Cumi-cumi
(untuk Hiroshi Sekine)

Seperti saputangan ia
yang terloyak di satu sudutnya
ketika terantuk gugus terumbu
saputangan tembus-cahaya
karena kenyang oleh airmata
kini mencari mata sejati
mata yang tak bertanya-tanya
ke mana rangka tubuhnya
ke mana merah dagingnya.
Sungguh, mata seperti itu
adalah mata penyelam ulung
yang juga tahu bahwa rerumbai
dari sudut yang terluka itu
berjumlah hanya sepuluh
seperti jemarinya sendiri
jemari yang pernah terasah
oleh duri bintang dan bulu bulan.
Kukira keduanya bertemu
di hamparan ganggang ketika
jemari penyelam itu berdarah
dan para seteru bergigi belati
memburu mereka ke dasar jurang.
Kukira keduanya berlomba
menuju garis penghabisan
tidak, mereka bersintuhan
bahkan berkelindan tanpa malu
sehingga dua puluh jemari itu
dua puluh rerumbai cabikan itu
menjadi selebat gelombang
sehingga tubuh si penyelam
menjadi sebening udara pagi
dan si saputangan bukan lagi
berenang, tetapi terbang
terbang tinggi mencari mata
mata yang masih juga berkaca-kaca
sebab tak kuasa membedakan malam
dari mangsi hitam seluas laut
yang menarik si penyelam dari maut.
Kukira seekor cumi-cumi
menjelma sehelai saputangan
karena ia selalu dahaga
akan matamu, airmatamu.

2005
"Puisi Nirwan Dewanto"
PuisiCumi-cumi
Karya: Nirwan Dewanto

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Post A Comment:

0 comments: