Januari 1991
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Demi Orang-orang Rangkasbitung

Tuan-tuan dan nyonya-nyonya,
salam sejahtera!
Nama saya Multatuli
datang dari masa lalu.
Dahulu abdi Kerajaan Belanda,
ditugaskan di Rangkasbitung,
ibukota Lebak saat itu.
Satu pengalaman penuh ujian.
Rakyat ditindas oleh bupati mereka sendiri.
Petani hanya bisa berkeringat,
tidak bisa tertawa,
dan hak pribadi diperkosa.

Demi kepentingan penjajahan,
Kerajaan Belanda bersekutu dengan kejahatan ini.
Sia-sia saya mencegahnya.
Kalah dan tidak berdaya.

Saya telah menyaksikan
bagaimana keadilan telah dikalahkan
oleh para penguasa
dengan gaya yang anggun
dan sikap yang gagah.
Tanpa ada ungkapan kekejaman
di wajah mereka.
Dengan bahasa yang rapi
mereka keluarkan keputusan-keputusan
yang tidak adil terhadap rakyat.
Serta dengan budi bahasa yang halus
mereka saling membagi keuntungan
yang mereka dapat dari rakyat
yang kehilangan tanah dan ternaknya.
Ya, semuanya dilakukan
sebagai suatu kewajaran.

Dan bangsa kami di negeri Belanda
pada hari Minggu berpakaian rapi,
berdoa dengan tekun.
Sesudah itu bersantap bersama,
menghayati gaya peradaban tinggi,
bersama sanak keluarga,
menghindari perkataan kotor,
dan selalu berbicara
dalam tata bahasa yang patut,
sambil membanggakan keuntungan besar
di dalam perdagangan kopi,
sebagai hasil yang efisien
dari tanam paksa di tanah jajahan.
Dengan perasaan mulia dan bangga
kami berbicara
tentang suksesnya penaklukan dan penjajahan.
Ya, begitulah.
Kami selalu mencuci tangan sebelum makan
dan kami meletakkan serbet
di pangkuan kami.
Dengan kemuliaan yang sama pula
ketika kami memerintahkan para marsose
agar membantai orang-orang Maluku dan
orang-orang Java
yang mencoba mempertahankan
kedaulatan mereka!
Ya, kami adalah bangsa
yang tidak pernah lupa mencuci tangan.

Kita bisa menjadi sangat lelah
apabila merenungkan gambaran kemanusiaan
dewasa ini.
Orang Belanda dahulu
juga mempunyai keluh kesah yang sama
apabila berbicara tentang keadaan mereka
di zaman penjajahan oleh Spanyol.
Mereka memberi nama yang buruk
kepada Pangeran Alba yang sangat menindas.
Tetapi sekarang apakah mereka lebih baik
dari Pangeran yang jahat itu?

Tentu tidak hanya saya
yang merasa gelisah
terhadap dawat hitam
yang menodai iman kita.
Pikiran yang lurus menjadi bercela
karena tidak pernah bisa tuntas
dalam menangani keadilan.
Sementara waktu terus berjalan
dan terus memperlihatkan keluasan
keadaannya.
Kita tidak bisa seimbang
dalam menciptakan keluasan ruang
di dalam pemikiran kita.
Memang kita telah bisa berpikir
lebih canggih dan kompleks,
tetapi belum bisa lebih bebas
tanpa sekat-sekat
dibanding dengan keluasan waktu.
Bagaimana keadilan bisa ditangani
dengan pikiran yang selalu tersekat-sekat?
Ya, saya rasa kita memang lelah.
Tetapi kita tidak boleh berhenti di sini.

Bukankah keadaan keadilan di sini
belum lebih baik dari zaman penjajahan?
Dahulu rakyat Rangkasbitung
tidak mempunyai hak hukum
apabila mereka berhadapan kepentingan
dengan Adipati Lebak.
Sekarang
apakah rakyat kecil
sudah mempunyai hak hukum
apabila mereka berhadapan kepentingan
dengan Adipati-adipati masa kini?
Dahulu
Adipati Lebak bisa lolos dari hukum.
Sekarang
Adipati-adipati yang kejam dan serakah
apakah sudah bisa dituntut oleh hukum?
Bukankah kemerdekaan yang sempurna itu
adalah kemerdekaan negara dan bangsa?
Negara anda sudah merdeka.
Tetapi apakah bangsa anda juga
sudah merdeka?
Apakah bangsa tanpa hak hukum
bisa disebut bangsa merdeka?

Para pemimpin negara-negara maju
bisa menitikkan air mata
apabila mereka berbicara tentang democratie
kepada para putranya.
Tetapi dari kolam renang
dengan sangat santai dan penuh kewajaran
mereka mengangkat telefoon
untuk memberikan dukungan
kepada para tiran dari negara lain
demi keuntungan-keuntungan materi bangsa
mereka sendiri.

Oh! Ya, Tuhan!
Saya mengatakan semua ini
sambil merasakan rasa lemas
yang menghinggapi seluruh tubuh saya.
Saya mencoba tetap bisa berdiri
meskipun rasanya
tulang-tulang sudah hilang dari tubuh saya.
Saya sedang melawan perasaan sia-sia.
Saya melihat
negara-negara maju memberikan
bantuan ekonomi.
Dan sebagai hasilnya
banyak rakyat dari dunia berkembang
kehilangan tanah mereka,
supaya orang kaya bisa main golf,
atau supaya ada bendungan
yang memberikan sumber tenaga listrik
bagi industri dengan modal asing.
Dan para rakyat yang malang itu, ya Tuhan,
mendapat ganti rugi
untuk setiap satu meter persegi dari tanahnya
dengan uang yang sama nilainya
dengan satu pak sigaret bikinan Amerika.

Barangkali kehadiran saya sekarang
mulai tidak mengenakkan suasana?
Keadaan ini dulu sudah saya alami.
Apakah orang seperti saya harus dilanda
oleh sejarah?
Tetapi ingat:
sementara sejarah selalu melahirkan
masalah ketidakadilan,
tetapi ia juga selalu melahirkan
orang seperti saya.
Menyadari hal ini
tidak lagi saya merasa sia-sia atau tidak sia-sia.

Tuan-tuan, para penguasa di dunia,
kita sama-sama memahami sejarah.
Senang atau tidak senang
ternyata tuan-tuan tidak bisa
meniadakan saya.
Nama saya Multatuli
saya bukan buku yang bisa dilarang
dan dibakar.
Juga bukan benteng yang bisa
dihancurleburkan.
Saya Multatuli:
sebagian dari nurani tuan-tuan sendiri.
Oleh karena itu
saya tidak bisa disamaratakan dengan tanah.

Tuan-tuan, para penguasa di dunia,
apabila ada keadaan yang celaka,
apakah perlu ditambah celaka lagi?
Pada intinya inilah pertanyaan sejarah
kepada anda semua.
Tuan-tuan dan nyonya-nyonya
yang hadir di sini,
setelah memahami sejarah,
saya betul tidak lagi merasa sepi.
Dan memang tidak relevan lagi bagi saya
untuk merasa sia-sia atau tidak sia-sia,
sebab jelaslah sudah kewajiban saya.
Ialah: hadir dan mengalir.

Tuan-tuan dan nyonya-nyonya,
terima kasih.
Bojong Gede, 5 Nopember 1990
"Puisi: Demi Orang-orang Rangkasbitung (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Demi Orang-orang Rangkasbitung
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Lanskap


Saya di sini bukan untuk jejak hujan
yang panjang. Tapi ada sebuah bangkai
yang terlipat dalam lumpur. Dan
seekor burung bertengger di atasnya.

Saya di sini bukan untuk alam
yang rongsokan. Tapi ada seekor anjing
yang menghirup udara busuk, lalu meraung
dan ulat-ulat berbaris di kakinya.

Apakah waktu sebetulnya,
apakah duka. Di bangkai itu berkilau
arloji; berdetik saja ia
sejak tadi.
 
1976
"Puisi: Lanskap (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Lanskap
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tikus


Memanen tanpa menanam
Merompak tanpa jejak
Kabur tanpa buntut
Bau tanpa kentut


 
  
1414 H
"Puisi: Tikus (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Tikus
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Basrah


Inilah Basrah...
tanah batu putih
tak pernah berhenti memerah
tak pernah lelah dijarah sejarah.

Inilah Basrah...
pejuang badar bernama Utbah...
membangun kota ini atas perintah Umar Al-faruq sang khalifah.
Entah mantra apa yang dibaca ketika meletakkan batu pertama
sehingga kemudian setiap jengkal tanahnya
tak henti-hentinya merekam nuansa seribu satu cerita.

Basrah yang marah...
Basrah yang merah...
Basrah yang ramah...
Basrah yang pasrah...

Kota yang terus membatasi penduduknya
dengan menambah jumlah syuhada.

Inilah Basrah...
di sini Ali dan Aisyah
menantu dan istri nabi
mengumpulkan dendam amarah.
Ghirah terhadap keyakinan kebenaran.
Setelah mengantarkan Az-zubair dan Al-haq,
hawari-hawari nabi ke taman kedamaian abadi yang dijanjikan.

Inilah Basrah...
Di sini Abu Musa dan Abul Hasan
mematrikan nama Al-as'ari pada lempeng sejarah.

Inilah Basrah...
di sini berbaur seribu satu aliran.
Di sini Sunnah, Syiah dan Mu'tazilah,
masing-masing bisa menjadi bid'ah.
Di sini berhala pemutlakkan pendapat terkapar oleh kekuasaan fitrah.

Inilah Basrah...
mimbar khalwat Al-hasan Al-bashari dan Rabi'ah.
Inilah Basrah...
tempat bercanda Abu Nuas dan Walibah.
Inilah Basrah...
tempat Al-musayyab dan syair-syairnya
menghidupkan mirwat yang wah.

Inikah Basrah...
tangan takdir penuh misteri menuntunku
tamu tak diundang ini kemari.
Aku menahan nafas.

Inikah basrah...
Inilah basrah...
setelah perang Irak Iran.
Korma-korma yang masih pucat melambai ramah.
Para pemuda, gadis, dan bocah
menyanyi dan menari tahnyiah
untuk penyair mirbat yang berpesta merayakan
entah kemenangan apa.

Di sini jumat siang 25 Jumadil Ula.
Sehabis menelan dan memuntahkan puisi-puisi kebanggaan.
Ratusan penyair dengan garang berhamburan menyerang kambing-kambing guling.
Ikan-ikan shatul arab yang dipanggang kering.
Nasi samin dan roti segede-gede piring,
anggur dan korma kemurahan Basrah.
Aku dilepas takdir ke tengah-tengah mereka.
mengeroyok meja makan yang panjang
menelan puisi dan saji
sambil 'ku perhatikan wajah-wajah para penyair.
Kalau-kalau..., ah...
sampai Walibah dan Abu Nawas pun tak tampak ada.

Inilah Basrah...
bersama para penyair yang lapar... 'ku telan semuanya.
Bersama-sama menghabiskan apa yang ada
sampai mentari ditelan bumi.
Dan aku pun tertelan habis-habisan.
Basrah mulai gelap...
barangkali Adzan Maghrib sudah dikumandangkan
tapi tampaknya tak satupun yang mendengarnya.
Kami kekenyangan semua.

Dan aku, sambil bersendawa,
merogoh saku mencari-cari rokokku
terasa kertas-kertas lusuh sanguku dari rumah
puisi-puisi sufistik untuk Al-bashari dan Rabi'ah.
Tiba-tiba... aku ingin muntah.
Kulihat kedua Zahid Basrah itu... di sudut sana sedang berbuka
hanya dengan air mata.

Aku ingin lari bersembunyi tapi kemana.
Tuhan..., berilah aku setetes saja air mata mereka
untuk mencairkan batu di dadaku.
Basrah... tolong, jangan rekam kehadiranku.
 
  
Basrah, 1410 H
"Puisi: Di Basrah (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Di Basrah
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Nafi-isbat

Tuhan. Telah tiba aku pada ketika
di mana segala pun jadi tiada.
 
Dan aku pun luruh
maka Engkau pun lengkap, utuh.
  
1976
"Puisi: Nafi-isbat (Karya Aldian Aripin)"
Puisi: Nafi-isbat
Karya: Aldian Aripin
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Buat Gadis Rasid

Antara
daun-daun hijau
padang lapang dan terang
anak-anak kecil tidak bersalah, baru bisa lari-larian
burung-burung merdu
hujan segar dan menyebur
bangsa muda menjadi, baru bisa bilang "aku"
Dan
angin tajam kering, tanah semata gersang
pasir bangkit mentanduskan, daerah dikosongi
Kita terapit, cintaku
- mengecil diri, kadang bisa mengisar setapak
Mari kita lepas, kita lepas jiwa mencari jadi merpati
Terbang
mengenali gurun, sonder ketemu, sonder mendarat
- the only possible non-stop flight
Tidak mendapat

1948
"Puisi: Buat Gadis Rasid (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Buat Gadis Rasid
Karya: Chairil Anwar
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tahun pun Turun Membuka Sayapnya
Tahun pun turun membuka sayapnya
ke luas-jauh benua-benua
Laut membias: warna biru langit tua
Zaman menderas: manusia tetap setia.
Kita di sini ngungun berdiri, membangun abad ini:
"Adakah sorga akan kemari?"
Lampu-lampu padam dan malam buta
Tapi manusia setia.

1963
"Puisi: Tahun pun Turun Membuka Sayapnya (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Tahun pun Turun Membuka Sayapnya
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Na Sonang Do Hita Na Dua

Derum daun-daun Ithaca
seperti lagu
di radio masa kecilnya
Na sonang do hita na dua.

Tapi tak ada lagi
orang yang berdua
(itulah komposisi dalam nasibnya)

Yang ada hanya seseorang
yang membetulkan rambutnya
yang menipis, di pelipis
dan melihat ke akhir agenda

"Cinta kami adalah
dua nomor telepon yang hilang
dalam perpindahan
yang panjang "

Derum daun-daun Ithaca
brisik kersen tua
angin musim ketiga
mengontak ketakacuhannya

Tapi kamar telah menyetop
surat-surat
Juga Tuhan, kematian
dan rasa sakit di kejauhan

dengan siapa kita akhirnya
akan berada, akan berdua
seperti lagu
di radio masa kecilnya.
 
1991
"Puisi: Na Sonang Do Hita Na Dua (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Na Sonang Do Hita Na Dua
Karya: Goenawan Mohamad