Maret 1992
Di Restoran

Kita berdua saja, duduk. Aku memesan
Ilalang panjang dan bunga rumput –
Kau entah memesan apa. Aku memesan
Batu di tengah sungai terjal yang deras –

Kau entah memesan apa. Tapi kita berdua
Saja, duduk. Aku memesan rasa sakit
Yang tak putus dan nyaring lengkingnya,
Memesan rasa lapar yang asing itu.

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Di Restoran
Karya: Sapardi Djoko Damono
Ayat-Ayat Tokyo

1
Angin memahatkan tiga patah kata
di kelopak sakura -
ada yang diam-diam membacanya

2
ada kuntum melayang jatuh
air tergelincir dari payung itu;
“kita bergegas,” katanya

3
kita pandang daun bermunculan
kita pandang bunga berguguran
kita diam: berpandangan

4
kemarin tak berpangkal, besok tak berujung -
tak tahu mesti ke mana
angin menyambar bunga gugur itu

5
lengking sakura -
tapi angin tuli
dan langit buta

6
menjelma burung gereja
menghirup langit dalam-dalam -
angin musim semi

"Puisi: Ayat-Ayat Tokyo (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Ayat-Ayat Tokyo
Karya: Sapardi Djoko Damono
Teratai
(Kepada Ki Adjar Dewantara)

Dalam kebun di tanah airku
Tumbuh sekuntum bunga teratai:
Tersembunyi kembang indah permai,
Tidak terlihat orang yang lalu.

Akarnya tumbuh di hati dunia,
Daun berseri Laksmi mengarang:
Biarpun ia diabaikan orang,
Seroja kembang gemilang mulia.

Teruslah, o Teratai Bahagia,
Berseri di kebun Indonesia,
Biar sedikit penjaga taman.

Biarpun engkau tidak dilihat
Biarpun engkau tidak diminat,
Engkau pun turut menjaga Zaman.

"Puisi: Teratai (Karya Sanusi Pane)"
Puisi: Teratai
Karya: Sanusi Pane
Dua Orang Peronda

Hanya ada dua orang peronda datang ke gardu itu.
Mereka duduk berhadapan, mengobrol ke sana kemari,
bercerita tentang kekasih masing-masing
dengan wajah berapi-api. Peronda tua membanggakan
istrinya yang cintanya penuh misteri. Peronda muda
memuji-muji ibunya yang cintanya tak terbeli.

Sesekali mereka terdiam, beradu pandang, membiarkan
hujan mengoceh sendiri. "Kau menantangku?"
Tiba-tiba mereka bersitegang karena masing-masing
tersinggung oleh sorot mata yang penuh kebencian.

Hujan bubar menjelang dinihari dan sepi tak perlu lagi
ditemani. "Bosan, nggak ada penjahat. Kita pulang saja."
Pulang ke gardu lain yang lebih hangat.

Sampai di teras rumah, mereka berebut membuka pintu.
Peronda tua tak mau kalah: "Biar kubuka pintu ini
dengan kunciku. Kunci yang kaubawa itu palsu!"

Kucing meluncur menuju dapur. "Bu, tuan-tuan pulang!"
kucing mengiau kepada perempuan yang sedang
terkantuk-kantuk di depan kompor, menjerang air
dan air mata, mau bikin kopi buat lelaki-lelaki tercinta.

Dua lelaki berjabat tangan erat-erat, saling mengucap
selamat istirahat. "Selamat tidur di ranjang palsu ya, Pak,"
ujar lelaki muda dengan wajah sinis bercampur bangga.

Palsu? Perempuan yang sedang terkantuk-kantuk
di depan kompor itu tiba-tiba tersentak.
Dua butir air matanya jatuh berdenting.
Ia teringat bagaimana dulu ia bertempur di atas ranjang,
melahirkan anaknya persis saat suaminya sedang
termenung sendirian di gardu ronda di malam hujan.

2003
"Puisi: Dua Orang Peronda (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Dua Orang Peronda
Karya: Joko Pinurbo
Perjalanan Pulang

Kadang ingin sangat aku pulang ke rumahmu.
Setidaknya kubayangkan suatu senja aku datang
ke ambang jendelamu, melongok wajah seseorang
yang sedang melukis matahari di telapak tangan.

Halte. Aku terdampar di sebuah halte.
Menunggu bus yang sebenarnya telah lama lewat.
Mengulur-ulur waktu agar tidak cepat sampai
ke arah jantung atau erangan bisu.

Lihatlah, setiap orang memasang halte
di tempat persinggahan.
Menunggu dan menanti tak henti-henti.
Mengangankan masih ada bus yang bakal datang
membawanya pulang atau mungkin pergi jauh sekali.

Demikianlah musafir: kita takut menjadi tua
namun juga tak pernah bisa kembali menjadi bayi,
menjadi kanak-kanak
kecuali bila kita ciptakan lagi kelahiran
di saat halte mau membimbing kita ke peristirahatan.

Rindu. Aku ini memang selalu rindu untuk pulang
tapi saban kali juga tak betah.
Petualang sekaligus pencinta rumah.
Di saat lelap sering kulihat bayangan tubuhmu
berjalan terbungkuk-bungkuk dengan gaun putih,
menyibak dan menutup kembali kelambu mimpi.

Halte. Aku ingat sebuah halte di ujung kota yang entah.
Perhentian tempat penantian dikekalkan
dan sekaligus diakhiri.
Alamat kepada siapa kau kirimkan aduan bernama surat.
Rendezvous yang kepadanya kau tujukan persediaan waktu.

Tak bosan-bosan. Jendela selalu membukakan dirinya
untuk dimasuki dan ditinggalkan.
Seakan seseorang selalu siap di atas ampunan,
menerima dan melepaskan salam.
Seperti juga telapak tanganmu: selalu terbuka
untuk dilayari dan disinggahi.

Mengapa kita takut pada ketakutan?
Mengira tak ada yang bisa diabadikan?
Tengah malam kita sering terbangun
lalu berdiri di depan cermin.
Merapikan rambut yang kusut.
Membelai wajah yang membangkai.
Memugar mata yang nanar.

Andai pun langit memperpendek batas,
tak berarti jangkauan begitu saja lepas.
Siapa tahu tatapan malah meluas,
memburu sinyal-sinyal baru
yang memberitakan atau menyembunyikan pesanmu.

Tergambar jelas di potret lama:
wajah yang dingin dihangati usia.
Burung-burung pipit mengurung senja,
matahari beringsut pada lingkaran biru.
Kemudian malam terlipat di pelupukmu
dan sebuah himne menggema di lintasan alismu.

Berapa lama kata-kata berbincang tentang artian?
Uban-uban tak mau bicara tentang ketuaan.
Almanak tak menyiratkan tanggal dan bulan.
Garis-garis tangan tak menuliskan suratan.
Dinding-dinding tak membatasi ruang.
Berapa lama ucapan tak mau bungkam?

Ah padang pasir.
Panasmu ingin menghanguskan perkemahan.
Kau pikir para pengungsi mau dilumat kelaparan?
Lihatlah, sungai itu tetap saja hijau.
Kematian dienyahkan ke bukit-bukit karang,
kanak-kanak bermain terompet di lubang persembunyian.

Katakan pada ibu, si buyung mau lebih lama merantau.
Rumah itu mungkin akan selalu menanyakan kepulangan,
pintu-pintu minta kiriman kisah petualangan.
Aduh sayang, jarak itu sebenarnya tak pernah ada.
Pertemuan dan perpisahan dilahirkan oleh perasaan.

Hari itu jam bergerak lambat.
Malam mengingsut seperti siput mengusut kabut.
Di jauhan anjing-anjing bertengkar berebut kucing.
Kalender menangis melengking-lengking.
Apakah waktu sudah sangat bosan menghuni jam dinding?
Aduh sayang, detik-detik berjatuhan ke lantai dingin,
diserbu semut-semut hitam untuk pesta persembahan.

Lalu kau merapat ke kaca almari:
mengganti baju, menyempurnakan kecantikan.
Matamu menyala serupa lilin.
Keningmu berkobar dibantai sinar.
Apakah kau sedang berkemas ke kuburan?
Alamak, beri aku sedikit waktu.
Nyawaku tertinggal di rumah sakit.

Baju usang yang kusayang tergantung riang di tali jemuran.
Sudah rapuh, sudah kumal, sudah pula penuh jahitan.
Seperti kujahit leher yang retak, leher yang koyak
dirobek-robek kemiskinan.

Salam bagimu peziarah muda.
Hatimu telah mencatat peristiwa-peristiwa kecil
yang dilupakan dunia.
Ke mana nyerimu melangkah, ke sana jantungmu mencari.
Lonceng gereja mengepung rindumu di malam buta,
membangunkan si sakit dari ranjang beku
di kamar-kamar mati. Salam bagimu pasien abadi.

Suatu hari aku ingin mengajak si mayat berburu singa
di hutan purba. Melacak jejak sejarah nenek moyang
yang melahirkan nama-nama. Merunut silsilah gelap
dari mana aku datang ke mana aku pulang.

Senja hampir layu. Burung-burung berarak pulang
menuju lingkaran biru. Gaun siapa tertinggal
di bangku taman, dibawa kupu-kupu ke pucuk cemara?
Musim bunga tergesa-gesa pergi diburu musim
yang kehilangan cuaca.

Jika benar air mancur itu tak ingin tidur,
barangkali bisa kutitipkan kebosanan padanya.
Angin dan angan menyurutkan malam,
menyibakkan tirai pagi sebelum surya ungu
berayun di ambang pintu:
mengabarkan saat kematian dunia waktu.

Halte. Aku terdampar kembali di sebuah halte.
Melupakan bus yang tak akan lewat atau sudah lama lewat.
Memilih saat terbaik untuk pulang ke rumah, ke dunia entah.
Untuk datang ke ambang jendelamu, melongok wajah
seseorang yang sedang melukis matahari di telapak tangan.
Seperti pada saat keberangkatan.

1991
"Puisi: Perjalanan Pulang (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Perjalanan Pulang
Karya: Joko Pinurbo
Bayi di dalam Kulkas

Bayi di dalam kulkas lebih bisa mendengarkan
pasang-surutnya angin, bisu-kelunya malam
dan kuncup-layunya bunga-bunga di dalam taman.

Dan setiap orang yang mendengar tangisnya
mengatakan: “Akulah ibumu. Aku ingin menggigil
dan membeku bersamamu.”

“Bayi, nyenyakkah tidurmu?”
“Nyenyak sekali, Ibu. Aku terbang ke langit
ke bintang-bintang ke cakrawala ke detik penciptaan
bersama angin dan awan dan hujan dan kenangan.”
“Aku ikut. Jemputlah aku, Bayi.
Aku ingin terbang dan melayang bersamamu.”

Bayi tersenyum, membuka dunia kecil yang merekah
di matanya, ketika Ibu menjamah tubuhnya
yang ranum, seperti menjamah gumpalan jantung dan hati
yang dijernihkan untuk dipersembahkan di meja perjamuan.

“Biarkan aku tumbuh dan besar di sini, Ibu.
Jangan keluarkan aku ke dunia yang ramai itu.”

Bayi di dalam kulkas adalah doa yang merahasiakan diri
di hadapan mulut yang mengucapkannya.

1995
"Puisi: Bayi di dalam Kulkas (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Bayi di dalam Kulkas
Karya: Joko Pinurbo
Lukisan Berwarna
untuk Andreas dan Dorothea

Hujan beratus warna
tumpah di hamparan kanvas senja.

Pohon-pohon bersorak gembira
sebab dari ranting-rantingnya yang sakit
kuncup jua daun-daun beratus warna.

Burung-burung bernyanyi riang,
terbang riuh dari dahan ke dahan
dengan sayap beratus warna.

Dua malaikat kecil menganyam cahaya,
membentangkan bianglala
di bawah langit beratus warna.

Air mata beratus warna kautumpahkan
ke celah-celah sunyi
yang belum sempat tersentuh warna.

2002
"Puisi: Lukisan Berwarna (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Lukisan Berwarna
Karya: Joko Pinurbo
Pemulung Kecil

Tengah malam pemulung kecil itu datang
memungut barang-barang yang berserakan
di lantai rumah: onggokan sepi, pecahan bulan,
bangkai celana, bekas nasib, kepingan mimpi.

Sesekali ia bercanda juga:
"Jaman susah begini, siapa suruh jadi penyair?
Sudah hampir pagi masih juga sibuk melamun.
Lebih enak jadi teman penyair."

Dikumpulkannya pula rongsokan kata
yang telah tercampur dengan limbah waktu.
Aku terhenyak: "Hai, jangan kauambil itu.
Itu jatahku. Aku kan pemulung juga."

Kemudian dia pergi dan masuk ke relung tidurku.

2006
"Puisi: Pemulung Kecil (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Pemulung Kecil
Karya: Joko Pinurbo
Dajjal

Hoahaha hahahoa
Bermata satu berlisan ganda
Bertelinga satu bertangan sejuta
Hoahaha sungguh perkasa
Hahahoa alangkah kuasa
Hoahaha hahahoa
Hahahoa menggenggam surga
Hoahaha menimang neraka

Hoahaha hahahoa
Hahahoa mengajarkan hak asasi
Hoahaha menebarkan intimidasi
Hahahoa menatarkan demokrasi
Hoahaha mengamalkan tirani

Hoahaha hahahoa
Mengibarkan panji kemanusiaan
Dan merobek-robeknya
Hoahaha hahahoa
Menyuarakan kebenaran
Dan memenjarakannya

Hoahaha hahahoa
Mencanangkan peradaban
Dan mencincangnya
Hoahaha hahahoa
Menyerukan pembaruan
Dan menyurutkannya
Hahahoa hoahaha

Beritamu hahahoa deritaku
Guritamu hoahaha gulitaku
Serakahmu hahahoa sekaratku
Seteruku hoahaha sekutuku
Pengaruhmu hahahoa pembunuhku
Pelurumu hoahaha peluruhku
Nirwanamu hahahoa nerakaku.

20 April 2006
"Puisi: Dajjal (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Dajjal
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)