Juli 1990
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Nama Saya Ete

Selamat pagi
selamat siang
selamat malam.

Spada
kulonuwun
punteun
jero meduwe jero.

Karena tak ada jawaban
aku beranak bini numpang di emperan.

Suatu hari seorang penguasa memeriksa
“nama saya ete pak”
kusuguhkan katepe dan kartu keluarga
bukti sah yang kubawa-bawa.

“Oya, kelas dua.”

1990
"Puisi Putu Oka Sukanta"
PuisiNama Saya Ete
Karya: Putu Oka Sukanta

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Penyair

Buah ceri di kantung celana,
kantung air selebar pelana.
Hausnya sebatas umpama. 

"Puisi Nirwan Dewanto"
PuisiPenyair
Karya: Nirwan Dewanto

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Gandrung Campuhan

Kuminum apa dari cawanmu
- sari limau atau arak madu -
tetap saja kusesap tilas bibirmu.
Habis senja makin dahaga aku.

Kuiri pada kalung manikmu,
bebulir merah tak kunjung ungu,
terus saja melingkari lehermu.

Sedang lenganku, lengan perihku
membelit sebutir jantung hanya,
jantung semu milikmu. Segera sirna
ia, begitu kau membunuh surya
pada kulit kitabku, dengan kecut cuka.

Kucoba roti apa saja. Roti udara
atau roti batu. Tapi dengan selai ceri
olesan tanganmu, aku akan tega
melupakan segala nasi, segala kari.

Silau oleh album negeri salju, kau
menarik tabir magnolia. Mengigau
aku seperti batang neon terendam
suara kekasihmu separuh malam.

Telah tercuri wajahmu di Singapadu
- Durga atau Maria dari Magdala? -
sebab seperti Siwa tubuhku penuh abu
memanggul salib kayu nangka.

Di restoran itu pun segera terpercik bara
ke ujung kainmu. Sebab kau tampak tiba
dari lukisan Lempad, menjelang pagi,
tapi dengan pipi seperti telur mata sapi,
pada pelepah pisang kau sigap menari,
pada talam Siam kautahan sang koki,
hingga siap aku mencicipimu, mengulummu
dengan lidah berbalur kaldu empedu.

Tapi lambung kananku tercabik tiba-tiba
oleh pisau pacarmu. Penyadap betapa muda,
lekas ia terakan namaku pada kedua susumu
dengan getah pala dari segenap pembuluhku.

Matamu badam biru dari bawah seprei
- sepasang terakhir kubawa mati - 
sambil kupahatkan busur pinggangmu
pada cermin berlumur darah lembu.

2006
"Puisi Nirwan Dewanto"
PuisiGandrung Campuhan
Karya: Nirwan Dewanto

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Apel

Merah seperti tirai merah,
memar seperti payudaramu,
gundah seperti telur Paskah,
sabar seperti langit biru,
ia berbaring di sisi sebatang lilin.

Di ujung makan malam, meja ini
mengecilkan ia, tapi sungguh si belati
kian silau oleh lengkung perutnya.

Mungkin sebentar lagi akan terluka,
ia berdiri di sisi sebatang lilin.
Seakan kusantap gaunmu panjang
untuk membuat ia telanjang.

Seakan kauasah jemariku pada nyala
untuk melindungi daging putihnya,
lebih putih daripada sebatang lilin.

2006
"Puisi Nirwan Dewanto"
PuisiApel
Karya: Nirwan Dewanto

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Lonceng Gereja

Kaum musuhku menuntun aku menyanyi
seraya memeluk aneka menara tertinggi
tetapi demi jubah Latin bagi orang mati
aku hanya belajar diam seperti lidah api.

2006
"Puisi Nirwan Dewanto"
PuisiLonceng Gereja
Karya: Nirwan Dewanto

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ubur-ubur

Ia mata-mata, hanya terpindai di antara
nisan batu karang dan gaun ganggang.
Ia surai singa di belanga Cina, terpilin
oleh pecahan cermin. Ia jantung hati,
berdegup di antara pipi hiu dan
punggung perenang buta. Ia payung,
gemar melayang dengan lebat racun
ke arah pukulan dayung. Ia lonceng,
bergeletar menahan luas
laut dan liburan musim panas.
Ia gumpalan kanji, terurai ke pantai
mencari kaki perawan paling murni
dan janggut matahari. Ia cendawan,
termakan oleh telinganya sendiri.
Ia mahir kehilangan tanah air, karena
mata angin hanya tetirai airmata.
Ia topi palsu prajurit Pranggi, tetapi
mengumbai menjarum mengkhianati
mataku, di antara gerimis Mei
dan kitab biologi

Menghapus “seperti” berkali-kali
aku tampak membinasakan puisi,
membasuhkan cuka, cuma cuka
pada lembar nyeri gatal ini.

2007
"Puisi Nirwan Dewanto"
PuisiUbur-ubur
Karya: Nirwan Dewanto

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Lazar

Jangan renggut kematian dariku,
Aku tengah berusaha memilikinya.
Tolong tutup lagi pintu mausoleum ini,
Sebab terang di luar sana hanya milikmu.
Pasti kudengar langkah kakimu ke mari.

(Kau belum pernah melayatku, bukan?)
Namun jika aku mampu bangkit bahkan
Dalam kafan yang mulai terasa sejuk ini,
Yeshua, bukanlah aku juru selamatmu.

2010
"Puisi Nirwan Dewanto"
PuisiLazar
Karya: Nirwan Dewanto

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Amal-Umel

Pikir dipikir
Mau salat bikin pengumuman
Mau puasa bikin pengumuman
Dasar mulut ember, amalnya bocor tuh!

"Puisi Muhammad Rois Rinaldi"
PuisiAmal-Umel
Karya: Muhammad Rois Rinaldi

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Musim Semi

Musim semi di kebun
kupu-kupu mengejar anakku
ada bunga di rambutnya.

"Puisi Medy Loekito"
PuisiMusim Semi
Karya: Medy Loekito

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Minum Mocha Coffee Bersamamu

Aku membaui mild mocha, susu dan aroma kopi aceh yang kuat. Tubuhku hangat. Berkeringat. Inilah adonan dari 14 ons susu yang diuapkan, 2 cangkir kopi, 1 bagian air panas, ½ bagian bubuk coklat murni dan ½ gelas gula pasir. Hm.  Cukup untuk dua sejoli: aku dan kamu. Kita nikmati kopi sambil memeras-meras puisi dari kepalamu. Dan sesekali aku merasakan pahit ampas kopi dari bibirmu. Coba kalau aku bisa masuk ke dalam cangkir, kataku, betapa  indah hidup ini.

27 Desember 2009
"Kurniawan Junaedhie"
PuisiMinum Mocha Coffee Bersamamu
Karya: Kurniawan Junaedhie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ketika Umur Tambah Satu

Ketika umur tambah satu
Uban di rambut tumbuh seribu
Wajah ibu mulai tampak dalam pendar
dalam bayang kenangan
Tampak muda, dan jelita
Wajah yang hidup dalam sanubari
Aduh  ibu, aku sayang kamu

Ketika umur tambah satu
Makin dekat jarak ke akhirat
Surga atau neraka
Dan wajah ibu mulai tampak dalam pendar
dalam bayang kenangan
Melambai penuh kasih sayang
Aduh ibu, aku cinta kamu

Ketika umur tambah satu
Aku mulai kenal nama-nama malaikat
Jibril, Munkar. Nankir, Israil
Apalagi yang akan kautanya?
Dan wajah ibu mulai tampak dalam pendar
dalam bayang kenangan
Mengajakku berkasih sayang
Aduh ibu, aku ikut kamu.

24 November 2008
"Kurniawan Junaedhie"
PuisiKetika Umur Tambah Satu
Karya: Kurniawan Junaedhie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Eloi, Eloi Lama Sabakhtani

Langit jingga, lalu kesumba
Malam dingin, dan angin menggigil
Tiba-tiba senapanmu menyalak dalam gelap
Aku tersungkur, rebah lalu terjerembab

Sambil terhuyung aku raba dadaku
Darah berlinangan
Kata-kata berlinangan
Darah & kata berlinangan pada tubuh sintalmu

Begini cepat datangnya
Begitu rapuh penyebabnya.

2009
"Kurniawan Junaedhie"
PuisiEloi, Eloi Lama Sabakhtani
Karya: Kurniawan Junaedhie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ke Pasar di Hari Natal

Di lorong itu tak ada daging-daging digantungkan. Tak ada pisau tergeletak di meja.  Di lorong lain, juga tak ada tumpukan daun-daun yang sepertiganya bau rabuk. Aku ingin membeli sayur mayur dan buah segar. Tapi pasar sepi. Tak ada sayur-mayur, tak ada buah segar. Tak ada orang bertengkar. Kamu memandangku tak percaya: pasar bisa sunyi? Seperti teko, kataku. Hanya berisi udara. Los-los  tutup. Pedagang liburan. Ke distro. Ke Factory Outlet. Ke Kuta. Ke Jogger.

Serpong
27 Desember 2009
"Kurniawan Junaedhie"
PuisiKe Pasar di Hari Natal
Karya: Kurniawan Junaedhie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sedalam Lautan
(sang pacar)

Aku desak dia
Dia mengkeret, dan tersungkur
Tubuhnya merapat di dinding
Napasnya panas, ah, bikin merinding

Kami merasakan geteran hebat
Surga kami berderak-derak
Udara ngambang
Benar-benar melayang

Dia rentangkan tangannya ke atas
Tanda menyerah: pasrah
kuangkat dagunya
kuciumi dia bertubi-tubi
Aku ikuti saja tarian itu
Waltz atau salsa
Surga kami melayang
Sedalam lautan, sedalam lautan.

2009
"Kurniawan Junaedhie"
PuisiSedalam Lautan
Karya: Kurniawan Junaedhie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||