Soliloquy
(dibuat khusus dan dibacakan untuk ulang tahun ke-50 Sekolah Tinggi Teologi, Jakarta)

Kita memang tak bebas membuka mulut
dalam makrifat kita tentang kemerdekaan
Kita amat khatam terhadap seabrek kata tak boleh
yang dibuat barangkali dengan sungguh hati
tapi dijalankan dengan setengah hati.

Hati siapa bisa ayem menghadapi hari-hari depan
dalam rasa judek oleh sejumlah kambing hitam
Bensin naik, kambing hitamnya resesi
Kontrol sosial terbit, kambing hitamnya subversi
Segala strategi kejahatan, kambing hitamnya Lucifer
Tak tahunya di belakang wewenang iblis atas Ayub
ternyata Penghulu Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban
adalah Khalik serwa sekalian - kami punya Bapa.

Ini karena kita kurang berbakat membedakan
antara akal dengan okol, otak dengan otot
Yang perlu pakai otak kita pakai otot
dan otot memang selalu berguna ketika kita ingat
bahwa tradisi pembunuh misterius berasal dari Kain
dan kita senang terbenam dalam tradisi menyangkal:
“Aku tak tahu, memangnya aku penjaga adikku?”

Sekiranya mengundang maut bukan dosa
aku taburkan muka bukan dengan bedak tapi tai kuda
lantas kutikamkan dada bukan dengan cinta tapi dengki
sebelum menggantung diri atas patriotisme semu Padamu Negri
Itu lebih afdal barangkali ketimbang hidup bagai benalu
di bumi yang diatur bukan oleh bangsa tapi bangsat.

Namun Yehwah, Gustiku, Apo mananatas
yang menjadi gembalanya Daud
yang memimpin Musa keluar dari tanah perhambaan
yang menyertai Ibrahim dari Ur-Qasdim.

yang mengutus Franciscus Xaverius ke Ambon
yang mengirim Josef Kam sampai ke Manado
bakal mengantar batinku ke ambang kemerdekaan.

Merdeka, kau tau, tak sama seperti angin
Merdeka, kau tau, adalah saudara sepupu naluri:
siapa berhalakan akal bakal menjadi harimau
dan domba mati tanpa mengajukan protes.

Domba memang mesti hati-hati
Padahal puisi tak mungkin disambut dengan hati baja
Tak oleh pelor
Tak oleh rudal.

Kendati tanahku dijepit budaya Arab-India-Cina
puisiku tak punya konfidensi model Kotaro Takamura
yang boleh bebas dari sosok puisi Shakespeare
Mau apa memangnya jika takdirku Indo
sebagaimana nama negriku dikasih Adolf Bastian.

Aku sudah terbiasa dengan segala paradoks Indo
beef steak dilengkapi sambel terasi
jalanan hot-mix dilengkapi polisi-tidur
berpikir modern dilengkapi pelestarian tradisi
dan untuk memahami kebangunan bangsa seutuhnya
aku harus khatam atas niyat ingsun adus cahyo
ingsun ngirup cahyane sabuwono
sembari keliru melafal mantra opo garida
weane wewene e royor e kamberu.

Tapi puisiku berasal dari otak
demikian aku waris kejemawaan ini
dari Takdir Alisjahbana sampai Chairil Anwar
sementara dengan otak yang kuyakin individualistis
yang ditempa dari SD sampai PT
semua tak daya menyelesaikan kemiskinan
dan puisiku mesti berterus terang tentangnya
Puisiku mesti melihat jurang miskin-kaya
Puisiku mesti melihat diskriminasi pri-nonpri
Apa boleh buat, Tuhan yang mengatur kodrat
mengatur kaya mengatur miskin mengatur ras
Ketika ras menjadi istimewa, aku tak suka ras
Aku tak suka Nietzsche, Hitler, KKK
bajingan-bajingan teologi - Ham bin Nuh.

Karena Tuhan adalah maha
maka Tuhan adalah tanah
maka Tuhan adalah air
maka Tuhan adalah langit
maka Tuhan adalah angin
Adalah sunyi adalah hitam adalah putih
Adalah gempita adalah tenang
Panjang
Ketika Tuhan adalah daging
Aku salibkan dia
Dan aku senang
Tapi ratap
Panjang.

Bagiku bumi adalah pesanggrahan, bukan rumah
karena begitu memang aku harus mati dalamnya
Aku mau mati sebagai badan
bukan roh
yang mengerti tentang asas merdeka
Merdeka tidak semena-mena
Merdeka tidak kongkalikong
Merdeka tidak patgulipat
Merdeka tidak ubermensch
Merdeka tidak survival of the fittest
Merdeka tidak pariwara
Merdeka adalah karunia atas kasih
Setelah itu aku tutup mata dalam kredo ini
Aku domba
Ia gembala.

Hati adalah tidur lama namun tak kekal
Ketika aku bangun, karena pada giliran itu
Aku ngotot dalam keyakinan
Bahwa logos yang awalnya itu theos:
“kai o logos pros ton theon
kai theos en o logos,”
yang mati menggantikan badanku
menghidupkan rohku.

Kyrios
Adonai
Tunggalkan rohmu dengan rohku
Tunggalkan sukmamu dengan sukmaku
Satu hari di hari ujung
Tatkala hari tak punya arti hari.

Orang-orang dengan akal lurus kini kian langka
dan leluri hewani sudah kalahkan cinta
kerygma tentang perhatian Tuhan
yang bukan hanya terhadap Sion
Padahal aku berada di antara mode ini
Celaka 12!

Di wilayah daging, aku sulit mengerti, namun kebacut
bahwa dalam semua hal harus ada perasaan puas
betapapun tak sempurnanya ya
Barangkali suatu Utarakuru yang tulen
memang hadir di wilayah habis ajal nanti
ketika aku berhenti pergi dan datang.

Semakin tua memang semakin bertumpuk masalah
Rasanya aku ingin pulang lagi ke masa kanak
Masa di mana harapan merupakan suatu simfoni
Pada waktu itu, dambaanku satu, saban 25 Desember
menyanyi senang, baju baru, makan enak
Sebelum makan aku hanya punya satu doa
Yang diajarkan misionari Texas:
“Our Father, I am hungry, thank Thee, amen!”

Kini doaku jadi njlimet dan sulit aku pahami
Aku mesti berdoa kepada Allah
tanpa bisa melupakan iblis

Theos
Elohim
Kepada Allah kuucapkan selamat pagi di pagi
Kepada Allah kuucapkan selamat malam di malam
Kepada Allah kuucapkan terima kasih untuk semua
Terima kasih karena matahari
Terima kasih karena bulan
Terima kasih karena bumi
Terima kasih karena Indonesia
Tatkala aku ucapkan ini aku mau iblis pun dengar
bahwa aku masih tetap ingat dan takut pada Allah
bahwa aku masih tetap sembah dan sujud pada Allah
betapa pun dengan iman yang timbul-tenggelam
Karena ketika aku sibuk dan lupa Allah
aku tahu Allah tidak lupa padaku.

Hidup memang bukan suatu tamasya tapi perang
Perang melawan tirani
Perang melawan korupsi
Perang melawan narkotik
Perang melawan kkomunisme
Perang melawan antiteisme
Perang melawan fundamentalisme
Dan satu lagi, perang melawan iblis
biang kerok segala dosa warisan pitarah
Sudah.


"Puisi Remy Sylado"
PuisiSoliloquy
Karya: Remy Sylado

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Post A Comment:

0 comments: