loading...

Membaca Bahasa Makam

Memetik Pesan Muara Tura

Pagi tak pernah hilang mentari
setiap langkah pelan dua perempuan
menapaki jalan menuju makam
Ning dan Ning
mawar merah dalam genggaman
aroma melati dalam jiwa
getar rasa beri salam
getar doa limbang makna
dua perempuan hela kenangan panjang
aksara-aksara itu
pernah diukir jemari seorang lelaki
tentang hidup dan kehidupan
dua perempuan membaca dalam hening.

Sementara bunga ditabur di pusara
sementara embun menetes dari sepasang mata
sementara tembang meneduh dari seruas bibir 
Ning dan Ning
mengeja bahasa gaib.

Selembar daun kabut melayang
bawa pesan ribuan hari tersimpan
tentang setia makna gerak ombak
saat kemarau di muara tua
gurit yang tak pernah tersurat
sarang musim datang dan pergi
dengan bahasanya sendiri
zaman berubah banyak insane hilang arah
banaspati kalabendu berhala dan rangda itu
mengintai melati di kalbu
pelihara bunga nuranimu
angin muara tua sabar kirim pesan
aksara purba sisa peradaban.

Dua perempuan Ning dan Ning
saling mengerti mematri haru di hati
saling cermati pesan gaib si kakang
keindahan pantas dilestarikan
getarnya jadi tembang pesisiran.

Bogor
April, 2004
"Puisi: Membaca Bahasa Makam (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Membaca Bahasa Makam
Karya: Diah Hadaning

Post a Comment

loading...
 
Top