Juli 1991
Groningen, Kota Utara Belanda
(Buat Thomas R.)

Groningen, kota di utara Belanda
Dipendam dingin dan senyap hati penuh tanda tanya
Aku tiba
Usai dari pelukan Berlin
Kecamuk permainan dadu
Dikawal serdadu.

Groningen, kota di utara Belanda
Tercatat di notes agenda
Sibrandaheerd rumah Natalia
Anak tangga pertama menjenguk ke jendela dunia
Bebek-bebek hitam berlayar di kanal hampir beku
Apa tidak kedinginan?

Hati riang bergoyang diterpa angin winter
Aku kini tahu apa artinya dingin
Mengiris-iris daun telinga.

Groningen
14 Januari 1990
"Puisi Putu Oka Sukanta"
PuisiGroningen, Kota Utara Belanda
Karya: Putu Oka Sukanta

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Daun Bianglala

Terbaring di telapak tanganku
selembar daun, daun biru
teramat biru, sebab terlalu lama
ia memandang angkasa - 
ia ingin telanjang, sebab ia jemu
pada gaunnya yang itu-itu juga.
Tak mampu ia menjadi tua
meski oleh gerimis ia merebah
ke tanah: ia pun memerah
seperti parasmu, paras
yang tak tertangkap tanganku.
Maka, sekali tak berumah
ia tak akan lagi menyerah.
        
Ungu, jika ia tidur.
Putih, jika ia mimpi.
Jingga, jika ia dahaga.
Kuning, jika ia sembunyi.

Hitam, jika ia terbang.
Hijau yang menodai telapak tanganku
bukanlah darah daun
tetapi bayangannya, bayangan
yang tak dibawanya mengembara.
Jika aku menjulang di depan rumahmu
berakarkah aku
membawa hilang-daun ke pangkuanmu:
sebentang hijau, hijau raya?
Tapi tak ada daun mati, cintaku
sebab daun itu berdegup
seperti jantungmu, tapi degup
yang tak bisa lagi kudengar
ketika aku bangun, tersadar
di pangkal jalan
sebab kau telah telanjang - 
luas, teramat luas, bersama daun
seperti daun
yang kini mungkin mengilap baja
nun di ujung jalan sana.
Dan aku yang harus menyimpan
gaunmu, gaun biru, teramat biru:
pohonkah namaku?

2005
"Puisi Nirwan Dewanto"
PuisiDaun Bianglala
Karya: Nirwan Dewanto

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Kuintet

Namaku piano, dan bebilahku lelah oleh jemarimu.
Namaku klarinet, dan mulutku mencurigai mulutmu.
Aku teramat haus, tapi telingamu hanya menatapku.
Baiklah, di bawah sorot lampu akan kupuja sepatumu.

Di depan kita, mereka yang hanya membawa bola mata
Mengira kita pasangan yang serasi meninggi menari.
Tapi namaku biolin, dan betapa dawaiku sudah beruban.
Dan kau masih hijau, masih menghapal khazanah lagu.

Mereka bertepuk tangan ketika terhunus pisau tiba-tiba
Dari balik lambungku, siap menyadap madu di lehermu.
Ternyata namaku kontrabas, dan aku jirih pada pujian.

Mereka memacuku ke puncak penuh karangan kembang.
Maka namaku masih marimba, dan kuseret kau ke danau.
Di mana si komponis buta rajin mencuci telinga mereka.

2009
"Puisi Nirwan Dewanto"
PuisiKuintet
Karya: Nirwan Dewanto

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Puisi, Membacamu

Luka
saling mengampuni

Mawar
saling menikam

Kata
saling mengakhiri

"Puisi Medy Loekito"
PuisiPuisi, Membacamu
Karya: Medy Loekito

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||