Sepasang Mempelai

Bulan sembunyi
mendengar sunyi memintal hati
Di bawah bubungan bertanduk sapi
detik-detik menunggu kelanjutan
sabda leluhur yang agung:
selaput yang akan pecah.

Ranjang dipesan dari Karduluk
dicat perada emas, coklat dan hijau jeruk
Kalaras pun seakan mengerti
tidak berbisik tidak bergoyang.

Di puncak pohon polai
Kiai Poleng yang bijaksana
bersiap dengan gong untuk ditabuh.

Nyiur gading nyiur bulan
mereka tak pernah kenalan
Maka sunyi pun bertanya
Langit juga bertanya.

Kepolosan biji siwalan muda
menyepuh warna dunia
Terbukalah sebuah telaga
lahang pagi berlaru mimpi
bekal sangu ke alam sorga.

Sentuhan yang pertama
di ubun-ubun batu ampar
mengeliat anak kijang di atas rumputan.

Kiai Poleng mengidung di atas bubungan,
Cung-kuncung konce
Wadon mutamat lanang sejati
telah diminum getah jarak
telah dikunyah pinang muda
Yang genap telah ganjil
Yang ganjil telah genap.

Di serambi menanti sanak pamili
Pintu terbuka, menyembahlah menantu lanang
disambut mayang lepas seludang
pertanda semua tak punya hutang.

Kepasrahan yang diterima bulan
tubuh tergolek di atas ranjang
digaibkan beburung malam
masa depan yang panjang.

Air bunga pun disiramkan
bumi pingsan yang kini siuman
berjanji kepada pagi
kekalnya butiran mimpi.


1974
Polai: nama pohon besar yang dianggap angker
Kiai Poleng: tokoh yang dianggap penjaga pulau Madura sejak dahulu kala
"Puisi: Sepasang Mempelai (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Sepasang Mempelai
Karya: D. Zawawi Imron

Post a Comment

loading...
 
Top