loading...

Orang Biasa
Apa artinya sebidang tanah?
Apa artinya rumah?
Apa artinya jauh dari sejarah?

Semuanya itu terkait
di dalam kisah hidupku.

Setelah pensiun
sebagai guru SD di Rangkasbitung,
aku menetap di sini.
Sebuah desa kecil, di pinggir kota itu.

Untung aku dulu sempat membeli tanah ini.
Memang murah, tetapi cocok dengan gaji guru.
Dua puluh kali tujuh puluh meter.
Memanjang ke belakang.
Dengan pagar batu kali. Separoh badan.
Ketika istriku tercinta wafat,
aku makamkan ia di kebun belakang
di bawah pohon gandaria.

Di malam musim kemarau,
angin sangat berharga.
Langit berdandan dengan beribu-ribu intan.
Ada suara serangga-serangga malam.
Ada suara anak-anak belajar mengaji.
Kami termenung dan terpesona.
Aku dan gandaria.

Dekat setelah aku pensiun,
tanahku jadi korban pembangunan.
Tinggal dua puluh kali tiga puluh meter.
Akibat proyek jalan raya.

Hilanglah pohon-pohon nangka.
Bahkan rumah juga dibongkar.
Tinggal tanah enam ratus meter persegi,
pagar batu kali separoh badan,
rumpun bunga kana,
kuburan istriku,
dan gandaria.
Uang ganti rugi aku berikan kepada putra bungsuku.
Untuk belajar ke Yogya.
Sekarang ia pembantu rektor di Gadjah Mada.

Putraku yang pertama seorang ksatria
pangkatnya jendral, jabatannya panglima.
Anakku yang kedua wanita.
Kawin dengan bangkir Jepang, tinggal di Osaka.

Putraku yang bungsu tidak banyak bicara.
Ia terlalu mengerti sifat ayahnya.
Tetapi kedua anakku yang lain banyak bicara.
Karena tak paham dan juga tak tega.
"Kenapa sisa tanah tidak dijual saja?
Dan ayah tinggal bersama kami."

Tidak.
Aku akan menetap di sini sampai mati.
Di bawah naungan gandaria.

Apakah aku bertahan
karena kuburan almarhum istriku?
Tidak.
Batu nisan yang aku dirikan
hanya berguna untuk kami yang hidup.
Sebagai aktualisasi rasa hormat dan cinta.
Kuburan bisa dipindah kapan saja dan
di mana saja.
Di akhirat, di mana istriku berada,
suatu kuburan tak ada maknanya.

Lalu apakah karena ikatan
kepada tanah tumpah darah?
Jelas tidak.
Aku lahir di desa Sengon, Yogyakarta.
Setelah tamat Sekolah Guru Bawah
aku hanya punya satu lowongan
tanpa lain pilihan:
sebuah Sekolah Dasar
di Rangkasbitung.

Barangkali ada ikatan sejarah?
Juga tidak.
Di zaman revolusi kemerdekaan,
meskipun aku masih sangat muda,
aku di Mranggen ikut bergerilya,
melawan imperialis Inggris dan Belanda.
Tidak. Tidak.
Di Rangkasbitung
aku tidak pernah terlibat dalam sejarah besar.
Aku hanya mengajar di Sekolah Dasar sampai pensiun,
dan tanahku terpotong
gara-gara pembangunan jalan raya.
Jelas ini bukan sejarah nasional
apalagi internasional.

Putriku bertanya:
"Apakah ayah benar mencintai Rangkasbitung?"
Ya! Dengan tegas: ya!
"Tetapi tempat macam apa ini?
Cuma Rangkasbitung!
Tidak sebanding dengan Osaka!"
Cuma Rangkasbitung!
Dan saya: cuma manusia.
Cuma guru SD. Sudah pensiun pula.
Jangan berkata "cuma"
kalau bicara tentang cinta.
Cinta itu peristiwa dalam roh.
Roh. Bagaimana bisa dijelaskan dengan akal.
Kita hanya bisa melukiskan bayangannya
yang ragamnya berlaksa-laksa.
Peristiwa di dalam roh tak bisa dijelaskan.
Ia hanya bisa dialami.
Apakah kami bisa mengalami
pengalaman rohku?

Ya. Memang.
Rohku mencinta
Rangkasbitung.
Dan: gandaria!

Hm. Gandaria!
Bahkan bukan aku menanamnya.
Ia sudah ada waktu tanah ini kubeli.
Aku sendiri kehabisan kata-kata.
Aku sendiri tak bisa mengerti.
Aku. Rangkasbitung. Gandaria.
Jadi.

Dari bangkai pohon nangka,
beberapa batang bambu,
genteng, dan paku,
aku dirikan rumahku ini.
Rumah bilik. Empat kali lima meter.
Kuat. Hangat. Rapi. Sempurna.
Sisa halamannya aku tanami pepaya-pepaya,
dan rumpun pisang tanduk.
Aku tidak ingin apa-apa lagi.

Putraku yang pertama berkata:
"Ayah kurang ambisi.
Kalau ayah mau
bisa menjadi lebih dari sekadar guru."

Salah lagi.
Jangan disangka aku tidak pernah mencoba
pengalaman lainnya.
Menjadi tentara. Agen koran.
Penagih rekening. Mengurus restoran.
Tetapi aku hanya mengalami kelengkapan diriku
apabila menjadi guru.
Semangatku bergelora,
gairah hidupku menyala,
dalam suka maupun duka,
apabila aku menjadi guru.
Memang tidak istimewa untuk ukuran dunia.
Sangat, sangat biasa.
Tetapi aku, Rangkasbitung dan gandaria,
sebenar-benarnya,
adalah sangat, sangat biasa.

Kenapa anak-anakku menjadi gelisah,
hanya karena aku mantap menjadi orang biasa?
Aku bukan panglima. Aku bukan bankir.
Bahwa aku mendapat ijazah itu sudah anugerah.
Ilmu hitung dan bahasa Inggris mendapat nilai lima.
Tetapi! Te-ta-pi ...
aku bukan orang yang putus asa
atau pun menderita.
Aku gembira.
Dan aku juga tidak rendah diri.
Aku bangga.
Sangat bangga.
Hidupku indah.
Bukannya aku tidak pernah terganggu
oleh suara lalu lintas jahanam
yang tepat berada di depan hidungku.
Tetapi aku juga melihat
kilasan-kilasan wajah sopir truk,
orang-orang desa yang berjejal naik bis,
orang-orang bule diangkut travel-bureau,
dan debu, dan matahari,
dan percayalah:
pada saat seperti itu
alam semesta terbuka.
Aku masuk ke dalam pangkuannya.
Aku mendengar suara-suara
Sumatra, India, Eropa,
Peru, Australia.
Juga suara-suara kabut di langit,
cacing di tanah, hiu di lautan.
Aku mencium bau minyak rambut ibuku,
bau lemak di kulit Jengis Khan,
bau kulit susu istriku.
Matahari dan rembulan hadir bersama.
Luar biasa. Alangkah indahnya.
Allahu Akbar. Allahu Akbar.

Anak-anakku.
Alangkah indahnya.
Alangkah, alangkahnya ...
Bismillahir Rahmaanir Rahiim.
Alhamdu lillahi Rabbil 'aalamin.
Ar Rahmaanir Rahiim.
Maaliki yaumiddiin.
Iyyaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin.
Ihdinash shiraathal mustaqiim.
Shiraathal ladziina an'amta 'alaihim ghairil
maghdubi
'alaihim wa
ladh dhaaliin.
Amin.
Bojong Gede, 7 Nopember 1990
"Puisi: Orang Biasa (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Orang Biasa
Karya: W.S. Rendra

Post a Comment

loading...
 
Top