loading...

Membaca Bahasa Angin

Mengusung lakon kuno
lewat bayang rembulan
Dasamuka tak gugur jadi kerak di angan
seorang pejalan kurun henti di gapura Tulungagung
saat musim simpan prahara
saat kota penuh umbul-umbul dan bendera.

Beburung lintasi sunyi pagi dibiarkan
geliat jiwa simpan nada dibiarkan
deru deram kota raya memanggil dibiarkan 
angin bisikkan penjajahan baru
langit hadirkan perlambang-lambang
pagi retak matahari suguhkan lakon baru
ada yang tercabik di punggung kota
jadi mozaik tanpa warna
siang menghilang setelah memanggang kota
umbul-umbul putih runduk sendiri.

Malam tumbang tanpa suluk dalang
suluk kedalam belencong merasuk
membakar tangkai gunungan
diam-diam sang pejalan membaca angin
diam-diam menyimak pesannya dingin
: baca saja gurit "ho no co ro ko"


Tulungagung
2004
"Puisi: Membaca Bahasa Angin (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Membaca Bahasa Angin
Karya: Diah Hadaning

Post a Comment

loading...
 
Top