Februari 1992
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Nelayan Tersesat

"Sampanku tersesat di sebuah negeri terbuka,"
jerit seorang nelayan kecil dan papa.
"Di mana-mana pintu. siapa pun bebas memasukinya."
(Ikan-ikan merubung dan ternganga).

Nelayan kecil itu bagai telah terbebas
dari sebuah lorong tertutup dan gelap.
dinding-dinding memantulkan sakit
dan nestapa.

"Berkatalah, dan mereka akan mendengar,"
ia berkata.
"bukalah mulutmu, dan tangan-tangan tergapai menyalammu."
(Ikan-ikan merubung dan ternganga).

"Sampanku tersesat di sebuah negeri terbuka.
mereka akan mendengar harapan dengan tegur sapa.
untuk apa kail, sebab banyak mulut yang sedia
menjadi wakil untuk membunuh rasa lapar kita."
(Ikan-ikan merubung dan ternganga).

Seorang nelayan kecil dan papa. matanya tak 
cukup tajam untuk meraba-raba. hatinya terlalu
teduh buat keisengan tegur sapa. dadanya terlalu
terbuka buat harapan-harapan.

Kebisuan dinding-dinding langit yang dingin
mendesis dan meronta. derita terkibas
sayap-sayap emasnya.

1992
"Puisi: Nelayan Tersesat (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Nelayan Tersesat
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Lagu Asing dari Desa ke Desa

Di atas gerobak kuhitung mesin dan listrik
yang membagi-bagikan kekosongan kepada
semua orang
malaikat-malaikat menyebarkan kebencian. sawah-sawah
dan gubuk-gubuk tiba-tiba berubah gumpalan kertas.
kubakar: jadi tanah air bagi bayang-bayang.

Sepanjang gang orang-orang berjaga. tangan-tangan
kurus mencabik-cabik tanah bagi jantungnya sendiri.
sebuah semesta: jutaan rumah tanpa penghuni.

Kubakar kesedihanku. kertas-kertas mengetik
sendiri huruf-huruf melulu tanda. melulu segala
tanda baca. kubakar kesunyian ruhaniku.

Di gerbang-gerbang desa kuhitung bayang-bayang
yang terpatah-patah. kusihir: menjadi jari-jari
yang selalu ingin menuliskan ribuan kalimat
tak terbaca.

1992
"Puisi: Lagu Asing dari Desa ke Desa (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Lagu Asing dari Desa ke Desa
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ibadah Sepanjang Usia

Kalimat-kalimat yang kau ucapkan
berguguran dalam sahadatku. inilah
kidung yang digumamkan!

Berapa putaran dalam sembahyang langit.
tengadah di bawah hujan yang menaburkan
ayat-ayat tak pernah dibaca.

Aku tak menemu akhir sembahyangku
yang gagap. lilin-lilin tak menyala
dalam ruangan tanpa cahaya. gema mazmur
yang disenandungkan dari ruang mimpimu
beterbangan dalam tidur gelisahku. dan
khotbah yang sayup, bertebaran dari
mulut-mulut kesunyian.

Telah kautabuh loncengmu? sembahyangku
tak juga menemu akhir.

1992
"Puisi: Ibadah Sepanjang Usia (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Ibadah Sepanjang Usia
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Elegi Sinta

Aku Sinta yang urung membakar diri.
demi darah suci
bagi lelaki paling pengecut bernama Rama.
lalu aku basuh tubuhku, dengan darah hitam.
agar hangat gelora cintaku.
tumbuh di padang pendakian yang paling hina.

Kuburu Rahwana,
dan kuminta ia menyetubuhi nafasku
menuju kehampaan langit.
kubiarkan terbang, agar tangan yang
takut dan kalah itu tak mampu menggapaiku.

Siapa bilang cintaku putih? mungkin abu,
atau bahkan segelap hidupku.
tapi dengarlah ringkikku yang indah.
menggosongkan segala yang keramat dan abadi.

Kuraih hidupku, tidak dalam api
- rumah bagi para pendosa.
tapi dalam kesunyian yang sia-sia dan papa.
agar sejarahku terpisah dari para penakut
dan pendusta. Rama ...

Prambanan, 2002
"Puisi: Elegi Sinta (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Elegi Sinta
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Santa Rosa

I
Kepada suami masa silamku, tak kutuliskan silsilah.
kitab tua di perpustakaan hatiku hanya mencatat
sejumput kisah kekalahan yang menyedihkan.
segerombolan serdadu berbaris bagai kanak-kanak.
pulang menuju rumah-rumah siput di punggung kerang.
menghabiskan sisa harapan yang remang, di antara 
gigi-gigi hiu retak.

Kepada para kekasihku, aku mencari tubuh yang cemas
dalam ruang kembara para pembakar. mereka berikan
onggokan-onggokan benda daur ulang. dengan mesin
pengatur suhu yang sempurna. kunikmati kehangatan
sunyi dalam sedetik puncak hausku yang panjang.
menuju kesia-siaan yang gila. aku tinggal teramat lama!

Aku ingin mendaki dan tinggal di puncak Himalaya.
agar dingin dan beku nafasku. lalu meledak dan
mengalirkan bencana.

Tapi aku letih bermimpi. 
rumah ini sempit dan kotor.
jika pun harapan itu tiba,
ia hanyalah segumpal waktu yang sia-sia.

Ninomaru Shogun Palace, 2001


II
Kutulis sajak cinta.
matahari berkumur uap telaga.
bidadari itu yang meniti lengkung bianglala.
lewat gorden jendela rumah tua yang compang.
menuju padamu.

Kuhitung debu usiaku.
setua inikah kebosanan?

Para perompak dan pencari harta karun
merampas perahumu.
matahari  jauh dan menggantung.
tak dalam peta.
kita buat telur ubur-ubur, agar menetas 
jadi onta. lautan berubah padang pasir.
karang-karang menjadi kubur raja-raja
dalam pyramid menjulang.
menyaksikan perjalanan tua kita yang
ringkih dan sengsara.

Wahai pelacur jantanku.
hisap putingku dengan seluruh resahmu.
tikam vaginaku dengan seluruh rencana ajalmu.
kukalungkan sanca penjaga dan kelabang
pelumpuh bagimu. sambil kunikmati waktu
yang membeku. jerit kijang di nafas
lapar leopard jantan.
untuk menuntaskan luka kecilku
yang membara.

Tikam aku berulang!

Hamburg, 2002
"Puisi: Santa Rosa (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Santa Rosa
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Surat dari Kota

Kukirimkan surat panjang hari ini, ibu
agar sampai padamu tepat kala
kibar bendera dan janur kuning
semarak di sepanjang jalan desa
baca satu-satu dan tanpa air mata
tak ada gunanya mengeluh, buang jauh-jauh
tak ada gunanya menyesali yang terjadi
hanya karena tak dapat ikut mengecap
sepiring nasi putih setelah lama merdeka
itu hanya derita kecil saja
dulu bapak bahkan membusung dada
menjelang peluru-peluru Belanda menghantamnya
ketika beragam siksa tak mampu membuat dia bicara
kau tidak kehilangan
masih berdiri aku di sini
penerus juangnya walau dalam bentuk yang beda.

Jakarta, 1977
"Puisi: Surat dari Kota (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Surat dari Kota
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ketika Semakin Memanjang
Jalan Lurus Berjalur Putih

Gemetar angin-angin gemetar harap
perempuan-perempuan sederhana
antara sunyi bebukitan dan hiruk pikuk kota
hembus pada padang tak pernah sepi matahari
melayang antara debu-debu uap bumi
memberi warna nyata atas cakrawala dan duka sirna
putih-putih perempuan-perempuan berbunga putih

Hari-hari telah lama berbunyi sendiri
mengabarkan bencana-bencana antara citra dan fakta
menghantar kala-hitam menyengat kehidupan
resah lagunya bangunkan sukma lelap dalam gelap
membuat semua menatap pada titik barat daya
dan tepiskan setiap belenggu intan memenjara
bersama semburat sorot mata.

Semakin memanjang jalan lurus berjalur putih
kala semangat menyatu mengoyak rengek manja
semakin berderap perempuan-perempuan berbunga putih
putih-putih!

Jakarta, 1978
"Puisi: Ketika Semakin Memanjang (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Ketika Semakin Memanjang
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bulan dan Lelaki Urban

Di langit kota bulan bundar berpendar
menyapa fakir di pinggir taman Chairil Anwar:
selamat malam lelaki penjelajah malam
ucapkan mantera
aku datang dalam anganmu
menjadi sepotong roti dalam genggam
menjadi keeping duit penolak sakit
selamat malam lelaki urban
di langit desa
bulan jua pemandu cengkerama
dengan istri dan kerabat
yang menanti lama
kuceritakan pucukpucuk hutan
jauh di pedalaman
kuceritakan harapan
kau pulang tahun depan
pada mereka kutawarkan kedamaian
berbaringlah di kaki tugu
hitung sampai seribu
kan kusatukan cintamu yang poranda
di kaki lima, kepada perempuan setia
di pinggir rawa-rawa
fakir tersenyum tipis memeluk dada
bayangkan kedamaian yang paling damai
lelaki urban telah kehilangan bulan
pada awal lelapnya, sukmanya terbang
tak peduli apa, bulan tengah bertengger 
di puncak Istana Merdeka.

Jakarta
Agustus, 1980
"Puisi: Bulan dan Lelaki Urban (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Bulan dan Lelaki Urban
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ketika Bunga Ditabur Atas Pusara Tak Bernama

Hari ini kita melangkah satu arah
gagah bagai tembok-tembok makam
wajah sekeliling serius penuh janji
menatap nisan-nisan putih
perekam berita ziarah
'resapkan cinta tumpah darah
ketika bunga ditabur
atas pusara tak bernama.

"Ibuku lahirkan manusia utama
batu dasar dan pilar penyangga
kokoh nusa kokoh bangsa
tiupkan nafas putih padat kasih
lewat pori tanah di tapak kakimu
antara doa-doa terucap
pada hari-hari begini
rindu kesejatian"

Seorang prajurit muda tak bernama
menatap antara kerjap
lewat bayang pohonan rindang
kesiurkan angin makam hari ini
ketika bunga ditabur
atas pusara tak bernama
dan kita selesai diam-diam
melangkah pulang berpencar arah.

Jakarta, 1990
"Puisi: Ketika Bunga Ditabur Atas Pusara Tak Bernama (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Ketika Bunga Ditabur Atas Pusara Tak Bernama
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ladrang Buram Solo Bengawan

Sungai panjang kali bengawan
telah jadi kerut lelaki tua
perahu-perahu sarat tembang kehidupan
telah jadi sejarah terlipat dalam
kenangan anak-anak kota
tumbuh oleh kemas peradaban
tumbuh 'biakkan jasa dan dosa
orang-orang bersaksi terus berjalan
anak-anak hadir lupa kapan lahir
barangkali dewasa oleh asuhan angin
barangkali arif oleh balada tua
dan rembulan hilang dari bengawan
lelaki tua bicara ada kegetiran
: keluhkanlah lewat tembang
pahit manis kehidupan
limbah-limbah kini di bengawan
bocah-bocah kini tlah lupa kail mainan
menandak-nandak tanpa mengerti
irama baru menghentak negri
semusim ke semusim - ya dhenok
hijaukan saja jiwamu
jika tak bisa hijaukan bantaranmu.

Bogor
April, 1992
"Puisi: Ladrang Buram Solo Bengawan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Ladrang Buram Solo Bengawan
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Surabaya dan Nama-Nama

Malam dan rembulan tak harus memabukkan
sementara hari lusa berpendaran
di antara nama-nama tereja dari lidah kita
nikmatilah karisma Surabaya
dalam semangat sajak-sajak tanah Madura
dan tetap Leo Kristi masih nyala
kita dengarkan nama-nama
terpanggil dari sejarahnya
jangan sandarkan pemahaman dalam bilik-bilik
yang memisahkan kita dari cahaya.

Kita ini orang-orang musim
lahir di setiap ruas buminya
pesisiran pedalaman perkotaan
senantiasa ada yang sama
gusti berkahi hasrat putih.

Surabaya, 1994
"Puisi: Surabaya dan Nama-Nama (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Surabaya dan Nama-Nama
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Catatan Perempuan Tua Kampung Nelayan

Perempuan tua ceritakan
pada cucu lelakinya
tentang bahasa alam
seperti laut tak pernah hentikan
ombak, meski pantai penuh bengunan
laut juga selalu pelihara ikan
meski di mana-mana pencemaran
begitulah bukti kesetiaan.

Kita tak benar menodainya
sementara alam raya penuh cinta 
meski hari-hari dosa
digelar di haribaan
sampai saat puncak durhaka
membuat anak manusia takabur
alam raya kirim peringatan
tahukah kau kisah-kisah bencana
itu hanya satu tegur sapa
jika murka?
(si bocah coba memahami
tapi manusia perkasa
bahkan enggan mengerti)

Bogor
April, 1994
"Puisi: Catatan Perempuan Tua Kampung Nelayan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan Perempuan Tua Kampung Nelayan
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Abstraksi Lukisan Kaca

Siapa bersembunyi dalam lekuk-lekuk bening
raut wajah wajah wayang dalam pigura
kusaksikan terjemahan kesabaran
mengalir pada goresan
siapa pemilik kesabaran dalam ruang
kupahami terjemahan kehidupan
mengalir pada sapa pertama: mbakyu
mahkota bukan yang kau cari
aku bersaksi pada ruang.

Mendut
Maret, 1995
"Puisi: Abstraksi Lukisan Kaca (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Abstraksi Lukisan Kaca
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Prasasti Cinta Negeri Perempuan Sederhana

Angin pagi Agustus ringan berhembus 
kabarkan cerita lama tentang bapa
hilang bersama badai perang kemerdekaan
bapaku lelaki bukit padas
dari timur, semangat ruh jagad
lelaki dari langit
mulut simpan kata-kata wingit
kurindukan kehadirannya
setiap pagi agustus tiba
tapi dia tak pernah kembali
hati berkata
bapa telah menyatu pada bumi.

Pagi berangin mentari di pucuk randu
bapa bicara pada semesta:
anakku perempuan cilik
mata bening hati akik
kelak dia kuat bak Kalinyamat
kelak dia mengerti bak Kartini
kelak kutitipkan hari-hari
getar nafas perjuangan
sejak itu bapa hilang
kutanam prasasti di padang-padang
sambil menghitung-hitung bintang
kukirim tembang.

Bogor, 1995
"Puisi: Prasasti Cinta Negeri Perempuan Sederhana (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Prasasti Cinta Negeri Perempuan Sederhana
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bulan Buram di Kayutanam

Malam mulai turun
diantar gugur daun
hujan di plaza dan halaman
pepohonan menggigil diam.

Kudengar suara-suara
saat hujan mulai reda
orang-orang merajut angan
orang-orang merangkai merjan.

Bersaksi di balik ranting basah
bulan buram di Kayutanam.

Siapa memanggil namaku
sementara lingkaran disiapkan
kelebat bayangan berlalu
langit kelam gemetaran.

Menari di bawah bulan temaram
menembang dalam sisa basah hujan
orang-orang saling menyapa
ada misteri di balik suara.

Kayutanam
Desember, 1997
"Puisi: Bulan Buram di Kayutanam (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Bulan Buram di Kayutanam
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kota itu Bernama Jepara

I
Masih kurasakan anginnya
berdesir
di pohon mahoni tua
mengabarkan
kejadian melanda hari-hari
melanda nusa
dan nasib anak negeri
Jepara
pohon kotamu
luka masa lalu.

Sebuah perjalanan panjang
bikin diri lupa pulang.

Donoroso dan Donorojo
masih menunggu
sementara Ibu Agung
diam-diam menyimakku.

II
Masih kurasakan ombaknya
berdeburan tengah malam
saat musim pancaroba
mengabarkan
arus-arus perubahan
mengalir
dari empat mata angin
Jepara 
ombak lautmu
mimpi masa lalu.

Sebuah renungan panjang
bikin jiwa di awang-awang
kubayangkan 
kota kian tua jua
tapi aku
belum selesai mencari.

Jepara
Juli, 1998
"Puisi: Kota itu Bernama Jepara (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Kota itu Bernama Jepara
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Tarian Naga

Geliat naga di batas abad
menarikan Semesta-Nya
geliat jiwa di arus jaman
menarikan kehidupan.

Jaga nafas, langkah, lidah
saat naga sembur nafas api
nafas ke angkasa jadi mega
nafas ke bumi jadi air mengalir.

Ia mencari orang-orang pandir
salami dengan putih lili dan anyelir.

Yogya
Mei, 2000
"Puisi: Sajak Tarian Naga (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak Tarian Naga
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di antara Ruang dan Raung

Musim meruang
anak manusia meraung
sihir mesiu menggiring picu
sihir darah menggiring cacah
dajal menabur ajal
rejam menabur dendam
karma bergulir
di kota dan kampung pinggir
di antara ruang
jiwa-jiwa meraung
kota meregang
jiwa hilang kidung
aku masih mencari Tangan-Mu
dekaplah berwindu-windu
jadikan aku bunga putih
yang harumi musim-musim
ubah sihir mesiu jadi bisu
ubah sihir petir jadi cair
dalam Kasih-Mu segalaku mengalir
menjadi arus
tahan gerus.

Jakarta
Mei, 2000
"Puisi: Di antara Ruang dan Raung (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Di antara Ruang dan Raung
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Nasihat Seorang Perempuan Kepada Anaknya

Berburu, ya anakku
sebelum kau diburu
dan terus memburu
walau tak keburu
dan
sebelum mati, ya anakku
matikan yang harus mati
agar kau ingat mati
ketika
kau lapar, ya anakku
makan laparmu sendiri
karena lapar akan memakanmu
jika saat lapar
kau makan orang-orang lapar
kuluruskan keluh kesalmu
tentang bumi yang hijau biru
begini, ya anakku
sepanjang windu
dicangkuli para rakus teknologi
hingga tanah retak
hingga langit koyak
lalu memagut jiwamu
oh, bumi!

Bogor, 2000
"Puisi: Nasihat Seorang Perempuan Kepada Anaknya (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Nasihat Seorang Perempuan Kepada Anaknya
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Hanya Partitur


Tatap bintang dan rembulan usai hujan di malam
tirakatan jauh Utara dan Selatan
bayang purba hampiri rasa dalam kelebatan.


Lereng Merapi
Maret, 2003
"Puisi: Hanya Partitur (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Hanya Partitur
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Sapu Ilalang di Tikungan Peradaban

Dengan seikat ilalang
kau menyapu bumi gersang
sementara orang-orang
sibuk mencangkul pikiran sendiri
dan lahan-lahan penuh lubang
dan udara bau debu
dan sungai henti mengalir.

Duh leluhur duh karuhun
tinggal sebentar sisa peradaban
dalam ruang-ruang sejarah
tradisi dan adat rapi tersurat
walau budaya asing terjangkan bising
kau masih menyapu dengan seikat ilalang
saat layar kaca berdentang-berdentang.

Di puncak malam zikirmu mengawang
mencari Arasy Sang Maha Suci Ilahi
Maha Kekasih, zikirku rangkaian tasbih
Curahi Cahaya tanahku tua.

Banten
2004
"Puisi: Sajak Sapu Ilalang di Tikungan Peradaban (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak Sapu Ilalang di Tikungan Peradaban
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Lepas Subuh di Bumi Raja II

Wajah-wajah pias masih termangu
sisa subuh warna abu
prahara kota prahara jiwa
luka tanah luka manah
mimpi perubahan yang tercacah
seorang lelaki tua terpekur di ujung desa
coba memeras air mata
sisa diri masihkah makna
denyut nadi denyut langit tak sahuti
masih terdengar bisiknya santun
hati-hati dalam runtun:
adakah Andika
yang selancar di lempengen Australia
adakah Andika
sedang punya hajad raya
adakah Andika
tak menerimaku yang terlalu tua
menugasiku bersaksi pada dunia
lelaki tua terguguk
bumi raja benteng lapuk
hanya angka yang bertumpuk
pesan gaib jelang magrib:
kuat iman usah 'ngamuk!


Teratak Gondosuli
Juni 2006


Catatan:
Manah = hati
Andika = Ratu Kidul
"Puisi: Lepas Subuh di Bumi Raja II (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Lepas Subuh di Bumi Raja II
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pesona itu Melompat

Pesona itu melompat
dari pematang ke pematang
(seperti kupu-kupu yang ditangkap
anak di taman
menabur serbuk-serbuk sanubari)
laut melambai
ketenteraman.

-Siapakah engkau?-
tanya roh kepada badan
badan pun lalu menari
sedang roh memukul gendang
sekaligus melagukan nyanyian.

Pesona itu melompat
dan terus melompat
melumat-lumat kenyataan.

1978
"Puisi: Pesona itu Melompat (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Pesona itu Melompat
Karya: D. Zawawi Imron
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sepasang Mempelai

Bulan sembunyi
mendengar sunyi memintal hati
Di bawah bubungan bertanduk sapi
detik-detik menunggu kelanjutan
sabda leluhur yang agung:
selaput yang akan pecah.

Ranjang dipesan dari Karduluk
dicat perada emas, coklat dan hijau jeruk
Kalaras pun seakan mengerti
tidak berbisik tidak bergoyang.

Di puncak pohon polai
Kiai Poleng yang bijaksana
bersiap dengan gong untuk ditabuh.

Nyiur gading nyiur bulan
mereka tak pernah kenalan
Maka sunyi pun bertanya
Langit juga bertanya.

Kepolosan biji siwalan muda
menyepuh warna dunia
Terbukalah sebuah telaga
lahang pagi berlaru mimpi
bekal sangu ke alam sorga.

Sentuhan yang pertama
di ubun-ubun batu ampar
mengeliat anak kijang di atas rumputan.

Kiai Poleng mengidung di atas bubungan,
Cung-kuncung konce
Wadon mutamat lanang sejati
telah diminum getah jarak
telah dikunyah pinang muda
Yang genap telah ganjil
Yang ganjil telah genap.

Di serambi menanti sanak pamili
Pintu terbuka, menyembahlah menantu lanang
disambut mayang lepas seludang
pertanda semua tak punya hutang.

Kepasrahan yang diterima bulan
tubuh tergolek di atas ranjang
digaibkan beburung malam
masa depan yang panjang.

Air bunga pun disiramkan
bumi pingsan yang kini siuman
berjanji kepada pagi
kekalnya butiran mimpi.


1974
Polai: nama pohon besar yang dianggap angker
Kiai Poleng: tokoh yang dianggap penjaga pulau Madura sejak dahulu kala
"Puisi: Sepasang Mempelai (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Sepasang Mempelai
Karya: D. Zawawi Imron
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Padang Landak

Alangkah indah katil
diusung ke pemakaman
Mulut-mulut bedil
mewakili perasaan
Daun-daun lunglai
menunduk ke arah lubang.

Terimalah bumi
persembahan kami!
Peluklah
bagai bunda mendekap bayi.

Salam-salam kapas
awan yang melayang bebas
Rerumput dan kolam hijau
berpadu dalam imbau
angin yang mendesau
Karena sekawan bangau
telah hinggap di pohon bakau.

"Puisi: Padang Landak (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Padang Landak
Karya: D. Zawawi Imron
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Senandung Nelayan

Angin yang kini letih
bersujud di pelupuk ibu
laut! apakah pada debur ombakmu
terangkum sunyi ajalku?

Oi, buih-buih zaman saling memburu
kali ini doaku lumpuh
gagal mengusap tujuh penjuru
pada siapa 'kan kulepas napas cemburu?

Jika sebutir air mata adalah permata
tolong simpan di jantung telukmu!

Dari bisik ke bisik perahu beringsut maju
jika nanti bulan datang menyingkap teka-tekimu
tak sia-sia kujilat luka purba
tempat senyum menetas
jadi iman dan layar.

1976 
"Puisi: Senandung Nelayan (Karya: D. Zawawi Imron)"
Puisi: Senandung Nelayan
Karya: D. Zawawi Imron
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Buat Basuki Resobowo


Adakah jauh perjalanan ini?
Cuma selenggang! - Coba kalau bisa lebih!
Lantas bagaimana?
Pada daun gugur Tanya sendiri,
Dan sama lagu melembut jadi melodi!

Apa tinggal jadi tanda mata?
Lihat pada betina tidak lagi menengadah
Atau bayu sayu, bintang menghilang!

Lagi jalan ini berapa lama?
Boleh seabad…aduh sekerdip saja!
Perjalanan karna apa?
Tanya rumah asal yang bisu!
Keturunanku yang beku di situ!

Ada yang menggamit?
Ada yang kehilangan?
Ah! jawab sendiri - Aku terus gelandangan...
 
28 Februari 1947
"Puisi: Sajak Buat Basuki Resobowo (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Sajak Buat Basuki Resobowo
Karya: Chairil Anwar
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Memuji Dikau
Kalau aku memuji Dikau,
Dengan mulut tertutup, mata tertutup,
Sujudlah segalaku, diam terbelam,
Di dalam kalam asmara raya.
Turun kekasihmu,
Mendapatkan daku duduk bersepi, sunyi sendiri.
Dikucupnya bibirku, dipautnya bahuku,
Digantunginya leherku, hasratkan suara sayang semata.
Selagi hati bernyanyi, sepanjang sujud semua segala,
Bertindih ia pada pahaku, meminum ia akan suaraku...
Dan, ia pun melayang pulang,
Semata cahaya,
Lidah api dilingkung kaca,
Menuju restu, sempana sentosa.

"Puisi: Memuji Dikau (Karya Amir Hamzah)"
Puisi: Memuji Dikau
Karya: Amir Hamzah
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Berlagu Hatiku
Bertangkai bunga kusunting
kujunjung kupuja, kurenung
berlagu hatiku bagai seruling
kukira sekalini menyecap untung.

Dalam hatiku kuikat istana
kusemayamkan tuan di geta kencana
kuhamburkan kusuma cempaka mulia
kan hamparan turun dewi kakanda ...

Tetapi engkau orang biasa
merana sahaja tiada berguna
malu bertalu kerana aku
ganjil terpencil berpaut ke dahulu.

"Puisi: Berlagu Hatiku (Karya Amir Hamzah)"
Puisi: Berlagu Hatiku
Karya: Amir Hamzah
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Hang Tuah
Bayu berpuput alun digulung
Bayu direbut buih dibubung.

Selat Melaka ombaknya memecah
Pukul-memukul belah-membelah.

Bahtera ditepuk buritan dilanda
Penjajah dihantuk haluan ditunda.

Camar terbang riuh suara
Alkamar hilang menyelam segara.

Armada Perenggi lari bersusun
Melaka negeri hendak diruntun.

Galyas dan pusta tinggi dan kukuh
Pantas dan angkara ranggi dan angkuh.

Melaka! Laksana kehilangan bapa
Randa! Sibuk mencari cendera mata.

"Hang Tuah! Hang Tuah! Di mana dia
Panggilkan aku kesuma Parwira!"

Tuanku, Sultan Melaka, Maharaja Bintan!
Dengarkan kata bentara Kanan.

"Tun Tuah, di Majapahit nama termasyhur
Badannya sakit rasakan hancur!"

Wah, alahlah rupanya negara Melaka
Karena Laksamana ditimpa mara.

Tetapi engkau wahai Kesturi
Kujadikan suluh, mampukah diri?

Hujan rintik membasahi bumi
Guruh mendayu menyedihkan hati.

Keluarlah suluh menyusun pantai
Angkatan Pertugal hajat dihintai.

Cucuk diserang ditikami seligi
Sauh terbang dilempari sekali.

Lela dipasang gemuruh suara
Rasakan terbang ruh dan nyawa.

Suluh Melaka jumlahnya kecil
Undur segera mana yang tampil.

"Tuanku, armada Peringgi sudahlah dekat
Kita keluari denganlah cepat

Hang Tuah coba lihati
Apakah 'afiat rasanya diri?"

Laksamana, Hang Tuah mendengar berita
Armada Peringgi duduk di kuala

Mintak didirikan dengan segera
Hendak berjalan ke hadapan raja.

Negeri Melaka hidup kembali
Bukankah itu Laksamana sendiri.

Laksamana, cahaya Melaka, bunga pahlawan
Kemala setia maralah Tuan.

Tuanku, jadikan patik tolak-bala
Turunkan angkatan dengan segera.

Genderang perang disuruhnya palu
Memanggil imbang iramanya tertentu.

Keluarlah Laksamana mahkota ratu
Tinggallah Melaka di dalam ragu ...

Marya! Marya! Tempik Peringgi
Lela pun meletup berganti-ganti.

Terang cuaca berganti kelam
Bujang Melaka menjadi geram.

Galyas dilanda pusta dirampat
Sebas Melaka sukma di Selat!

Amuk-beramuk buru-memburu
Tesuk-menusuk laru-meluru.

Lala rentak berputar-putar
Cahaya senjata bersinar-sinar.

Laksamana mengamuk di atas pusta
Yu menyambar umpamanya nyata ...

Hijau segera bertukar warna
Sinau senjata pengantar nyawa.

Hang Tuah empat berkawan
Serangannya hebat tiada tertahan.

Cucuk peringgi menarik layar
Induk dicari tempat be-hindar.

Angkatan besar maju segera
Mendapatkan payar ratu Melaka.

Perang ramai berlipat ganda
Pencalang berai tempat ke segala.

Dang Gubernur memasang lela
Umpama guntur di terang cuaca.

Peluru tebang menuju bahtera
Laksamana dijulang ke dalam segara.

"Puisi: Hang Tuah (Karya Amir Hamzah)"
Puisi: Hang Tuah
Karya: Amir Hamzah
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mesjid Yoyogi


Dalam rumah-Mu kutemui saudaraku
Sesama pengelana piatu di bumi yang satu.
 
   
"Puisi: Mesjid Yoyogi (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Mesjid Yoyogi
Karya: Ajip Rosidi
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tokyo Menjelang Tengah Malam


Aku berlari-lari menempuh waktu yang hampir luput
Janji ke Osaka, tapi di sini masih tersangkut:
Menokok-nokok lantai subway dengan tumit sepatu
Memelasi pemuda-pemuda mabuk sake terdampar di Shinjuku.

Bagai terjaga dari mimpi aku tiba-tiba jadi mengerti
Kejemuanmu akan hidup rutin yang serba-duniawi:
Bayang-bayangmu melintas-lintas dalam gerimis tak kunjung habis
Lenyap dalam deras lalu-lintas kota raksasa yang kaku menghantui.
 
  
1970
"Puisi: Tokyo Menjelang Tengah Malam (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Tokyo Menjelang Tengah Malam
Karya: Ajip Rosidi
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pantun Burung Merpati


Merpati si burung merpati
Hinggap di dahan pohon beringin
Meski seribu tahun aku menanti
Memandang wajahmu tetap kepingin.

Merpati putih terbang tinggi
Mencari air pengobat dahaga
Menanti kasih turun ke hati
Dari sumbermu tak berhingga.

Jinak-jinak burung merpati
Mendekat mau tertangkap tidak;
Dekat, dekat engkau di hati
Dengan mata tertampak tidak.
 
   
"Puisi: Pantun Burung Merpati (Karya Ajip Rosidi)"
Pantun Burung Merpati
Karya: Ajip Rosidi
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pantun Kebun Bambu


Kebun bambu hijau terbentang
Sepanjang bukit di sekelilingku;
Nasibku selalu terasa malang
Karena terlempar dari sisimu.

Kebun bambu ditebang orang
Jadi lahan perumahan baru;
Hati rindu bukan sembarang
Namun engkau tak mau tahu.

Rebung tumbuh di musim semi
Pengganti batang yang sudah tua;
Kalau engkau memenuhi janji
Aku menunggu tidak mengapa.
 
   
"Puisi: Pantun Kebun Bambu (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Pantun Kebun Bambu
Karya: Ajip Rosidi
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pantun Pulau Seribu


Pulau Seribu di Teluk Jakarta
laut tenang langit kelabu;
Hati rindu tak menemukan kata
hendak bersimpuh di pangkuanmu.

Pulau Seribu kebun kelapa
nelayan diusir konglomerat;
Hendak mengadu hati nestapa
karena diri telah khianat.

Pulau Seribu milik siapa
kalau rakyat digusur pejabat;
Diri khianat karena alpa
memohon ampun dunia akhirat.
 
  
"Puisi: Pantun Pulau Seribu (Karya Ajip Rosidi)"
Pantun Pulau Seribu
Karya: Ajip Rosidi