April 1990
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Elbe

Pernah Elbe muda
mandi darah
oleh batu arang
untuk perang

Kini Elbe cerlang hitam
oleh batu arang
untuk kamar yang dipanaskan
kopi pagi atau sebentar koran.

Bastei
1 Juni 1959
"Agam Wispi"
Puisi: Elbe
Karya: Agam Wispi
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Musik Lantai 16

Aku memasuki tubuhmu dan kini aku berada di luar dirimu. Masih ingatkah denyut jantung di sebuah sofa? Karpet merah yang menghisap lantai. Semua yang belum tertata dari mimpi-mimpimu menari bersamaku. Tarian tentang angsa-angsa yang tersesat di atas karpet merah. Membuat perbedaan antara puisi dan suara penghisap udara kotor, antara ledakan sebuah pelukan dan koper yang menginap di lantai 16 sebuah hotel.

Aku keluar dari tubuhmu dan kini aku berada dalam dirimu. Masih ingatkah tentang lidah yang terantai dalam mulut. Senda-gurau antara koper dan puisi, antara gigi dan daging yang tersayat, sebuah orgasme yang membuat seluruh bahasa manusia terdiam. Seseorang berkulit hitam dan putih mamasak mie rebus di dapur yang sedang naik ke lantai 16 sebuah hotel. Terus naik membangun hotel yang lain, lebih tinggi dari wajahmu yang terus tengadah untuk menatap kegelapan. Aku, adalah kekasih yang selalu mengosongkan koper dalam vaginamu.


"Afrizal Malna"
Puisi: Musik Lantai 16
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mata Bachri

Hari semakin tua, Bachri. Kambing telah mewarnai pakaian 
kita. Mau kau jadikan laut mati berdebur di antara kegigilan 
rumput-rumput. Mabukmu tak juga menyimpan maut jadi 
tenang dalam sajak. Tak bisa bercakap matahari tak bisa 
bercakap Tuhan. Bau alkohol telah melukai langit, Bachri. S
ampai ke kubur menulis-nulis manusia. Membuka buku 
sajak yang perih membuka pintu yang perih. Segalanya 
dalam derit tawa, Bachri. Dunia hanyalah pengejaran untuk 
mati di antara rumput yang terus berkibar.

Mabukmu membawa penyair kepada keperihan kamus-
kamus, Bachri. Kepada siapa mengajari Tuhan kepada siapa 
mengajari bintang-bintang. Langit menurunkan mataharimu 
setangga-tangga. Dan tanah terus berkibar menyimpan 
hidup dalam rahasia-rahasia.

Di kubur mabuk, lonceng oleng, kita hanya barisan kata-
kata, Bachri. Siapkan rumput di padang-padang telanjang. A
ku pinjamkan sebait Tuhan untukmu.

1983
"Afrizal Malna"
Puisi: Mata Bachri
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Seorang Lelaki di Benteng Fort Rotterdam

Saya temui lelaki itu, sisa-sisa tubuh sebuah koloni di bangunan tua lantai atas, Benteng Fort Rotterdam. Ia seperti hempasan ombak Pantai Losari, membuat bantal tidur saya berkeringat di malam hari. Udara laut membuat sebuah lubang di pintu, lalu bercerita tentang hantu-hantu tentara berbaris, jeritan perempuan dari sumur tua, dan biskuit di piring seketika habis oleh kerubungan semut merah.

Benteng Fort Rotterdam jadi bulu kudukku yang berdiri, di antara bangunan tua tempat anak-anak kursus bahasa Inggris. Mereka tak mengenalnya: seorang lelaki memancang tubuhnya pada tembok-tembok Benteng Somba Opu, dari serangan meriam Kompeni yang mengepungnya dari laut. Saya merasa sendiri dengan sepatu buatan Jerman di kaki saya, bersama udara laut yang tak henti mengirim garam halus di bibir saya. Kisah itu membuat batu berjatuhan pada kalimat-kalimatnya. Keras. Urat di tangan menutup malam.

Siang hari, peperangan dengan Kompeni berlangsung kembali, dengan kursus-kursus bahasa Inggris, musik-musik metal dalam kendaraan-kendaraan umum, film-film Amerika di TV, anggaran belanja daerah ....

Ram, sahabatku, aku tinggalkan seorang lelaki di lantai atas bangunan tua itu. Mengucur hingga tempat tidur ibumu.

1994
"Afrizal Malna"
Puisi: Seorang Lelaki di Benteng Fort Rotterdam
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mikropon yang Pecah

Mereka pernah keluar dari kota kecil itu, sebuah pengeras suara dengan pendengar yang sunyi. Setelah itu mereka tak pernah kembali lagi.  Kota kecil itu kini jadi kata tanpa penghuni. Hujan dan malam sering mengunjunginya, dengan baris-baris puisi menggenang.

Tetapi mikropon yang pecah, melahirkan pengucapan 1 CM gemetar membaca dirimu.  Orang mengatakan bahasa jadi yatim piatu di kota kecil itu. Setelah itu hujan dan malam tak henti-hentinya turun di hatimu, ketika orang berkata hanya melalui jemarinya yang gemetar. Tetapi mikropon tak pernah mengenalmu, di kota mana pun. Lalu hujan dan malam mulai berpisah dari kenangan, jadi kata tanpa kabar.

Engkau masih percaya juga,
puisi di luar sejarah membaca?

Kota hujan dan malam itu kini jadi benda-benda pada tanganmu penuh cerita. Mereka ingin berada di situ, tak ingin jadi siapa pun. Mikropon yang pecah telah mengunjungi kota-kota, seperti pembicara 1 CM di lehermu. Tak ada lagi kata yang bisa mengganti dirimu di situ. Mikropon pecah kemudian menyemburkan pembaca, di antara pengeras suara, 1 CM yang lalu, memisahkan kata dari kenangan.

1989
"Afrizal Malna"
Puisi: Mikropon yang Pecah
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Buat Lina Sagaral Reyes

Peluru yang ditembakkan ke udara
Adalah nasibmu:
Sebuah air mancur, sumber kata yang jernih
Di antara batu hitam, akar pohon dan retakan tanah
Matahari tercipta dari kemurnian kata
Airmata langit mengkristal pada puncak
Enerji kata. Sebuah bendungan tebal yang retak
Gunung berapi yang ingin meledakkan diri
Tapi sungai telah mengirimkan suaramu
Ke muara-muara sunyi yang jauh
Kata-katamu akan mengeras
Seperti ombak
Yang digarami waktu

Di lembah-lembah negerimu yang perawan
Langit menanggalkan jubahnya
Kucium wangi humus dan bau lumpur
Kubayangkan bunga-bunga rumput yang keemasan
Tapi siapa gerangan pemilik tanah
Luas ini? Tak kutemui seorang pun di sini
Hanya danau menggenang:
Pulau kecil, angsa-angsa putih, sebuah perahu
Air hijau dengan riak-riaknya yang sopan
Tak ada bunyi kodok atau denting piano
Yang ada hanya kau, Lina, dengan sebutir peluru di dada
Menghirup napas air, ganggang dan dingin batu

Tapi siapakah yang menguasai seluruh tanah dan air
Tak bernama ini? Tak kudengar suara pidato
Juga tak kulihat iring-iringan panjang
Para serdadu datang dan pergi seperti malam hari
Perang besar atau perang kecil, puing-puing, mayat-mayat
Sebuah gempa dahsyat akan menyelesaikan semuanya:
Di belantara negerimu yang kini terbakar
Kuda-kuda liar tak lagi berpacu
Anjing-anjing hutan tertidur
Pohon-pohon menundukkan kepala
Seorang lelaki kuning di atas bukit karang
Suaranya melengking seperti kesepianmu
Yang diberondong seribu peluru.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Buat Lina Sagaral Reyes
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dalam Gereja Munster

Pintu tebal gereja Munster, melepaskan tubuhnya di 
tepi Sungai Rhein, di Basel. Tiang-tiang meninggi, 
membuat malamnya sendiri. Kursi-kursi dingin, 
membuat ruangnya sendiri juga. Bukankah telah aku 
tinggalkan rasa dingin itu, di Schilthorn, bentangan salju 
di puncak-puncak air terjun, menurunkan sebuah kota 
dari gumpalan-gumpalan es. Langit putih kelabu telah 
disalibkan dalam gereja tua itu, lenganku terguncang. 
Aku tersedu, bertamu padamu.

Masih ada donat di tangannya, jari letih ungu, dan 
peta lipat  menjatuhkan batu-batu. Temanku hilang 
dalam kesedihan: Selamatkanlah mereka yang bercinta, 
katanya. Lalu aku sentuh, bahunya jadi tembok sunyi 
bertuliskan: “Amis raus! - Pergi orang-orang Amerika!” 
dengan huruf-huruf gemetar, di gereja St Marien. Aku 
tunggu lagi dia, di stasiun bawah tanah. Tubuhnya hotel 
yang sepi, poster, dan orang-orang bergegas ...

Kereta telah disalibkan dalam gereja tua itu, berderak 
lagi. Membawa remaja-remaja bercumbu, dan hari esok 
putih menggumpal. Aku tersedu. Lonceng-lonceng gereja 
berdentangan lagi memanggilmu.

Sejak paskah itu, aku tahu, kita tak perlu bertemu lagi ... 
Kursi telah malam. Piring telah malam juga.

1993
"Afrizal Malna"
Puisi: Dalam Gereja Munster
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Chanel OO

Permisi,
saya sedang bunuh diri sebentar,
Bunga dan bensin di halaman

Teruslah mengaji,
dalam televisi berwarna itu,
dada.

1983
"Afrizal Malna"
Puisi: Chanel OO
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Penyengat

Namamu yang terpahat pada marmar hitam
Huruf-hurufnya kembali kueja.
Sebuah kaligrafi tua
Samar-samar tak terbaca.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Penyengat
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Leiden

Aku tiba di sini
Di antara kata-kata liar
Buruanku. Sebuah lonceng besar
Melayang-layang di udara
Sedang di jalan-jalan sempit kota ini
Kudengar ambulan-ambulan mengerang
Lalu ingatanku melompati sebuah menara
Yang menjulang. Gedung-gedung gemetar
Kanal-kanal menggigil
Perahu-perahu merapatkan diri
Ke teras sebuah kastil:
Kebisuan adalah bahasa lain
Seperti juga puing-puing
Atau kincir angin
Pada musim terakhir

Kuikuti cahaya biru yang berkelebat
Kusebar harum gandum sepanjang kaki lima
Kupilih anggur ketimbang mendung atau gerimis
Sebuah kota nampak tengah bersujud seperti arca
Tapi tidak menangis. Aku membaca rajah
Menggumamkan mantera-mantera
Yang terpahat pada retakan-retakan tanah
Kudengar suara lonceng masih melayang-layang
Di udara. Sedang di ranting-ranting linden
Juga di pokok-pokok hitam pinus tua
Angin seperti kehilangan desirnya
Dalam gerak waktu. Sebuah isyarat luka
Bayang-bayang yang menjatuhkan diri
Di atas reruntuhan senja.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Leiden
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Corso Garibaldi 138, Perugia

Pergantian siang dan malam
Pertukaran musim demi musim
Seperti sebuah cermin besar
Yang menelanjangiku. Aku hanya bergeser
Dari teriakan ke teriakan
Dari kebisuan ke kebisuan. Langit yang kelabu
Pendaran lampu-lampu di atas kota
Seakan tertuju pada kesendirianku
Di antara kanvas-kanvas kosong, sajak-sajak cengeng
Selimut kusut dan tumpukan pakaian kotor -
Sebenarnya cukup tebal mantel yang membungkusku
(Begitu juga anggur yang mengaliri tenggorokanku)
Tapi kesepian tak bisa disembunyikan

Chairil, kamar ini mengingatkanku padamu
Sebuah kotak segi empat
(Tentu saja tanpa kulkas dan televisi)
Sepanjang malam kudengar dengus gedung-gedung
Terengah seperti air sungai memanjati bukit
Sisa cahaya di langit dipadamkan kabut tebal
Tinggallah gumpalan-gumpalan gelap yang kehijauan
Seperti tumpukan batu-batu. Darahku teramat dingin
Tak bisa meraba terang atau gelap lagi
Tapi pikiranmu tiba-tiba hadir dan berserakan di sini
Seperti anggur yang pecah botolnya -
Kesepian melukai tenggorokanku

Pergantian musim demi musim
Kaset-kaset lama yang menjengkelkan
Kanvas-kanvas tetap kosong
Kopor, sepatu, celana dalam dan buku-buku
Bertumpuk. Aku hanya bergeser dari teriakan ke teriakan
Dari kebisuan ke kebisuan. Orang-orang lewat
Koran-koran tak terbaca. Siang dan malam terus berputar
Seluruh langit menjadi cermin yang bergoyang
Dan aku di antara gambar-gambar telanjang
Sendiri. Kamar ini mengingatkanku padamu -
Sebuah dunia tanpa pintu dan jendela


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Corso Garibaldi 138, Perugia
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Nakal

Doa-doaku
Menyelinap ke dalam
Kutangmu. Seperti tangan

Tanganku
Nakal
Seperti doa

Meremas payudaramu
Di sorga.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Sajak Nakal
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Nothing Like The Sun

Wajah molek rembulan kuciumi di ujung mabukku
Keindahan lahir dari perumpamaan lumpur hitam
Seribu keong lusuh merangkak di ranjangku
Dan aku yang bercinta untuk sejenak melupakanmu
Kembali harus menjengkal jarak kesetiaan
Dengan bumi. Tapi kekuasaan tak pernah betah di hatiku
Anarki membusuk sepanjang pembuluhku yang sunyi

Pada lorong-lorong gelap akhirnya aku tersedu
Sembahyang dalam jutaan rakaat tanpa henti
Ekor mimpiku bergerak mencari satu-satunya
Kiblat. Seribu serangga berdengung memenuhi telingaku
Dan jika kelak matahari terbit dari tatapanmu
Bakarlah seluruh pakaian dan keyakinanku yang murni
Cahaya akan datang dari pengorbanan abadi.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Nothing Like The Sun
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mabini

Aku terkepung mimpi yang transparan
Melukiskan tubuhmu dengan seratus ciuman
Keruntuhanlah yang kurindukan untuk hari esok
Biar terkubur semua prasasti atas nama janji
Kenangan yang dibangun antara mabuk dan jaga

Aku mengalun bersama geliatmu ke udara
Memasuki kegarangan langit yang berminyak
Tak ada kekekalan selain harimau yang bersarang
Di lubukmu. Aku menggelepar dalam sepi rimba
Menjengkal jarak kematian di atas bara.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Mabini
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Firenze

Ingin kulepaskan hasratku
Ke pusat gairahmu
Seperti peristiwa-peristiwa lalu
Yang dikekalkan waktu
Dalam lukisan. Begitu juga jalan-jalan
Lorong kaki lima yang berliku
Jembatan-jembatan antik
Tiang-tiang serta lampu-lampu
Sepanjang lereng bukit

Sejak kulewati sebuah kastil hijau
Kebun anggur tumbuh dalam dadaku
Aku berjalan dengan lonceng di telinga
Mendirikan menara bagi setiap pendengaran
Dan penglihatanku. Lalu kumasuki perpustakaan
Hingga pikiranku menjadi keranjang sampah –
Kulihat angka-angka tahun berloncatan
Nama-nama bulan berlepasan
Hari-hari meloloskan diri
Dari perangkap kesementaraan

Sungguh ingin kubenturkan rinduku
Pada setiap dentang lonceng
Katedralmu. Ingin kuledakkan cintaku
Pada adegan-adegan pertobatan
Yang tergambar di dinding dan jendela
Atau kuhanguskan sisa birahiku
Di bawah patung-patung orang suci -
Aku berjalan ke arah bangku kosong itu
Duduk, tersedu dan membusuk
Bersama sajak-sajakku.

1993-1997
"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Firenze
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Via Enrico Dal Pozzo, Perugia

Gentong musim dingin mengguyurkan anggur
Untuk kita reguk lagi malam ini
Kau tahu, anggur selalu membuat kita mabuk
Tapi cahaya bulan yang menerobos ketebalan kabut
Seperti ingin menjelaskan betapa dingin di luar
Jika harus kita tempuh tanpa anggur dan mantel tebal

Ada banyak malam yang telah menyeret kita
Menuruni lereng-lereng basah dan rahasia
Kita membangun jembatan dengan seratus ciuman
Yang berulang. Tapi runtuh juga
Lalu kita menggali perigi untuk kenangan
Tapi seperti sungai, air mata tak bisa disimpan

Kau tahu, cahaya bulan seperti ingin menjelaskan
Bahwa antara kedua alis matamu yang licin
Ada jurang yang semakin menganga
Mungkin jembatan itu tak akan pernah tercipta
Dari bahasa. Tapi guyuran anggur musim dingin
Membuat kita tak peduli lagi pada kata-kata.

1992
"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Via Enrico Dal Pozzo, Perugia
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dongeng Buat Bayi Zus Pandu

Sintawati datang dari Timur,
Sintawati menyusur pantai
Ia cium gelombang melambung tinggi
ia hiasi dada dengan lumut muda,
Ia bernyanyi atas karang sore dan pagi,
Sintawati telah datang dengan suka sendiri

Sintawati telah lepaskan ikatan duka
Sintawati telah belai nakhoda tua,
Telah cumbu petualang berair mata
Telah hiburkan perempuan-perempuan bernantian
di pantai senja

Jika turun hujan terlahir di laut
Berkapalan elang pulang ke benua
Sintawati telah tunggu dengan warna biang-lala,
Telah bawa bunga, telah bawa dupa

Sintawati mengambang di telaga gunung,
Dan panggil orang utas yang beryakinkan kelabu
Telah menakik haruman pada batang tua,
Telah dendangkan syair dari gadis remaja

Sintawati telah menyapu debu dalam kota
Telah mendirikan menara di candi-candi tua,
Sintawati telah bawa terbang cuaca,
Karena Sintawati senantiasa bercinta

Sintawati datang dari Timur,
Sintawati telah datang ...
... datang,
Sinta
datang!


"Asrul Sani"
Puisi: Dongeng Buat Bayi Zus Pandu
Karya: Asrul Sani
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Jerapah

Hewan apakah yang lehernya panjang dan tinggi menjulang?
Yang tingginya sampai enam meter dan badannya bercak-bercak?
Itulah jerapah namanya, langkahnya panjang-panjang
Kaki mukanya lebih panjang dari kaki belakanganya

Karena jangkungnya dia mudah memakan daun pohon yang tinggi
Tapi kalau mau minum jerapah jadi agak susah
Karena mesti membungkuk jauh ke muka
Dan kedua kaki mukanya harus terkakah

Tahukah kamu bagaimana cara jerapah tidur?
Hewan Afrika itu tidurnya sambil berdiri saja
Karena kalau berbaring, bangkit tidur  susah jadinya
Jadi seperti gajah, jerapah pun tidur sambil berdiri saja.


"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Jerapah
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pelajaran Membunuh Orang

Sejak televisi bersaluran lima ini aku ditawari waktu untuk secara agak
mendalam ditatar cara membunuh orang yang didahului oleh
mukadimah belajar mengintai muslihat orang membunuh aku,

Kostum penting ternyata. Kalau kau kaya berlagaklah melarat karena
itu wajar dan kalau kau melarat berlagaklah berduit karena
itu lebih wajar lagi. Usahakan bersikap biasa, dingin seperti
agar-agar, agak acuh tak acuh, kunyah-kunyah permen karet
dengan aroma jahe, jangan beratkan titik pada nilai dramatik
tapi lebihkan pada gerak tipunya,

Sejak televisi bersaluran lima ini Sabtu lalu aku nyaris ditembak orang
dua kali, hari Ahad mau diculik sekali, Senin kejar-kejaran
mobil tiga belas menit, Selasa tabrakan beruntun sembilan
kendaraan, Rabu kecebur kolam satu setengah kali dan pada
hari Kemis tak terjadi apa-apa karena listrik mati,

Lewat layar kaca aku dilatih menghafalkan cara mencekik leher
perempuan kesepian dengan tali rafia, menusuk jantung
tetangga dengan linggis, menggergaji lengan demonstran,
membakar badan bajingan dan meledakkan perut laki-laki
hamil enam bulan,

Semua itu kulakukan santai sambil menggosok gusi dengan pasta gigi
berwarna biru, kumur-kumur cairan berduri yang warnanya
seperti pipis kuda, minum kopi sekental lumpur sawah
pegunungan, mengisap racun nikotin di atas pelana kuda
Arabia, mencuci bulu-bulu kaki dengan shampo 2-dalam-1 dan
melihat kamu yang memakai sepasang beha yang lebih mirip
seperempat beha,

Yang tivi agak ogah-ogahan adalah memberi simulasi cara bule pejantan
mengunyah bibir betinanya, tapi tivi membiarkan mata kita melihat
kepala orang terguling-guling atau tangan lepas dari engselnya yang
goyah. Tivi berwarna tidak lagi menyuguhkan misteri pelangi
apa pula air mata bianglala. Dia memaksa kita tersandar seperti
maling pemalas yang menyodorkan pergelangan tangannya diborgol
oleh waktu,

Yang tidak diajarkan oleh tivi adalah cara membunuh tivi.

Padahal aku tidak perlu terlalu cerdas untuk tindakan begitu berat. Untuk
membuatnya sekarat, cukup satu sentuhan saja pada sebuah tombol
yang keparat,

Ternyata aku memang gebleg, sudah agak lama.

1991
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Pelajaran Membunuh Orang
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Lupa Aku, Nomor Telepon Hakim Agung Bismar Siregar

Adu hewan, katanya
Dilarang oleh etika, agama, akal waras
Dan peraturan pemerintah

Itu 'kan di zaman Belanda. Kuno

Adu manusia, katanya
Bahkan tontonan pembantaian manusia
Dibolehkan oleh etika, agama, akal waras
Dan peraturan pemerintah

Ini 'kan di zaman merdeka. Pancasila

Aku bingung
Ini bagaimana

Aku ingin bertanya
Pada Pak Bismar
Tapi lupa nomor teleponnya.

1989
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Lupa Aku, Nomor Telepon Hakim Agung Bismar Siregar
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Anak Muda Menyeberang Jalan

Si Toni berdiri di tepi sebuah jalan raya
Debu dikipas dalam campuran asam arang yang tajam
Orang-orang sibuk menanam kabel dalam-dalam
Menyilang pipa air minum dan saluran pemadam kebakaran

Si Toni tengadah dia ke langit
Dan matahari memandangnya dengan garang
Cahaya menyembur seperti logam yang terpanggang
Si Toni cepat mengelak
Perak pijar berhamburan di jalan

Si Toni menyeka pelipisnya
Dengan saputangan agak gombal
Dia masih belum juga bisa menyeberang

Si Toni menghitung macam mobil yang lewat
Empat puluh merek mobil mendesing-desing di jalan raya
Dia berjalan menyusur jendela kaca pertokoan
Empat puluh merek celana dan kemeja biru kusam
Bertepuk tangan padanya
Dia berjalan di tepi deretan butik
Empat puluh nama disainer dunia menggapainya
Di kawasan kesegaran badan dan olahraga
Empat puluh merek tangkai pancing memanggilnya

Si Toni berhenti
Di langit segugus tambang nampak melayang
Bergaris petak-petak bagai bagan teka-teki silang
Bergegar melingkar khatulistiwa
Orang-orang sibuk mengubur kabel dalam-dalam
Agak bertengkar dengan para pengawas banjir tahunan
Yang menggali, menggali dan menggali-gali
Dan menemu reptilia kurus serta luka-luka
Petugas itu bicara di corong:
“Percobaan. Percobaan.
Hallo Indonesia. Percobaan. Percobaan. Over.”

Suara di ujung kabel amat lemahnya
Sembilan digit memang lompatan jauh dalam angka
Ular-ular itu putus ekor. Ekor bergeliatan

“Ini percobaan sembilan digit. Hallo Indonesia. Over.”

Suara serat jerami menyahut di ujung sana

“Ini bukan Indonesia. Ini...
Brrrrp. Nitnot. Gluk. Brrrrp. Nitnot. Gluk.”

Si Toni berhenti di tepi got, memungut
Tiga potong ekor putus-putus, melompat-lompat

“Teka-teki silang ini terlalu mudah diisi,
Juga determinasi toksikologi.”

Si Toni menghirup udara berisi asam arang yang tajam
Dia menengadah ke langit cerah
Matahari membelalak padanya dengan garang
Matahari meludahkan cahaya perak yang pijar
Dia mengelak cepat dan terjatuh
Perak berhamburan dan meleleh di trotoar

Udara semakin panas rasanya
Empat puluh merek alat pendingin berjajar di jendela
Membereskan persoalan udara tropika
Dia bersandar pada pagar kedai obat-obatan
Empat puluh merek obat bersedia membeli penyakitnya
Dia merasa langkahnya makin lambat saja
Empat puluh merek sepeda motor menggerungkan mesinnya.
Si Toni menekan keningnya ke kaca etalase biru tua
Empat ratus merek arloji meneriakkan waktu ke telinganya
Dia terkejut dan menoleh ke belakang
Empat puluh merek antena televisi mencucuki pantatnya
Si Toni merasa pekak gendang telinganya
Empat puluh merek alat perekam meledak dalam bahana

Pelipis Toni berdenyut-denyut
Dia membersihkan sandalnya
Belum juga bisa menyeberang jalan
Orang-orang sibuk mencoba suara mereka
Orang-orang sibuk mengubur kabel telepon dalam-dalam
“Brrp. Nitnot. Gluk. Brrp. Nitnot. Gluk.”
Mereka mengisap udara bercampur asam arang yang tajam
Si Toni melihat ke atas
Dia teriakkan isi petak-petak teka-teki silangnya
Suaranya tenggelam
Segugus tambang terapung-apung indah di angkasa
Bergegar melingkar khatulistiwa

Si Toni berdiri sekarang dan menyeberang
Tiba-tiba dia berserobok matahari
Tiba-tiba matahari mencambukinya dengan garang
Dengan selusin besi cor beton yang panjang
Dari atas meludahi Toni penuh benci cuh-cuh-cuh!
Dengan semburan cairan perak berpijar
Maka Toni luka-luka, gegar, terkapar
Pembuluh-balik betisnya diisap reptilia pelahan
Dia dipapah masuk rumah sakit
Empat puluh hari lamanya.

1981
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Sajak Anak Muda Menyeberang Jalan
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Panmunjom, Musim Panas 1970

Korea, semenanjung itu, matanya terpejam
Silau musim panas 
dari matahari
ia membaring,
memanjang 
pada salah satu 
tulang rusuknya,
melintang 
dan menggelombang melintas 
bukit 
demi bukit
yang berumput kering
yang berkawat duri
bagaikan sirip 
lumba-lumba
yang berenang 
diam-diam
di atas rumputan kering
di atas lautan semak
tidak ada suara
tidak ada lalu lintas
tidak ada kanak-kanak
tidak ada gerobak air
tidak ada 
pemandangan desa
inilah bukit-bukit yang termashyur itu
bukit-bukit kubur
yang ada adalah sepotong perut semenanjung
dan cuaca di antaranya
ternyata tidak dapat kita menentukan segala-galanya
di sini sengketa
yang pernah membakar sumbu-sumbu logam
dan lalu berpijaran
melompat dari satu bukit ke bukit lainnya
telah agak padam dan bersembunyi di antara rumput-rumput kering
dan menyelinap di antara semak-semak liar
atau bertengger jadi segumpal kanker pada sebatang pohon kastanye
di puncak sebuah bukit di sana
dan, di belakangnya adalah sungai dengan warna air sedikit keruh
saat ini semua diam
ada juga sesekali 
margasatwa berbunyi
ataukah sedikit bernyanyi? Tidak kukenal nama serangga itu
tentunya dia akan keluar dari sarang musim-dinginnya,
mengibas-ngibaskan sayapnya yang bagaikan kertas plastik,
mengusap-ngusapkannya pada kakinya yang beruas-ruas
dan mungkin sekali mengeluarkan bunyi yang aneh dari gesekan itu
atau dari tali tenggorok
mungkin begitu mereka
tentunya berjuta-juta di tanah ini
lepas musim semi dan sebelumnya
musim dingin yang kejam,
sepatutnya di bulan Juli ini,
pada siang ini mengeluarkan serempak bunyi yang bisa amat dahsyat
inilah angan-angan yang tidak sepantasnya terjadi siang hari
siang ini
karena langit amat bersih
cuaca 80 serta lembab
dan di kawasan tak bertuan ini
jalannya tanah,
berdebu
sedikit merah dan bisa mengepul
ketika dua orang anak muda itu mengenakan jaket tahan peluru
mencoba membunyikan mesin jipnya
sementara di lereng sana beberapa orang mengawasi
ada yang mencangkung di gardu demarkasi
tidak kukenal nama-nama mereka
tentunya mereka ketika keluar dari barak-barak musim-dingin,
mengibas-ngibaskan lengan dan urat-urat pinggang yang pegal,
menggosok-gosok corong-corong baja mereka
dan mungkin sekali pernah mengeluarkan bunyi yang aneh itu
dari picu-picu atau tidak seimbangnya komposisi bubuk mesiu
mungkin begitu mereka tentunya berpuluh-beratus-ribu di tanah ini
lepas musim semi, lepas musim dingin yang kejam
dan menjelang musim rontok
di padang lepas berbukit-bukit ini
berpandang-pandangan dalam diam
yang bisa akibatnya jadi amat dahsyat
inilah angan-angan yang tidak sepantasnya terjadi
inilah pilem-pilem tua yang tidak layak diputar lagi siang hari
siang ini
sementara langit amat bersih lembab musim panas yang pengap
di atas sepotong tanah semenanjung di bawah setangkup langit demarkasi
yang mengawasi bukit-bukit
yang 
menggelombang dan kering di sana-sini
sedikit hijau 
semak-semak liar
dengan kuntum-kuntum alit dan kabut jauh yang agak biru
di sini kesunyian mengenalkan dirinya
dengan suasana sedikit tajam dan papan-papan penunjuk
yang huruf-hurufnya terlalu persegi serta hitam,
agak luntur mengenai divisi kedua
tetapi di manakah kawanan burung-burung itu
yang layaknya berterbangan dalam formasi
atau campur-baur seperti di khatulistiwa
dan sayap-sayap mereka yang sebentar nampak sebentar hilang
atau semacam elang yang mengapung
bagaikan menggantung dalam gerakan yang hampir tanpa gerakan
tetapi di manakah kawanan itu
sekarang di atas bukit-bukit di bawah setangkup langit awan pun tiada
langit pun bagai baki perak yang menyilaukan terlalu polos
adanya lengang ini terasa 
tajam
amat sehabis peperangan udara dengan unggas-unggas logam yang bisa
menjerit-jerit garang dan mencecerkan ledakan
ledakan luar biasa dengan asap-
asap
dan kerusakan-kerusakan yang matematis
dan putus-putuslah siklus biologi ini
karena sirkulasi darah dipotong-potong,
sistem tulang dan saraf diobrak-abrik,
silsilah pohon keluarga ditebang-tebang,
panen biji-bijian dan buah-buahan dirusak,
migrasi burung-burung jadi kacau,
air minum bau kelongsong dan air mata dan air mata ...
tapi sudah itu
... angin ...
kini pun
nampaknya ada sedikit angin
lewat rendah, membuat garis-garis lengkung pada pohon nue tee
di pundak bukit itu
dan juga di lerengnya
pada punggung akarnya dan
di dalam ketiak daun-daun
pasti ada unggas kecil berteduh
serta beberapa insekta, yang
menyiapkan bunyi-bunyian untuk beberapa jam lagi bila malam turun
tentunya juga beberapa hewan bersayap rapuh
yang bisa menyalakan lampu fosfor alit
di badannya, sedang istirahat untuk penerbangan sebentar malam
mereka tengah membenahi sarang-sarang
kecil di kulit-kulit kayu
sementara angin sore yang enggan
begitu saja membentuk garis-garis lengkung
lewat semak-semak liar menggelombang sepanjang
barangkali 240 kilometer dan singgah di setiap check-point,
sekali pun check-point
yang paling sepi dan paling dikhawatiri...
dan sebuah truk menderum
dan mengipaskan debu
pada sebuah lembah ini suatu komposisi yang agak aneh
tetapi pasti ada saat itu beberapa serdadu
yang jemu memikirkan tentang bunyi-bunyian gitar,
transistor saku atau bunyi kelamin
beberapa jam lagi
bila malam turun
pada kedua sisi
perbatasan, yang lebar
empa tribu meter dan Korea,
semenanjung itu, matanya terpejam mengantuk pada
malam musim panas
dengan sebuah bulan
yang sempurna bulatnya
dan menguraikan benang-benang
sutera cahayanya
yang berserak
pada bukit-bukit
yang termasyhur itu
sementara
tunggul
sebatang
pohon kastanye ingat pada peluru-peluru sinyal cahaya dua puluh tahun yang lalu.

1970
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Panmunjom, Musim Panas 1970
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Fortaleza de Malaca

Ada batu karang, salib hitam di atasnya
Segaris pantai dan ombak yang memburu
Ada bukit, di bawahnya benteng tua
Melintas pohon melaka angin pun menderu

Tiada lagi sejarah, mungkin tinggal sidik jari
Sejumlah pertempuran dan sekian nama-nama
Lalu laut lepas, padang-padang rumput membentang
Dan meriam terpasang depan gereja

Ada batu karang, salib hitam di atasnya
Segaris pantai dan ombak yang memburu
Ada bukit, benteng tua dalam balada
Melintas pohon melaka angin pun menderu.

1967
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Fortaleza de Malaca
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Messina Gibraltar

Rindu pun karena ujung dua benua
Mengeras di julang perbuatan karang

Dendam pun karena biru lekuk Lisboa
Di dada mengenang serasa berlinang.

1958
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Messina Gibraltar
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Jaman Edan

Amenangi jaman edan
Ewuh aya ing pambudi
Melu edan ora tahan
Yen tan melu anglakoni
Boya keduman melik
Kaliren wekasanipun
Dilalah kersaning Allah
Begja-begjane kang lali
Luwih begja kang eling lan waspada


"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Jaman Edan
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
12 Mei 1998
(Mengenang Elang Mulya, Hery Hertanto, Hendriawan Lesmana dan Hafidhin Royan)

Empat syuhada berangkat pada suatu malam,
gerimis air mata 
tertahan di hari keesokan,
telinga kami lekapkan ke tanah kuburan
dan simaklah itu sedu-sedan,

Mereka anak muda pengembara tiada sendiri,
mengukir reformasi 
karena jemu deformasi,
dengarkan saban hari langkah sahabat-
sahabatmu
beribu menderu-deru,

Kartu mahasiswa telah disimpan dan tas kuliah turun dari bahu.
Mestinya kalian jadi insinyur dan ekonom abad dua puluh satu,

Tapi malaikat telah mencatat indeks prestasi kalian tertinggi
di 
Trisakti bahkan di seluruh negeri,
karena kalian berani 
mengukir alfabet pertama
dari gelombang ini dengan 
darah arteri sendiri,

Merah putih yang setengah tiang ini, merunduk di bawah garang 
matahari,
tak mampu mengibarkan diri karena angin lama 
bersembunyi,

Tapi peluru logam telah kami patahkan dalam doa bersama,
dan 
kalian pahlawan bersih dari dendam,
karena jalan masih 
jauh
dan kita perlukan peta dari tuhan.

1998
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: 12 Mei 1998
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tableau Menjelang Malam

Deretan bangunan. Abu-abu
Langit hitam dan sten. Menunggu
Lalu lintas sepi
Semua menanti
Jendela bertutupan. Apa akan terjadi
Di sini
Semua menanti.

1966
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Tableau Menjelang Malam
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Yang Selalu Terapung di atas Gelombang

Seseorang dianggap tak bersalah,
sampai dia dibuktikan hukum bersalah.
Di negeri kami, ungkapan ini terdengar begitu indah.
Kini simaklah sebuah kisah,
Seorang pegawai tinggi,
gajinya sebulan satu setengah juta rupiah,
Di garasinya ada Honda metalik, Volvo hitam,
BMW abu-abu, Porsche biru dan Mercedes merah.
Anaknya sekolah di Leiden, Montpelier dan Savannah.
Rumahnya bertebaran di Menteng, Kebayoran dan
Macam Macam Indah,
Setiap semester ganjil,
isteri terangnya belanja di Hongkong dan Singapura.
Setiap semester genap,
isteri gelap liburan di Eropa dan Afrika,
Anak-anaknya pegang dua pabrik,
tiga apotik dan empat biro jasa.
Saudara sepupu dan kemenakannya
punya lima toko onderdil,
enam biro iklan dan tujuh pusat belanja,
Ketika rupiah anjlok terperosok,
kepleset macet dan hancur jadi bubur,
dia ketawa terbahak- bahak
karena depositonya dalam dolar Amerika semua.
Sesudah matahari dua kali tenggelam di langit barat,
jumlah rupiahnya melesat sepuluh kali lipat,
Krisis makin menjadi-jadi, di mana-mana orang antri,
maka seratus kantong plastik hitam dia bagi-bagi.
Isinya masing-masing lima genggam beras,
empat cangkir minyak goreng dan tiga bungkus mi cepat-jadi.
Peristiwa murah hati ini diliput dua menit di kotak televisi,
dan masuk berita koran Jakarta halaman lima pagi-pagi sekali,
Gelombang mau datang, datanglah gelombang,
setiap air bah pasang dia senantiasa
terapung di atas banjir bandang.
Banyak orang tenggelam tak mampu timbul lagi,
lalu dia berkata begini,
"Yah, masing-masing kita rejekinya kan sendiri-sendiri,"
Seperti bandul jam tua yang bergoyang kau lihatlah:
kekayaan misterius mau diperiksa,
kekayaan tidak jadi diperiksa,
kekayaan mau diperiksa,
kekayaan tidak diperiksa,
kekayaan harus diperiksa,
kekayaan tidak jadi diperiksa.
Bandul jam tua Westminster,
tahun empat puluh satu diproduksi,
capek bergoyang begini, sampai dia berhenti sendiri,
Kemudian ide baru datang lagi,
isi formulir harta benda sendiri,
harus terus terang tapi,
dikirimkan pagi-pagi tertutup rapi,
karena ini soal sangat pribadi,
Selepas itu suasana hening sepi lagi,
cuma ada bunyi burung perkutut sekali-sekali,
Seseorang dianggap tak bersalah,
sampai dia dibuktikan hukum bersalah.
Di negeri kami, ungkapan ini terdengar begitu indah.
Bagaimana membuktikan bersalah,
kalau kulit tak dapat dijamah.
Menyentuh tak bisa dari jauh,
memegang tak dapat dari dekat,
Karena ilmu kiat,
orde datang dan orde berangkat,
dia akan tetap saja selamat,
Kini lihat,
di patio rumahnya dengan arsitektur Mediterania,
seraya menghirup teh nasgitel
dia duduk menerima telepon
dari isterinya yang sedang tur di Venezia,
sesudah menilai tiga proposal,
dua diskusi panel dan sebuah rencana rapat kerja,
Sementara itu disimaknya lagu favorit My Way,
senandung lama Frank Sinatra
yang kemarin baru meninggal dunia,
ditingkah lagu burung perkutut sepuluh juta
dari sangkar tergantung di atas sana
dan tak habis-habisnya
di layar kaca jinggel bola Piala Dunia,
Go, go, go, ale ale ale...

1998
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Yang Selalu Terapung di atas Gelombang
Karya: Taufiq Ismail