Maret 1993
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sonet 7

Ada jarak yang harus ditempuh sampai suasana
siap menerima kita. Dan kita arif menerimanya, bukan?
Ada yang harus tak habis-habisnya kita hela
dan hembuskan sampai pisau yang terpejam di tangan
membelah apel yang di atas meja. Seiris telentang, seiris
tengkurap di sebelahnya? Begitu ramal seorang empu
setelah menyelesaikan tugas menempa sebilah keris.
Celoteh juru nujum yang di bukit nun di sana itu?

Ada jarak yang harus diremas sampai kerut
dalam pembuluh darah kita. Sampai yang biru
kembali hijau berkat kuning itu, sampai segala terhalau:
yang ini, yang itu, yang di sana, yang di situ,
yang layang-layang, yang batu? Ada jarak yang harus ditebas
kalau kita mau menerima pertemuan ini dengan ikhlas.

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Sonet 7
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dialog yang Terhapus

+ dalam musyawarat ini
kau menjadi nyala lilin

- tidak, lihat saja
aku asap menyebar
dalam pikiran yang merongga

+ dalam musyawarat ini
kau menjadi kepak burung

- tidak, dengar saja
aku bulu yang terlepas
tanpa sepatah pun bunyi

+ dalam musyawarat ini
kau menjadi papan catur

- tidak, perhatikan saja
aku raja hitam di sudut
faham siasat bidak putih

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Dialog yang Terhapus
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kolam di Pekarangan

1
Daun yang membusuk di dasar kolam itu masih juga
tengadah ke ranting pohon jeruk yang dulu melahirkannya.
Ia ingin sekali bisa merindukannya. Tak akan dilupakannya
hari itu menjelang subuh hujan terbawa angin memutarnya
pelahan, melepasnya dari ranting yang dibebani begitu
banyak daun yang terus-menerus berusaha untuk tidak
bergoyang. Ia tak sempat lagi menyaksikan matahari yang
senantiasa hilang-tampak di sela-sela rimbunan yang kalau
siang diharapkan lumut yang membungkus batu-batu
dan menempel di dinding kolam itu. Ada sesuatu yang
dirasakannya hilang di hari pertama ia terbaring di kolam
itu, ada lembab angin yang tidak akan bisa dirasakannya lagi
di dalam kepungan air yang berjanji akan membusukkannya
segera setelah zat yang dikandungnya meresap ke pori-
porinya. Ada gigil matahari yang tidak akan bisa dihayatinya
lagi yang berkas-berkas sinarnya suka menyentuh-
nyentuhkan hangatnya pada ranting yang hanya berbisik jika
angin lewat tanpa mengatakan apa-apa. Zat itu bukan angin.

Zat itu bukan cahaya matahari. Zat itu menyebabkannya
menyerah saja pada air yang tak pernah bisa berhenti
bergerak karena ikan-ikan yang di kolam itu diperingatkan
entah oleh Siapa dulu ketika waktu masih sangat purba
untuk tidak pernah tidur. Ia pun bergoyang ke sana ke mari
di atas hamparan batu kerikil yang mengalasi kolam itu. Tak
pernah terbayangkan olehnya bertanya kepada batu kerikil
mengapa kamu selalu memejamkan mata. Ia berharap bisa
mengenal satu demi satu kerikil itu sebelum sepenuhnya
membusuk dan menjadi satu dengan air seperti daun-daun
lain yang lebih dahulu jatuh ke kolam itu. Ia tidak suka
membayangkan daun lain yang kebetulan jatuh di kaki
pohon itu, membusuk dan menjadi pupuk, kalau
kebetulan luput dari sapu si tukang kebun.

Ia ingin sekali bisa merindukan ranting pohon jeruk itu.

Ingin sekali bisa merindukan dirinya sebagai kuncup.


2
Ikan tidak pernah merasa terganggu setiap kali ada
daun jatuh ke kolam, ia memahami bahwa air kolam tidak
berhak mengeluh tentang apa saja yang jatuh di dalamnya.
Air kolam, dunianya itu. Ia merasa bahagia ada sebatang
pohon jeruk yang tumbuh di pinggir kolam itu yang
rimbunannya selalu ditafsirkannya sebagai anugerah karena
melindunginya dari matahari yang wataknya sulit ditebak.
Ia senang bisa bergerak mengelilingi kolam itu sambil
sesekali menyambar lumut yang terjurai kalau beberapa
hari lamanya si empunya rumah lupa menebarkan makanan.
Mungkin karena tidak bisa berbuat lain, mungkin karena
tidak akan pernah bisa memahami betapa menggetarkannya
melawan arus sungai atau terjun dari ketinggian, mungkin
karena tidak pernah merasakan godaan umpan yang
dikaitkan di ujung pancing. Ia tahu ada daun jatuh, ia tahu
daun itu akan membusuk dan bersenyawa dengan dunia
yang membebaskannya bergerak ke sana ke mari, ia tahu
bahwa daun itu tidak akan bisa bergerak kecuali kalau air
digoyang-goyangnya. Tidak pernah dikatakannya Jangan ikut
bergerak tinggal saja di pojok kolam itu sampai zat entah
apa itu membusukkanmu. Ikan tidak pernah percaya bahwa
kolam itu dibuat khusus untuk dirinya oleh sebab itu apa
pun bisa saja berada di situ dan bergoyang-goyang seirama
dengan gerak air yang disibakkannya yang tak pernah peduli
ia meluncur ke mana pun. Air tidak punya pintu.

Kadangkala ia merasa telah melewati pintu demi pintu.

Merasa lega telah meninggalkan suatu tempat dan tidak
hanya tetap berada di situ.


3
Air kolam adalah jendela yang suka menengadah
menunggu kalau-kalau matahari berkelebat lewat di sela
rimbunan dan dengan cerdik menembusnya karena lumut
merindukannya. Air tanpa lumut? Air, matahari, lumut. Ia
tahu bahwa dirinya mengandung zat yang membusukkan
daun dan menumbuhkan lumut, ia juga tahu bahwa langit
tempat matahari berputar itu berada jauh di luar luar luar
sana, ia bahkan tahu bahwa dongeng tentang daun, ikan,
dan lumut yang pernah berziarah ke jauh sana itu tak lain
siratan dari rasa gamang dan kawatir akan kesia-siaan
tempat yang dihuninya. Langit tak pernah firdaus baginya.
Dulu langit suka bercermin padanya tetapi sekarang
terhalang rimbunan pohon jeruk di pinggirnya yang semakin
rapat daunnya karena matahari dan hujan tak putus-putus
bergantian menyayanginya. Ia harus merawat daun yang
karena tak kuat lagi bertahan lepas dari tangkainya hari itu
sebelum subuh tiba. Ia harus merawatnya sampai benar-
benar busuk, terurai, dan tak bisa lagi dikenali terpisah
darinya. Ia pun harus habis-habisan menyayangi ikan itu
agar bisa terus-menerus meluncur dan menggoyangnya.
Air baru sebenar-benar air kalau ada yang terasa meluncur,
kalau ada yang menggoyangnya, kalau ada yang berterima
kasih karena bisa bernapas di dalamnya. Ia sama sekali tak
suka bertanya siapa gerangan yang telah mempertemukan
kalian di sini. Ia tak peduli lagi apakah berasal dari awan
di langit yang kadang tampak bagai burung kadang bagai
gugus kapas kadang bagai langit-langit kelam kelabu. Tak
peduli lagi apakah berasal dari sumber jauh dalam tanah
yang dulu pernah dibayangkannya kadang bagai silangan
garis-garis lurus, kadang bagai kelokan tak beraturan,
kadang bagai labirin.

Ia kini dunia.

Tanpa ibarat.

"Puisi: Kolam di Pekarangan (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Kolam di Pekarangan
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ayat-ayat Kyoto

1
Segala yang mendidih dalam kepala
tidak nyata, kecuali sakura
dan kau - tentu saja.

2
Gerimis musim semi -
tengkorakku retak;
kau pun menetes-netes ke otak.

3
Kita sakura -
gugur sebelum musim semi
tak terlacak pula.

"Puisi: Ayat-ayat Kyoto (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Ayat-ayat Kyoto
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu.

Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu.

Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu.

1989
"Puisi: Hujan Bulan Juni (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Hujan Bulan Juni
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mata Pisau

Mata pisau itu tak berkejap menatapmu:
kau yang baru saja mengasahnya
berfikir: ia tajam untuk mengiris apel
yang tersedia di atas meja
sehabis makan malam;
ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu.


"Puisi: Mata Pisau (Karya Sapardi Djoko Damono)
Puisi: Mata Pisau
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Betapa Kami Tidakkan Suka

Betapa sari
Tidakkan kembang,
Melihat terang
Si mata hari.

Betapa kami
Tidakkan suka,
Memandang muka
Si jantung hati.

"Puisi: Betapa Kami Tidakkan Suka (Karya Sanusi Pane)"
Puisi: Betapa Kami Tidakkan Suka
Karya: Sanusi Pane
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bunga Azalea

Bunga azalea
tumbuh liar di bawah jendela.
Mekar, segar, dan bercahaya

Bunga paling pacar,
paling disayang waktu.
Bunga yang kubawa
dari lembah Maria.

Bunga azalea
tumbuh liar di rimbun aksara.
Mekar, segar, dan bersahaja.

2004
"Puisi: Bunga Azalea (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Bunga Azalea
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kisah Seorang Nyumin

Demonstrasi telah bubar. Kata-kata telah bubar.
Juga gerak, teriak, gegap, gejolak.
Tak ada lagi karnaval.
Bahkan pawai dan gelombang massa telah menggiring diri
ke dataran lengang, tempat ilusi-ilusi ringan
masih bisa bertahan dari serbuan beragam ancaman.

Siapa masih bicara? Bendera, spanduk, pamflet
telah melucuti diri sebelum dilucuti para pengunjuknya.
Tak ada lagi karnaval.
Di pelataran yang mosak-masik yang tinggal hanya
koran-koran bekas, berserakan, kedinginan
diinjak-injak sepi.

Tapi di atas mimbar, di pusat arena unjuk rasa
Nyumin masih setia bertahan, sendirian.
Lima peleton pasukan mengepungnya.
“Sebutkan nama partaimu.”
“Saya tak punya partai dan tak butuh partai.”
“Lalu apa yang masih ingin kaulakukan?
Mengamuk, mengancam, menggebrak, melawan?”
“Diam, itu yang saya inginkan.”
“Lakukan, lakukan dengan tertib dan sopan.
Kami akan pulang, mengemasi senjata,
mengemasi kata-kata. Pulang ke rumah
yang teduh tenang.”

Sayang Nyumin tak bisa diam. Nyumin terus bicara,
menghardik, menghentak, meronta, meninju-ninju udara.
Dan para demonstran bersorak: “Hidup Nyumin!”
Suasana serasa senyap, sesungguhnya.

1992
"Puisi: Kisah Seorang Nyumin (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Kisah Seorang Nyumin
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Celana

I
Ia ingin membeli celana baru
buat pergi ke pesta
supaya tampak lebih tampan
dan meyakinkan.

Ia telah mencoba seratus model celana
di berbagai toko busana
namun tak menemukan satu pun
yang cocok untuknya.

Bahkan di depan pramuniaga
yang merubung dan membujuk-bujuknya
ia malah mencopot celananya sendiri
dan mencampakkannya.

“Kalian tidak tahu ya
aku sedang mencari celana
yang paling pas dan pantas
buat nampang di kuburan.”

Lalu ia ngacir
tanpa celana
dan berkelana
mencari kubur ibunya
hanya untuk menanyakan:
“Ibu, kausimpan di mana celana lucu
yang kupakai waktu bayi dulu?”

II
Ketika sekolah kami sering disuruh menggambar celana
yang bagus dan sopan, tapi tak pernah diajar melukis
seluk-beluk yang di dalam celana, sehingga kami pun tumbuh
menjadi anak-anak manis yang penakut dan pengecut,
bahkan terhadap nasib kami sendiri.

Karena itu kami suka usil dan sembunyi-sembunyi
membuat coretan dan gambar porno di tembok kamar mandi
sehingga kami pun terbiasa menjadi orang-orang
yang suka cabul terhadap diri sendiri.

Setelah loyo dan jompo, kami mulai bisa berfantasi
tentang hal-ihwal yang di dalam celana:
ada raja kecil yang galak dan suka memberontak;
ada filsuf tua yang terkantuk-kantuk merenungi
rahasia alam semesta;
ada gunung berapi yang menyimpan sejuta magma;
ada juga gua garba yang diziarahi para pendosa
dan pendoa.

Konon, setelah berlayar mengelilingi bumi, Columbus pun
akhirnya menemukan sebuah benua baru di dalam celana
dan Stephen Hawking khusyuk bertapa di sana.

III
Ia telah mendapatkan celana idaman
yang lama didambakan, meskipun untuk itu
ia harus berkeliling kota
dan masuk ke setiap toko busana.

Ia memantas-mantas celananya di cermin
sambil dengan bangga ditepuk-tepuknya
pantat tepos yang sok perkasa.
“Ini asli buatan Amerika,” katanya
kepada si tolol yang berlagak di dalam kaca.

Ia pergi juga malam itu, menemui kekasih
yang menunggunya di pojok kuburan.
Ia pamerkan celananya: “Ini asli buatan Amerika.”

Tapi perempuan itu lebih tertarik
pada yang bertengger di dalam celana.
Ia sewot juga: “Buka dan buang celanamu!”

Pelan-pelan dibukanya celananya yang baru,
yang gagah dan canggih modelnya,
dan mendapatkan burung
yang selama ini dikurungnya
sudah kabur entah ke mana.

1996
"Puisi: Celana (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Celana
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Cinta Telah Tiba
untuk Eka dan Ratih

Cinta telah tiba
sebelum kulihat parasnya
di musim semi wajahmu
telah menjadi kita dan kata
saat kucicipi hangatnya
di kuncup rekah bibirmu
kian dalam dan tak terduga
saat kuarungi arusnya
di laut kecil matamu.

2006
"Puisi: Cinta Telah Tiba (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Cinta Telah Tiba
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dari Titik
In memoriam Mbah Djito

Dari titik ia berangkat
tapi ia kemudian tak menyusun titik-titik
menjadi huruf, kata, atau apalagi kalimat -
kecuali satu huruf yang secara misteri mempesonanya:
miiimm --
ia juga tak merangkainya menjadi lukisan artistik
meniru dirinya atau alam karena ia memang otentik
ia hanya membuat titik
setelah itu membiarkannya beranak-pinak
menjadi titik-titik banyak
lalu menata diri menjadi garis-garis
menjadi lengkung-lengkung
lalu lingkaran-lingkaran
kubus-kubus
kerucut-kerucut
kelokan-kelokan
labirin
atau melepasnya apa adanya
dalam belukar kehidupan
setelah mencelupnya
dalam cahaya kalbunya
penuh iman.

Dari titik ia mulai ke titik ia berhenti
dari titik ia hidup ke titik ia mati
(titik cahaya
yang memancarkan pendar-pendar cahaya
lalu kembali ke sumber cahaya
sang maha-cahaya
alangkah bahagia!)

"Puisi: Dari Titik (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Dari Titik
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)