April 1993
Berdebur Ombak Berdebur

Berdebur ombak berdebur
Pulau Kayangan jauh ditengah
hancur hatiku hancur
jika nelayan tidak berumah

Di gunung dan hutan orang berperang
rakyat ditindas kepala dirampas
berapa lama kuasa darul-islam
tentara liar rakyat diperas?

Berdebur ombak berdebur
Pulau Kayangan hanyut di tengah
hancur hatiku hancur
jika petani tidak bertanah

Apa gunanya banyak jenderal
jika petani tiada aman
Apa arti tanda-jasa berjubal
jika manipol dibungkamkan

Selagi noda dapat dihapus
agunglah Hasanuddin dan Diponegoro
Jika derita nanti ditebus
rakyatlah hakim dan kau dihalau

Berdebur ombak ke Pulau Kayangan
bermalam sorga si lupa-daratan
hancur teratak, perahu, kampung-halaman
penjudi politik bersarang di hutan

Berdebur ombak berdebur
berdebur ombak berdebur
berdebur ombak berdebur
rakyatku, siaplah! Giring mereka ke lubang kubur!
Makasar
30 Maret 1964
"Agam Wispi"
Puisi: Berdebur Ombak Berdebur
Karya: Agam Wispi
Masyarakat Rosa

Dari manakah aku belajar jadi seseorang yang tidak aku kenal, seperti belajar menyimpan diri sendiri. Dan seperti usiamu kini, mereka mulai mengira dan meyakini orang banyak, bahwa aku bernama Rosa.

Tetapi Rosa hanyalah penyanyi dangdut, yang menghisap keyakinan baru setelah memiliki kartu nama. Di situ Rosa menjelma, dimiliki setiap orang. Mahluk baru itu kian membesar jadi sejumlah pabrik, hotel, dan lintasan kabel-kabel telpon. Rosa membuat aku menggigil saat mendendangkan sebuah lagu, menghisap siapa pun yang mendengarnya. Rosa membesar jadi sebuah dunia, seperti Rosa mengecil jadi dirimu.

Ayahku bernama Rosa pula, ibuku bernama Rosa pula, seperti para kekasihku pula bernama Rosa. Mereka memanggilku pula sebagai Rosa, seperti memanggil diri dan anak-anak mereka. Dan aku beli diriku setiap saat, agar aku jadi seseorang yang  selalu baru.

Rosa berhembus dari gaun biru dan rambut basah, dari bibir yang memahami setiap kata, lalu menyebarkan berlembar-lembar cermin jadi Rosa. Tetapi jari-jemarinya kemudian basah dan membiru, ketika menggenggam mikrofon yang menghisap dirinya. Di depan layar televisi, ia mengenang: “Itu adalah Rosa, seperti menyerupai diriku.” Gelombang Rosa berhembus, turun seperti pecahan-pecahan kaca. Rosa menjelma jadi lelaki di situ, seperti perempuan yang menjelma jadi Rosa.

Rosa, tontonlah aku. Rosa tidak akan pernah ada tanpa kamera  dan foto-copy. Tetapi kemudian Rosa berbicara mengenai kemanusiaan, nasionalisme, keadilan dan kemakmuran, seperti menyebut nama-nama jalan dari sebuah kota yang telah melahirkannya. Semua nama-nama jalan itu, kini telah bernama Rosa pula.

Hujan kemudian turun bersama Rosa, mengucuri tubuh sendiri. Orang-orang bernama Rosa, menepi saling memperbanyak diri. Mereka bertatapan: Rosa ... dunia wanita dan lelaki itu, mengenakan kacamata hitam. Mereka mengunyah permen  karet, turun dari layar-layar film, dan bernyanyi: seperti lagu, yang menyimpan suaramu dalam mikrofon pecah itu.


1989
"Afrizal Malna"
Puisi: Masyarakat Rosa
Karya: Afrizal Malna
Cipasung

Di lengkung alis matamu sawah-sawah menguning
Seperti rambutku padi-padi semakin merundukkan diri
Dengan ketam kupanen terus kesabaran hatimu
Cangkulku iman dan sajadahku lumpur yang kental
Langit yang menguji ibadahku meneteskan cahaya redup
Dan surauku terbakar kesunyian yang dinyalakan rindu

Aku semakin mendekat pada kepunahan yang disimpan bumi
Pada lahan-lahan kepedihan masih kutanam bijian hari
Segala tumbuhan dan pohonan membuahkan pahala segar
Bagi pagar-pagar bambu yang dibangun keimananku
Mendekatlah padaku dan dengarkan kasidah ikan-ikan
Kini hatiku kolam yang menyimpan kemurnianmu

Hari esok adalah perjalananku sebagai petani
Membuka ladang-ladang amal dalam belantara yang pekat
Pahamilah jalan ketiadaan yang semakin ada ini
Dunia telah lama kutimbang dan berulang kuhancurkan
Tanpa ketam masih ingin kupanen kesabaranmu yang lain
Atas sajadah lumpur aku tersungkur dan terkubur.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Cipasung
Karya: Acep Zamzam Noor
Bumi Penyair

Untuk kita bumi dihamparkan
Pohon-pohon terpancang menahan atap langit
Langit penyair yang biru
Sungai-sungai bermuara pada kita, pada kesabaran
Tak ada kemarau bagi perasaan yang tulus
Matahari hanya menghangatkan kemesraan pagi
Kemesraan kita mencumbu bumi
Bumi penyair yang lapang
Sawah-sawah seperti menyajikan puisi
Padi-padi digayuti lagu

Untuk kita keluasan dibentangkan
Sebagai rumah dan sekaligus tanah air
Kita menabur benih dan menyiram kata-kata
Kebun-kebun menghijaukan hati dan niat baik
Hujan dicurahkan dari langit
Rumput-rumput tumbuh di atas ranjang
Menghamparkan kasur empuk dan selimut tebal
Kasur persetubuhan kita dengan alam semesta
Birahi diperas menjadi ungkapan indah
Anak-anak lahir menjelma puisi.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Bumi Penyair
Karya: Acep Zamzam Noor
Parangtritis-Krakal
(Buat Catherina Setyawati)

Di luar segala sunyi hanya bukit karang
Yang masih bisa kutandai
Ciuman ombak semakin beku dan senyap
Lidahnya menjilati langkah pengembara
Menjadi kelabu dan tua

Jangan bicara pada ranting-ranting
Mata kemarau telah melahapnya
Biarlah garam menyelimuti tubuh kita
Kristal-kristalnya akan memercikkan cahaya
Lalu bayangkan kemesraan asap dengan api

Kini tinggal tatapanmu dan mendung
Yang masih bisa kutandai
Tak tahu kapan kelahiran ini bermula
Suara laut seperti menyimpan gemuruh takbir
Yang dibongkar gelombang

Dan yang bernama sunyi
Seperti kubur-kubur yang terus digali
Mungkin malam nanti kita akan lelap bermimpi
Atau menjelang subuh bintang-bintang luruh ke bumi
Lalu kenangkan sebuah ranjang yang terbakar.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Parangtritis-Krakal
Karya: Acep Zamzam Noor
Menjadi Penyair Lagi

Melva, di Karang Setra, kutemukan helai-helai rambutmu
Di lantai keramik yang licin. Aku selalu terkenang kepadamu
Setiap melihat iklan sabun, shampo atau pasta gigi
Atau setiap menyaksikan penyanyi dangdut di televisi
Kini aku sendirian di hotel ini dan merasa
Menjadi penyair lagi. Bau parfummu yang memabukkan
Tiba-tiba menyelinap lewat pintu kamar mandi
Dan menyerbuku bagaikan baris-baris puisi
Kau tahu, Melva, aku selalu gemetar oleh kata-kata
Sedang bau aneh dari tengkuk, leher dan ketiakmu itu
Telah menjelmakan kata-kata juga

Kini aku sendirian di hotel ini dan merasa
Menjadi penyair lagi. Helai-helai rambutmu yang kecokelatan
Kuletakkan dengan hati-hati di atas meja
Bersama kertas, rokok dan segelas kopi. Lalu kutulis puisi
Ketika kurasakan bibirmu masih tersimpan di mulutku
Ketika suaramu masih memenuhi telinga dan pikiranku
Kutulis puisi sambil mengingat-ingat warna sepatu
Celana dalam, kutang serta ikat pinggangmu
Yang dulu kautinggalkan di bawah ranjang
Sebagai ucapan selamat tinggal

Tidak, Melva, penyair tidak sedih karena ditinggalkan
Juga tidak sakit karena akhirnya selalu dikalahkan
Penyair tidak menangis karena dikhianati
Juga tidak pingsan karena mulutnya dibungkam
Penyair akan mati apabila kehilangan tenaga kata-kata
Atau kata-kata saktinya berubah menjadi prosa:
Misalkan peperangan yang tak henti-hentinya
Pembajakan, pesawat jatuh, banjir atau gempa bumi
Misalkan korupsi yang tak habis-habisnya di negeri ini
Kerusuhan, penjarahan, perkosaan atau semacamnya

O, aku sendirian di sini dan merasa menjadi penyair lagi.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Menjadi Penyair Lagi
Karya: Acep Zamzam Noor
Pelajaran Tatabahasa dan Mengarang

“Murid-murid, pada hari Senin ini
Marilah kita belajar tatabahasa
Dan juga sekaligus berlatih mengarang
Bukalah buku pelajaran kalian
Halaman enam puluh sembilan

“Ini ada kalimat menarik hati, berbunyi
‘Mengeritik itu boleh, asal membangun’
Nah anak-anak, renungkanlah makna ungkapan itu
Kemudian buat kalimat baru dengan kata-katamu sendiri.”

Demikianlah kelas itu sepuluh menit dimasuki sunyi
Murid-murid itu termenung sendiri-sendiri
Ada yang memutar-mutar pensil dan bolpoin
Ada yang meletakkan ibu jari di dahi
Ada yang salah tingkah, duduk gelisah
Memikirkan sejumlah kata yang bisa serasi
Menjawab pertanyaan Pak Guru ini

“Ayo siapa yang sudah siap?”
Maka tak ada seorang mengacungkan tangan
Kalau tidak menunduk sembunyi dari incaran guru
Murid-murid itu saling berpandangan saja

Akhirnya ada seorang disuruh maju ke depan
Dan dia pun memberi jawaban

“Mengeritik itu boleh, asal membangun
Membangun itu boleh, asal mengeritik
Mengeritik itu tidak boleh, asal tidak membangun
Membangun itu tidak asal, mengeritik itu boleh tidak
Membangun mengeritik itu boleh asal
Mengeritik membangun itu asal boleh
Mengeritik itu membangun
Membangun itu mengeritik
Asal boleh mengeritik, boleh itu asal
Asal boleh membangun, asal itu boleh
Asal boleh itu mengeritik boleh asal
Itu boleh asal membangun asal boleh
Boleh itu asal
Asal itu boleh
Boleh boleh
Asal asal
Itu itu
Itu.”

“Nah anak-anak, itulah karya temanmu
Sudah kalian dengarkan ‘kan
Apa komentar kamu tentang karyanya tadi?”

Kelas itu tiga menit dimasuki sunyi
Tak seorang mengangkat tangan
Kalau tidak menunduk di muka guru
Murid-murid itu cuma berpandang-pandangan
Tapi tiba-tiba mereka bersama menyanyi:

“Mengeritik itu membangun boleh asal
Membangun itu mengeritik asal boleh
Bangun bangun membangun kritik mengeritik
Mengeritik membangun asal mengeritik

“Dang ding dung ding dang ding dung
Ding dang ding dung
Dang ding dung ding dang ding dang
Ding dang ding dung.”

“Anak-anak, bapak bilang tadi
Mengarang itu harus dengan kata-kata sendiri
Tapi tadi tidak ada kosakata lain sama sekali
Kalian cuma mengulang bolak-balik yang itu-itu juga
Itu kelemahan kalian yang pertama
Dan kelemahan kalian yang kedua
Kalian anemi referensi dan melarat bahan perbandingan
Itu karena malas baca buku apalagi karya sastra.”

“Wahai Pak Guru, jangan kami disalahkan apalagi dicerca
Bila kami tak mampu mengembangkan kosa kata
Selama ini kami 'kan diajar menghafal dan menghafal saja
Mana ada dididik mengembangkan logika
Mana ada diajar berargumentasi dengan pendapat berbeda
Dan mengenai masalah membaca buku dan karya sastra
Pak Guru sudah tahu lama sekali
Mata kami rabun novel, rabun cerpen, rabun drama dan rabun puisi
Tapi mata kami 'kan nyalang bila menonton televisi.”

1997
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Pelajaran Tatabahasa dan Mengarang
Karya: Taufiq Ismail
Pagi Terakhir di Sebuah Losmen di Djalan Gerdjen

Kawan-kawan telah berangkat pagi ini. Tinggal lagi
Puntung-puntung rokok. Aku dan Arifin
Di luar penyapu sedang membersihkan lantai
Debu bertebar dan ada perasaan aneh
Bernyanyi lewat radio di sebelah
Dua gelas kopi yang panas, di atas meja
Kita tak berkata-kata, tapi ada suara
Yang lengang. Suara musim yang kemarau
Suara musim pengap. Lewat naskah-naskah kita
Gemuruh arak-arakan, deram seribu genderang
Yang lengang. Lewat bunyi unggas pagi
Langit Yogya. Sepotong dan biru
Arifin mengenakan sandalnya dan menyisir
Kami harus meninggalkan losmen ini
Kawan-kawan telah berangkat lebih dahulu
Pembicaraan telah selesai, dan kerja
Menanti. Agaknya kerja Sisyphus
Menyusun gunung batu. Agaknya
Tapi kopi sudah habis, dan kita
Harus berangkat. Di luar losmen
Jalan memanjang batu karang
Kemarau dan cemeti
Tak ada lain pilihan
Kita
Harus
Jalan.

1965
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Pagi Terakhir di Sebuah Losmen di Djalan Gerdjen
Karya: Taufiq Ismail