Februari 1993
Metamorfose Kekosongan

Seperti inilah, aku letakkan ranjang dalam dadamu.
kujadikan rongga-rongga sempit itu kamar cintaku.
suatu hari nanti, akan berjejal lagu-lagu dan tangisan.
rintihan kecil dan jeritan tiba-tiba. dan kaukirim aku
ke tanah asing: dengan dentum dan suara angin dari
nafasmu.

Seperti inilah, aku letakkan tempat sampah dalam
otakmu. kujadikan gumpalan zat itu sudut tak berguna.
suatu hari nanti, akan berjejal entah apa. telah sesak 
ruang sempit itu oleh rencana-rencana dan bencana.

Tadi, kita telah berkhianat dengan cinta. kau ledakkan 
aku dengan zakarmu. kuletakkan ulat-ulat di sana.
sampai
saatnya nanti, siap memangkas daun hatimu.

Seperti inilah kita: merenda kemungkinan-kemungkinan.
suatu hari nanti -dalam otakmu, dalam dadamu,
dalam perutmu- kutanami bangkai-bangkai ulat. suatu
hari nanti, akan kaupanen kupu-kupu.

1993
"Puisi: Metamorfose Kekosongan (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Metamorfose Kekosongan
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Lagu Asing di Sawah-sawah

Dari tanah yang sama kugali sumur
yang meluberkan madu. kuhisap dan kukunyah
segala sisa akar segala pohon. kusemburkan
ke langit, menjadi kawanan lebah.

Sengat dan bisa berlepasan mencari tubuhku 
yang bergumpalan asin airmata. tangisan
menggugurkan musim. mengusung angin dan
bau tanah rindu musim tanam.

Kugali sumur. tempat terakhir bagi petani
membongkar musim yang menetes darah dari
keringat sendiri.

1992
"Puisi: Lagu Asing di Sawah-sawah (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Lagu Asing di Sawah-sawah
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Nikah Pelacur Tak Punya Tubuh

Kau bawa aku ke bukit asing: pengembaraan matahari
yang menyebarkan harum keringat golgota. kematian dan
kebangkitan: ekstase dari perjalanan abjad dan kitab.

"Yesus, kaupetakan nikmat pencarian dan ziarah.
perjalanan berabad di antara doa dan mazmur tak
diucapkan. kucari peta dan kubaca arah yang mengabur
di telapak tangan dan sabda nabi-nabi."

Aku cuma pelacur yang tak punya surga. kubawa tubuh
kemana-mana. kutawarkan geliat kekosongan dan
dongeng-dongeng cinta. dalam sebait nafas dan keringat.
serigala yang melolong. dendam malam di antara gigil
ketakutan hewan-hewan liar.

Aku membawa hati di antara kekosongan cinta yang
amat kusut. kutawarkan kepada semua lelaki
yang melukis angin di matanya.

"Yesus, beri aku kenikmatan cinta yang asing
beri aku ledakan-ledakan dan derak ranjang yang asing.
beri aku segala yang tak dipunyai lelaki.
tapi bukan surga!"

Aku merangkak di bukit-bukit entah apa. segala habis
di antara kekosongan angin dan kata-kata. di antara 
suara gumam para pembaca ayat-ayat malaikat dan
lonceng-lonceng berkeleneng. aku cuma pelacur yang 
enggan mencari pintu dan derak bangku-bangku 
di antara doa.

Aku cuma pelacur yang menawar-nawarkan dosa, tapi
kusimpan di antara ayat-ayat yang tak pernah dibaca, 
yang mencari ladang dan membajak bukit-bukit. 
menanam keringat dan gemetar luka yang tumbuh 
jadi kebun mawar.

Lelaki, mencibirlah di antara dekapanku!

1996
"Puisi: Nikah Pelacur Tak Punya Tubuh (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Nikah Pelacur Tak Punya Tubuh
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Yogyakarta, Rinduku Masih Untukmu

Ketika sepotong puisi terlepas dari buku
yang menjepit setumpuk janji pagi hari
kau tersenyum bersama hangatnya mentari
Yogyakarta, ternyata kau masih ramah sekali
mendekapku dengan hati-hati
selagi aku sembunyi di sudut malamku
sambil menyusut peluh kelihatan campur debu
di punggung anak kesayanganku
yang selama ini setia menunggu
di sela-sela kesibukan kuliah kerja.

Ketika kutinggalkan 
ketika kukenangkan 
ketika kurindukan
ketika ku kembali pulang
Yogyakarta, kau masih yang dulu juga
belantara puisimu masih menanti, memanggil
aku menyelusup di semakmu
tapi aku seharusnya tak pergi sendiri
ada dia yang setia di simpang jalan utara.

Yogya, 1977
"Puisi: Yogyakarta, Rinduku Masih Untukmu (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Yogyakarta, Rinduku Masih Untukmu
Karya: Diah Hadaning
Pada Satu Sisi Jalan Antara Menara Istiqlal  dan Puncak Kathedral

yang lepas dari tatap mata
yang lepas dari sentuh suara jemaat
yang terlalu dekat
yang asing 
dia lepas dari tatap batin
dia lepas dari kehangatan
dia terlupakan
dia diam
malaikat tak mencatatnya
saudaranya terlalu sibuk urus yang lain
sengaja tak sengaja membiarkannya
kehitaman mengalir dari sungai nasib
mendamparkannya seolah titah
penyadap dosa semua saudaranya
yang semakin jungkir balik berpacu
di gurun waktu
lantas sepi dan
keasingan menghantar tanya
buat siapa doa para pembaharu dan teknisi
buat siapa doa para jemaat setia
buat penghuni sisi jalan sunyi adakah
dia tak peduli
dia tanpa yang lain
berdoa sudah sendiri.

Jakarta
Januari, 1980
"Puisi: Pada Satu Sisi Jalan Antara Menara Istiqlal  dan Puncak Kathedral (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Pada Satu Sisi Jalan Antara Menara Istiqlal  dan Puncak Kathedral
Karya: Diah Hadaning
Mimpi Seorang Lelaki Urban
tentang Lahan dan Bulan

kutulisi langit dengan debu kota
menggugat nasib tak satu perjuangan
saudara lelaki lama lupa
hanya memikir geleng-geleng di lengan istrinya
sudah kucari makna-makna
dalam setiap sujudku
akan sanepa datang pergi.

Mimpiku tentang bulan dan lahan
mengeras pada wajah istri dan anak-anak
rontok oleh keterbatasan.

Kuhitung langkah-langkah
masa depan tanpa pensiun dan rumah
kesadaran, kesadaran
kau muncul setelah luka hidup membuhul
dan karisma tercangkul
peraturan membakar mimpi-mimpi
langit kutulisi dengan apa lagi?

Jakarta
September, 1987
"Puisi: Mimpi Seorang Lelaki Urban (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Mimpi Seorang Lelaki Urban
Karya: Diah Hadaning
Kedung Ombo yang Dekap Gigil Sendiri

Ara-ara adalah bercak kenangan
hidup berkampung hari kemarin
ara-ara adalah lenguh ternak dalam bayang
mengatruh daun jatuh di air keruh
dan Kedung Ombo dekap getirnya dalam doa-doa
Kedung Ombo menatap diam
bocah-bocah bermain dalam kecipak
dan percikan, entah senang entah dendam.

Pada satu siang tanpa matahari
bocah coklat berdendang sendiri
"ara-ara kutembangkan
Jratunseluna kumimpikan
Kedung Ombo hari ini
bagaimana kukatakan?"

Siapa mendengarkan
sementara langit diam mengerang
bocah coklat terus berdendang
tak peduli angin mati
tak peduli matahari mati
"Kedung Ombo, Kedung Ombo
getirmu saara-ara
getirku sapira?"

Jakarta
Maret, 1989
"Puisi: Kedung Ombo yang Dekap Gigil Sendiri (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Kedung Ombo yang Dekap Gigil Sendiri
Karya: Diah Hadaning
Anak Baghdad yang Mencari
Saudara Lelakinya

Awan hitam mengapung di udara malam
kota awal mula peradaban
taman dan jalanan tempat berlarian
makin hari penuh lubang
gerincing rebana dan deru pesawat
apa bedanya ya bapa
seru tangis dan raung sirine
apa bedanya ya bapa
setiap fajar bangkit
debu Baghdad mengapung di sungai Eufrate
setumpuk garis berlapis-lapis
hanyut perlahan di sungai Tigris
mimpiku tentang Karbala dan Basra
telah terhapus angka-angka
semua pun berlangsung semua pun berkabung
tapi aku harus gantikan kakak lelakiku
karna tanah ini denyut jantungku


Masih adakah yang tersisa
di antara puing Amriya
kulihat hanya tulang yang kenangan
langit pun keriput wahai


Karna hujan telah habis jadi tangis
karna suara begitu galau muncul dan hilang
seharusnya kau tak pergi
selama bapa ke selatan belum kembali
masih adakah yang tersisa
di antara puing Amriya
kulihat hanya darah yang mosaik
menjadi simbol-simbol keangkuhan perang
seharusnya kau bersamaku hari ini
menyusuri lorong-lorong tua
mengumpul warta bagi yang tua
sambil melompat-lompat di celah reruntuhan gedung
membiarkan otak kita penuh fatamorgana
tentang kota raya bermahkota
kaukah itu di antara kerumun pengungsi
bayangmu pun tak kukenali.

Jakarta
Februari, 1991
"Puisi: Anak Baghdad yang Mencari (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Anak Baghdad yang Mencari
Karya: Diah Hadaning
Mrica Waduk dalam Suluk

Barangkali masih tersisa
keramahan hulu sungai serayu
barangkali masih menyapa
lereng Dieng henti kirim erosi
barangkali waduk Maung masih
nampung Merawu murung tersisih
12 juta meter kubik lumpur
tak perlu melulurmu waktu ke waktu
anak lanang anak gunung anak hutan
kau tangisi lupa langkah hasrat lari
selalu ada yang terlewati
sesudahnya baru ingat angka proyeksi
barangkali masih tersisa
kasih alami ceruk Mrica
barangkali masih menyapa
angin danau hentikan petaka
barangkali masih menampung 
halimun dari balik tabir sadar
anak ladang dahi ilalang
12 juta meter kubik lumpur
henti menimbuni selama ini.

Bogor
April, 1992
"Puisi: Mrica Waduk dalam Suluk (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Mrica Waduk dalam Suluk
Karya: Diah Hadaning
Gumam Doa Perdamaian
(Cucu lelaki tua Palestina yang menatap kosong tumpukan puing rumah keluarganya)

Sungai Yordan masih membawa mimpi bocahnya
mengapung mengalir sesekali tersangkut-sangkut
sementara musim berganti telah menghadirkan
berbagai statemen baru tentang tanah airnya
dibawa ke meja-meja perjamuan oleh para negarawan
yang tampil penuh pesona dalam siaran-siaran
begitu meyakinkan menjanjikan harapan-harapan
tak bisa dimengerti setiap hari masih terjadi
bunyi senapan, nenek yang mati tak kembali
sungai Yordan telah pula bersaksi
banyak orang berkaca di permukaan airnya
masih dengan wajah kelam dan mata menyimpan
kilat belati, petang-petang dan pagi-pagi
Gaza yang pagar luka tak pasti kapan sembuhnya
di antara tumpukan puing-puing tiba-tiba
melintas wajah kakeknya tua dan letih
jubah lusuh berkibaran mengajaknya berjalan
ke mana, -sahutnya tak sadar bicara pada
diri sendiri yang telah dibenam mimpi
membuktikan perdamaian, -gumam kakeknya
penuh kasih sayang dan meninalenakan di pojok jalan.

Bogor
Januari, 1994
"Puisi: Gumam Doa Perdamaian (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Gumam Doa Perdamaian
Karya: Diah Hadaning
Abstraksi Baru Anak Indonesia

I
Ditatapnya lama-lama
genangan panjang membelah kota
mengalir lamban warna tak tereja
gelap kecoklatan
kelabu kehitaman
namanya entah sungai entah bengawan.

Sementara angin menyapa permukaan
apungkan plastik, dahan dan
mimpi masa depan
terus menuju muara
sebentuk perahu daun
ada di tangan
membawa mimpi Indonesia.

II
Anak kecil pinggir hutan sunyi
menatap langit Indonesia
ingin tembangkan hutan hijau kemilau
ingin renangi kaki bening berkeliling.

O, hari merdeka
tanah merdeka
jiwa merdeka
semua luar biasa

Cuaca berubah redup temaram
burung kecil yang tertinggal
dalam sarang tersisa kaku
burung besar terbang nanar cari habitat baru

O, hutan merdeka
kini diburu
anak kecil menatap langit
mata basah senyum raib.

Bogor, 1995
"Puisi: Abstraksi Baru Anak Indonesia (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Abstraksi Baru Anak Indonesia
Karya: Diah Hadaning
Kayutanam Desember Hari Keduabelas

Gunung biru bersaksi
Kayutanam sunyi sepi
suara-suara tenggelam dalam misteri
wajah-wajah ke penjuru mana pergi.

Selalu ada luka baru
di ujung saat
perjalanan ternyata tak hanya nada
tapi tumpukan luka-luka
yang tetap harus disambut
dengan tawa walau isyaratkan duka.

Pohon tua di halaman
masih simpan bayang-bayangku
masih simpan suara-suaramu
anak-anak molek ranah Minang
yang tertawa riang setiap datang
yang gemanya akan kubawa pulang.

Selalu ada air mata
pada hari-hari akhir di mana saja
di sini ada air mata lelaki
ditipkan kabut misteri.

Rangkuti adakah gunung dan kabut di hatimu
Rangkuti adakah saluang dan kerudung di anganmu
Rangkuti adakah mosaik di jejak langkahmu.

Kayutanam
Desember 1997
"Puisi: Kayutanam Desember Hari Keduabelas (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Kayutanam Desember Hari Keduabelas
Karya: Diah Hadaning
Di antara Galau Juli

Di antara galau pembaruan
seseorang merasa kehilangan
dipanggilnya angin
angin sedang sangat sibuk
meneduhkan jiwa panas
yang nekad kibar bendera
di Irian jauh sana
angin sedang sangat sibuk
redakan hati cadas
Timtim yang hasrat lepas.

Ia bicara pada sang aku
beras kuning telah disebar
bunga rampai telah ditabur
ayam tumbal telah ditanam
adakah yang salah, Hyang?
ada bara dalam sekam!

Bara tak kan pernah padam
jika terus dibungai dendam
jika langkah simpang arah
jika kata simpang nada.

Di langit matahari menyala
gegaslah menata!

Juli, 1998
"Puisi: Di antara Galau Juli (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Di antara Galau Juli
Karya: Diah Hadaning
Tabir Misteri

Mencoba menghulu waktu
mencari batu dasar
abad yang hilang
kerajaan yang terjaga
oleh cinta dan peradaban
adakah itu Kungkung
adakah itu Karangasem
di awal ceritanya.

Raja yang tumpas
permaisuri yang tewas
setelah dayang terkasih
menadah tombak di dada sendiri
di lorong rahasia istana.

Denpasar, 1998
"Puisi: Tabir Misteri (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Tabir Misteri
Karya: Diah Hadaning
Sihir Gendang

Gaungnya mengapung
mengarus menggerus
batu dan jeram
di sungai tajam
luka semakin biru lebam
senyum bocah telah terbenam
mengarang di sisa sekam
gendang bertalu garang
anak siapa
tunggang langgang
darah kering
di kaki telanjang
ketika subuh tak juga bangkit
dari langit simpan jerit
bocah tewas sendiri
tersihir menjadi kulit gendang.

Bogor
Mei, 2000
"Puisi: Sihir Gendang (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sihir Gendang
Karya: Diah Hadaning
Setitik Debu

Setitik debu lepas
dari rambutku yang putih kelabu
kutiup penasaran dan gigil raga gemetaran
debu jadi gelembung
membumbung menyumbat rahim waktu
bayi-bayi zaman berdesakan
tunggu saat kelahiran
kalian tak perlu lahir
jika hanya menambah barisan 
para pendosa di rumah peradaban
gelora marahku gandakan debu.

Februari, 2003
"Puisi: Setitik Debu (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Setitik Debu
Karya: Diah Hadaning
Setitik Harapan

Setitik harapan kusandarkan di celah noda
menjadi bajak bijaksana
mengolah tanah persawahan tua
menjadi lahan subur
di situ kutabur bibit rindu perbaikan.


Februari, 2003
"Puisi: Setitik Harapan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Setitik Harapan
Karya: Diah Hadaning
Mengenang Saat Ziarah

Enam windu telah silam
ketika satu pagi seorang bocah
mendaki bukit kecil
merayap naik ke batu gilang
menyimak mantera sang juru kunci
menyimak asap dupa mengepul
menyimak bunga tiga rupa
diam suara diam rasa 
ada takut dan bahagia.

Kini ingin mengulang kembali
hening yang tembus sampai hati
saat mengirim bunga sesaji
kemana sirnanya rasa syahdu
kemana raibnya debar kalbu
para pendatang telah bermukim 
memadati bukit kecil sunyi
orang-orang masa kini tak peduli
bukit tempat Sang Ratu bertapa.

Bertapa kali pertama
mencari keadilan Yang Maha Kuasa
atas tewasnya Sang Pangeran Hadiri
di ujung murka Arya Penangsang


Bogor, April 2004

===============
Catatan:
Pangeran Hadiri = suami Ratu Kalinyamat
Arya Penangsang = pangeran dari Jipang yang ingin menguasai Demak
"Puisi: Mengenang Saat Ziarah (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Mengenang Saat Ziarah
Karya: Diah Hadaning
Kelanjutan Sebuah Narasi I

Kota-kota mencipta sejarahnya sendiri
lepas dari urutan waktu
manusia tua apung senyum di awang-awang
lukis keindahan tercipta dari bayang-bayang
dan kerakusan jadi balada lepasnya nyawa-nyawa
sementara bumi terus benihkan dosa-dosa
langit siram hujan tuba cipta keangkuhan jiwa
Belah akal jadi bekal sambut dajal
kuras daya jadi bara sambut duraka
bermain dengan nasib antar zaman anyir
berhala tertawa dalam jiwa
dajal bersarang di kepala
terdengar tabuhan gara-gara
perempuan kerudung hitam tangisi tanah merdeka.

Cimanggis
September, 2004
"Puisi: Kelanjutan Sebuah Narasi I (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Kelanjutan Sebuah Narasi I
Karya: Diah Hadaning
Di Sebuah Tikungan

Di sebuah tikungan aku bertemu seseorang, sambil
menyebutkan namanya yang tak mungkin kuhapal
ia mengulurkan tangan
Tapi tangan kananku sedang kutinggalkan di rumah
menepuk-nepuk paha anakku yang hendak tidur,
terpaksa kuulurkan tangan kiriku
Orang itu marah, seketika tangannya berubah menjadi
cakar harimau, dengan kuku-kukunya yang tajam
bersiap untuk menerkam
Aku lari. Begitu ia mengejarku dan mengejarku, untunglah
segera kutemukan tempat aman dalam kidung
yang disenandungkan ibuku setiap larut malam.

1978
"Puisi: Di Sebuah Tikungan (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Di Sebuah Tikungan
Karya: D. Zawawi Imron
Lagu Petani

Pada tekstur tanah tegalan
sehabis ayun cangkul musim penghujan
ada corak hati menyimpan nyanyian
kini yang dekat adalah pantai.

Di pantai
yang padanya tak tiba rindu
setangkai seludang
merangkum buliran mayang.

Dan mayang
akan setia
mengharumkan keringat segar
sampai jauh ke padang mahsyar.

Dalam doamu, sahabatku!
kulihat kupu-kupu akan hinggap
ke kembang randu. oh, Tuhanku!

1971
"Puisi: Lagu Petani (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Lagu Petani
Karya: D. Zawawi Imron
Padang Duplang

Telah sembunyi matahari
ke laci bumi,
tinggal padang mayat-mayat yang sunyi
Gelang kaki menyentuh batu
melengking menuduh langit
Di tangan gadis desa obor menyala
parasnya redup senja
Duh, tubuh harum bedak mangir!
baru seminggu melepas jamang
melangkah di atas bangkai
membalik mayat-mayat orang
Lalu sebuah jeritan panjang
disahut suara langit
menemukan takdir azali
Lelaki muda terlentang
terpecah pada kepala.

Aduh abang lakiku lanang!
Mengapa tidur di padang?
Mari pulang, marilah pulang!
Adik tidurkan di atas ranjang.

Haus rongga rasa
tak bertumbal apa pun jua
Dikucuplah luka lakinya
bagai mengucup air semangka
Lalu digotong laki tercinta
langkah bagai tak nginjak tanah
karena bumi menjelma bara.

Hening menyaput
Gugur kembang kemboja
Harum menyingkap langit.

"Puisi: Padang Duplang (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Padang Duplang
Karya: D. Zawawi Imron
Permainanmu
Kau keraskan kalbunya
bagi batu membesi benar
timbul telangkaimu bertongkat urat
ditunjang pengacara petah fasih.

Di hadapan lawanmu
tongkatnya melingkar merupa ular
tangannya putih , putih penyakit
kekayaanmu nyata terlihat terang.

Kakasihmu ditindasnya terus
tangan tapi bersembunyi
mengunci bagi pateri
kalbu ratu rat rapat.

Kau pukul raja-dewa
sembilan cambuk melecut dada
putera mula penganti diri
pergi kembali ke asal asli.

Bertanya aku kekasihku
permainan engkau permainkan
kau tulis kau paparkan
kau sampaikan dengan lisan.

Bagaimana aku menimbang
kau lipu lipatkan
kau kelam kabutkan
kalbu ratu dalam genggammu.

Kau hamparkan badan
di tubir bibir penaka durjana
jadi tanda di hari muka.

Bagaimana aku menimbang
kekasihku astana sayang
ratu restu telaga sempana
kekasihku mengunci hati
bagi tali disimpul mati.


"Puisi: Permainanmu (Karya Amir Hamzah)"
Puisi: Permainanmu
Karya: Amir Hamzah
Kepada Penyair


Penyair. Kaulah prajurit terakhir
Yang meski dengan pena patah, mesti menegakkan Kebenaran
Karena dunia
Tak boleh kaubiarkan tenggelam
Dalam lautan fitnah dan taufan pengkhianatan.

Kaulah yang takkan berdiri
Di pihak pemimpin palsu dan penipu. Tak perlu menjilat
Karena kau tak bakal kehilangan pangkat. Tak perlu takut
Karena kau tak nanti membiarkan bangsamu makan rumput.
Kau 'kan
Tegak di depan si kecil yang lapar menggigil.

Kaulah pembela si lemah
Yang tak habis-habisnya diobral dan dijual
Oleh si pembual dari rapat ke rapat. Namun tak pernah
Sekalipun ia teringat: rakyat pun hidup dan mampu melihat
Segala kepalsuan yang hendak ditutupi
Dengan semboyan dan janji.

Penyair! Asah pena, sihirlah
Kebenaran dan Keadilan bagi si kecil
Yang tak pernah jemu berkurban, sabar dan rela
Demi cita-cita yang mulia.
 
  
1965
"Puisi: Kepada Penyair (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Kepada Penyair
Karya: Ajip Rosidi
Pelukis Affandi di Pasar Vittoria


Dengan jaket hitam
dan topi merah dari wolita
ia berjalan menyelinap
sambil makan buah ceri
di Pasar Vittoria, Roma,
bulan Juni 1972.
Hari masih pagi.

Seorang pedagang memberi salam
karena mengia ia orang Cina:
dipujinya Mao
dengan ibu-jari diacungkan tinggi.
Affandi tertawa, dan dengan jenaka
ditawarnya sehelai jas musim-dingin
dengan harga yang dibanting.

Tapi pedagang Italia
memberi salam bukan mau rugi
dia hanya tertawa dan berkata:
"Cina tidak baik
jika menawar serendah itu!"
dan ditunjukkannya kelingking kiri.

Affandi hanya tertawa
karena ia bukan Cina.
 
  
1972
"Puisi: Pelukis Affandi di Pasar Vittoria (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Pelukis Affandi di Pasar Vittoria
Karya: Ajip Rosidi
Surat Cinta Enday Rasidin


Kita telah pergi bersama senja yang tenggelam
Masuk kerajaan besar yang juga lagi tenggelam
Masuk gerbang yang tersundul kepala bersinar remang
Kita telah jalan dengan tangan di saku celana
Negara di mana rumah berjendela sepenuh arah
Negara di mana rumah menampung cahya
keempat penjuru.

Negara mereka yang kucinta
Dengan bisik mesra dari suara sudah parau
Dengan bisik parau dari suara yang mesra.

Di mana orang ketawa dan ketawa
Walau mata sudah lama kehabisan cahya.

Kita telah jalan sama didera sinar matahari
Kita telah jalan sama ditelan kelam malam
Menemui pojok pondok yang depek
Dalam baju longgar dan sepatu sebelah lebih besar.

Pondok di mana atap setinggi dada
Pondok di mana bilik hanya sedepak
Pondok mereka yang kucinta
Penuh tawa lepas tanpa lelucon
Penuh lelucon dengan tawa yang lepas.

Di mana orang bicara dan bicara
Walau mulut sudah lama kehabisan kata.

Kita telah jalan sama bergandengan tangan
Kita telah jalan sama beriringan
Dengan pantalon yang digulung hingga lutut
Berpeci miring dan saputangan bersulam biru.

Di mana orang ketawa dan bicara
Di sana kita tenggelam antara mereka.
  
1956
"Puisi: Surat Cinta Enday Rasidin (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Surat Cinta Enday Rasidin
Karya: Ajip Rosidi
Pantun Air Mancur


Air mancur di jalan Thamrin
tempat mandi anak jalanan;
Takkan keliru dengan yang lain
kalau denganmu berhadapan.

Air mancur memancar jernih
orang meminum air kali;
Hilang dahaga lenyaplah letih
kalau engkau muncul di hati.

Air mancur di tengah kota
menyiram debu sehari-hari;
Mau menegur kehilangan kata
semua terungkap di dalam hati.
 
   
"Puisi: Pantun Air Mancur (Karya Ajip Rosidi)"
Pantun Air Mancur
Karya: Ajip Rosidi