Maret 1991
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Desember

Kutanggalkan mantel serta topiku yang tua
ketika daun penanggalan gugur
lewat tengah malam. kemudian kuhitung
hutang-hutangku pada-Mu.

Mendadak terasa: betapa miskinnya diriku;
di luar hujan pun masih kudengar
dari celah-celah jendela. Ada yang terbaring
di kursi letih sekali.

Masih patutkah kuhitung segala milikku
selembar celana dan selembar baju
ketika kusebut berulang nama-Mu; taram
temaram bayang, bianglala itu.

1961
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Desember
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Puisi Cat Air Untuk Rizki

Angin berbisik kepada daun jatuh yang tersangkut kabel telpon itu, "aku rindu, aku ingin mempermainkanmu!"
Kabel telpon memperingatkan angin yang sedang memungut daun itu dengan jari-jarinya gemas, "jangan berisik, mengganggu.
hujan!"
Hujan meludah di ujung gang lalu menatap angin dengan tajam,
hardiknya, "lepaskan daun itu!"

1982
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Cat Air Untuk Rizki
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Waktu ada Kecelakaan

Ada kecelakaan kecil di depan gerbang kompleks, motor sama motor. Ada gerimis yang membasahi jalan, kendaraan, dan orang-orang yang naik motor sendirian atau boncengan. Ada dua orang satpam yang tumben keluar dari gardunya membantu menyingkirkan motor ke pinggir. Ada burung yang mencicit di rimbunan daun pohon cengkeh, yang tidak pernah berbunga, yang berjajar di sepanjang pagar kompleks ini. Kamu lagi di mana? Ada beberapa pengendara motor lain yang berhenti dan bertanya ini itu lalu buru-buru pergi lagi. Kamu ngapain di situ? Ada suara penyiar yang membaca berita hangat di televisi yang nyala terus siang malam tanpa ada yang menonton di dalam gardu satpam.

Ada aku.

"Puisi: Waktu ada Kecelakaan (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Waktu ada Kecelakaan
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Panorama

“Aku mau menulis puisi!” teriakmu. Hanya kabut yang terkejut. Sementara ada yang dalam dirimu sibuk keluar masuk. Sementara kau bersitahan pada panorama: kebun teh, jalan setapak, bunga-bunga kecil yang mekar di pinggirnya, kerikil di bawah sepatu, dan udara dingin. “Aku mau menulis puisi!”

Hanya dua-tiga ekor burung yang terkejut ketika melintas di sela-sela kabut. Sementara ada yang dengan susah payah masuk ke dalam pori-pori kulitmu, dan lolos lagi lewat dua bola matamu. Kau tak berhasrat mengenalnya, tak hendak bertanya, Kau siapa? Sementara ada yang menunggu cahaya pertama agar bisa menjelma bayang-bayangmu. Kabut memang mengambang agar kau tidak sepenuhnya menjelma bayang-bayang, agar yang tak kaukenal itu tidak terperangkap dalam paru-parumu. Agar ia bisa menyusup dan mendengar degup jantungmu. Agar mendengar teriakmu, “Aku mau menulis puisi!” ketika kau disekap panorama itu.

Cahaya pertama berbuih dalam kabut di punggung gunung, tumpah ke lembah, leleh ke pucuk-pucuk teh, katanya: “Aku mau menulis puisi!” Kau terkejut dan kabut surut. Ada yang bersikeras lolos dari pori-pori kulitmu menangkap hangat cahaya dan memanjang di belakangmu. Kau tak memperhatikannya.

“Aku mau menulis puisi!” teriakmu. Tak ada lagi yang terkejut. Suaramu luluh dalam panorama: langit, bukit, pucuk-pucuk teh, jalan setapak, kerikil, bunga-bunga kecil. Kau pun mendadak senyap dalam teriakanmu.

"Puisi: Panorama (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Panorama
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Rumah Oom Yos
(Untuk Mas Gondo)

Di lereng bukit, rumah itu indah sekali
pekarangannya beberapa ribu meter persegi

dari serambi depan dapat disaksikan
matahari menggiring kabut ke perbukitan

dari serambi belakang: butir-butir embun
jalanan menanjak jalanan menurun

ruang dan kamarnya minta ampun besarnya
penuh barang antik: cermin-cermin tua

keramik, perabotan, sekat-sekat ruangan
lampu gantung entah dari zaman kapan

kepala harimau dan kijang di dinding-dindingnya
jam-burung dan patung-patung Eropa

di luar membentang hamparan rumput
awas, jalan setapak itu agak berlumut

sebelah sana kebun bunga aneka rupa
ada mawar, tentu saja, dan anggrek langka

dekat jalan berliku-liku di sebelah sana
ditanam ubi jalar, ditanam jagung pula

kadang kami suka mendapat rejeki
dikirimi jagung manis dan ubi

kalau si empunya kebetulan mampir
ke rumahnya sendiri, istilahnya: parkir

ya, ia memang jarang pulang ke  mari
dalam setahun hanya beberapa hari

soalnya ia punya apartemen di Singapura
di LA dan entah di mana di Eropa

tapi konon ia lebih sering di Hong Kong
jalan-jalan atau sekedar nongkrong

anak-cucunya pun tak punya waktu lagi
mengurus rumah yang astagfirullah ini

sebab sangat amat sibuk sekali
dengan bisnis mereka sendiri-sendiri

di rumah ini sepanjang tahun
ada belasan pembantu dan tukang kebun

yang sudah menyatu dengan aneka unggas
di dalam sangkar, menatap ke alam bebas

"Puisi: Rumah Oom Yos (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Rumah Oom Yos
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pada Suatu Hari Nanti

Pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi...
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau tak akan kurelakan sendiri...

Pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi...
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati...

Pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi...
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau tak akan letih-letihnya kucari...

"Puisi: Pada Suatu Hari Nanti (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Pada Suatu Hari Nanti
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Awan

Awan datang melayang perlahan,
Serasa bermimpi, serasa berangan,
Bertambah lama, lupa di diri,
Bertambah halus, akhirnya seri,
Dan bentuk menjadi hilang
Dalam langit biru-gemilang.
Demikian jiwaku lenyap sekarang
Dalam kehidupan teduh tenang.

"Puisi: Awan (Karya Sanusi Pane)"
Puisi: Awan
Karya: Sanusi Pane
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Doa I

Apakah yang layak kupersembahkan kepada-Mu
mimpi burukku masih berkecamuk
seakan dengan darah kulukisi langit
yang sudah penuh dengan warna kuasa-Mu.

Solo, 1981
"Puisi: Doa I (Karya Kriapur)"
Puisi: Doa I
Karya: Kriapur
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Aku Tak Pergi Ronda Malam Ini

Aku doakan semoga aman-aman saja.
Kalau nanti bertemu maling,
ajak dia ke rumahku.
Hasil curiannya bisa kita bagi bertiga.

2007
"Puisi: Aku Tak Pergi Ronda Malam Ini (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Aku Tak Pergi Ronda Malam Ini
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Surat

Surat-surat datang silih berganti, semuanya minta
dijawab, segera, kalau bisa hari ini.

Konon menulis surat bisa membasmi sepi.
Padahal hanya kalau sepi aku bisa dengan tenang
menulis surat agar jangan sampai kata-kataku menyakiti.

Surat ayah: Ayah menang, habis tempur melawan utang.
Surat ibu: Ibu sedang menjahit senja yang terluka
oleh rinduku. Surat istri: Telah kupanen putih
dari rambutmu. Surat teman: Teman, batukmu meletus
dalam dadaku. Surat penggemar: Salam manis buat iblis.

Ada pula surat dari masa kecil, datang di malam eksil,
ah pasti ditulis dengan pensil. Kubuka amplopnya
yang warna-warni, isinya: Ayo duel kalau berani! 

Suratan nasib: tersimpan rapat di laci meja
dan tak akan pernah kubuka.

2003
"Puisi: Surat (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Surat
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Malam Pembredelan

Segerombolan pembunuh telah mengepung rumahnya.
Mereka menggigil di bawah hujan yang sejak sore
bersiap menyaksikan kematiannya.
Malam sangat ngelangut, seperti masa muda
yang harus bergegas ke pelabuhan,
meninggalkan saat-saat indah penuh kenangan.

Ia sendiri tetap tenang, ingin santai dan damai
menghadapi detik-detik akhir kehancuran.
Ia mengenakan pakaian serba putih
dengan rambut disisir rapi dan wajah amat bersih.
Bahkan ia masih sempat menghabiskan sisa kopi
di cangkir ungu sambil bersiul dan sesekali berlagu.

“Selamat datang. Saya sudah menyiapkan semua
yang akan Saudara rampas dan musnahkan: kata-kata,
suara-suara, atau apa saja yang Saudara takuti
tetapi sebenarnya tidak saya miliki.”

Ia berdiri di ambang pintu.
Ditatapnya wajah pembunuh itu satu satu.
Mereka gemetar dan memandang ragu.
“Maaf, kami agak gugup.
Anda ternyata lebih berani dari yang kami kira.
Kami melihat kata-kata berbaris gagah
di sekitar bola mata Anda.”

“Terima kasih, Saudara masih juga berkelakar
dan pura-pura menghibur saya.
Cepat laksanakan tugas Saudara atau kata-kata
akan balik menyerang Saudara.”

“Baiklah, perkenankan kami sita dan kami bawa
kata-kata yang bahkan telah Anda siapkan dengan rela.
Sedapat mungkin kami akan membinasakannya.”

“Ah, itu kan hanya kata-kata.
Saya punya yang lebih dahsyat dari kata-kata.”

Tanpa kata-kata, gerombolan pembunuh itu berderap pulang.
Tubuh mereka yang seram, wajah mereka yang nyalang
lenyap ditelan malam dan hujan.

Sementara di atas seratus halaman majalah
yang seluruhnya kosong dan lengang
kata-kata bergerak riang seperti di keheningan sebuah taman.
Sebab, demikian ditulisnya dengan tinta merah:
“Kata-kata adalah kupu-kupu yang berebut bunga,
adalah bunga-bunga yang berebut warna,
adalah warna-warna yang berebut cahaya,
adalah cahaya yang berebut cakrawala,
adalah cakrawala yang berebut saya.”

Lalu ia tidur pulas.
Segerombolan pembunuh lain telah mengepung rumahnya.

1995
"Puisi: Malam Pembredelan (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Malam Pembredelan
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ziarah

Masih ada sebuah rumah di sana
yang tak pernah mengharap seseorang
datang mengunjunginya.
Masih ada dinding-dinding kusam,
ruang bersih terang, jendela-jendela putih
tempat senja berpendaran
dengan rambutnya yang keemasan.
Masih ada si kecil lagi asyik menggambar
pada tembok penuh coretan.

"Semalam hujan singgah sebentar,
dan setelah meninggalkan riciknya di kulkas itu
ia pun berangkat ke sebuah kota yang jauh."
Ingin kupeluk dan kucium parasnya yang lucu,
tapi tak ingin dunia kecilnya kusintuh.
"Lihat, aku sedang melukis laut, gerimis
dan perahu oleng yang dikayuh nelayan kecil
menuju pantai yang teduh."

Masih. Masih ada seseorang sedang duduk
membungkuk di bawah redup cahaya,
khusyuk membaca berkas-berkas tua.
"Semalam si mayat datang dengan baju baru.
Ia titipkan salam manisnya untukmu."
Ingin kuterima batuknya dalam paru-paruku
tapi tak ingin kusintuh kantuknya, rindunya
sebab hatinya lebih tegar dari waktu.

"Maaf, aku sedang membaca surat-surat
yang telah lama kutulis, tapi tak pernah
kukirim karena tak kutahu alamatmu."

1997
"Puisi: Ziarah (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Ziarah
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sehabis Sembahyang

Aku datang menghadap-Mu dalam doa sujudku.
Terima kasih atas segala pemberian-Mu,
Mohon lagi kemurahan-Mu: sekadar mobil baru
Yang lebih lembut dan lebih kencang lajunya
Agar aku bisa lebih cepat mencapai-Mu.

2005
"Puisi: Sehabis Sembahyang (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Sehabis Sembahyang
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Baju

Baju yang kau pergunakan
Menyembunyikan dirimu
Terus kau pertahankan
Sampai suatu ketika
Kau terpaksa telanjang
Dan kau tak lagi mengenali
Dirimu sendiri.


12 Januari 2006
"Puisi: Baju I (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Baju I
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)