Juli 1992
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Suatu Malam di Hamburg
(Buat DJ & K.)

Di sebuah gang di Hamburg dalam gerimis
Kiri kanan aquarium
Dehumanisasi senyum
Silet jaman mengiris iris daging jantungku.

Pilihanmukah ini dalam perangkap
Atau erang sekarat ketidakberdayaan?

Di ujung gang doris dan karen menabrakkan tanya
Kerongkongan tersekat aku terdiam
“Aku sakit
Aku menjadi sakit”

Tercecer irisan-irisan daging jantungku
Di tepi tebing Hamburg
Malam dingin winter tiba-tiba gelisah resah.

Hamburg
18 Januari 1990
"Puisi Putu Oka Sukanta"
PuisiDi Suatu Malam di Hamburg
Karya: Putu Oka Sukanta

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Madah Merah

Terlalu dekat kau ke lumbung padi
sehingga rambutmu tak kilau lagi.
Terlalu pagi mungkin kauminta aku
mengunggah sembilu ke tepian dagu.

Terlalu gabah kutampi bebayangmu,
terlalu payah kautenggang lingkar nyiru.
Tapi tengah hari alismu tetap teka-teki
meski terengah lidahku ke ujung nyanyi.

Layu tanganku seperti kembang sepatu
tak lagi terperam di sebarang rambutmu.
Pada payudaramu bibirku akan lupa,
pada ani-ani buku jarimu berutang luka.

Lempang pematang oleh mata dara,
terbang kiambang oleh mara buah ara,
tapi tak lagi menjulai malai jantungku
sebab sembunyi darahmu ke pucuk meru.

2006
"Puisi Nirwan Dewanto"
PuisiMadah Merah
Karya: Nirwan Dewanto

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Cumi-cumi
(untuk Hiroshi Sekine)

Seperti saputangan ia
yang terloyak di satu sudutnya
ketika terantuk gugus terumbu
saputangan tembus-cahaya
karena kenyang oleh airmata
kini mencari mata sejati
mata yang tak bertanya-tanya
ke mana rangka tubuhnya
ke mana merah dagingnya.
Sungguh, mata seperti itu
adalah mata penyelam ulung
yang juga tahu bahwa rerumbai
dari sudut yang terluka itu
berjumlah hanya sepuluh
seperti jemarinya sendiri
jemari yang pernah terasah
oleh duri bintang dan bulu bulan.
Kukira keduanya bertemu
di hamparan ganggang ketika
jemari penyelam itu berdarah
dan para seteru bergigi belati
memburu mereka ke dasar jurang.
Kukira keduanya berlomba
menuju garis penghabisan
tidak, mereka bersintuhan
bahkan berkelindan tanpa malu
sehingga dua puluh jemari itu
dua puluh rerumbai cabikan itu
menjadi selebat gelombang
sehingga tubuh si penyelam
menjadi sebening udara pagi
dan si saputangan bukan lagi
berenang, tetapi terbang
terbang tinggi mencari mata
mata yang masih juga berkaca-kaca
sebab tak kuasa membedakan malam
dari mangsi hitam seluas laut
yang menarik si penyelam dari maut.
Kukira seekor cumi-cumi
menjelma sehelai saputangan
karena ia selalu dahaga
akan matamu, airmatamu.

2005
"Puisi Nirwan Dewanto"
PuisiCumi-cumi
Karya: Nirwan Dewanto

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Jalan ke Vignole

Berjam-jam (tidak, barangkali juga berabad-abad)
Aku dan kaum jemaat itu sabar menunggu di Giudecca
Si tukang perahu yang akan mendamparkan kami
Ke sebuah pulau yang dilahirkan matahari

Pastilah ia akan benar-benar serupa
Dengan si pemberontak yang dihukum mati
Di Golgotha, ketika umurnya baru 33. (Tetapi
Ia bangkit pada hari ketiga.) 
Tak ada
Pendayung ulung serupa itu di sini,”
Kata seorang lelaki berkuda, angkuh
Dan beku dalam baju zirahnya
Berabad-abad, seakan pasukan Turki
Akan selalu menyerbu ke mari. Dan jawabku:
“Colleoni, kamilah para penyerbu terkini
Tapi kami tak membunuh pulau-pulaumu.”

Ya, aku telah membinasakan barisan mobil
Pakaian seragam, jalanan aspal, kitiran besi.
Kepalaku penuh abu, embun dan maut
Ketika aku terbangun di bawah pohon palma
Di dunia yang baru saja ditorehkan Carpaccio:
aku pun bangkit bersama iringan jemaat berjubah
(Yang baru saja menguburkan Santo Jarome)
Merayap di lelurung berbau kemih anjing
Muntah di teras lapang aneka basilika
Dengan tubuh hijau lebam kami rubuh lagi
Di antara meja-kursi di Paizza San Marco
Dan seekor singa bersayap menggeram:
Pergilah kalian para pemabuk jahanam,
Bertobatlah hanya sebelum tiba malam.”

Maka terdamparlah kami di muara amis itu:
“Persetan dengan si tukang perahu!”
Tapi sebuah perahu besar tiba-tiba
Merenggutkan kami dari kabut muram lena.
Melewati pekuburan yang dilindungi ombak
Kami terhadang hantu Pound dan Stravinsky
Padahal sudah lama kami membenci musik dan puisi
Yang pasti bukan bagian dari penyelamatan kami
Yang cuma hiburan jika kami sampai di neraka nanti.

Musim semi menggosok tangan kami
Yang perlahan terlihat seperti sayap
Tidak, sungguh kami tak ingin terbang,
Kami tak pernah bersekutu dengan Gabriel,
Kami suka mengukur laut dengan jengkalan.
Pesiarkah, atau pembuangankah ini?”
Tanya dua belas orang di antara kami
Yang tiba-tiba mirip serdadu Roma, seraya
Mengeluarkan palu dan paku dari saku

Kami akan segera sampai di pulau matahari itu
Untuk menghajar berpiring ikan mentah
Dengan baluran minyak zaitun dan cuka
Dengan roti gandum coklat dan anggur merah tua.
Kemudian di antara rerumpun asparaga
Kami akan memilih perawan paling murni
Untuk berlama-lama mendoakan kami
Agar kami segera menemukan pemberontak itu
Yang kukira menyamar sebagai si tukang perahu.
Padahal ia bekerja sebagai koki di restoran tujuan kami:

Pastilah ia tengah melubangi kedua telapak tangannya
Dan mengucurkan darahnya ke hidangan siang kami.

1994
"Puisi Nirwan Dewanto"
PuisiJalan ke Vignole
Karya: Nirwan Dewanto

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mimbar Sesumbar

Itu mimbar tempat sesumbar, naiklah
ucapkan janji-janji pada kami
kami akan mendengar dengan setia
tapi setelah selesai jangan berani turun
karena kami akan mengarakmu
ke jalan-jalan untuk melihat kenyataan!

"Puisi Muhammad Rois Rinaldi"
PuisiMimbar Sesumbar
Karya: Muhammad Rois Rinaldi

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pengemis Perempuan dan Anaknya

Ketika dadanya kering dari air susu
disuapinya lapar anaknya
dengan jiwa
yang lari ke awan-awan
meremasnya jadi air-air susu.

"Puisi Medy Loekito"
PuisiPengemis Perempuan dan Anaknya
Karya: Medy Loekito

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mau

Bayu
menderas waktu

Waktu
mendetak batu

Batu
mengeras mau.

"Puisi Medy Loekito"
PuisiMau
Karya: Medy Loekito

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kekasihku Tertidur

Pada Nes aku bilang: aku cinta padamu
Pada Tuti aku juga bilang hal yang sama
Pada Susy aku juga bilang begitu
Dan kata saling berloncatan, saling menerkam
Saling bergosokan, saling bergulingan
Membuat frasa, membuat kalimat dan sederet igau
Dan peluh menyirami  di atasnya

Tidurlah tidur
Biar semua orang mendengkur
Mengunyah mimpinya sendiri
Di antara galaksi.

2009
"Kurniawan Junaedhie"
PuisiKekasihku Tertidur
Karya: Kurniawan Junaedhie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||