April 1991
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Elend
(Untuk Renate Schifferli)

Berlagu gadis kecil
harum dunia di wajahnya
akordeon di tangannya

Dan lagunya?
Di sini lembah derita
hanya tinggal nama.

Rübeland-Harz
24 Juni 1959
"Agam Wispi"
Puisi: Elend
Karya: Agam Wispi
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Jembatan Rempah-Rempah

Adas manis · Akar wangi · Andaliman · Asam jawa · 
Asam kandis · Bangle · Bawang bombay · Bunga la
wang · Bawang merah · Bawang putih · Cabe · Ceng
keh · Cendana · Damar · Daun bawang · Daun pandan 
· Daun salam · Jembatan dari bumbu dapur ke darah 
Colombus · Gaharu · Gambir · Jahe · Jeruk limo · Jeruk 
nipis · Jeruk purut · Jintan · Kapulaga · Kayu manis · 
Kayu putih · Kayu mesoyi · Kecombrang · Kemenyan · 
Kemiri · Kenanga · Kencur · Kesumba · Ketumbar · Ko
pal · Kunyit · Lada · Jembatan dari parfum ke darah 
Vasco da Gama Tabasco · Laurel · Lempuyang · Leng
kuas · Mawar · Merica · Mustar · Pala · Pandan wangi · 
Secang · Selasih · Serai · Suji · Tarum · Temu giring · 
Temu hitam · Temu kunci · Temu lawak · Temu mang
ga · Temu putih · Temu putri · Temu rapet · Jembatan 
dari obat-obatan ke benteng perempuan berkalung 
mawar merah ·

Adas manis · Akar wangi · Andaliman · 
Asam jawa · Asam kandis · Bangle · Bunga lawang · 
Bawang putih · Cabe · Cengkeh · Cendana ·  Damar · 
Temu tis · Vanila · Wijen · Jembatan dari Diogo Lopes 
de Mesquita ke darah Ternate · Gaharu · Gambir · 
Jahe · Jeruk nipis · Jintan · Kapulaga · Kayu manis · 
Kayu putih · Kemenyan · Kemiri · Kenanga · Kencur · 
Kesumba · Ketumbar · Kunyit · Lada · Jembatan api 
yang terus mengirim kapal ke arsip-arsipmu.

"Afrizal Malna"
Puisi: Jembatan Rempah-Rempah
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kebiasaan Kecil Makan Coklat

“Aku tak suka kakimu berbunyi.”
“Ini coklat, seperti cintaku padamu.”

James Saunders membuat drama dari kereta dan permen coklat  di situ, menyusun persahabatan dari orang-orang yang tak bisa saling menemani: Kita adalah kegugupan bersama, sejak berusaha mencari arti lewat permen coklat, dan kutu pada lipatan baju. Jangan menyusun flu di situ, seperti menyusun jendela kereta dari dialog-dialog Romeo. Tetapi Suyatna ingin menemani sebuah dunia, sebuah pentas, dengan dekor dan baju-baju, pita- pita pada jalinan rambut sebahu.

Tak ada stasiun kereta pada kerut keningmu, seperti kegelisahan membuat pesta di malam hari. Lihat di luar sana, orang masih percaya pada semacam kebahagiaan, seperti memasukkan seni  peran dalam tas koper. Tetapi kenapa kau tinggalkan dirimu dalam toilet. Jangan ledakkan sapu tanganmu, dari kebiasaan  kecil seperti itu.

Aih, biarlah kaki itu terus berbunyi, makan coklat terus berlalu, kutu-kutu di baju, cinta yang penuh kegugupan ditonton orang. Tetapi jangan simpan terus ia di situ, seperti dewa-dewa berdebu dalam koper, berusaha memberi arti dengan mengisap permen gula.

Ini coklat untukmu.

Jangan mengenang diri seperti itu.

1994
"Afrizal Malna"
Puisi: Kebiasaan Kecil Makan Coklat
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Trasimeno

Sebuah danau
Hamparan sajadah biru
Adalah ketenangan tiada tara:
Angin dan kabut, barisan pohon-pohon cemara
Bukit-bukit menggeraikan rambutnya
Di bawah langit merah padam.

Wajah danau
Tak terusik bunyi serangga
Asap kelabu mengalun dari sebuah tungku
Seperti kerudung yang membelit senja
Di depanku, hamparan air menjadi sajadah
Antara biru dan hijau tua

Semua balkon, meja kursi:
Adalah percakapan yang sunyi:
Puisi selalu hadir di antara kesendirian
Serta kecemasanku. Puisi menggenang bagai air
Puisi mengambang di udara beku
Puisi menuntunku dekat padamu

Wajah tanpa wujud
Bayang-bayang gaib yang menjelma
Di keremangan. Aku sembahyang
Melewati dermaga, perahu-perahu
Melewati masa lalu yang jauh
Melewati sejumlah tempat dan kesepian

Kulihat bukit-bukit bersujud
Pohon-pohon merunduk, daun-daun basah
Lampu-lampu meredupkan cahaya
Angin dan kabut bergulung di angkasa
Senja membelitkan kerudung kuningnya
Semuanya bersujud kepadamu. Sebuah danau
Hamparan sajadah bagi semesta
Adalah ketenangan yang sempurna.

Kulihat bukit-bukit bersujud
Pohon-pohon, tiang-tiang listrik
Angin dan kabut yang menbal dan bergulung
Senja membelitkan kerudung kuningnya
Semuanya bersujud padamu. Sebuah danau
Hamparan sajadah bagi semesta
Adalah ketenangan yang sempurna.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Trasimeno
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Fontana Maggiore

Tiba-tiba tubuhmu penuh hujan
Seperti patung di tengah air mancur itu
Dan waktu menjadi pohon yang ditinggalkan daun-daun
Aku ingat sebatang lilin di tengah laut malam hari
Di sini pun cahaya memperlebar wilayah kelamnya
Hingga kita bersudutan dengan tajam
Dalam keremangan yang mengeras

Kebisuan menjadi bahasa
Antara undakan-undakan dan detik-detik
Yang menggenang. Bunyi gitar terdengar nyaring
Tapi segera dipatahkan angin yang runcing
Wajah pengamen itu menjadi pucat dan keperakan
Di tengah deretan hari-hari yang menyusut
Dan mengembun pada patung-patung

Di dinding kasar nampak bayang-bayangmu
Yang bergerak-gerak tanpa lakon
Dan orang-orang masih berjalan dengan anjing
Atau anak-anak mereka yang menggigil
Kulihat lehermu menghijau seperti tembaga
Tapi segera mulut cahaya menyerapnya
Ke dalam lampu-lampu

Tubuhmu menyusut dan menjadi percikan air
Kekekalan memenuhi seluruh kolam
Kunang-kunang terbang, menjauh dan menghilang
Adalah pikiranmu yang masih terpatah-patah -
Di taman-taman lain yang lebih remang
Kulihat jurang-jurang yang digali cahaya
Seluruh hujan diterjunkan ke sana.

1992
"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Fontana Maggiore
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Cipasung

Di lengkung alis matamu sawah-sawah menguning
Seperti rambutku padi-padi semakin merundukkan diri
Dengan ketam kupanen terus kesabaran hatimu
Cangkulku iman dan sajadahku lumpur yang kental
Langit yang menguji ibadahku meneteskan cahaya redup
Dan surauku terbakar kesunyian yang dinyalakan rindu

Aku semakin mendekat pada kepunahan yang disimpan bumi
Pada lahan-lahan kepedihan masih kutanam bijian hari
Segala tumbuhan dan pohonan membuahkan pahala segar
Bagi pagar-pagar bambu yang dibangun keimananku
Mendekatlah padaku dan dengarkan kasidah ikan-ikan
Kini hatiku kolam yang menyimpan kemurnianmu

Hari esok adalah perjalananku sebagai petani
Membuka ladang-ladang amal dalam belantara yang pekat
Pahamilah jalan ketiadaan yang semakin ada ini
Dunia telah lama kutimbang dan berulang kuhancurkan
Tanpa ketam masih ingin kupanen kesabaranmu yang lain
Atas sajadah lumpur aku tersungkur dan terkubur.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Cipasung
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Unta

“Hai unta, mengapa wajahmu kelihatan sedih selalu?
Dan kenapa kamu jalan membungkuk-bungkuk seperti nenek tua?”

“Hai anak, janganlah kamu berkata seperti itu
Saya memang seekor unta yang biasa,  makhluk Tuhan juga”

“Orang-orang menyebutku kapal padang pasir
Karena saya tahan jalan berhari-hari dalam panas yang seperti api
Sambil membawa beban manusia dan barang-barang pula
Memang tidak cepat, tapi badanku amat kuat”

“Hai unta, tidak hauskah engkau dalam perjalananmu
Di padang pasir yang panasnya seperti api itu?”

“Hai anak, memang aku sering haus sekali
Tapi sekali minum, seratus liter kuteguk habis
Untuk persedian lamanya berhari-hari
Apalagi kalau tidak bertemu sumber air bernama oasis”

“Hai unta, mengapa punggungmu bengkak macam begitu?
Kalau kamu sakit ayolah kubawa ke dokter hewan teman ayahku”

“Hai anak, punggungku ini sehat tidak kurang suatu apa
Memang menonjol tapi inilah yang namanya punuk
Tempat simpanan makanan kalau tidak bertemu rumput dan daunan
Jadi kalau lapar punuk ini sumber makanan persediaan”

“Hai unta, apa yang melindungimu dari panas terik dan badai pasir
Dan rumput-rumput berduri makananmu?”

“Hai anak, buluku tebal menutupi seluruh badanku
Melindungiku dari sinar matahari dan badai pasir
Bibirku tebal dan gigiku kuat melawan rumput berduri
Bulu mataku panjang menangkis pasir yang bertiup
Dan kakiku berkuku tebal sehingga aku tak kan terbenam di pasir.”


"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Unta
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Percakapan Telapak Sepatu Berlumuran Lumpur Kuburan

(I)
Sepasang sepatu, kiri dan kanan
Sedang memperbincangkan keluhan
Terlalu banyak bertambah muatan
Tanah yang lekat jadi beban
Sehabis acara mengantar jenazah ke kuburan
Ketika hari rintik-rintik hujan

Tetapi aku yang punya sepatu
Tak mendengar percakapan itu

Bukan kepalang riang perasaan
Dua butir tanah dasar kuburan
Yang di telapak sepatuku ikut melekat
“Sudah dua ratus tahun bertugas di liang lahat
Kinilah baru terbawa naik ke atas
Lama benar tidak menatap matahari
Di tempat bertugas sehari-hari
Menemani mayat yang terbaring sendiri
Yang pelahan jadi tulang-tulang berantakan
Akulah tempat melintas bakteri, serangga dan reptilia
Yang bergilir membongkar onderdil kendaraan roh ini
Bermilyar-milyar mereka bergerak, merayap dan meresap
Mereka kerja diapit kelam dinding bercat tinta Hindia
Dan setelah berakhir penyerbuan pasukan bakteri pembusukan
Tak ada lagi otot, sususan syaraf,  pembuluh darah dan jeroan
Semua diserap bumi melalui kimia penghancuran
Sempurna dihimpit, sempit, dalam fisika kepadatan
Dua ratus tahun aku bertugas dalam kelam
Dan sore ini, aku mengalami mutasi.”

Tapi yang berlumur lumpur
Yaitu sang sepatu
Tak mendengar omongan itu

(II)
Gerimis sudah agak mereda, sesekali angin terasa
Menjelang pintu gerbang masih banyak orang-orang
Mencapai trotoar aspal, kuringankan beban sepatuku
Kugosokkan telapak bergantian kiri dan kanan
Kini terasa agak lumayan
Walau ada bagian yang bandel dan kukuh bertahannya
Berikut tiga helai rumput yang melekat dengan eratnya

Sesama rumput tersebut ternyata berkata pula
Sambil membenahi akar yang terbawa sempurna
“Mudah-mudahan kita dapat bumi yang sunyi
Tempat kita tumbuh menyebar dan menutup tanah
Memberi warna hijau dan menguapkan zat asam
Menyiapkan pucuk untuk dikutip hewan ternak
Bercanda dengan kumbang dan alang-alang
Menangkap angin yang mengibarkan sepi
Di atas bagian bumi yang agak sunyi
Cukuplah pengalaman menumbuhi pekuburan
Tempat yang paling bising di atas dunia
Betapa hiruk-pikuk tak pernah diam
Terguncang-guncang bagai lindu berketerusan
Pernah suara seperti teriakan orang-orang di stadion bola
Digilas seratus mesin giling bersama-sama
Sekawanan kerbau yang sedang memamah-biak
Tegak terperanjat, mengibaskan telinga
Lalu lari tunggang-langgang
Kadang-kadang kudengar jeritan massal hinggar-bingar
Para perempuan yang dibebat gurita kawat berduri
Sehingga induk-induk ayam tegak terpaku
Lalu berkotek-kotek tak ada putusnya
Tungku raksasa apa yang ada di bawah pusara
Mengambang panasnya ke atas
Memanggang putik-putik daun
Kuali penggorengan mayat yang luarbiasa busuk
Yang percikan uapnya membunuh bunga-bunga kamboja
Yang menjerit kesakitan
Sesudah diusap oleh warna kekuningan
Daun-daun itu gugur keletihan
Mudah-mudahan kita dapat bumi yang sunyi
Tempat kita menumbuhkan hijau daun yang teduh
Jauh dari gelegar kubur tak berkeputusan
Tapi heran aku. Lihatlah yang punya sepatu ini
Tertawa-tawa saja sesudah acara mayat masuk kuburan
Dia berkelakar terus dengan teman-temannya
Seperti dia tidak mendengar hingar-bingar
Kamar-kamar algojo di bawah sana
Betapa sempurna
Kedua telinga
Tulinya dia.”

Tanah pusara yang melekat di telapak sepatu
Tak mendengar kata-kata rumput itu


(III)
Aku memutar kunci penyala mesin kendaraan
Roda-roda menggelinding pelahan di musim hujan
Di sela rimba lalu-lintas yang penuh kemacetan
Dengan hati-hati kutekan dan kulepas pedal gas ini
Sebutir tanah dasar kuburan
Yang lekat di bawah telapak sepatuku kanan
Ditanyai teman-temannya, lumpur aspal jalanan
Dan menjawablah dia:
“Pengalamanku yang paling kukenang
Selama bermukim di bawah sana
Ialah menyaksikan hancurnya kain kafan
Kemudian runtuh membusuknya kulit dan daging
Lumatnya organ jeroan
Berserakannya rambut dan kuku
Melelehnya lemak dan kelenjar
Menerawangnya tulang-tulang rusuk
Termenungnya tengkorak
Menganganya rahang
Berlubangnya rongga pernafasan
Cerai-berainya persendian
Tapi, di sudut rongga mata kirinya
Sisa bola matanya masih menggelantung sipi
Nyaris terjatuh
Dan aneh
Di sudut bola mata membusuk keriput itu
Setetes air mata menggantung pula
Lama tersangkutnya
Seperti enggan jatuh
Antara gugur dan menggantung
Tapi tak juga luruh-luruh
Kemudian
Dari air mata itu
Yang berkilat dalam gelap
Meneteslah setitik air

tes

Jatuh di dekatku
Bertanya aku padanya
‘Siapa kamu’
Menjawablah dia
‘Aku air mata dari air mata’
Aku bingung
‘Maksudmu bagaimana’
‘Aku air mata. Dari air mata
Aku menitik berkepanjangan
Di bawah tanah
Karena sumberku, air mata sebenarnya
Tertahan menetes
Selama di atas tanah’
Aku tidak paham
Mungkin aku tak perlu paham”
Begitulah cerita butir tanah kuburan itu.

(IV)
Pedal gas yang kini berlumuran tanah liat itu
Tak mendengar kata-kata tanah kuburan tadi
Rumput yang tiga helai berikut akarnya
Tak mendengar pula kata-katanya
Sepatu yang membawa semua
Tak mendengar kata rumput dan tanah
Aku yang menginjak dan memasuki kedua sepatu itu
Tak menyimak kata-kata sepatu.

1988
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Percakapan Telapak Sepatu Berlumuran Lumpur Kuburan
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sebuah Ziarah, ke Kubur Sendiri

(Dengan sepenuh hormat dan cinta
pada ibunda dan ayahanda
yang tak jemu tak pernah luput
mengingatkan kami makna el-maut)

(I)
Matahari sembilan Zulhijjah
Tinggal setengah hasta di atas padang Arafah
Sempurna bulatnya, berwarna merah
Terdengarlah olehmu doa terakhir itu
Diucapkan menjelang matahari terbenam
Dibacakan oleh dua juta jamaah
Diratapkan oleh mayat-mayat ini
Dua juta mayat yang tegak, yang duduk, yang tiarap
Apalagi beda antara doa dan ratap
Terasakan olehmu batas waktu yang gawat
Antara detik kau mengenakan sendiri kain kafan
Sampai mikro-detik menating diri sendiri ke lubang kuburan
Dua juta mayat
Di depan dua juta kuburan
Dalam ribuan saf yang amat teratur membelintang
Antara Arafah dan Muzdalifah
Aku membungkuk sedikit
Mengintip kuburku
Apa jenis tanahku
Apakah tanah khatulistiwa
Mungkinkah tanah sub-tropika
Di lingir kuburku, dua liter pasir Arafah
Mencucur kedalamnya
Mengepulkan debu yang amat tipisnya
Kucoba kini merenungkan soal strategi kubur
Kucernakan masalah unsur struktur kubur
Tiba-tiba kain ihramku meluncur
Turun dari pundak
Kuletakkan balik, dengan hati-hati
Kuintip kubur isteriku
Sekilas tampak tepinya
Sekilas hilang bentuknya
Terbayang pula kubur kedua orang tuaku
Aku menghambur
Sebuah dinding tembus cahaya
Menghadangku
Kepala dan lututku membenturnya
Aku termangu
Wahai, di dinding itu tergurat sebuah maklumat:
Setiap mayat mengurus kuburnya sendiri-sendiri
Setiap mayat masuk ke kuburnya sendiri-sendiri
Wahai
Aku mencangkung, kaku dan canggung
Kupandang tanah kapling bahagianku
Dua kali satu meter persegi
Dua papan nisan, jelas mengeja namaku
Taufiq bin Abdul Gaffar Ismail
Papannya surian, pinggirnya digergaji agak kasar
Belum sempat diamplas supaya halus sedikit
Tanah itu bergoyang
Nampak semacam ada gelombang
Bergaris-garis tipis macam gerakan air di pasir
Mungkinkah kuburku di dasar lautan?
Di dalam sana, sama gelapnya, berbeda sedikit lembabnya
Tak jelas berapa hasta dalamnya
Dingin, sempit dan pengap
Tanpa peta situasi ventilasi
Dan cacah jiwa sejuta serangga
Serta lalu-lintas reptilia bawah tanah
Yang akan mencengkeram seluruh lahiriahku
Dan menyelenggarakan total penghancuran
Dengan kawanan bakteri pembusukan.

(II)
Di  bawah kemah di Arafah
Diterjang panas 50 derajat
Hamba letakkan tulang-belulang hamba
Sejajar sumbu bumi
Hamba terbaring
Mayat hamba terbaring
Ini sebuah simulasi
Inilah inventarisasi
Menjelang pengembalian segala barang pinjaman
Kepada Yang Maha Empunya
Semua benda yang sempat hamba akumulasi
Selama X tahun: barang-barang bergerak
barang-barang tak bergerak
surat-surat dunia, dokumen-dokumen fana, bangunan, ideologi
isteri, anak, cucu, ilmu, puisi, budaya
Ternyata mereka
Bukan milik hamba
Mereka  bergerak serentak
Tapi tepat di tepi kubur ini
Mereka semua berhenti
Hamba kembalikan gumpalan protein
Air dan garam ini
Pada Dikau, Yang Maha Empunya
Mudah-mudahan masih utuh amanat-Mu ini, Ya Razzaq
Empat ratus tulang-belulang, tiga belas persendian utamanya
Enam ratus otot daging yang telah bertugas sempurna
Bergerak di bawah matahari, bulan, gemintang dan kegelapan
Seperangkat urat syaraf, susunan darah dan pencernaan
Yang cara kerjanya demikian fantastik
Sesudah X tahun lamanya kupinjam adi-komputer
Hadiah Dikau ini, Ya Rabbi
Sepuluh ribu juta neuron dalam otak yang Dikau pinjamkan ini
Dengan sinyal-sinyal pikiran sekencang 400 kilometer per jam
Wahai. Betapa sayang Dikau pada tanah liat bergaram
Hamba, khalifah-Mu ini
Yang Dikau hadiahi cerdas dan ilmu
Tapi ini semuanya pinjaman hanya
Bagaimana cara hamba mengembalikannya
Hamba malu
Hamba malu ...

(III)
Badanku gratis zat asam di udara gratis
Air banyak, makanan tak sukar dalam ikhtiar
Dengan apa hamba kembalikan
Imbalan sifat Rahman dan Rahim Dikau
Berbuat baik di dunia?
Betapa rumit dan ruwetnya
Betapa sulit menyisihkan tempo
Menggesekkan kening 6 detik di atas bumi Dikau
Menyelinapkannya tiap hari di antara 86.400 detik hadiah Dikau
Yang Dikau bagi rata, tiada tanpa
Sejak dari sahaya sampai kepada raja
Dan bila habis bahagian hamba
Dan bila regangan akhir akan disentakkan
Dan bila hijab mulai disibakkan
Tak sempat lagi meninjau inventarisasi
Semua benda yang diakumulasi
Mudah-mudahan semuanya sudah rapi
Karena hanya Yaasin yang terdengar kini
Dan isteriku yang mulai merah matanya
Dan cucu-cucuku yang duduk tegak termangu
Dan anakku yang membuka lipatan kafan
Ya Muqallibal Qulub, jangan palingkan hati hamba
Hamba kembali pada Dikau dalam keadaan tumpas
Fakir dan fana
Seluruh barang pinjaman hamba kembalikan
Mudah-mudahan semuanya utuh
Rasa ikhtiar hamba memelihara titipanmu, sudah pada
Kalaulah ada bahagian dari lempung bergaram ini susut
Di tulang kapur yang gugur
Di bawah kulit banyak lemak yang membiak
Dan inilah tumpukan bukit dosaku
Laporan makar dan rahasia syahwatku
Tak dapat aku sembunyikan dari pandangan-Mu, Ya Bashir
Akan kau apakan hamba, Ya Ghafur
Bukankah ubun-ubunku sudah sejak dulu
Dalam genggaman Dikau, Ya Malik
Dan bila tiba saat itu
Betapa sakit tak terperi tenggorokanku
Ketika pahit menyeluruh dalam mulut
Pada saat ranting-ranting runcing berduri itu
Pelan-pelan dicabut
Lewat saluran pernafasan
Maka tataplah mataku
Aku tak melihatmu lagi
Karena yang kupandang kini
Adalah
Dunia
Sana.

1986
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Sebuah Ziarah, ke Kubur Sendiri
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Lonceng Tinju

Setiap kali lonceng berkleneng
Tanda putaran dimulai
Setiap kali mereka bangkit
Dan mengepalkan tinju
Setiap teriakan histeria
Bergemuruh suaranya
Aku kelu
Dan merasa di pojok
Sendirian

Setiap lonceng berklenengan
Dan tinju mulai berlayangan
Meremuk kepala lawan
Terkilas dalam ingatan
Nenekku dulu berkata
“Jangan kamu mengadu ayam”
Dan bila aku menuntut ilmu
Di Kedokteran Hewan
Guruku menasihatkan
“Jangan kamu mengadu hewan”

Kini lagi, bel itu berklenengan
Aku tersudut, bisu
Dan makin merasa
Sendirian.

1987
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Lonceng Tinju
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Doa Orang Kubangan

Di hilir pemandian masih saja Kau sediakan logam mulia sebagai pancuran dan bejana platina bergagang emas tempat kami membasuh getah membilas dahak menguliti lendir mengikis selaput nanah menyadap barah ludah yang bertetesan berguguran berserakan di genangan yang jadi kubangan menggerakkan cairan isi lambung bertukak insisi pada hepar dijerat lemak dengan aroma yang menggilas dedaunan jadi kuning kering berguguran dan bermilyar insekta bunuh diri bersama

Kami pun sejadi-jadi mandi, serasa untuk terakhir kali

Setiap kerak lumpur gugur penyesalan macam cengkeram dengan sembilu seribu

Ada kultus dinyanyikan ada kultus berbayang-bayang ada pula tiada mana kentara beda lumpur selutut atau luluk bepercikan telah ke tangan dan muka

Dan bejana ini kami tating bersama ada hangat air dari mata dan telapak kaki bergerak ke hulu terasa sejuk penuh di atas lantai pualam pemandian dengan air pancuran hening bening bercucuran.

1998
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Doa Orang Kubangan
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Geometri

Dari titik ini
Sedang kita tarik garis lurus
Ke titik berikutnya

Segala komponen
Telah jelas. Dalam soal
Yang sederhana.

1966
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Geometri
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ketika Burung Merpati Sore Melayang

Langit akhlak telah roboh di atas negeri
Karena akhlak roboh, hukum tak tegak berdiri
Karena hukum tak tegak, semua jadi begini
Negeriku sesak adegan tipu-menipu
Bergerak ke kiri, dengan maling kebentur aku
Bergerak ke kanan, dengan perampok ketabrak aku
Bergerak ke belakang, dengan pencopet kesandung aku
Bergerak ke depan, dengan penipu ketanggor aku
Bergerak ke atas, di kaki pemeras tergilas aku.

Kapal laut bertenggelaman, kapal udara berjatuhan
Gempa bumi, banjir, tanah longsor dan orang kelaparan
Kemarau panjang, kebakaran hutan berbulan-bulan
Jutaan hektar jadi jerebu abu-abu berkepulan
Bumiku demam berat, menggigilkan air lautan.

Beribu pencari nafkah dengan kapal dipulangkan
Penyakit kelamin meruyak tak tersembuhkan
Penyakit nyamuk membunuh bagai ejekan
Berjuta belalang menyerang lahan pertanian
Bumiku demam berat, menggigilkan air lautan.

Lalu berceceran darah, berkepulan asap dan berkobaran api
Empat syuhada melesat ke langit dari bumi Trisakti
Gemuruh langkah, simaklah, di seluruh negeri
Beribu bangunan roboh, dijarah dalam huru-hara ini
Dengar jeritan beratus orang berlarian dikunyah api
Mereka hangus-arang, siapa dapat mengenal lagi
Bumiku sakit berat, dengarlah angin menangis sendiri.

Kukenangkan tahun '47 lama aku jalan di Ambarawa dan Salatiga
Balik kujalani Clash I di Jawa, Clash II di Bukittinggi
Kuingat-ingat pemboman Sekutu dan Belanda seantero negeri
Seluruh korban empat tahun revolusi
Dengan Mei '98 jauh beda, jauh kalah ngeri
Aku termangu mengenang ini
Bumiku sakit berat, dengarlah angin menangis sendiri.

Ada burung merpati sore melayang
Adakah desingnya kau dengar sekarang
Ke daun telingaku, jari Tuhan memberi jentikan
Ke ulu hatiku, ngilu tertikam cobaan
Di aorta jantungku, musibah bersimbah darah
Di cabang tangkai paru-paruku, kutuk mencekik nafasku
Tapi apakah sah sudah, ini murka-Mu?

Ada burung merpati sore melayang
Adakah desingnya kau dengar sekarang.

1998
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Ketika Burung Merpati Sore Melayang
Karya: Taufiq Ismail