Mei 1990
Ricau Dedaun

Bukalah pintu sedikit saja
Temaram hujan lentik-tumpah
Dedaun basah menari lincah
Terdengar merdu tanpa jeda
-; Bukan lagu tanpa rima

Bukalah sedikit saja
Jendela kayu rumah kita
Lihat! Langit leka-tersipu
Bersama awan malu-malu
Sebentar hujan akan beradu

Jika kabut basuh wajahmu
Petik melati sehening mimpi
Hingga lukar embun pagi
Hingga nanar tubuh matari
-; Genggam tangan rapuhku

Seperti ricau dedaun itu.

7/1/2012
"Cucuk Espe"
PuisiRicau Dedaun
Karya: Cucuk Espe

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Catatan di Pojok Taman
(kepada pahlawan tak dikenal)

Kini kau berlayar sendirian
di lautan kelam tanpa karang
menuju pelabuhan seberang
untuk tidur di pangkuan Tuhan.

(Sebutir peluru telah merenggut jantungmu
ketika kau nekat melindungiku
dalam penyerbuan ke benteng itu
di pangkuanku kautinggalkan jasadmu
sebelum sempat kausebut namamu
asal dan induk pasukanmu
kecuali seberkas senyum keikhlasan)

Lukamu kini tak dapat kuraba lagi
karena dagingmu telah kembali ke asal
tinggal cahaya putih cintamu
membekas dalam di kalbu.

1980
"Ahmadun Yosi Herfanda"
PuisiCatatan di Pojok Taman
Karya: Ahmadun Yosi Herfanda
Sundanesse Cabbala

"Kalau tak lagi dicintai, aku akan memilih
mencintai," kata Sangkuriang. Diam-diam
karena semua yang dicintainya bermula dari
yang mengadakan: Sangkuriang memilih Dia
- tenggelam dalam istighfar dan shalat malam.

2009
"Puisi Beni Setia"
PuisiSundanesse Cabbala
Karya: Beni Setia
Nostalgia

Kadang-kadang comberan itu gemetar - ingin tuntas mengeringkan limbah kembali lagi sebagai parit kering, yang kerontang. Retak-retak bagai buah randu - diam-diam memanen selaksa kenangan tentang kabut, rintik hujan, geletar tunas rumput tumbuh, dengkungan katak, dan decit (jejak) langkah peladang riap angin di rumpun bambu ciap tajam siul burung kecil-sesuatu yang kini entah bermukim dimana.

"Puisi Beni Setia"
Puisi: Nostalgia
Karya: Beni Setia
Transkripsi Qana

Ada lubang dimana ranjang cinta
pernah ada. Seharusnya tetap ada

udara, kau tahu? Penuh debu
sisa serpihan dan tebaran
bubungan dari segala yang runtuh

barbeque party di halaman dalam
di tengah musim. Di sini, kini:
tak ada musik. Tak ada riuh suara anak-anak

Hanya sirene. Gerak sigap tanpa suara
di antara ogah menangis dan mengeluh

kami bisu. Kebencian muncul dari
aroma darah. Silsilah bom + roket menjalar.


"Puisi Beni Setia"
Puisi: Transkripsi Qana
Karya: Beni Setia
Sembilan Lirik Kasmaran

(1)
Terpancang pada perahu. Sang layar berkebar-kebar
dan geladak mengengadah menenggak awan. dihubung-hubungkan
kepak rasa. Ruh mendesah bagai daun di musim gugur.

(2)
Kau dengar? “ekor cicak ini terlempar dari
dinding, menggelepar di bawah tatap sakit”
Kau lihat? Telunjuk melurus di al-haram ash-sharif.

(3)
Mencari ke yokohama dan lanarca, bagaikan si buta
kehilangan tongkat arafah. “tak bisa mencintai diri
meski merindukan cinta,” lulung handa di jabal rahmah

(4)
O-awal o-akhir, menyatu di hening udara gunung
: ahasveros mengelili o-bumi, aku berthawaf
- berseru dan menyerukan “handa handa handa handa!”

(5)
Yusuf diangkat dari sumur, nuh berangkat, sedang
mawar handa bertahan di karbala. Bersujud
menunggu kilap-kalap merengut jantung mimpi jazid

(6)
Memotong leher ismailku, ibrahim mengirim kuncup
ke ketiak musim dingin. O, membelah dada meremas
arasy - taman bercinta tanpa gumam cemburu handa.

(7)
Inti dari inti, diremah jadi kawah. Julang
dari julang, handa, menunjuk sidrat al-muntaha. dada
kuda sayap simurgh — “apakah aku setia di taman rahwana?”

(8)
Sembilan kantung embun segantang darah bulbul. o,
mawar-bilalku menuju Kutaraja lewat Jawa. Pasukan
fakar menyerukan handa dalam wangi pantang ramadha-nan

(9)
Gemrengan cina dan genderang jepang, talu-talu
amazona dan tifa irian. Salaksa beduk dan takbir
berhenti di balik pintu saat tirai dibuka handa dan...


1987
"Puisi Beni Setia"
Puisi: Sembilan Lirik Kasmaran
Karya: Beni Setia
Di Apartemen Erick

Di apartemen tingkat sepuluh,
di pinggiran Utrecht bintang-bintang tak kelihatan.
Tapi lampu-lampu kota berkedipan bagai kunang di jauhan.
Di luar badai salju dan angin kencang.
Kami lepas mantel dan hati yang tegang.
Erick, Inggrid, Nenden, Karen dan Medelin saling berpandangan,
menghirup teh panas
membuka buku puisi dan memetik gitar.

Kami nyanyikan lagu-lagu lama.
Nyiur hijau di tepian pantai yang jauh, desaku
wahai desaku yang kucinta tanah air beta.

Sambil mengusap airmata, seperti mengusap luka
dan sakit yang purba,
Medelin melenguh diam-diam

Sudah berlayar jauh kemari
ooh jauh kemari, tanah Ambon
wahai tanah Ambon selalu saja berdebur dalam ingatan.
Tapi malam telah kelewat dalam.
Di bawah badai salju kami berarak menuju halte sambil berseru
Que sera-sera, apa yang bakal terjadi biar terjadi
Kamipun faham akhirnya.
Tanah air abadi selalu serupa mimpi.
Negeri-negeri yang dicintai,
kenangan-kenangan lama yang enggan mati.
Di dalam kereta kami biasakan diri
menjalani patah hati ini.

1999
"Agus R. Sarjono"
Puisi: Di Apartemen Erick
Karya: Agus R. Sarjono
Surat Pembaca

Redaksi yang terhormat
Izinkan saya menyampaikan keluhan
dan sedikit saran. Burung bangau
di tepi danau itu sudah sembilan malam
mencangkung sendirian, hingga katak
dan ikan-ikan tak berani bercinta
padahal purnama begitu indahnya.

Juga di tepi padang, sekuntum kembang
tersedu-sedu sendirian, sembilan lambaian
yang lalu tepat di tikungan jalan
ke arah hutan. Jingga kelopaknya terbiar
di sela belukar tanpa ada yang peduli
padahal setiap hari ia menghias diri
dengan embun pagi.

Saya sarankan agar remang rembulan
yang mengambang sendu
di sudut kolam itu disandingkan saja
dengan rusa remaja yang termangu
sendirian di tepian hutan, padahal
para pemburu sudah lama berlalu
membawa rusa jantan kasmaran
yang rubuh tersambar peluru.

Demikian surat saya, semoga ada
manfaatnya bagi pembaca 
maupun sepasang kupu-kupu 
yang terjebak di kaca jendela kamar,
padahal cuaca di luar 
begitu nyaman, sejuk, segar.


"Agus R. Sarjono"
Puisi: Surat Pembaca
Karya: Agus R. Sarjono