaya!)

Reni,
Ini hidup viceuse cirkel
Baik dan buruk
Bertaut mulut
Tidak dapat dipisahkan.

Sebetulnya semua
orang sudah gila
dunia gila
engkau, aku gila
profesor-profesor kita
juga gila
biarpun dia mau mengajarkan kita
filsafat kuno!

Tidak ada harga....

Konsekuensi ini pikiran
bunuh diri
bunuh diri
- kata S. T. A. -
tapi celaka
sampai di sini
aku belum berani!

Masih juga mau
dengar ocehan
dari mulutmu
penuh racun!

Celaka....


"Puisi: Lingkaran Gila (Karya Amal Hamzah)"
Puisi: Lingkaran Gila
Karya: Amal Hamzah