Maret 1990
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sonet 10

Ada selembar kertas yang belum bertulisan.
Apakah kauharapkan aku ke mari seperti semula,
belum penuh dengan coretan?
Ada yang ingin menulis aksara demi aksara
dan tahu tak akan mencapai kalimat meski ada tanda seru
di ujungnya. Tidak semua memerlukan tulisan,
(Apakah aku kaubayangkan selembar kertas itu?)
meski sudah terlanjur tercatat sebelum sempat diucapkan.

Air menyeret catatan berkelok-kelok di sepanjang sungai
bila penghujan. Tetapi sama sekali tak terbaca
bahkan ketika sudah begitu rekah-rekah perangai
kemarau. Tinggal garis-garis yang carut-marut di dasarnya.

Kau mengharapkanku kembali seperti itu? Risaukah kita
ketika menyadari bahwa tulisan tak perlu, ternyata?

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Sonet 10
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Putih

Beribu saat dalam kenangan
surut perlahan
kita dengarkan bumi menerima tanpa mengaduh
sewaktu detik pun jatuh

kita dengar bumi yang tua dalam setia
Kasih tanpa suara
sewaktu bayang-bayang kita memanjang
mengabur batas ruang

kita pun bisu tersekat dalam pesona
sewaktu ia pun memanggil-manggil
sewaktu Kata membuat kita begitu terpencil
di luar cuaca.

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Sajak Putih
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Stasion

Pilar-pilar besi kekal menanti
di sebelahnya: kita yang mempercayai hati
seakan putih semata, senantiasa
seakan detik lupa meloncat tiba-tiba.

Sepi pun lengkap ketika kereta tiba
sebelum siap kita menerima
hari di mana
hari tak ada ketika kita menyusun kata-kata.

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Di Stasion
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Gurun

Perempuan muda yang sangat rupawan turun dari kuda;
seorang lelaki tampan, Jenderal yang sudah menunggunya
itu, menghardiknya.
Dibukanya kerudungnya, ditatapnya sang Perkasa dengan
sepasang mata biji kurma yang masak,
“Siapa pula gerangan yang tak pernah tersesat di gurun?”
Tak terdengar desis ular, memang, kecuali sebutir kurma
sedikit krowak yang jatuh, nyaris tak terdengar, di tepi
luasan pasir yang tak baik jika dibiarkan menyala.
Ucapan perempuan muda yang sangat rupawan itu kekal
terekam di gundukan pasir yang terus bergeser ke sana, ke sini.

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Di Gurun
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak dalam Sembilan Bagian

1
Yang getir tak pernah tertunda:
lanskap dalam darah
gemuruh senantiasa;
lalu ledakan, begitu saja,
ketika pada hari baik bulan baik
ia ditetapkan sebagai musafir.

Anak laki-laki tak berhak menangis,
kata ibunya ketika ia pulang
kalah main gundu. Pagi ini
di depan cermin
dibetulkannya letak dasinya,
dieratkannya agar tidak disindir
sebagai pengemis.
Segeralah berangkat, cermin itu
tak lagi mengenalmu. Getir tak tertunda,
lanskap: di padang pasir
seorang anak laki-laki menangis
ditinggalkan ibunya. Tak ada mata air,
hanya setetes air mata, setetes saja.
Selebihnya: darah yang tetap gemuruh
sehabis ledakan.
2
Segeralah berangkat, Kitab tua itu
telah menjelma cermin retak
dengan pantulan cahaya warna-warni
di sebuah gudang tua. Getir tak tertunda.

Ia tetap membetulkan dasi
di depan cermin – ia tak lagi mengenalmu,
percayalah. Ia menarik napas panjang
dan menghembuskannya, tak didengarnya
suara, gemanya mental di cakrawala
ketika anak laki-laki itu menangis
di gurun, dengan setetes air mata –
setetes saja: tidak diperlukan air di sini,
tidak ada pohonan di sini,
tak ada sepi – kecuali di sela-sela
darah yang menjelma lanskap itu.

3
Kaudengar yang setetes itu? Ia masih
membetulkan ikatan dasinya
di depan cermin. Akan dikatakannya padamu
segala yang akhir-akhir ini
mampat pada pertanyaan. Matahari
pagi membentur sudut-sudut
dan tepi-tepi cermin dengan desah
tertahan. Berangkatlah saja,
jangan menunggu yang lumpuh itu.

Di pinggir lanskap itu disaksikannya
begitu banyak orang mengucapkan selamat
tanpa ia dengar suaranya.
Di pinggir lanskap itu: tangan-tangan dilambaikan,
topi-topi dilepas layaknya ada jenazah lewat
diiringi nyanyian, dilantunkan dari Kitab
yang selama ini masih disimpannya
dalam kenangan. Masih disimpannya:
ia tak berhak melepaskannya.

4
Ia suka menggambar,
ingin merekam laki-laki yang satu itu
tetapi gagal selalu:
di kaca retak yang sering berembun,
di pintu rumah, di buku tulis, di api, di asap,
di tanah yang basah sehabis gerimis,
di udara, di langit yang selalu berombak –
semua sia-sia.

Ia suka membuat patung
ingin membuat patung laki-laki yang satu itu
meskipun akan sia-sia saja –
tapi ia suka merasa bahagia
karena pernah punya keinginan
yang tidak pada tempatnya,
karena setidaknya punya impian
untuk menyandingkan yang di Sorga
dengan yang menyatu dengan Tanah.

Ia suka membayangkan dirinya
dilahirkan di sebuah dipan tua
yang putih, di kamar yang bersih
ketika bintang-bintang muncul
di timur dan segerombol kurcaci
menari-nari dan bernyanyi-nyanyi
mengitari rumahnya malam itu.

5
Ia telah ditetapkan sebagai musafir
dan di tahun Nol harus memulai
perjalanan itu, begitu keluar dari gua
ketika dadanya serasa pecah
oleh desakan kata demi kata
letupan demi letupan yang bergetar
di dua belah benaknya.

Ia sudah ditetapkan sebagai musafir
dan harus berkhotbah
ditemani satu dua tiga sahabatnya
yang dengan cermat mengulang-ulang
yang dengan tepat mencatat
segala yang disampaikannya.

Sekali lagi dikencangkannya
dasinya, ditatapnya sekeping cermin itu.
Lamat-lamat ia dengar
malaikat menyanyi – Bergegaslah, Musafir,
bergegaslah ke kota itu. Sungguh, ia tidak bisa
membayangkan dirinya seorang pedagang
menuntun onta, tidak bisa membayangkan
dirinya dukun yang menghidupkan kembali
orang mati. Ia tetap berada di depan cermin
sambil terus sibuk membetulkan
letak dasinya.

6
Ia menarik lalu menghembuskan napas
lega : bentuk-bentuk asing bergerak ke sana
ke mari dalam lagu yang memampatkan pagi
dan hari pun bergegas seperti ada
yang suaranya melenting di cakrawala,
Berangkatlah segera. Ketika bangun subuh tadi
ia merasa kosong, dan ketika azan bagai buih
ia yakin ada yang mengajaknya bercakap
tentang jiwa yang melenting-lenting
di atas air selokan ketika teman-temannya
melemparkan pecahan demi pecahan genting
di permukaannya. Hari sudah sore, ia harus pulang.

“Pulanglah, tak usah membawa
jiwa apa pun.” Untuk apa pula? Ada alun-alun
di pinggir kampung, mereka berjanji menemuinya
di sana untuk main bola, dan ia suka
meletakkan jiwanya di rumputan yang luas,
tak ingin membawanya pulang kembali.

Alun-alun itu terbentang membelah rumahnya
dan kota yang harus dicapainya.
Pada tahun Nol.

7
Kau capek, tentu, tapi berangkatlah. Ia hanya tahu
inilah jalan itu, yang tidak boleh berujud apa pun
kecuali lurus. Ia meluruskan dasinya,
makin sengit benturan-benturan cahaya
di cermin; dicobanya menemukan jiwa,
yang dulu melenting-lenting di air selokan,
di sela-sela kepingan-kepingan cermin
yang tampaknya tak lagi mengenalnya,
(yang tampaknya tak ingat lagi bayangan
pasukan gajah, onta, dan kuda yang mengepung
kota tua itu.) Berangkatlah. Ia membayangkan
sebuah kota rempah-rempah, bukan gurun.

8
Ia masih saja membetulkan letak dasinya
sambil mengingat sepucuk anak panah
lepas dari busurnya, yang di tengah jalan
masih membayangkan tangan
yang menarik talinya, sesudahnya: kosong –
dan di akhir perjalanan bergetar
di sasaran yang Satu itu, lalu diam. Sempurna.

Cermin tak pernah mengisahkan apa pun
tentang peristiwa itu kepadanya, tidak juga
tentang angin yang terbelah
dan menyiulkan suara, seperti
zikir. Seperti memanggil dirimu sendiri.

9
Ia membetulkan ikatan dasinya. Segeralah.
Subuh tadi ia bangun, merasa
sebuah rusuknya tak ada. Ia cemas kalau-kalau
ada yang mengetuk pintu
dan berkata, “Aku tak mengenalmu.”

Semalam dikunyahnya nama itu
lalu dimuntahkannya di siut dingin
yang lewat bersama gerimis, ia kunyah
lagi nama itu hingga nina bobok jam dinding
mengajaknya menafsirkan dongeng purba
tentang rusuk yang hilang
tentang bayangannya yang suka mengetuk
pintu hanya untuk bilang, “Kau tak mencariku.”

Gelembung sabun itu sangat pelahan naik,
ia di dalamnya, sebagai tokoh rekaan.

Di atas: langit yang suka mencurigai
menatapnya, awan – si pembawa berita,
seekor burung berkendara gelombang udara;
di bawah: rumah itu juga.

Ya, rumah itu juga. Dipincingkannya matanya:
rumah itu juga! Darah itu juga.

Gelembung sabun itu sangat pelahan naik
dan pecah: ia merasa masih berada di dalamnya
sambil mengeratkan ikatan dasi.

Berangkatlah saja. Sejak kapan ia mengenal
cermin yang di depannya itu? Sejak kapan pula
cermin itu tak lagi mengenalnya?
Pada hari baik bulan baik
ia ditetapkan sebagai musafir.

Anak laki-laki itu kalah main gundu.

"Puisi: Sajak dalam Sembilan Bagian (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Sajak dalam Sembilan Bagian
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Batu, Bangka Curut, Selokan: Suatu Sore

1
Kau tak jadi meludah ke selokan ketika kaulihat dekat
batu ada bangkai curut yang kemarin kautendang dari
tengah jalan ke situ. Lalat tampak berkerumun, sesekali
hinggap di batu yang tak kauingat lagi entah sejak kapan
ada tepat di tengah saluran air itu. Kalau nanti hujan turun
air akan menyeret bangkai itu, meskipun tinggal sisa. Kau
tahu pasti batu tidak akan terbawa ke mana-mana dan
ia ikhlas menunggumu lewat setiap hari menyaksikanmu
meludah setelah terdengar batuk-batuk sambil sesekali
mengucapkan beberapa kata atau gumam atau engahan atau
apa. Kau tahu pasti ia mendengar semuanya, mendengarkan
semuanya, moga-moga ia tak pernah memahami maknanya,
katamu kepadaku di sore hari yang menyisakan beberapa
ekor burung berjajar di kabel listrik dan cahaya kemerahan
yang berusaha bertahan di beberapa bubungan rumah.
Moga-moga bangkai curut itu tidak mengganggumu, katamu
– tentunya kepada batu itu.

2
Tidak akan ada yang mengusut hubungan antara
bangkai curut, batu, dan batukmu. Tak juga akan ada yang
peduli bahwa kau tidak jadi meludah ke selokan ketika
melihat ada bangkai itu dekat batu. Selokan tahu kaulah
yang iseng menyepak batu itu masuk ke dalamnya pada
suatu hari, dan kau pula yang menendang bangkai curut
sehingga sedikit menindihnya. Itu pun bukan siasat si
bangkai curut agar merasa ada tempat bersandar sebelum
ia sempurna tiada. Ia tak boleh iri pada batu yang tak akan
terbawa air selokan kalau nanti penghujan tiba. Aku tertawa
kecil, moga-moga kau tak mendengarnya. Aku harap kau
memahami kenapa aku tak jadi meludah tadi, katamu sambil
memandang tajam padaku – tetapi lebih kepada dirimu
sendiri.

3
Kita melangkah pelan di jalan kompleks yang
bermuara di sebuah lapangan bola. Tak terdengar lagi
teriakan anak-anak itu.

"Puisi: Batu, Bangka Curut, Selokan: Suatu Sore (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Batu, Bangka Curut, Selokan: Suatu Sore
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dibawa Gelombang

Alun membawa bidukku perlahan
Dalam kesunyian malam waktu,
Tidak berpawang, tidak berkawan,
Entah kemana aku tak tahu.

Jauh di atas bintang kemilau,
Seperti sudah berabad-abad;
Dengan damai mereka meninjau
Kehidupan bumi, yang kecil amat.

Aku bernyanyi dengan suara
Seperti bisikan angin di daun;
Suaraku hilang dalam udara,
Dalam laut yang beralun-alun,

Alun membawa bidukku perlahan
Dalam kesunyian malam waktu,
Tidak berpawang, tidak berkawan,
Entah kemana aku tak tahu.

"Puisi: Dibawa Gelombang (Karya Sanusi Pane)"
Puisi: Dibawa Gelombang
Karya: Sanusi Pane
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Surah Penghujan
Credo quia absurdum
(Tertullianus)

(Ayat 1)
Musim harus berganti musim; agar langit menjadi biru untuk kemudian kelabu; agar air menguap untuk kemudian membeku; agar pohon tumbuh untuk kemudian rubuh; agar akar menyerap air untuk dikirim ke tunas daun untuk kemudian gugur; agar lebah menyilangkan putik dan benang sari untuk kemudian layu; agar rumput meriap untuk kemudian kering; agar telur menetas dan burung terbang untuk kemudian patah sayapnya; agar hari bergeser dari minggu ke sabtu; agar kau mengingat untuk kemudian melupakan-Ku.

Agar kau tahu bahwa Aku melaksanakan kehendak-Ku.
Agar kau sadar bahwa Aku memenuhi janji-Ku.

Agar kau senantiasa bertanya kenapa musim harus berganti musim; agar langit menjadi biru untuk kemudian kelabu; agar air menguap untuk kemudian membeku; agar pohon tumbuh untuk kemudian roboh; agar akar menyerap air untuk dikirim ke tunas daun untuk kemudian gugur; agar lebah menyilangkan putik dan benang sari untuk kemudian layu; agar rumput meriap untuk kemudian kering; agar telur menetas dan burung terbang untuk kemudian patah sayapnya; agar lahar mengeras menjadi batu; agar kau mengingat untuk kemudian melupakan-Ku.

(Ayat 2)
Agar tidak hanya kemarau yang meretas di tenggorokanmu; agar bergetar sabda air di pita suaramu; agar tidak hanya kemarau yang di tenggorokanmu.

Agar bergetar sabda air di pita suaramu.

(Ayat 3)
Kau menggumam ketika bangun hari ini, Aku mendengarmu bercakap kepada batu itu, yang buta, yang semakin mengeras ketika berusaha menangkap kata-katamu. Aku mendengarmu bercakap kepada batu itu tanpa menggunakan kosa-kata-Ku; ketika hari tiba dan mengambil segala yang kauyakini milikmu; kau memang tak merasa perlu tahu bahwa Aku bukan bagianmu, bukan milikmu, Sayang-Ku kau merindukan kemarau yang setia mengeringkan air matamu; tapi sekarang hanya genangan air melepuh di bawah kulitmu.

(Ayat 4)
Selesailah sudah tugas kemarau dan masih saja kau menolak pemandangan itu: di sebelah sana mulai terdengar ricik air agak ke sana lagi gejolak air lebih ke sana lagi - tetapi aku bukan bagian pemandangan itu katamu. Mulailah tugas penghujan menampar pipimu agar menyadari bahwa kau tak akan terpisah dari air dan tanah. Mulailah tugas penghujan menguliti batok kepalamu dan mengaduk otakmu agar kau menyadari bahwa ada yang telah selesai... bahwa ada yang harus selesai.

Selesailah sudah tugas kemarau tetapi di mana pula aku bisa menghayati air yang dulu menetes dari bulu mataku dan kau mengusap matamu; ketika butir air yang lain jatuh ke kakimu; ketika butir air yang lain ditampung genangan itu; ketika butir air yang lain gaib di selokan itu.

(Ayat 5)
Ketika kau menengadahkan kepalamu kata hangus; Kulihat kau meniti bekas-bekas tapak kaki yang tak sempat dihalau penghujan.

Biarlah kata hangus, bagai pokok kayu yang menjadi arang yang mengingatkanku pada kemarau, katamu - tidak kepada-Ku.

(Ayat 6)
Hari tergelincir di sela-sela jari tanganmu, menetes ke ujung kakimu, tak sempat tercecap lidahmu. Hari menetes-netes dari ujung jari tanganmu, waktu kauraih jaket tua itu, Kudengar helaan napasmu.

Hari tidak pernah menafsirkan dirinya sebagai kemarau atau penghujan, meluncur lewat bulu-bulu pelupuk matamu. Hari tak mengenal segala yang kaubayangkan ketika kau meregang terlepas dari gelepar kemarau. Hari tak pernah membicarakan maksudnya denganmu.

Hari, sayang sekali, hanya mengenal bahasa-Ku.

(Ayat 7)
Kau menyusup ke bawah reruntuk sebuah negeri yang kaukira tak terjangkau maut: lihat, di sini tak ada doa dan harapan yang menjadi becek oleh penghujan, lalu kaupejamkan matamu agar nyala api tetap menerangi tanah bayangan itu - di luar semesta-Ku.

Kau berjalan di reruntuk sebuah negeri matahari dan mengandaikan dirimu tegak menciptakan bayang-bayang panjang.


(Ayat 8)
Tubuhmu menggeliat dalam bau tanah nafasmu; dalam aroma langit pagi yang basah; tubuhmu tidak menggeliat dalam-Ku.

Matamu menerobos jaring penghujan telingamu; dalam risik bumi yang kuyup; rohmu tidak menembus jaring-Ku.

(Ayat 9)
Butir air yang hampir jatuh dari ujung daun tak membayangkan dirinya air matamu; ia pun menetes ke tanah becek - sejak itu kau tak pernah lagi melihatnya; sejak saat itu ia menjadi inti kerinduanmu: semoga nanti ia menjadi awan putih yang suka menghalangi matahari di musim kemarau, ujarmu.

Dan Kusaksikan lautan bergolak dalam manik matamu; tidak menyaksikan-Ku yang sedang menyaksikanmu.

(Ayat 10)
Penghujan menjelma musik tanah menyerbu pori-porimu ketika kau membayangkan suatu hari yang gerah; tanpa sama sekali membayangkan-Ku yang memang tidak sedang membayangkanmu; sebab Aku menyaksikanmu ketika penghujan menjelma musik tanah dan menyerbu pori-pori dan menggelembung di bawah kulit sekujur tubuhmu dan Aku menyaksikanmu bertahan terhadap penghujan yang bertanya kepada tanah basah di mana
gerangan musikmu? Dan Aku menyaksikan tanah basah menumpahkan musik sambil mendengarkan-Ku.

Ada yang bersikeras untuk tidak menjelma Aku.

(Ayat 11)
Kautatap nyala api di tungku: apakah kau akan 
dipadamkan penghujan; 
apakah Kau akan menutup pelupuk mata-Mu dan 
meninggalkanku menggigil, sendiri? A
pi tak pernah berpura-pura bisa menembus kata yang 
diluncurkan penghujan.

Api, seperti ajal, tak ingin padam dan tak hendak 
membakar-Ku.

(Ayat 12)
Penghujan mencari ujung akar dan melesat ke daun-
daun yang mengganggu pandanganmu; 
dan ia terus mencari ujung akar; 
Aku menyaksikannya menaklukkan urat pohon itu dan 
menggoyang-goyangnya dan menekuknya dan 
merubuhkannya dan sesudah itu menatapmu dengan penuh 
kasih sayang dan katanya kenapa kau masih saja 
merindukannya? Dan Aku menyaksikannya menyerbu ke 
dalam kenanganmu yang terletak jauh di lereng kemarau.

Dan Aku menyaksikanmu memegang dada kirimu.

(Ayat 13)
Saat ini Kusaksikan kau menggeliat dan berangkat dan bergumam ini November dan penghujan akan segera memaksaku menyalakan api dan Kusaksikan November menyentuhkan punggung tangannya ke ranting pohon yang kautanam di luar pagar rumahmu dan menjenguk lewat jendela kamarmu yang rendah dan ia tampak gemetar karena rindu yang tak mungkin dipahami siapa pun.

Dan Kusaksikan November menatap-Ku dan tidak tahan menatapmu.

(Ayat 14)
Lorong terendam air semalaman dan Kudengar kau 
tiba-tiba berkata semoga jauh di bawahnya ajal tenggelam dan 
kau merasa puas dengan katamu sendiri dan Kudengar kau 
diam-diam mengutuk musim yang menyebabkanmu selalu 
menggulung ujung celana ketika menyeberang ke sana; 
kaukenakan mantel agar tubuhmu kembali hangat 
tetapi yang merayap adalah geludug dan kilau kilat.

Hujan seperti deretan lilin yang digoyang angin.

Angin tidak pernah terendam air seperti lorong yang 
harus kaulalui setiap kali kau menyeberang hujan.

Nyala lilin seperti hujan.

(Ayat 15)
Dalam kubah yang perak bergema penghujan 
sepanjang lorong kau tak mendengar-Ku dan 
penghujan mendengar-Ku, tidak dalam dirimu 
dari puncak kubah yang perak Aku menyaksikanmu 
menatap penghujan yang bertahan mendengar-Ku.

Di atas kubah yang perak semakin deras penghujan-
Ku.

(Ayat 16)
Kau ingin menyaksikan kertap ujung cahaya 
menembus kabut menyalakan matamu agar bisa 
menyaksikan sebuah negeri yang kauterka abadi dalam 
dirimu.

Kausepakat untuk tinggal di sana agar tak kaudengar 
lagi nyanyian angsa yang serak, tidak untuk-Ku.

Agar tak kaudengar lagi siut kabut yang mengejekmu, 
Pak Tua, apa yang kaudengar dalam hujan? Sambil terus 
menjelma butir-butir air agar nyanyinya mencapai tanah 
basah.

(Ayat 17)
Nasibmu: angkasa basah yang dalam tempatmu 
terkubur - tak perlu kaubayangkan upacara itu; 
kau tidak sekarat hanya sedikit menggigil ketika 
membetulkan letak topimu; 
kau hanya meriang mengenang daun gugur yang 
tersangkut di ranting kering sementara menyiulkan sebuah 
lagu yang dulu pernah diajarkan ibumu; 
kau hanya tak bisa dan tak akan bisa lagi 
menghentikan suara desis helaan napasmu ketika kau 
meriang; ketika kau menggigil.

Dongeng tentangmu datang dari negeri kabut: di 
seberang gunung: di balik mantel tua gemeletuk sendi-sendi 
yang lelah yang urat-uratnya telah putus.

Nasibmu: penghujan yang tak berdaya menghapus 
nyeri tulang-tulangmu.

Dan tak ada lagi daun gugur yang tersangkut ranting 
kering ketika kau membetulkan ikatan tali sepatumu.

(Ayat 18)
Kau memberanikan diri untuk tidak mencari-Ku di 
antara suara-suara yang kaukatakan tak pernah ada; di antara 
gelombang angin yang menjadi merah dalam genggaman 
penghujan yang mungkin mengejekmu Tuan sedang 
mendengarkan apa kalau bukan suara air? Dan Kusaksikan kau 
menyilangkan jari-jarimu; 
dan Kusaksikan kau menyilangkan jari-jarimu; 
dan Kusaksikan kau memberanikan diri untuk tidak 
mencari-Ku di antara helaan nafasmu; 
dan Kusaksikan kau menyilangkan jari-jarimu.

Dan suara air dengan tajam menatapmu; 
dan suara air menunduk sehabis menatap-Ku.

Dan Kusaksikan kau menyilangkan jari-jarimu.

(Ayat 19)
Air hujan menetes di kepalamu ketika Kusaksikan kau 
mondar-mandir di kamarmu yang bocor dan bersikukuh 
untuk tidak mengigau tentang kemarau yang abunya lesap 
di air dan dihela akar pohon yang dulu kautanam di 
pekarangan rumah 
dan Aku mendengarmu.

Jika hari ini harus selesai juga apakah masih ada waktu 
untuk diam-diam masuk ke warung itu pada suatu malam 
kemarau dan menghisap bibir perempuan penjual rokok yang 
menurut ramalan akan tewas di ujung keris sang bupati.

Dan hujan menetes di kepalamu pertanda bahwa kemarau 
yang dulu itu telah menjadi abu.

(Ayat 20)
(Dan kau berdiri di samping tiang listrik yang 
lampunya menyala semalaman 
dan Aku menyaksikan bayang-bayang mendekat 
untuk menjauh lagi dari dirimu 
dan kau ingin melanjutkan perjalanan tetapi bayang-bayang 
itu memaksamu berdiri saja di sebelah tiang listrik 
dan Aku menyaksikan bayang-bayangmu berebut 
dengan bayang-bayang air untuk melekat pada rohmu 
dan tidak pernah ada bayang-bayang-Ku ketika lampu 
tiang listrik menyala semalaman)

Dan tidak pernah ada bayang-bayang lampu itu dalam 
dirimu; 
kau hanya mencintai kemarau sebagai kemarau; kau 
membayangkan kemarau bisa mengeringkan bekas luka-
luka dan kau tidak mencintai penghujan hanya karena suka 
menjelma tanah hanya karena kau tak menginginkannya 
mengaburkan pandanganmu.

Hanya karena kau tak mengharapkan Aku bertaburan 
dalam sukmamu.

(Ayat 21)
Bahkan ketika gerimis bertiup kau merasa gerah dan 
bertanya apakah memang harus ada yang tidak kembali lagi; 
bahkan ketika ada yang mengalir di sela-sela jari 
kakimu kau merasa berada dalam sebutir batu; 
bahkan ketika Kutatap batu itu kau merasa gerah 
berada di dalamnya meskipun gerimis bertiup dan air 
mengalir di sela-sela jari kakimu; 
bahkan ketika batu menatap-Ku kau tetap berusaha 
melepaskan diri dari dalam keheningan sebutir batu.

(Ayat 22)
Dan jauh di dalam pokok pohon pedang yang 
mengkilat menebas luka purba; dan jauh di dalam pokok 
pohon kaudengar suara angin basah yang mendadak 
terbelah pedang; dan jauh di dalam pokok pohon luka 
purba tampak menganga bagai mawar; dan jauh di pokok
pohon yang tiba-tiba bergetar mawar itu ditebas pedang 
yang gerak-geriknya menyilaukan; dan jauh ke dalam pokok 
pohon kau pun terserap; 
dan jauh di dalam pokok pohon Kusaksikan kau 
sesekali menggelepar; 
dan jauh di pokok pohon berkelebat pedang purba itu.

Dan jauh di pokok pohon kau terkesiap melihat 
kilatan luka mawar.

(Ayat 23)
Tanganmu terjulur dan menyentuh tepi penghujan 
ketika kau membayangkan berada di sebuah dermaga: kapal 
itu oleng, merapat padamu - sukmamu menerobos tabir 
yang jatuh di laut 
dermaga sudah sejak lama menunggu: ada yang oleng 
merapat padamu 
hari ini penghujan: titik air bagai tabir kau ingin sekali 
mendengar perintah si kapten tua untuk menunda berlabuh.

Aku menyaksikan pementasan yang sia-sia.

(Ayat 24)
Musim harus berganti musim agar langit bergeser dari 
kelabu ke biru; agar air jadi kabut dan mendaki lereng; agar 
pohon busuk menjadi pupuk pohon yang baru; agar daun 
meneteskan butir embun untuk diserap akar; agar bunga 
layu kembali menguncup menawarkan madu; agar rumput 
menunggu tukang kebun; agar telur menetas dan burung 
terbang dan hari bergeser dan batu berguling ke lembah; 
agar kau melupakan untuk kembali mengingat-Ku 
dan kau menyalakan api.

Dan Aku telah melaksanakan kehendak-Ku.

"Puisi: Surah Penghujan (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Surah Penghujan
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro?

1
Ada berita apa hari ini, Den Sastro? Siapa bertanya? Ada kursi goyang dan koran pagi, di samping kopi. Huruf, seperti biasanya, bertebaran di halaman-halaman di bawah matamu, kau kumpulkan dengan sabar, kausulap menjadi berita. Dingin pagi memungut berita demi berita, menyebarkannya di ruang duduk rumahmu dan meluap sampai ke jalan raya. Ada berita apa hari ini, Den Sastro? Kau masih bergoyang di kursimu antara tidur dan jaga, antara cerita yang menyusuri lorong-lorong otakmu dan berita yang kaukumpulkan dari huruf-huruf yang berserakan itu.

Sudah sejak lama cahaya pagi yang kaki-kakinya telanjang tidak pernah lagi menyapamu Selamat Pagi; ia hanya berjalan-jalan di depan rumahmu, tak dipahaminya timbunan huruf itu. Kausaksikan ia mengangguk kepada setiap orang yang lewat di muka jendela. Aneh, jendela bisa memandang ke luar dan ke dalam sekaligus. Kau tak pernah bisa memandang ke dalam dan hanya bisa melihat huruf-huruf yang susul-menyusul di koran pagi, yang harus kaubujuk terlebih dahulu agar menjadi berita.

Ada berita apa hari ini, Den Sastro? Suara itu lama tidak lagi terasa mengganggu, tidak lagi menimbang-nimbang apa yang seharusnya terjadi, tidak lagi meragukan apa yang telah menjadi berita, tidak lagi memaksamu kembali ke masa ketika kau suka mendengar gerincing uang logam dan seberkas kunci nenekmu.

2
Apakah kenangan bisa begitu saja meninggalkan tubuhku? Ada yang terasa nyeri ketika sesuatu kebetulan kautangkap dalam kenangan, pada suatu pagi yang jeritnya bagai ombak, ketika perempuan itu dulu bertanya padamu tentang segala yang telah kaulalui, tentang bekas-bekas jari tanganmu yang masih bisa terbaca di seluruh tubuhnya. Kau tidak ingat benar apa yang ditanyakannya, apa yang sebenarnya ingin ia dapatkan kembali dirimu. Ia toh sudah menjadi daun penanggalan yang tiap bulan kausobek dan kaucampakkan di tempat sampah.

Apakah kenangan bisa begitu saja meninggalkan tubuhku? Kau benar, ada yang selalu berada di sampingmu ketika kau berjalan sendirian malam-malam, dan tak seorang pun pernah melihatnya, kecuali dirimu sendiri. Dan tak seorang pun percaya kecuali katamu selalu berada di sampingmu itu. Kau memang tak pernah menanyakan siapa gerangan yang tak pernah melepaskanmu sendiri, waktu kau meninggalkan rumah yang jendelanya seharian menyiasatimu. Siapa gerangan?

Apakah kenangan yang selalu basah oleh hujan, yang warnanya seperti kelereng, yang terbang ketika angin turun - tak bisa meninggalkanmu? Apakah masih ada yang berhak berjalan di sampingmu? Setelah kelahiran, hidup.

3
Setelah begitu lama apakah masih ada yang bisa kautanyakan mengenai alun-alun yang penuh teriakan anak-anak, layang-layang yang sambar-menyambar di udara, dan bengawan itu? Mungkin kaubayangkan Sunan Kalijaga yang konon pernah membersihkan tubuh di sana, mungkin kaubayangkan rakit bambu yang dulu selalu membawamu ke seberang sana.

Setelah hidup? Kau menyorot sudut-sudut yang selama ini kaubiarkan tetap gelap dalam benakmu, yang selama ini memperkenalkanmu kepada cuaca buruk dan gerimis yang bulu-bulunya membersihkanmu. Kau juga membayangkan gang-gang buntu dan gapura yang tidak pernah ada penjaga, tapi yang tak pernah bisa kaubuka daunnya. Setelah kelahiran, hidup. Dan yang selalu bersamamu ketika kau berjalan sendirian.

4
Di tengah-tengah berita yang kaureka-reka dari huruf-huruf yang berserakan itu kaudengar ada yang memetik sitar. Dan kau tak pernah mau menerka-nerka, dan kau tak bosan-bosannya mengatakan, Aku tak pernah terlibat dalam musik, dalam bisik-bisik, dalam diam yang tak pernah berhenti mengusikTapi siapa yang memainkannya kalau bukan kau atau yang tak juga bisa meninggalkanmu itu? Angin yang bergeser dari musim ke musim, dari cuaca ke cuaca, tak pernah lupa meletakkan daun tua di tebing sungai. Aku tak pernah mengenal sungai yang di tebingnya terletak daun tua ituTapi siapa pula yang bertanya tentang hal itu? Tampak angin selalu menyibak rambutmu terlebih dahulu sebelum meletakkan daun tua itu di sana.


5
Di jalan depan rumahmu orang-orang lalu-lalang, sendirian atau berpasangan, bergegas atau melenggang; mereka sedang menciptakan segala sesuatu yang kini sudah menjadi karat di urat-urat darahmu. Mereka pura-pura tak mengenalmu, mereka khawatir pada suatu hari nanti akan duduk di kursi goyang, mengumpulkan huruf-huruf agar merasa masih ada di tengah-tengah dunia yang berserakkan di halaman koran pagi. Kau ingin mereka menyapamu, Selamat pagi, Den Sastro. Tetapi hanya terdengar mereka bergumam sendirian atau seperti sibuk bercakap-cakap tentang cuaca.

Kenapa jendela bisa memandang orang-orang yang lalu-lalang dan sekaligus bisa juga memandangku? Kau hanya bisa melakukan perjalanan ulang-alik antara lembaran koran pagi dan teriakan anak-anak yang bermain layang-layang di alun-alun itu. Kau tak bisa berada di kedua tempat itu sekaligus. Kau terkepung huruf dan tak bisa mendengarkan suara-suara itu. Apa gerangan makna yel, api, sidang, dan rapat itu bagiku?

6
Kursi itu bergoyang, ke sana ke mari. Kau tampak tak peduli meskipun sayang padanya. Ia belum pernah berbicara denganmu, belum pernah menanyakan kenapa ini terjadi kenapa itu tidak juga pernah terjadi di ruangan itu. Ia juga tidak pernah memasalahkan dunia yang semakin terjepit di antara huruf-huruf koran pagi itu, yang kadang terbakar di bawah matamu. Kau pun hanya menyandarkan tubuhmu dan sedikit menggoyangnya, selebihnya suara-suara kereot yang setia mendengarkanmu berbicara sendiri, yang setia menyaksikanmu diam-diam keluar dari jendela yang bisa sekaligus memandang ke luar dan ke dalam itu.

Norman, remaja 16 tahun itu, tewas akibat dua luka tusukan senjata yang menghunjam di bagian pinggang belakang dan sampingnya, dari salah seorang pengeroyoknya. Dokter menduga tusukan itu mengenai organ tubuh penting. Nyawa remaja yang... Kau pun memproses larik-larik itu agar menjelma rangkaian manik-manik yang ketika kau remaja sering kaulihat melingkar di leher perempuan itu. Tewas, senjata, menghunjam, dokter adalah manik-manik itu, yang jika dikenakan seorang perempuan, misalnya ibu Norman, akan berubah menjadi ombak laut yang tak habis-habisnya menampar pantai yang tak lagi ditumbuhi bakau itu. Ke mana lagi bersarang burung-burung itu? Seperti kaudengar tuduhan koran pagi itu.

Tapi kau dikutuk untuk hanya bisa menyaksikan yang di seberang jendela, dunia asing yang ditawarkan serakan huruf di koran pagi, yang bergoyang bersamamu di atas kursi. Kau tak berhak menyaksikan apa yang seharusnya tidak terjadi, apa yang - menurut perkiraanmu - hanya bisa bergerak di halaman-halaman cerita yang kadang-kadang kaubaca ketika hari menjelang magrib, yakni ketika kursi masih bergoyang bersamamu. Mungkin memang sudah waktunya kau bergoyang antara berita dan cerita, semesta yang disusun dengan huruf-huruf yang itu juga. Mungkin memang sudah waktunya kau tidak boleh lagi merisaukan apa bedanya. Norman tewas saat berjoget dangdut. Anak-anak yang main bola di alun-alun itu mendadak bubar ketika tampak ada layang-layang putus. Adegan memilukan antara ibu dan anak itu terjadi di Ruang Gawat Darurat.

7
Seorang anak berteriak-teriak, memetik kembang sepatu di luar pagar rumahmu, menendang-nendang kerikil ke arah selokan. Jendela yang bisa melihat ke luar tampak bahagia karenanya. Si anak, kembang sepatu, kerikil, dan selokan menggoda abang sayur yang menikmati tawar-menawar dengan ibu-ibu muda. Jendela yang setiap pagi kaubuka pelupuknya itu suka menjadi gemas, tapi segera diredakan cahaya pagi.

Beberapa laki-laki dan perempuan bergerombol di pertigaan menunggu bis jemputan. Kauharapkan suara mereka menjelma huruf-huruf yang baru saja kauatur di halaman koran pagi. Jendela suka merindukan mereka jika malam tiba dan kaututup sepasang pelupuknya. Tapi ia tidak pernah bermimpi. Ia hanya rindu sebab memang mencintai semua itu, meskipun mereka menoleh pun tidak padanya, juga padamu.

Ada berita apa hari ini, Den Sastro? Sudah berserakan lagi huruf-huruf yang bersikeras tidak mau kembali ke suara itu, yang tidak mau menyatu dengan teriakan, gurauan, dan percakapan itu. Yang tidak bisa lagi dicongkel dari halaman koran pagi. Kau membujuknya satu demi satu agar bisa kaupahami kehendaknya, agar bisa kaupahami amanatnya, agar bisa kauhayati yel-yel, debat dalam rapat, suara senapan - yang tidak mungkin kembali ke rangkaian bunyi karena sudah terlanjur terkubur dalam timbunan huruf di koran pagi.

8
Ketika anak-anak sudah lewat, ketika tukang sayur sudah pergi, ketika bis jemputan sudah berlalu, kau membetulkan letak kacamatamu dan mencoba menatap bingkai jendela kamarmu. Ia menatapmu kembali dan mengembalikanmu pada semua kamar yang murah sudah penuh terisi pasien, kata ibu anak itu di kamar mayat.

Kau tak pernah mau menyadari bahwa yang tak pernah kaudengar bisa membatu dalam huruf. Bahwa yang tidak terjangkau inderamu bisa membusuk dalam berita, bahwa akhirnya semua itu hanya merupakan deretan huruf panjang yang tidak mungkin tertangkap dalam buku-buku tebal yang sering berserakkan di kamar tidurmu.

Pagi ini, yang kebetulan adalah ulang tahunmu, kau ingin sekali berjalan seperti kaki-kaki cahaya yang telanjang dan bergerak dari bunga ke daun lalu tergelincir di jalan. Tidak ada yang mengingatnya lagi, tidak ada yang memberimu ucapan selamat dan menyanyikan Panjang umurnya, panjang umurnya; kau pun tidak. Yang masih sisa adalah suara bakiak almarhum nenekmu yang gerincing seikat kunci lemarinya menandakan bahwa ia masih akan menyanyikan buatmu, Paman yang memandikan kuda... yang masih suka kaurindukan meskipun waktu itu kau tak membayangkan wajah Bawang Putih yang tersirap ketika ditatap sang pangeran.

Pernahkah kau ingin menyusup ke dalam dongeng dan berperan sebagai pangeran? Pernahkah kau tahu bahwa ketika mendongeng, nenekmu membayangkanmu sebagai pangeran? Pagi ini bisa saja tidak ada berita, bisa saja tidak ada yang bisa dengan hati-hati dicongkel dari karang huruf itu. Padahal ada yang ingin kautanyakan kepada nenekmu yang sudah meninggal itu. Ini dongeng, Nek?

9
Tiba-tiba suara ribut di benakmu. Sejumlah orang memestakan hari pensiunmu, mengucapkan selamat kepadamu. Minuman, makanan, nyanyian - seolah-olah selesailah sudah tugasmu. Seolah-olah sekarang inilah saatnya kaupadamkan inderamu. Mereka pasti tidak membayangkan bahwa mendadak semerbak, dan tidak akan bisa kautolak, bau wangi ketika kau pertama kali mencium perempuan itu di dalam becak, ketika malam-malam mengantarkannya pulang; ketika memeluknya di ruang kuliah yang kosong; ketika untuk pertama kalinya kaudengar jeritnya di hotel murahan itu. Raden Panji, akulah sarung bagi keris yang gemetar di tangan itu. Kau bukan pangeran yang dipaksa mencintai perempuan dengan sebilah keris, bukan pengeran yang kemudian tertelungkup di hadapan Angreni. Perempuan itu menjelma mawar. Dan mawar di halaman depan rumahmu disentuh kaki-kaki matahari ketika kau bangkit dari kursi goyang.

Kursi itu tetap saja bergoyang ketika kau bangkit mendekat ke jendela; ia tetap saja bergoyang ketika kau membuka pintu untuk keluar ke dunia yang tak pernah memercik di
halaman koran. Kau berdiri di ambangnya. Kursi itu tetap saja bergoyang-goyang; kursi itu melihatmu bergoyang-goyang. Mati: tidur; tidur: mungkin bermimpi. Kau pun membayangkan dirimu pangeran yang lain dari yang dulu dibayangkan nenekmu tentangmu.
"Puisi: Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro? (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro?
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tiga Percakapan Telepon


(1)

"Jadi kau tak akan kembali?
Kenapa tidak dulu-dulu kau bilang
bahwa kau....?"

"Aku capek."

"akan meninggalkanku,
karena aku tak mampu
memberimu..."

"Aku bosan."

"anak. Jadi kau tak akan
kembali? Rumah kita
akan menjelma..."

"Aku kecewa."

"kuburan. Kau akan kutanam
di sudut selatan
pekarangan..."

"Aku benci."

"di tempat kita biasanya
menguburkan tikus
yang tak habis..."

"Aku..."

"dimakan kucing
kesayanganmu."



(2)

"Suaramu tak begitu jelas!"

(Deru sepeda motor,
suara kereta listrik,
orang-orang...)

"Di mana kau?"

(mobil yang knalpotnya dicopot,
teriak tukang roti,
anak-anak ribut...)

"Pakai telpon umum, ya?"

(seperti isak tangis,
seperti tetesan air
dari atap yang bocor...)

"Kau mau bilang apa?"

(seperti lolong anjing
yang sepanjang malam
terbawa angin...)

"kau main-main, ya?"

(seperti suara kucing
yang terlindas mobil
ketika menyeberang jalan...)

"Suaramu tak begitu jelas!"



(3)

"Ya, lantas?"

"Ya dibawa polisi. Itu lho,
waktu ada bakar-bakaran."

"Oke, lantas?"

"Kau tahu, Amin kerja di restoran
yang dibakar orang kampung;
ia membawa pulang beberapa panci."

"Lantas?"

"Ya itu, ia dijemput polisi.
Katanya ikut njarah."

"Lantas, kenapa nelpon?"

"Ya itu, adiknya bunting.
Tidak mau ngaku siapa.
Kepala sekolah bilang,
Bu, gadis hamil tidak pantas
mengikuti pelajaran. Maaf, anak Ibu
pindah sekolah saja –
kalau ada yang mau menerima.
Begitu katanya.
Ya, Wati sekarang di rumah,
tak sekolah."

"Tapi, untuk apa kau nelpon?"

"Ya itu, suamiku kena PHK.
Taukenya lari menyelamatkan diri.
Katanya, Di sini kagak aman,
usaha di tempat lain aja."

"Memangnya kenapa?"

"Ya bagaimana?
Apa yang harus ku-&^#*(0&8%)?"

"Apa?"

"*&^*%2-5=!"

"Halo! Narti! Halo!
Apa yang bisa kukerjakan
untuk menolongmu?"

"&*^%$*&*klk!"

"Halo! Halo! Jangan!"

"Puisi: Tiga Percakapan Telepon (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Tiga Percakapan Telepon
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak

“Biar kunyalakan lampu, agar tampak jelas
di mana pintu, tempat aku bebas keluar masuk.
Aku laki-laki, kau tahu, tak tenteram dalam gelap.”

Perempuan itu diam; mungkin ia lebih suka
menebak-nebak saja apakah yang nafasnya sengit
dan keringatnya anyir itu Arjuna atau Rahwana.

"Puisi: Sajak (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Sajak
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Layang-layang

Layang-layang barulah layang-layang
jika ada angin memainkannya.
Sementara terikat pada benang panjang,
ia tak boleh diam - menggeleng ke kiri ke kanan, menukik,
menyambar, atau menghindar dari layang-layang lain.

Sejak membuatnya dari kertas tipis 
dan potongan 
bambu,
anak-anak itu telah menjanjikan pertemuannya dengan 
angin.
“Kita akan panggil angin Barat, bukan badai atau petir.
Kita akan minta kambing mengembik, kuda meringkik,
dan sapi melenguh agar angin meniupkan gerak-gerikmu,
mengatur tegang-kendurnya benang itu.”

Sejak itu 
ia tak habis-habisnya mengagumi angin,
terutama ketika 
siang 
melandai
dan aroma sore tercium di atas kota kecil itu.

Dari angkasa disaksikannya kelak-kelok anak sungai,
pohon-pohon jambu, asam jawa, bunga sepatu, lammtarra,
gang-gang kecil, orang-orang menimba di sumur tua,
dan satu-dua sepeda melintas di jalan raya.

Ia suka gemas pada angin.
Ia telah menghayati sentuhan, 
terpaan, dan bantingannya;
mungkin itu tanda 
bahwa ia telah mencintainya.
Ia barulah layang-layang
jika 
melayang, meski tak berhak membayangkan wajah angin.

"Puisi: Layang-layang (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Layang-layang
Karya: Sapardi Djoko Damono