Februari 1991
Ibadah Separuh Hati

Kuletakkan hatiku pada meja perjamuan. 
telah sepanjang usia aku merendamnya dalam
darah. jiwa yang mengaliri doa-doaku
saban hari.

Makin lama aku makin tahu
Tuhan cuma memberiku matahari terbit
dan terbenam.

Jadi, biarlah kuletakkan hatiku
pada cawan. hidup dan matiku ada dalam jari
yang memain-mainkan garpu: menciptakan
musik aneh dalam setiap aminku!

"Puisi: Ibadah Separuh Hati (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Ibadah Separuh Hati
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Wabah

Selamping pundakmu damar melati.
gemerincing merah saga mata tembaga
pudar sehempas saja.

Santa Maria! Di mana benteng itu?
Nyala biru dimar-dimar gaib sepanjang malam
depan keranda sepasukan pencari yang menimbun
jiwa-jiwa nestapa. menuju lorong sunyi
sepanjang pikiranku. jubah-jubah kosong
dan sepatu angin mengalir dari pintu-pintu
tak terbuka. tak ada waktu sedetik saja.
bulan beku dan muram durja.

Santa Maria! Kenapa pijar api membakar
dan mengabukan tubuh-tubuh sengsara itu?
Dengan kereta berderap tanpa suara. anjing-anjing
gaib mengusung rumah-rumah ke tanah jauh.

Santa Maria! Ibu yang memberi aku rahim bagi sejarah.
memintaku diperkosa jaman yang sombong.
dadaku dijamah dan diremasnya. air susuku
dihisap-hisapnya. kubisikkan jerit penghabisan.
kesakitan yang tanpa ujung!

Aku pulang. mencari jejak kekosongan.

Kockengen, 2002
"Puisi: Wabah (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Wabah
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Jakarta Hari Ini

Seribu langkah hari ini
dari terminal ke terminal
dari taman ke lain taman
dari jembatan-jembatan penyeberangan
kugapai ramah wajahnya
gemerlap dalam bias lampu sejuta
dan tata indahnya kota.

Dia bagai sahabat lama
yang memanggil dan menggoda
tapi aku tak mungkin menutup mata
ketika pada sisi yang lain
pandangku jatuh
atas tubuh-tubuh yang tersia
tanpa tahu arti merdeka
dan bocah penjaja koran yang berebut
naik bis kota
dengan pencopet kawakan
sama-sama mencari mangsa
sebelum diterkam
liarnya kehidupan kota.

Jakarta
April, 1977
"Puisi: Jakarta Hari Ini (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Jakarta Hari Ini
Karya: Diah Hadaning
Sajak Sisa

Katakan pada bukit-bukit hijau
hari ini pesta raksasa di hutan purba
diperlukan panggung selaksa
jangan tangisi pepohon tahun
tak lagi setia rimbuni lambung bukit
katakan pada laut lepas pantai
hari ini pesta Neptunus dan wadyabala
diperlukan ikan besar pukat harimau
jangan tangisi ikan-ikan tak lagi
berbondong menari di kaki ombak
laut sepi batu karang nyanyi sendiri
katakan pada gadis bunga seroja desa
hari ini pesta tuang-tuan atas angin
diperlukan anggur merah
dan madu murni Nusantara
jangan tangisi hilangnya warna dan selera
bebunga putih berguguran di tanah sepi
kita saling bicara sendiri
o, hutan telanjang milik siapa
o, laut sepi milik siapa
o, gadis lusuh milik siapa
Tuhan, lihatlah semua tinggal sisa!

Yogya, April 1978
"Puisi: Sajak Sisa (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak Sisa
Karya: Diah Hadaning
Ketika April pun Usai

Nyanyi-nyanyi telah terekam dalam hati
dan melati segar telah telah sempurna dalam puisi
adakah masih tergetar di hatimu, hai
ikrar dan setia tempo hari
manakala Kartini menatap dengan senyum abadi.

O, derita hidup yang selalu membuatmu merengut
Sarinah dan Siti yang wajahmu cepat nian keriput
jangan biarkan itu menghelamu menuju mata pedang
di tanah ini terlalu banyak saudara yang kasih dan sayang
yang tahu dan paham makna dunia wanita, datang, datanglah
kembangkan lenganmu yang indah.

Mumpung matahari masih hangat bergairah
tak perlu cemas kehilangan arah
tajamkan batinmu arah utara
dari mana pekik Kartini membahana
Sarinah dan Siti, jangan jongkok mari berdiri
bersama kami berbondong dan bernyanyi
April pasti datang dan datang lagi.

Jakarta, 1979
"Puisi: Ketika April pun Usai (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Ketika April pun Usai
Karya: Diah Hadaning
Sajak tentang Seorang Ibu di Kamp Jijiga

Somalia menjadi kerudung duka di kepalanya
ketika ia berdiri sepi dikelilingi anak-anaknya
tanpa matahari di wajahnya
tanpa angin sabana di rambutnya
dalam diam disapanya dunia gemilang
disapanya menara-menara kota yang jauh
suara-suara telah tertelan kembali
bersama sepi dan kelaparan hari-hari
mengeram dalam Afrika jantungnya 
Somalia menjadi roti di reruntuhan harapnya
ketika ia berdiri ngeri dikelilingi anak-anaknya 
kakinya masih menapak kuat
di tanah yang tak memberinya rahmat
"ini sorgaku,
Afrika darah dagingku" ....
gumamnya luluh pada debu di bawah kakinya.

Jakarta, 1980
"Puisi: Sajak tentang Seorang Ibu di Kamp Jijiga (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak tentang Seorang Ibu di Kamp Jijiga
Karya: Diah Hadaning
Sajak tentang Citra Sebuah Kota

gemerincing genta pahimu, kota
tak lagi menambatkan sukma pada masa-masa tanpa nama
selain cerita tentang budaya yang baur dalam bisnis
dan rintih tentangmu yang mulai kehilangan citra
malam-malam sepanjang jalanmu
sepi tanpa Umbu Landu Paranggi
tapi ramai oleh celoteh dara-dara kenes pejalan kaki
pernah ku bayangkan di setiap mana ku temukan kerabatku
nyatanya aku harus menjelajah kampung
sebelum saling berpagut dalam inspirasi
dan mengejar cerita malam bersama kepak kelelawar.

Jakarta, 1980
"Puisi: Sajak tentang Citra Sebuah Kota (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak tentang Citra Sebuah Kota
Karya: Diah Hadaning
Toba Sepotong Senja

Dayungku
mesti berkisar
hati-hati
ketika
sisa matahari menerpa
pohon-pohon di tepi
dan wajahmu
yang menciut
setiap hari
bercermin
dalam elegi.

Jakarta, 1981
"Puisi: Toba Sepotong Senja (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Toba Sepotong Senja
Karya: Diah Hadaning
Malam di Pura Kecil

Kau merenung dalam kehitaman
sebuah kiamat kecil tiba-tiba
menjadi awal punahnya kepongahan
yang lama bergantungan
di pohon buah kehidupan
kau berpikir antara dogma dan dialektika
adakah kita semua yang tinggal
suatu benih atau pupuk perimbun siksa.

Kau merenung dalam kehitaman
sebuah kiamat kecil tiba-tiba
menjadi awal perjalanan baru
pura kecil pura kenangan
purnama dan doa jadi tembangan.

1981
"Puisi: Malam di Pura Kecil (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Malam di Pura Kecil
Karya: Diah Hadaning
Bali dalam Sesaji

Segugus mantera melayang
dari arah Pura Agung
sesaat rinduku mendarat di dermaga
buah-buah sajakku
dari seribu pohon matang di mantera
tersusun di talam putih
sesajiku dalam imajinasi
salam pagi kepada matahari
saat itu penyair sahabat berkalang
kerja dalam genggaman.

1981
"Puisi: Bali dalam Sesaji (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Bali dalam Sesaji
Karya: Diah Hadaning

Sajak dari Ladang Garam

Tuangkan air laut dari timba opeh
tuangkan air laut dari peluh
tuangkan air laut dari mata
tuangkan air laut dari mulut
tuangkan ke ladang garam
tuangkan antara Juwana - Rembang
ratakan dengan silinder gelugu
ratakan dengan tapak kaki
ratakan dengan angin gisik
semua adalah nyanyianmu
nyanyian dari ladang garam
saat lenggang perawan pesisir
lenyap di balik dinding berdesir
saat bocah-bocah ikut berburu ombak
saat perempuan-perempuan kecoklatan
senandungkan putaran ritmis gelugu
kelimis-kelimislah ladang garam
beri kerak-kerak putih nafas kehidupan
di situ tertumpah
hari-hari bebocah itu
senyum-senyum gisik itu
mimpi baju putih merah itu
mimpi sepatu bertali itu
mimpi tiang bendera upacara itu.

Jakarta
Desember, 1984
"Puisi: Sajak dari Ladang Garam (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak dari Ladang Garam
Karya: Diah Hadaning
Jakarta dalam Suaraku

Orang-orang kamar menatap dunia
sambil pejam sementara 
aku pacu angin kembara

di ladang-ladang bunga
di bukit-bukit padas
di gisik tanah kelahiran
di jantungmu bahkan

tragedi tercipta dari rasa yang
lumpuh oleh belulang tanpa kuasa
"kota penuh bakteri
aku harus bentengi suci"
orang-orang kamar pandang dunia
tak pernah binar-seminar
padahal nuansa selalu kubangun
siang malam dari debu di tubuhmu, Jakarta.

Aku tertegun di kaki lima
sementara degup jantung bertemperasaan
di pucuk-pucuk angsana yang
bertumbangan demi terlintang jalan layang
o, perang dan damai saling bentur dalam jiwa
tak hanya di lorong Baghdad dan Basra
o, merpati dan darah tak pernah menyatu warna
di langitmu Jakarta karena hakiki
putih dan merah adalah
nafas yang salih dan sang angkara
maka aku tak hendak jadi orang-orang kamar
meski musik dan anggur mengucur dari
ilusi tercipta oleh langit teknologi
aku pejalan kaki yang sesekali masih mencari
cecer melati di antara petak betonmu, Jakarta.

1988
"Puisi: Jakarta dalam Suaraku (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Jakarta dalam Suaraku
Karya: Diah Hadaning
Antara Qom dan Basra

Roh-roh menyerbu langit
melepuh oleh gelombang api dendam
roh-roh memberati udara bertuba
tinggalkan dosa di puing-puing Qom dan Basra
"Tuhan bukakan pintu rumah-Mu"
masih saja peluru mencabik-cabik matahari
sepanjang tahun di tanah ini
masih saja erang menyayati gurun-gurun
kamp-kamp dan reruntuhan kota
perdamaian tersisa dalam kepak burung-burung
gema azan lama aib oleh debu
Qam dan Basra luluh dalam deru
"Tuhan bukakan pintu rumah-Mu"

Di bumi serdadu perang mengunci nurani
merpati molek terbang sendiri
berlumur darah 'netes atas lembar Al Qur-an
'ratapi bayangnya di kanvas Picasso
Qam dan Basra pun terus memanggil anak-anaknya
mereka dendangkan prahara
dengan peluru dalam mulut
peluru dalam mata
peluru dalam sukma
dan roh-roh terus meniupkan dendam
mesti habiskah cucu Sang nabi tersayang?
Qom dan Basra semakin telanjang.

1990
"Puisi: Antara Qom dan Basra (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Antara Qom dan Basra
Karya: Diah Hadaning
Sajak lapar

Aku lahir
oleh lapar dunia
untuk buang lapar
tak mau kumakan apa-apa.

Sebab laparku
bersumpah akan menjadi
lapar abadi.
Jika aku buang lapar

: aku makan gunung dan hutan
aku makan sawah dan lahan
aku makan pulau dan isi lautan
aku makan petani dan nelayan
aku makan kota dan nasib saudaraku.

Ketika aku lapar
kumakan laparku sendiri

Ketika Tuan lapar
kuberikan keringat kerja

Ketika Tuhan lapar
kuberikan dzikir dan doa

Ketika teknologi lapar
haruskah kuberikan gunung Mahkota?

1991
"Puisi: Sajak lapar (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak lapar
Karya: Diah Hadaning
Kesaksian Anak Lanang Bagi Ibu Bumi

Lembangkan keluh bumi, anak lanang
dengan segala rahmat dan pahalanya
tembangkan dendam bumi, anak lanang
dengan segala dosa dan kuwalatnya.

Tatap dari lubuk rasa ibu kehidupan
pohon-pohon hijau tumbuh di kawasan harap
sungai-sungai jernih 'ngalir
di belahan angan
keangkuhan kita menjajah era-era
menimbun derita sebata-sebata
asapi wajah hari dengan jelaga teknologi
dari fajar ke fajar hilang sadar
beton-beton melukai jadi cadar
keangkuhan kita melelang cinta
ibu luka lahirkan lava dendam
ibu luka muntahkan gugur tanah
ibu luka bangkitkan murka badai

Terbata anak lanang janji bersaksi
putihkan jiwa bersekutu kearifan
rindukan dekap ibu kesayangan 
dalam senyum, tangis, kehijauan.

Bogor
April, 1992
"Puisi: Kesaksian Anak Lanang Bagi Ibu Bumi (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Kesaksian Anak Lanang Bagi Ibu Bumi
Karya: Diah Hadaning

Surabaya dan Topeng-Topeng

Saudara tuaku masih setia seperti dulu
mewarnai hari-hari sepanjang musim
membiarkan uban semakin menyemak ilalang
membiarkan orang memekik dan menantang
dan topeng-topeng di panggung
dan nyala oncor di jantung
buang rasa keduwung.

Orang-orang lelamisan
mengambil topeng-topeng
panggung suwung
topeng-topeng ada di wajah-wajah
lalu semua menjadi sajak gelap
kukenali kejujuran
hanya lewat suara hati.

Surabaya, 1994
"Puisi: Surabaya dan Topeng-Topeng (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Surabaya dan Topeng-Topeng
Karya: Diah Hadaning
Sajak Muria

I
Muria... Muria
Macapatan
Parijatha.

Muria... Muria
megatruh
yang melepuh.

Muria... Muria
Ujung Waktu
yang sebatu.

Muria... Muria
lubuk kenangan
masa silam.

Muria... Muria
lambang baru
erang kehilanganku.

Muria... Muria

II
Seorang perempuan sederhana
ditanya lelaki gagah
dalam sesatnya di kota raya

Namamu siapa?
Siti Muria ya tuan
(lho, itu baru kudengar)

Asalmu mana?
ujung waktu tanpa sisa ya tuan
(lho, itu sudah kutahu)

Sekarang mau apa?
benahi teratak Muria ya tuan
(lho, aduh ampun nyai ratu)

Seorang lelaki gagah terpanan
ditegur halus sang nyai danyang
menyamar turun kota.

Monolog:
kesabaran dalam ada batasnya
yang lelap tidur bisa terjaga.

Bogor
April, 1994
"Puisi: Sajak Muria (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak Muria
Karya: Diah Hadaning
Abstraksi Studio

Mimpi-mimpi berlompatan dari bilik terkunci
orang-orang yang merasa terejam
mimpi tersangkut di topeng-topeng
bergoyang mengejek sukma yang tak suka tembang
dan saudaraku yang alpa
tiba-tiba seperti lelaki kehilangan baju di tengah kota.

Suara-suara berlopatan dari lidah terikat
orang-orang yang merasa tercekat
suara terhanyut di kali bening
lembak lembak mengejek hati yang masih bercabang
dan saudaraku yang setia
tiba-tiba menebusnya dengan air mata.

Dari abstraksi ke abstraksi 
kita senantiasa mengemas kehidupan
tak perlu mencaci hujan
kita masih punya rembulan keinginan
tak perlu mencaci akik
kita masih punya pradhaning yang manik-manik
penari muda lereng merapi
lidahnya menyimpan aroma bunga gondosuli.

Mendut
Maret, 1995
"Puisi: Abstraksi Studio (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Abstraksi Studio
Karya: Diah Hadaning
Tanah Air yang Simpan Mozaik Peradaban

Dia tumbuh jadi perempuan matahari
selalu berlayar dengan dayung besar
dihantar angin kembara
hasratnya dekap dunia
sambil memanggul kampak berkarat.

Pantai-pantai disalami
dermaga-dermaga dipacak penjor
janur kuning dan umbul-umbul
dikikis segala pedih
langit berkaca di laut jernih.

Dia mengaku anak pawang
di dadanya angin bersarang
urat nadi jalan setapak hijau pematang
hutan tropis merimbun di rambutnya memutih
tanah air kinanti simpan mozaik peradaban.

Bogor, 1995
"Puisi: Tanah Air yang Simpan Mozaik Peradaban (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Tanah Air yang Simpan Mozaik Peradaban
Karya: Diah Hadaning
Fragmen Tasbih Hujan

Seuntai ayat terus diulang
menelusuri butir-butir tasbih
di rimbun hati ia bersarang
hasratkan jiwa salih.

Hujan menghantar doa malam
membasuh segala dendam
seorang ibu rindukan anak yang jauh
seorang anak berdoa terenyuh.

Hujan kini menasbih
menyimpan ayat-ayat putih
tiada kuasa kata berdalih
Engkau juga Yang Terkasih.

Bogor
Februari, 1996
"Puisi: Fragmen Tasbih Hujan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Fragmen Tasbih Hujan
Karya: Diah Hadaning
Fragmen Hujan Malam

Irama mistis kitaro menerobosi malam
tak mampu 'hentikan
tarian gelisah hujan
ada yang kita sepakati
malam ini lupakan mawar dan melati
keindahan kecil yang sering buat kita lupa
banyak kerja belum terselesaikan
musim terus memburu dan jejak tinggalkan paku
di luar jalanan sunyi mati
tapi jakarta tak pernah hilangkan peta kali
dan mimpi kita tentang perbaikan
semakin membunga di rerumputan
kian gelisah tarian hujan
seharusnya kita berdebat di depan tungku
atau sekadar tergoda menghitung waktu
berapa lama kita dipisah waktu 
lalu kebersamaan itu
yang segera terlewati
semalaman kuselesaikan catatan program sendiri
dan suara langkah di antara hujan
ternyata desau angin
yang mencuri segala catatanku.

Bogor
Februari, 1996
"Puisi: Fragmen Hujan Malam (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Fragmen Hujan Malam
Karya: Diah Hadaning
Berhala Baru

Bukan dodol sembangan dodol
dodol dolar bikin gemetar.

Anak muda berpantun ria
di atas kamar lotengnya
yang mewah
sebuah rumah di kawasan real estate.

Kenapa kau tak bisa diam
aku sudah sangat tercekam
hardik perempuan gaya
yang dipanggil mama
matanya bulat ikuti liputan Koran.

Jangan gusar mama beta
kau bisa jadi ular
jika banyak bermain dolar
anak muda terus mengejek.

Anak kurang ajar
kau hengkang
atau kubikin modar
tahukah aku lagi jatuh hati sama dolar.

Berhala baru, huuu!
Bunuh diri cara baru, huuu!
Anak muda keluar sambil banting pintu!

Jakarta, 1998
"Puisi: Berhala Baru (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Berhala Baru
Karya: Diah Hadaning
Si Amit, Boby dan Dolar Saat Jakarta Terbakar

Amit: mari main layangan
naik turun ditiup angin.

Boby: lebih baik main dolar
naik turun kocek pun besar

Amit: main dolar bikin pot-empotan
jika bablas bisa edan.

Boby: biarin!

Amit: jangan nekat nanti kualat
jika bablas sengsara rakyat.

Boby: biarin!

Amit: jangan suka ngomong biarin
jika bablas jadi jin.

Boby: biarin enak jadi jin
itu dolar bisa kumainin.

Amit: dasar predator!
(terus ngeloyor)

Boby: biarin!
(terus panas dingin)

Jakarta
Agustus, 1998
"Puisi: Si Amit, Boby dan Dolar Saat Jakarta Terbakar (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Si Amit, Boby dan Dolar Saat Jakarta Terbakar
Karya: Diah Hadaning
Jakarta Januari

Macan api masih menari
di langit di bumi
macan api masih beringas
mencengkeram kota panas
ternyata
hari ini masih sama
lusa masih maya
bius-bius mimpi
membuai kewarasan
buih-buih janji
ditampung hujan januari.

Jakarta
Selamat tahun baru
Jakarta 
Kita bukan seteru
Jakarta.

Januari, 1999
"Puisi: Jakarta Januari (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Jakarta Januari
Karya: Diah Hadaning
Mendut, Episode Hujan

Iramanya getir kumitir
membuat rasa ketar ketir
tentang merjan tersembunyi
di balik tetes misteri
bergetaran
damen-damen diikatkan
pada pohon-pohon yang diam
sementara nada-nada menyayat
udara basah jiwa resah.

Episode hujan maret
selalu mengusung kemurungan purba
di antara tembang dan guritan
yang mengusapi rumput halaman
semangat wong Wetan itu
yang hela obsesi lugu
hasrat meraih masa depan
dan mimpi sederhana
jadi kenyataan
setumpuk perjuangan.

Mendut
Maret, 2000
"Puisi: Mendut, Episode Hujan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Mendut, Episode Hujan
Karya: Diah Hadaning
Kidung di Purnama Mei
Bagi Sang Guru Nurani

Tiada bunga-bunga ungu wistarias
di hamparan telaga itu, Romo
melainkan gondosuli putih
di hamparan jiwa suwung sekian musim
aromanya mekarkan persahabatan anak manusia
aromanya sebagian kau bawa serta, Romo
sebagian yang tersisa kuabadikan
di antara tiris hujan di teritisan
kampung-kampung jauh di pedalaman
di antara desir pagi langkah-langkah
orang sederhana di gunung dan bukitan.

Masih kusimak aksara-aksaramu itu
dalam lembar buku-buku kenangan
semua menyatu dalam purnama Mei
di bukit Selatan saat aku bersaksi
sementara ombak samar jauh di bawah
menyalami malam diam-diam
Romo, kukirim doa dari lubuk jiwa
lewat getar alam semesta
damailah damai di alam keabadian
harumlah harum kasihmu pada sesama
terimalah kidungku menyusuri langit purba
mencari senyuman arifmu jua.

Parangtritis
Mei, 2000
"Puisi: Kidung di Purnama Mei (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Kidung di Purnama Mei
Karya: Diah Hadaning
Sajak Jaring

Jaring, jaring, jaringlah Sang Kala
yang coba menjaring aku
karena aku pilih jaring Sang Asih
menjaring bunga suci
di awang uwung jagad sunyi
jaring, jaring, jaringlah Sang Kala
yang coba hitami jalanku
karena aku terus melangkah
menghitung serat dalam darah
menjaring keluguan zaman.

Parangtritis
Mei, 2000
"Puisi: Sajak Jaring (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak Jaring
Karya: Diah Hadaning
Hari-Hari yang Terulang

Kota berubah
menghela sejarah
udara uapkan cecer darah
bumi malu sendiri
sembunyikan benih tumbuhan dosa
karena tak mampu memuaskannya
api membakar diri
orang-orang menanam duri
dalam liang-liang mimpi urban
tumbuh menjadi semak dendam
menepis rembulan
hidup dipenuhi untai janji
tiap musim berlepasan
bayangan orang menjadi dajal
memangsa yang tak seharusnya
doa terhempas di atap gereja
zikir terinjak di pintu mushola
orang-orang mabuk nikmati racun tuba
lalu berkata sambil melinggis
saudaranya sendiri serupa iblis
kota kian berubah
sejarah dibelah-belah
jiwa dicacah-cacah.

Jakarta, TIM
Mei, 2000
"Puisi: Hari-Hari yang Terulang (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Hari-Hari yang Terulang
Karya: Diah Hadaning
Memandang Prisma dari Lereng Merapi

Memandang prisma di pagi cemerlang
mengeja prosa kehidupan
bumi subur dalam jiwa menembang
damai itu langit biru tanpa bau mesiu
sementara di belahan barat yang jauh
raung murka berkelebatan
merobek-robek kota peradaban.

Jiwa berkidung runduk dan runduk
mensyukuri yang layak disyukuri
mencermati yang harus dicermati
segala masih bisa dikidungkan di sini
saat mawar mekar di lereng Merapi.

Sang Resi bersaksi di tahta gunung suci
penuh kasih usap jiwa perempuan kembara
"Berkidunglah, ya perempuanku
selagi hidup dan kehidupan
masih bisa dikidungkan
bersyairlah, ya perempuanku
tanpa ubah arah langkahmu".

Lereng Merapi
Maret, 2003
"Puisi: Memandang Prisma dari Lereng Merapi (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Memandang Prisma dari Lereng Merapi
Karya: Diah Hadaning
Membaca Bahasa Angin

Mengusung lakon kuno
lewat bayang rembulan
Dasamuka tak gugur jadi kerak di angan
seorang pejalan kurun henti di gapura Tulungagung
saat musim simpan prahara
saat kota penuh umbul-umbul dan bendera.

Beburung lintasi sunyi pagi dibiarkan
geliat jiwa simpan nada dibiarkan
deru deram kota raya memanggil dibiarkan 
angin bisikkan penjajahan baru
langit hadirkan perlambang-lambang
pagi retak matahari suguhkan lakon baru
ada yang tercabik di punggung kota
jadi mozaik tanpa warna
siang menghilang setelah memanggang kota
umbul-umbul putih runduk sendiri.

Malam tumbang tanpa suluk dalang
suluk kedalam belencong merasuk
membakar tangkai gunungan
diam-diam sang pejalan membaca angin
diam-diam menyimak pesannya dingin
: baca saja gurit "ho no co ro ko"


Tulungagung
2004
"Puisi: Membaca Bahasa Angin (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Membaca Bahasa Angin
Karya: Diah Hadaning
Lepas Subuh di Bumi Raja I

Saat jiwa tergetar menatap gunung wingit
sementara doa tak henti sentuh langit
laut menghardik
bumi terbadik
dusun tua tercabik
rumah kuna luluh kumuh
sisakan serpih tak lebih
fajar kehilangan cahaya timur
mengiring raib nasib dan umur
satwa kehilangan nuansa
dusun dan kota kehilangan tanda
manusia kehilangan daya
yang sisa tumpukan luka.

Seseorang menangis di bawah gapura
keluh dipatri di cakrawala-doa mengeram di dada
memanggili nama sang raja
mencari kaki pelangi di langit kota
pelangi tiada-terhela getar gempa
seseorang melompat:
kita belum sekarat
dunia belum kiamat
zikirkan ha na ca ra ka!

Teratak Gondosuli,
Juni 2006
"Puisi: Lepas Subuh di Bumi Raja I (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Lepas Subuh di Bumi Raja I
Karya: Diah Hadaning
Padang tak Terjangkau

Akan datang dari padang
Akan pergi dari padang
padang di pundak kemarau
padang di jantung musim penghujan
Ada lagi padang
jauh dan tak terjangkau.

1975
"Puisi: Padang tak Terjangkau (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Padang tak Terjangkau
Karya: D. Zawawi Imron
Padang Landing

Padang landing perjalanan teramat panjang
dari Demak ke Batang-batang
Menggelegak lahar
haus hangat darah musuh
pembunuh kakak kembarnya.

Pertapa dari gunung Muria
dengan ilmu Walisanga
mangsu perang ke Batang-batang
Hati lidas, cadas-cadas bukit Rabunan
tapi memeram butir-butir bintang.

"Puisi: Padang Landing (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Padang Landing
Karya: D. Zawawi Imron
Nyanyian Tanah Garam

Angin yang diluluhkan bauan wangi
barangkali tak akan mampu
menghitung kerikil-kerikil sepi
perih ya, perih!
adakah duri di semak rindu?

Aduh, paman!
kudaki punuk pundak sapimu
dengan secawan nira di tangan
untuk mengisi ruas nyawaku
wahai, bulan betah mengasuh kemarau.

Dari ekor bintang yang semalam gemetar
bisa diduga, siapa yang harus dilecut
agar bangkit kejantanan
umbul-umbul berlukis wayang
sudah tegak di sudut ladang.

Dan sebagai anak dunia
lagu lebah kuresapkan
dan sebagai anak Madura
kugali kubur sebelum berperang.

1978
"Puisi: Nyanyian Tanah Garam (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Nyanyian Tanah Garam
Karya: D. Zawawi Imron
Nocturno (fragment)

...............................
Aku menyeru - tapi tidak satu suara
membalas, hanya mati di beku udara.
Dalam diriku terbujur keinginan,
juga tidak bernyawa,
Mimpi yang penghabisan minta tenaga,
Patah kapak, sia-sia berdaya,
Dalam cekikian hatiku

Terdampar ... menginyam abu dan debu
Dari tinggalannya suatu lagu.
Ingatan pada Ajal yang menghantu.
Dan demam yang nanti membikin kaku ...

..................................
Pena dan penyair keduanya mati,
Berpalingan!
 
1946
"Puisi: Nocturno (fragment) Karya Chairil Anwar"
Puisi: Nocturno (fragment)
Karya: Chairil Anwar
Pagi

Azan Mualim sunyi membumbung
di suasana pagi hari mendung
memanggil umat berhening diri
sujud khidmat pada ilahi.

Aku tergolek di tempat tidurku
menghempas badan kanan dan kiri
mengenang nasib tak pernah bertuju
hampir bertuju kulepaskan mesti.

Sejuk sedap suara seruan
menghimbau engkau di langit tinggi
sekejap lenyap segala deritaan
dalam mendengar pujaan seni.

Tergenang melimpah kedua mataku
mendengar suara mualim sunyi
di atas menara tegak berdiri
menyeru Allah di waktu pagi.

Ingin aku menjadi suara
di pagi waktu menjelang hari
naik meninggi ke cerpu Ilahi ....

Hatiku, hatiku,
kalau lemah merapuh gelas,
kalau keras, menyama baja ....


"Puisi: Pagi (Karya Amal Hamzah)"
Puisi: Pagi
Karya: Amal Hamzah
Aku Hendak Kemana?

Kami dalam dunia ini
seperti dalam paya besar
berputar-putar ribuan tahun
- siapa yang tahu berapa lamanya sudah? 
mengedari matahari ...

Kami manusia ini
telah ribuan tahun pula
berputar-putar dalam paya
hati sendiri, makin lama makin payau
- sampai mana akhirnya? 

Dan aku, dalam diriku,
- terjadi dari elemen yang empat -
ada pula paya semacam itu:
kotor, hijau, apak dan bau ...
dalam hidupku yang muda ini
bertimbun telah bangkai-bangkai
bekas kekejian perjalanan hidupku,
dan aku berputar-putar di sana
seperti orang gila, menganggap bahwa
payaku kecil ini adalah paya
sebesar-besar, dan seindah-indahnya...

Di luar payaku ini
ada paya dunia: luas dan besar dan permai,
setiap hari berganti warna dan harum,
karena daya hidup tersimpul di dalamnya...

Sedang aku dalam ketengikan payaku sendiri
menyangka paya besar itu
busuk pula seperti payaku.

Aku hendak kemana?

"Puisi: Aku Hendak Kemana? (Karya Amal Hamzah)"
Puisi: Aku Hendak Kemana?
Karya: Amal Hamzah
Aku Contra Hidup

Beribu kali aku tobat
beribu kali pula aku turutkan nafsuku.

Aku ini manusia
menipu diri sendiri.

Atau mestikan demikian
mestikah kuhirup
air hidup sekelat-kelatnya?

Kerongkonganku pahit!

Kelat! Kelat!

Air! Air!
Bawakan aku air!


"Puisi: Aku Contra Hidup (Karya Amal Hamzah)"
Puisi: Aku Contra Hidup
Karya: Amal Hamzah
Nafsu itu Tuhan
untuk H.B. Jassin

Berbisik iblis dalam hatiku
darahku keras mengalir,
jantungku keras berdenyut!

Memercit peluh di dahiku
peperangan budi dan nafsu
sedang berlaku.

Aduh engkau yang berkuasa
yang disebut orang beriman
Tuhan.

Kehendakmukah ini
manusia itu
tak kuasa menahan nafsu?

Kami tiada lebih dari binatang.
Dalam musim berpasang
menerjang ripuk segala halang!

Oh!
Segala adat-istiadat dan didikan
sepuhan belaka,
Tipu!
Tiada kuasa menahan nafsu ....


"Puisi: Nafsu itu Tuhan (Karya Amal Hamzah)"
Puisi: Nafsu itu Tuhan
Karya: Amal Hamzah