Agustus 1990
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Adegan Satu-Dua-Tiga

Adegan satu
dengung suara dari hari tanpa sejarah
kukisahkan padamu
kerna tidak dengar-dengaran
manusia pertama mengenal telanjangnya.

Adegan dua
sama-sama kita saling tutur
di satu waris dinding bening
batas pemisahnya pelaku dan penonton
berebutan peran ganda: mencuci tangan .

Adegan tiga
manusia akhir zaman
berganti-ganti baju dalam telanjang kekalnya
meratapi penyaliban dengan penyaliban baru.

"Puisi Remy Sylado"
PuisiAdegan Satu-Dua-Tiga
Karya: Remy Sylado

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Rumus Kristiani

Setiap
hari natal
kristen
jadi gatal.

Bicara
tahun baru
bicara
baju baru.

Mencari
roh kudus
ketemu
roh kudis.

'Pabila
tidak susah
gereja
tidak usah.

Setelah
datang kesusahan
barulah
senang ingat Tuhan.

"Puisi Remy Sylado"
PuisiRumus Kristiani
Karya: Remy Sylado

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Perwira

Jangan bicara kemiskinan padaku
ayahku mati kerna imannya
ibuku meratapinya sampai mati
dan aku seperti anjing geladak
dilempari batu dengan benci
lepas dari tuan yang satu
ke tuan yang lain.

Dalam miskinku aku adalah perwira
hanya sosok yang meradang
tapi hati merdeka
bagai kawanan gareng-pung
terus menyanyi
memekakkan kuping
Haleluya!

Jangan bicara kekayaan padaku
aku juga kaya kerna imanku
di rumah Bapa.

"Puisi Remy Sylado"
PuisiSajak Perwira
Karya: Remy Sylado

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dalam Kribo

Kalau semua bangsa tiba-tiba jadi hitam
apakah orang hitam bakal berkata
“ayo kita pura-pura jadi Negro
menuruti absurdnya Jean Genet?”

Kenapa masih mabuk
pada etika semu ribu-ribu tahun lalu
tentang Genesis 9 yang diselewengkan
menghukum Afrika sebagai benih Ham
sementara kutuk dan anugerah bukan hukum?

Kalau aku hitam
aku mau lukis Isa
tidak seperti Rembrandt membuatnya Belanda
Aku mau Isa: bapak dengan rambut kribo.

"Puisi Remy Sylado"
PuisiDalam Kribo
Karya: Remy Sylado

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.

A La Beelzebul

Penyaliban hanya terjadi sekali
yang kedua sinambung saban hari
dalam akunya kita yang berlagak pilon
ngotot mengunci hati atas getaran cinta
padahal jantung berdenyut tahu itu peringatan.

Terlalu lama zaman pembiadaban
merajalela mengganti zaman pembudayaan
di darah kita yang berpacu dalam kemacetan
lantaran tak terjalinnya cinta selaku pengurbanan.

Jika aku di sini apakah kau juga
mau membaca perasaan yang telanjang
atau kita sama-sama berbaju kebesaran
dan buat yang tidak pernah dibuat orang
mengharap orang menyebut kita beelzebul?

Terhadap pikiran pun tersedia salib!

"Puisi Remy Sylado"
PuisiA La Beelzebul
Karya: Remy Sylado

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Lelah

Lelah
Usai sudah.

Hanya angin tertiup hempaskan gelisah
Kurindu hangat alam di puncak Rinjani.

Pasrah
Menyerahlah setiap yang ingin kalah
Tapi aku?

Ingin kembali mencium lembut Dewi Anjani
Dan aku tidak akan menyerah
Walau lelah menghampiri sudah.


"Puisi Remy Sylado"
PuisiLelah
Karya: Remy Sylado

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Gordel Van Smaragd

Zamrud boleh dicungkil dari mahkota raja
dicampakkan tanpa sesal kepada babi
warnanya tetap dihafal dalam puji
tanah airku: sawah, ladang, hutan
aku menjaganya, demi Tuhan.


"Puisi Remy Sylado"
PuisiGordel Van Smaragd
Karya: Remy Sylado

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Desain Martyria

(1)
Merah di atas
Putih di bawah
Ada seada jantung.

Merah darah
Putih roh
Usai mengucur
Kini suci menyuci.

Aku sendiri berdiri
Bersikeras ini zairah
Dengan kelembutan macapat.

(2)
Aku wujud nugraha
lahir disumpah pedang
dibenci sebagai keparat.

Kutembangkan nada istikharah
ayahku menyangukan welas asih
aku mau jadi anak perdamaian.

(3)
Di manakah engkau ketika ayah
menyuruh anaknya menelan anggur
Di manakah engkau ketika ayah
membiarkan anaknya mendaki bukit
Di manakah engkau ketika ayah
menghancurkan batu dan merobek tirai
Di manakah engkau ketika ayah
menyerahkan anaknya diusung laknat
aku di sana mengakui penyesalan kita.

(4)
Anak yang punya ayah
punya sebuah rumah
tempat tinggal
tempatnya berdiri.

Ayah membangun rumah
memberikan kepada anaknya
tempat tinggal
tempatnya berdiri.

Anak berdiri
di tempat tinggal ayah
sampai harinya
tempatnya meninggal.

Setelah meninggalkan rumah
rumah tempatnya berdiri
ayah dan anak tak usah lagi
tinggal di rumah tempatnya meninggal.

(5)
Besok anak menjadi ayah
hari lalu berganti hari baru
cuma satu tempat tinggal ada di bahu
sudah dibangun sebelum ada ayah dan anak.

Dulu anak dijanjikan sore di barat
menerima matari bergerak diputari bumi
dipanggil bersorak puji yang mengaturnya.

Kini keindahannya tetap walau gerhana
selalu menutup kemauan memberi sinar
ayah yang baik tidak kehilangan akal.

(6)
Anak minum anggur
merah
dan menerima darah
yang dirancang ayah.

Anak makan roti
putih
dan menerima mati
yang mengganti tubuh.

Anak melihat langit
biru
dan bendera warisan ayah
berkibar-kibar terus.

Anak tidak usah memaki
musuh
sebab belanda paling belanda
juga ada di diri sendiri.

(7)
Barat yang merah
sebentar lagi pudar
Timur yang putih
hanya menunggu waktu.

Merahku syukur
Putihku syafaat.

(8)
Dalam kata-kata sederhana
dengar ini berita Martyria
sebab aku tak pandai bicara.

Dalam kata-kata sederhana
dengar kuharapkan hikmah
yang kutemukan dalam bicara.

(9)
Byar pet byar pet byar
pet byar pet
byar pet
byar.

Pada Dia terang
pada dia gelap.


"Puisi Remy Sylado"
PuisiDesain Martyria
Karya: Remy Sylado

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Soliloquy
(dibuat khusus dan dibacakan untuk ulang tahun ke-50 Sekolah Tinggi Teologi, Jakarta)

Kita memang tak bebas membuka mulut
dalam makrifat kita tentang kemerdekaan
Kita amat khatam terhadap seabrek kata tak boleh
yang dibuat barangkali dengan sungguh hati
tapi dijalankan dengan setengah hati.

Hati siapa bisa ayem menghadapi hari-hari depan
dalam rasa judek oleh sejumlah kambing hitam
Bensin naik, kambing hitamnya resesi
Kontrol sosial terbit, kambing hitamnya subversi
Segala strategi kejahatan, kambing hitamnya Lucifer
Tak tahunya di belakang wewenang iblis atas Ayub
ternyata Penghulu Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban
adalah Khalik serwa sekalian - kami punya Bapa.

Ini karena kita kurang berbakat membedakan
antara akal dengan okol, otak dengan otot
Yang perlu pakai otak kita pakai otot
dan otot memang selalu berguna ketika kita ingat
bahwa tradisi pembunuh misterius berasal dari Kain
dan kita senang terbenam dalam tradisi menyangkal:
“Aku tak tahu, memangnya aku penjaga adikku?”

Sekiranya mengundang maut bukan dosa
aku taburkan muka bukan dengan bedak tapi tai kuda
lantas kutikamkan dada bukan dengan cinta tapi dengki
sebelum menggantung diri atas patriotisme semu Padamu Negri
Itu lebih afdal barangkali ketimbang hidup bagai benalu
di bumi yang diatur bukan oleh bangsa tapi bangsat.

Namun Yehwah, Gustiku, Apo mananatas
yang menjadi gembalanya Daud
yang memimpin Musa keluar dari tanah perhambaan
yang menyertai Ibrahim dari Ur-Qasdim.

yang mengutus Franciscus Xaverius ke Ambon
yang mengirim Josef Kam sampai ke Manado
bakal mengantar batinku ke ambang kemerdekaan.

Merdeka, kau tau, tak sama seperti angin
Merdeka, kau tau, adalah saudara sepupu naluri:
siapa berhalakan akal bakal menjadi harimau
dan domba mati tanpa mengajukan protes.

Domba memang mesti hati-hati
Padahal puisi tak mungkin disambut dengan hati baja
Tak oleh pelor
Tak oleh rudal.

Kendati tanahku dijepit budaya Arab-India-Cina
puisiku tak punya konfidensi model Kotaro Takamura
yang boleh bebas dari sosok puisi Shakespeare
Mau apa memangnya jika takdirku Indo
sebagaimana nama negriku dikasih Adolf Bastian.

Aku sudah terbiasa dengan segala paradoks Indo
beef steak dilengkapi sambel terasi
jalanan hot-mix dilengkapi polisi-tidur
berpikir modern dilengkapi pelestarian tradisi
dan untuk memahami kebangunan bangsa seutuhnya
aku harus khatam atas niyat ingsun adus cahyo
ingsun ngirup cahyane sabuwono
sembari keliru melafal mantra opo garida
weane wewene e royor e kamberu.

Tapi puisiku berasal dari otak
demikian aku waris kejemawaan ini
dari Takdir Alisjahbana sampai Chairil Anwar
sementara dengan otak yang kuyakin individualistis
yang ditempa dari SD sampai PT
semua tak daya menyelesaikan kemiskinan
dan puisiku mesti berterus terang tentangnya
Puisiku mesti melihat jurang miskin-kaya
Puisiku mesti melihat diskriminasi pri-nonpri
Apa boleh buat, Tuhan yang mengatur kodrat
mengatur kaya mengatur miskin mengatur ras
Ketika ras menjadi istimewa, aku tak suka ras
Aku tak suka Nietzsche, Hitler, KKK
bajingan-bajingan teologi - Ham bin Nuh.

Karena Tuhan adalah maha
maka Tuhan adalah tanah
maka Tuhan adalah air
maka Tuhan adalah langit
maka Tuhan adalah angin
Adalah sunyi adalah hitam adalah putih
Adalah gempita adalah tenang
Panjang
Ketika Tuhan adalah daging
Aku salibkan dia
Dan aku senang
Tapi ratap
Panjang.

Bagiku bumi adalah pesanggrahan, bukan rumah
karena begitu memang aku harus mati dalamnya
Aku mau mati sebagai badan
bukan roh
yang mengerti tentang asas merdeka
Merdeka tidak semena-mena
Merdeka tidak kongkalikong
Merdeka tidak patgulipat
Merdeka tidak ubermensch
Merdeka tidak survival of the fittest
Merdeka tidak pariwara
Merdeka adalah karunia atas kasih
Setelah itu aku tutup mata dalam kredo ini
Aku domba
Ia gembala.

Hati adalah tidur lama namun tak kekal
Ketika aku bangun, karena pada giliran itu
Aku ngotot dalam keyakinan
Bahwa logos yang awalnya itu theos:
“kai o logos pros ton theon
kai theos en o logos,”
yang mati menggantikan badanku
menghidupkan rohku.

Kyrios
Adonai
Tunggalkan rohmu dengan rohku
Tunggalkan sukmamu dengan sukmaku
Satu hari di hari ujung
Tatkala hari tak punya arti hari.

Orang-orang dengan akal lurus kini kian langka
dan leluri hewani sudah kalahkan cinta
kerygma tentang perhatian Tuhan
yang bukan hanya terhadap Sion
Padahal aku berada di antara mode ini
Celaka 12!

Di wilayah daging, aku sulit mengerti, namun kebacut
bahwa dalam semua hal harus ada perasaan puas
betapapun tak sempurnanya ya
Barangkali suatu Utarakuru yang tulen
memang hadir di wilayah habis ajal nanti
ketika aku berhenti pergi dan datang.

Semakin tua memang semakin bertumpuk masalah
Rasanya aku ingin pulang lagi ke masa kanak
Masa di mana harapan merupakan suatu simfoni
Pada waktu itu, dambaanku satu, saban 25 Desember
menyanyi senang, baju baru, makan enak
Sebelum makan aku hanya punya satu doa
Yang diajarkan misionari Texas:
“Our Father, I am hungry, thank Thee, amen!”

Kini doaku jadi njlimet dan sulit aku pahami
Aku mesti berdoa kepada Allah
tanpa bisa melupakan iblis

Theos
Elohim
Kepada Allah kuucapkan selamat pagi di pagi
Kepada Allah kuucapkan selamat malam di malam
Kepada Allah kuucapkan terima kasih untuk semua
Terima kasih karena matahari
Terima kasih karena bulan
Terima kasih karena bumi
Terima kasih karena Indonesia
Tatkala aku ucapkan ini aku mau iblis pun dengar
bahwa aku masih tetap ingat dan takut pada Allah
bahwa aku masih tetap sembah dan sujud pada Allah
betapa pun dengan iman yang timbul-tenggelam
Karena ketika aku sibuk dan lupa Allah
aku tahu Allah tidak lupa padaku.

Hidup memang bukan suatu tamasya tapi perang
Perang melawan tirani
Perang melawan korupsi
Perang melawan narkotik
Perang melawan kkomunisme
Perang melawan antiteisme
Perang melawan fundamentalisme
Dan satu lagi, perang melawan iblis
biang kerok segala dosa warisan pitarah
Sudah.


"Puisi Remy Sylado"
PuisiSoliloquy
Karya: Remy Sylado

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kisah Brur Yohan terhadap Ses Heni

Demikian terjadi di Jakarta tahun ini
Brur Yohan menembak istrinya Ses Heni
gara-gara mata gelap tidak punya wang
Dor! Dan Ses Heni pun jatuh – belum mati
Brur Yohan ke dokter, dokter males datang
dokter bilang: lebih tepat panggil pendeta
Brur Yohan ke pendeta, pendeta telat datang
Ses Heni mati, pendeta memimpin menyanyi
Nearer my God to Thee, nearer to Thee
Pendeta pulang melanjutkan tidurnya.



Nearer, My God, to Theejudul lagu gospel, biasa dinyanyikan di gereja mengiringi orang mati; ciptaan lirik oleh Sarah F. Adams, 1841, dan musik oleh Lowell Mason, 1859.

"Puisi Remy Sylado"
PuisiKisah Brur Yohan terhadap Ses Heni
Karya: Remy Sylado

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Depan Cermin

Di cermin yang baru dilap
aku melihat rembulan
dan suara ketawa.

Siapa yang menanam manggis di kebunku
membuahkan rambutan dan cempedak
Buah-buah di kebunku ada pada musimnya
kecuali kates terus berbuah di semua musim
seperti begitu cinta berbuah dalam hati.

Ini tanah airku
tempat kemarin aku lahir
dan besok mati disambut juru selamat.

Di negeriku sepanjang tahun ada matahari
yang menjadi mata bagi hari-hariku
Aku memetik dawai-dawai kecapi
di taman bunga segala warna yang mengitari kursiku.

Di cermin yang baru dilap
aku berkata kepada roh ibuku:
Bunda, aku ingin menjadi orang sabar
Kesabaran mencegah aku berbuat kesalahan.


"Puisi Remy Sylado"
PuisiDi Depan Cermin
Karya: Remy Sylado

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||