April 1992
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Warisan Kita

Bicara lagi kambingku, pisauku, ladangku, komporku, rumahku, payungku, gergajiku, empang ikanku, genting kacaku, emberku, geretan gasku. Bicara lagi cerminku, kampakku, meja makanku, alat-alat tulisku, gelas minumku, album foto keluargaku, ayam-ayamku, lumbung berasku, ani-aniku.

Bicara lagi suara nenek-moyangku, linggisku, kambingku, kitab-kitabku, piring makanku, pompa airku, paluku, paculku, gudangku, sangkar burungku, sepedaku, bunga-bungaku, talang airku, ranjang tidurku. Bicara lagi kerbauku, lampu senterku, para kerabat-tetanggaku, guntingku, pahatku, lemariku, gerobakku, sandal jepitku, penyerut kayuku, ani-aniku.

Bicara lagi kursi tamuku, penggorenganku, tembakauku, penumbuk padiku, selimutku, baju dinginku, panci masakku, topiku. Bicara lagi kucing-kucingku... pisau.


1989
"Afrizal Malna"
Puisi: Warisan Kita
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
H
(Dari yang tak terungkapkan
Kuawali kisah ini
Lalu pada guguran daun, pada tanah basah
Akan kulukiskan semuanya)

Kau masih melambaikan tangan
Ketika sebagian dari kesunyianku dikuburkan
Dan orang-orang pergi, orang-orang tak peduli
Dengan membawa kesepian masing-masing

Kau tahu, ketika langkahku menerobos hutan
Ketika jasadku lebur menjadi mineral
Dengan menunggangi puisi sesungguhnya jiwaku sampai
Dan bercinta di kamar tidurmu yang rahasia

Kau tahu, ketika jiwaku mengelilingi Ka’bah
Ketika hatiku luruh bersama debu Arafah
Dengan puisi sesungguhnya aku mengembara
Berontak terhadap keindahan dan keangkuhanmu

Tapi kau malah menanggalkan semua pakaian
Ketika seluruh kesunyianku dikuburkan
Lalu orang-orang berlari, orang-orang berteriak
Sambil membakar dirinya sepanjang jalan

Kau tahu, ketika tak ada lagi yang bisa kuucapkan
Ketika kunikmati dan kusyukuri kematian ini
Dengan puisi sesungguhnya aku tetap hidup
Bercinta dan berontak terus-menerus.



"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: H
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Serenada

Sebuah senja yang kesumba, dan bumi
Berpayung mega-mega. Tak ada burung-burung di udara
Hanya kepaknya yang memanggil-manggil
Seakan lebih bisu dari bangku taman ini

Dan kita tertawa, tapi tertahan oleh cuaca
Yang memberat dan menekan. Kita pun tenggelam
Seperti sepasang bayang-bayang
Mengitari kelam dan dunia. Pada sebuah senja

Yang tak kita mengerti. Tapi kita hayati.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Serenada
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Luar Kata

Musim panas membakar kata-kataku
Menjadi abu dan lelatu
Lalu menyeretku ke wilayah tak dikenal
Dunia tak terjangkau lidahku
Teriakanku lenyap dalam regukan besar waktu
Seperti embun yang terserap cahaya pagi

Aku ingin memahami isyarat ini:
Kegelapan telah mengiringi langkahku
Sedang mataku perih setiap mengenangkanmu
Adakah yang salah dari penglihatanku yang nanar
Sejak aku sembunyi di balik kabut musim dingin
Dan tumbuh menjadi si pembenci cahaya

Dunia di luar kata-kataku, Zlata
Dan nyanyianku tak menyuarakan apapun
Tapi air mataku terus mengalir padamu
Menjenguk puing-puing serta kuburan baru
Di bukit kotamu. Air mataku terus mengalir
Dari sanalah puisi akan memancarkan maknanya.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Di Luar Kata
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Badak

Badak itu hewan terkenal karena tiga perihal
Pertama karena kulit badannya yang amatlah tebal
Kedua karena hidungnya bertanduk satu, cula namanya
Ketiga karena gemuk terlalu, sampai empat ton beratnya

Akan hal wajahnya, cantik tidak gagah pun bukan
Juga tidak lucu, nampaknya agak pemarah malahan
Tetapi dia tidak menyerang orang bila disakiti atau dikejuti
Kulitnya keras seperti kayu, tebalnya lima senti

Tanduk hidungnya itu bernama cula, bisa berbahaya
Bila orang diseruduk, karena larinya kencang pula
Secepat mobil yang ngebut 50 kilometer satu jam
Tapi serudukannya sering meleset, karena matanya tidak tajam

Si gendut badak ini gemar betul berkubang di lumpur
Karena dia senang bersejuk-sejuk walaupun kotor berlumpur
Penciuman hidungnya tajam tapi pandangan matanya kabur
Sahabatnya burung-burung sering bertengger di atas punggung

Di dunia tidak banyak lagi hewan bernama badak itu
Ada di Afrika, di Asia dan juga di negara kita
Karena itu tidak boleh habis karena ditembak pemburu
Biarlah makhluk ini jadi kekayaan rimba Indonesia.


"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Badak
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
London, Abad Sembilan Belas

(1)
Pada ronde ke-99 yang berdarah-darah
Petinju Simon Byrne selesai sudah
Dia mati memuaskan penontonnya

Tinju maut Si Tuli James Burke
Diacung-acungkan wasit
Para penonton berteriak gembira
Polisi Inggris datang bertugas
Peraturan langsung menjerat kedua tangannya
Tapi anehnya dia dibebaskan, tak lama
Inilah ejekan pada undang-undang
Walau pun ada manusia masih terlarang
Putusan pengadilan bisa diperjual-belikan

(2)
Lalu tengoklah berbondong-bondong penonton
Naik kereta api dari Stasiun Jambatan London
Menuju tempat rahasia, 25 mil jauhnya
Inilah pertandingan pertama antarbangsa
Tom Sayers juara Britania
Diadu John Heenan jagoan Amerika
Sastrawan Dickens dan Thackeray menonton juga
Sesudah 42 putaran adu manusia
Keduanya berdarah-darah, lebam, habis daya
Tak berketentuan wasit apa keputusannya
Para penonton berteriak dalam histeria
Mengacung-acungkan tinju ke udara
Polisi melakukan interupsi
Para juri dipisuhi, wasit dimaki-maki
Penonton-penonton tak puas jadi buas
Mereka lalu bertinju sesama mereka
Mereka bergigitan seperti serigala
Melolong bagai gorila
Pertunjukan jadi lengkap
Dan lumayan biadab

(3)
Itulah adegan abad sembilan belas
Asal-usul adu manusia yang kita tidak tahu
Tapi ujungnya kita tiru-tiru
Sebagai bangsa minder apa saja dari Eropa dan Amerika
Seperti kawanan bebek diturut dan ditirukan saja
Sudah jelas ini adu manusia mereka bilang olahraga
Seperti kambing mengembik kita setuju pula
Inilah budaya tanpa pikir kita jiplak begitu saja

Dari abad 19 orang masuk ke abad 20
Di awal abad, adu manusia di sana dilarang undang-undang
Tapi pemilik modal si orang kaya membeli undang-undang
Disobek dicincang itu dokumen undang-undang
Sebagai sampah hukum masuk keranjang
Adu manusia jadi tidak lagi terlarang
Lengkaplah bagian biadab budaya barat
Yang garang, bringasan dan tamak pada uang
Menjalar ke negeri sini, ditiru dan diulang-ulang
Sudahlah minder, ditambah gebleg, kita tak kepalang

(4)
Pada hari ini akhir abad dua puluh
Kakiku satu sudah masuk abad dua puluh satu
Kita ketemu
Kau ajak aku balik ke abad sembilan belas
Lho tapi, kita ‘kan mau menembus abad 21
Kenapa kau bujuk aku balik ke abad 19 lagi
Mana aku mau

Tapi kau berkeras balik kanan juga
Kau tetap mau ditipu, adu manusia itu olahraga
Kau menanam bibit kekerasan dan kebringasan
Sudah berapa puluh tahun jangka waktunya
Kau sudah panen lama kau mana tahu itu
Bibitmu tumbuh, menyebar dan membesar
Karena kau rabun mana bisa itu kau baca
Ke masyarakatmu tak pernah kau berkaca
Dan kau berkeras balik kanan juga

Kau tak tahu sudah kusiapkan tali rafia biru
Diam-diam kuikat kedua pergelangan tanganmu
Kuseret kau masuk abad 21
Masih saja kau berteriak tak tahu malu
“Tidak mau! Tidak mau!”
Tengoklah anak-anak yang berpikir itu
Mereka terheran-heran melihat kamu.

1989
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: London, Abad Sembilan Belas
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
2 September 1965, Senja

Kemerdekaan masih bertahan
Kemerdekaan untuk diam
Senja ini.

1965
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: 2 September 1965, Senja
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Seorang Tukang Rambutan pada Istrinya

“Tadi siang ada yang mati,
Dan yang mengantar banyak sekali
Ya. Mahasiswa-mahasiswa itu. Anak-anak sekolah
Yang dulu berteriak: dua ratus, dua ratus!
Sampai bensin juga turun harganya
Sampai kita bisa naik bis pasar yang murah pula
Mereka kehausan dalam panas bukan main
Terbakar muka di atas truk terbuka.

Saya lemparkan sepuluh ikat rambutan kita, bu
Biarlah sepuluh ikat juga
Memang sudah rezeki mereka
Mereka berteriak-teriak kegirangan dan berebutan
Seperti anak-anak kecil
“Hidup tukang rambutan! Hidup tukang rambutan”
Dan menyoraki saya. Betul bu, menyoraki saya
Dan ada yang turun dari truk, bu
Mengejar dan menyalami saya
“Hidup pak rambutan!” sorak mereka
Saya dipanggul dan diarak-arak sebentar
“Hidup pak rambutan!” sorak mereka
“Terima kasih, pak, terima kasih!
Bapak setuju kami, bukan?”
Saya mengangguk-angguk. Tak bisa bicara
“Doakan perjuangan kami, pak,”
Mereka naik truk kembali
Masih meneriakkan terima kasih mereka
“Hidup pak rambutan! Hidup rakyat!”
Saya tersedu, bu. Saya tersedu
Belum pernah seumur hidup
Orang berterima-kasih begitu jujurnya
Pada orang kecil seperti kita.

1966
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Seorang Tukang Rambutan pada Istrinya
Karya: Taufiq Ismail