Mei 1993
Generasi Sastrawangi

Kalau lu mau jadi pengarang tenar dan laris karyanya
gue kasih lu cara tokcer: ganti jenis kelamin lu segera.

"Binhad Nurrohmat"
PuisiGenerasi Sastrawangi
Karya: Binhad Nurrohmat

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sajak Orang Mabuk

Karena hidup penuh keterbatasan
Kupilih api cinta abadi
Membara dalam dadamu
Allah, sambutlah hatiku
Yang terbakar api itu.

Karena hidup penuh keterikatan
Kupilih kebebasan dalam apimu
Bakarlah seluruh diriku
O, Allah
Kuingin debu jiwaku
Mengalir abadi dalam darahmu.

Bertahun-tahun aku mabuk
Bermalam-malam aku tenggelam
Dalam gelombang kerinduan
Luluh dalam apimu.

1991
"Ahmadun Yosi Herfanda"
PuisiSajak Orang Mabuk
Karya: Ahmadun Yosi Herfanda
Dua Epigram

(1)
Ada tiga suara telepon
masuk di bus, dan empat lagi kirim SMS.
Dan kalau seluruh orang di dunia
bersiserentak menelepon: siapa menerima?
Allah?

(2)
Ada dimana Allah
ketika our computer’s system error?
Apa perlu dipanggil kalau ada after sale service?
Apa Allah nganggur?

"Puisi Beni Setia"
Puisi: Dua Epigram
Karya: Beni Setia
Celan

Pada jantung sejarah yang berdarah
ketemui Paul Celan diam-diam mengajar bunda
sang waktu dan benih malam untuk berjalan. Tapi waktu
dan malam berhenti dalam genangan susu hitam
tempat mayat-mayat perempuan berambut kelabu
mengambang pilu. Siapakah tajam kapak-kapak
jika bukan Yang Dipertuan Adipati Kehampaan?
Disandingkannya maut kencana dengan bibir cinta
jasad asmara dengan pusara gelak tawa
pinggul ratapan dengan tengkuk kehidupan
semua dijalinnnya sepasang-sepasang 
seperti merangkai yang bukan matamu
bukan mataku dan bukan matanya
dalam jalinan selendang berkibaran
gelap dan muram
bagai candu dan ingatan.

Bunda malang yang tiada pulang, kekasih
yang dibakar dan berkubur lapang di angkasa,
menggali sumur luka di jantung kenangan
tempat rasa bersalah menjelma susu hitam
yang ditimba oleh dia yang tersisa,
dia yang luput dan lari untuk bahagia.
Di tempat itu pula Issac
Bashevis Singer berkutat bebaskan budak
dalam diri, menulis musuh 
dalam kisah cinta sejati. Tapi trauma
dan masa lalu bagai mantan istri
selalu memaksa rujuk kembali

Dalih adalah maestro dari rembang ingatan
Bahkan pada momen-momen jingga
Pada nadi hidup yang berdegup mesra,
selalu ada dalih untuk tak bahagia.


"Agus R. Sarjono"
Puisi: Celan
Karya: Agus R. Sarjono