Januari 1994
Hak Oposisi


Aku bilang tidak,
aku bilang ya,
menurut nuraniku.
Kamu tidak bisa mengganti
nuraniku dengan peraturan.
Adalah tugasmu
untuk membuktikan
bahwa kebijaksanaanmu
pantas mendapat dukungan.
Tapi dukungan -
tidak bisa kamu paksakan.
Adalah tugasmu
untuk menyusun peraturan
yang sesuai dengan nurani kami.
Kamu wajib memasang telinga,
- selalu,
untuk mendengar nurani kami.
Sebab itu, kamu membutuhkan oposisi.
Oposisi adalah jendela bagi kamu.
Oposisi adalah jendela bagi kami.
Tanpa oposisi: sumpek.
Tanpa oposisi: kamu akan terasing dari kami
Tanpa oposisi, akan kamu dapati gambaran palsu
tentang dirimu.
Tanpa oposisi kamu akan sepi dan onani.


Pelopor Jogja
10 Oktober 1971
"Puisi: Hak Oposisi (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Hak Oposisi
Karya: W.S. Rendra
Doa untuk Anak Cucu
Bismillaahir rahmaanir rahiim...

Ya, Allah.
Di dalam masa yang sulit ini,
di dalam ketenangan
yang beku dan tegang,
di dalam kejenuhan
yang bisa meledak menjadi keedanan,
aku merasa ada muslihat
yang tak jelas juntrungannya.
Ya, Allah.
Aku bersujud kepada-Mu.
Lindungilah anak cucuku.

Lindungilah mereka
dari kesabaran
yang menjelma menjadi kelesuan,
dari rasa tak berdaya
yang kehilangan cita-cita.

Ya, Allah.
Demi ketegasan mengambil risiko
ada bangsa yang di-mesin-kan
atau di-zombie-kan.
Ada juga yang di-fosil-kan
atau di-antik-kan.
Uang kertas menjadi topi
bagi kepala yang berisi jerami.
Reaktor nuklir menjadi tempat ibadah
di mana bersujud kepala-kepala hampa
yang disumpal bantal tua.
Kemakmuran lebih dihargai
dari kesejahteraan.
Dan kekuasaan
menggantikan kebenaran.
Ya, Allah.
Lindungilah anak cucuku.

Lindungilah mereka
dari berhala janji-janji,
dari hiburan yang di-keramat-kan,
dari iklan yang di-mythos-kan,
dan dari sikap mata gelap
yang diserap tulang kosong.

Ya, Allah.
Seorang anak muda
bertanya kepada temannya:
"Ke mana kita pergi?"
Dan temannya menjawab:
"Ke mana saja.
Asal jangan berpikir untuk pulang."
Daging tidak punya tulang
untuk bertaut.
Angin bertiup
menerbangkan catatan alamat.
Dan rambu-rambu di jalan
sudah dirusak orang.
Ya, Allah.
Lindungilah anak cucuku.

Lindungilah mereka
dari kejahatan lelucon
tentang Chernobyl dan Hirosima,
dari heroin
yang diserap lewat ciuman,
dari iktikad buruk
yang dibungkus kertas kado,
dan dari ancaman tanpa makna.

Ya, Allah.
Kami dengan cemas menunggu
kedatangan burung dara
yang membawa ranting zaitun.
Di kaki bianglala
Leluhur kami bersujud dan berdoa.
Isinya persis seperti doaku ini.
Lindungilah anak cucuku.
Lindungilah daya hidup mereka.
Lindungilah daya cipta mereka.
Ya, Allah, satu-satunya Tuhan kami.
Sumber dari hidup kami ini.
Kuasa Yang Tanpa Tandingan.
Tak ada samanya
di seluruh semesta raya.
Allah! Allah! Allah! Allah!
Bojong Gede, 18 Juli 1992
"Puisi: Doa untuk Anak Cucu (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Doa untuk Anak Cucu
Karya: W.S. Rendra
Internasionale


Di sebuah perpustakaan
di sebuah penderitaan
seorang-orang tua
resah tersandar ke kaca meja. Ia tak bermahkota
dan aku tak mengenalnya,
tapi ku beri ia tabik
dan kami pun ke jalan-jalan raya.

Lihatlah, Karl, kemerdekaan ini diperjuangkan
dengan empat lobang kantong
yang pipih kosong
dan seorang anak yang menggantung mati kelaparan.

Hari itu kita masih ingat: tulisan cakar-ayam
di sebuah buku lusuh
yang ditinggalkan orang:

Bersatulah buruh dunia, bersatulah!
Kita yang dimiskinkan...

Kita melihat jam besar di dinding pabrik itu
gemetar
dan buruh-buruh yang pucat
penyap tersandar.
Kemarin tidak pernah kita rancangkan kehidupan
tapi hari ini adalah lain:
Dunia telah terlepas dari hambatan yang abadi, terasing
dari hukum hari tadi.
Daulat telah diserahkan
kepada kehidupan
dan bumi adalah takhta maha baik
yang dimenangkan.

Banyak lagi yang akan dikerjakan
setelah sepanjang jalan
orang bertempur
tanpa pembunuhan
Biarlah pasukan ini tersaruk-saruk, dalam lumpur
dan menembak. Di sana tak ada Musuh dan Dendam.
Tinggal penyaliban.
Sebab kita tak akan bikin pahlawan-pahlawan
dan prajurit timah
dalam impian.
Sebab jumlah kita banyak dan kapan saja
manusia bangkit tiap hari.

Hari ini terkabar
seorang raja turun dari takhta
menyebrangi selat, dan memacu kudanya ke angkasa.
Hari ini baginya tidak ada lagi remah roti:
tinggal perdamaian ditawarkan dari langit
ke atas tanah, bumi yang berdandan

Rakyat pun kini bersembahyang di dalam hari
sebelum Tuhan
kita arcakan.
Dan daun-daun alam yang runtuh ke ubun-ubunnya
memahkotainya
dalam Cinta.

Esok hari mungkin salah seorang dari kita
berkhianat
dan merancangkan Kiamat lagi. Nanti malam
ia akan merangkak ke jendela, membunuh kita.
Tapi kita masih punya anak-anak, beribu generasi:
hakim-hakim kita yang akan melemparkan kita
dalam peti museum
Tidak apa.
Karena mereka adalah setia, sedang kita tak lagi setia
dan tak lagi bisa rindu.

Di dalam mausoleumnya Stalin pun rindu
dan menggaritkan kakinya menulis sajak.
Di luar kaca ia melihat bumi, bumi yang bersalju:
sepi, sepi ... tak beranjak.

Tapi adakah ia mengerti
bahwa ia telah terlambat semalam tadi
sebab di pagi itu
serombongan anak-anak muda
datang mengangkat tubuhnya, dari sini:
dan sajak di hatinya
tak pernah diselesaikan
seperti Fir'aun
di tengah Laut Merah
tak juga selesai: Ilahi, Ilahi, Ilahi ...

Maka marilah bicara dari kesunyian dan kelaparan
karena keduanyalah senantiasa
milik kita.
Sebelum terlambat.

Seperti di pagi ini
ketika seseorang membacakan sajak-sajak
bagi anak-anak muda di dunia,
karena mereka adalah setia, wakil sunyi dan lapar
semesta kita.

Demikianlah dahulu
ketika aku bertemu
dengan seseorang-orang tua
yang resah tersandar ke kaca meja, yang tak bermahkota
tapi kuberi tabik
sebagai sahabatnya.
 

1964
"Puisi: Internasionale (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Internasionale
Karya: Goenawan Mohamad
Putra-Putra Ibu Pertiwi


Bagai wanita yang tak ber-ka-be saja
Ibu pertiwi terus melahirkan putra-putranya
Pahlawan-pahlawan bangsa
Dan patriot-patriot negara
(Bunga-bunga
kalian mengenalnya
Atau hanya mencium semerbaknya)

Ada yang gugur gagah dalam gigih perlawanan
Merebut dan mempertahankan kemerdekaan
(Beberapa kuntum
dipetik bidadari sambil senyum
Membawanya ke sorga tinggalkan harum)

Ada yang mujur menyaksikan hasil perjuangan
Tapi malang tak tahan godaan jadi bajingan
(Beberapa kelopak bunga
di tenung angin kala
Berubah jadi duri-duri mala)

Bagai wanita yang tak ber-ka-be saja
Ibu pertiwi terus melahirkan putra-putranya
Pahlawan-pahlawan dan bajingan-bajingan bangsa
(di Taman Sari
bunga-bunga dan duri-duri
Sama-sama diasuh mentari)

Anehnya yang mati tak takut mati justru abadi
Yang hidup senang hidup kehilangan jiwa
(Mentari tertawa sedih memandang pedih
Duri-duri yang membuat bunga-bunga tersisih)
 
   
"Puisi: Putra-Putra Ibu Pertiwi (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Putra-Putra Ibu Pertiwi
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Derai Derai Cemara
Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam.

Aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini.

Hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah.





1949
"Puisi: Derai Derai Cemara (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Derai Derai Cemara
Karya: Chairil Anwar
Kepadamu, Negro

Kepadamu, Negro, bumi bergadang sepanjang malam
dan cakrawala menunggu
suara pesanmu kepadaku.
Kepadamu, Negro, abad berkisah seribu-satu
rentang revolusi hitam
revolusi putih
revolusi merah
yang menyimbah sejarah, membakar marak cintaku.

Sajak yang tertahan dalam sakitmu
tak lagi akan menunggu
sajak yang hitam
kasih yang hitam
Tuhan yang hitam
yang berkerlap berkerlapan
di atas gurun saljumu
sajak yang membisikkan kata-kata-Nya: Lihatlah, Manusia!


1963
"Puisi: Kepadamu, Negro (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Kepadamu, Negro
Karya: Goenawan Mohamad
Di Pasar Loak


Di pasar loak jejak timpa menimpa, menghapus kau dan aku,
mengingat kau mengingat aku.

Pengalaman adalah karpet tua, anakku, pompa-pompa,
gambar burak, gambar yesus, kamus-kamus, gaun malam dan
hordin panjang, di mana dulu ada sebuah rumah, di mana kita
tak ada, kita tak punya, di mana seekor parkit mungkin
mencoba bernyanyi, mencoba menyanyi, dan seseorang tutup
pintu, dengar, papa, aku tak kembali, tak akan kembali

Kenangan adalah seperti manik-manik yang ditawarkan peniup
harmonika itu: butir-butir putih yang teruntai, tak berkait,
sebuah montase, sederet huruf morse, Selamatkan Kami,
Selamatkan Kami, Kami Tenggelam, percintaan yang tak ingin
jadi hantu dalam mimpi malam.

Perpisahan adalah sebuah isyarat kematian, orang tua penjual
kaca itu berkata dan bertanya, siapa kita sebenarnya, mengapa.


1994
"Puisi: Di Pasar Loak (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Di Pasar Loak
Karya: Goenawan Mohamad
Pada Sebuah Pulau


Badai hanya pulang gema, di sini, seperti ratap pulau
dari karang-karang kambria
yang gelap.

Pantai mengangakan rahang, menelan waktu
yang datang bertubuhkan
gelombang.

Tanah melulur
ekulaptus.
Sejarah menembus.

Pada batukapur tua ia menyusun sember itu - yang akhirnya tak ada.
Beratus tahun kemudian ia pun kembali,
jejak, kerak, sisa, tanda: fana, barangkali tak fana.


1994
"Puisi: Pada Sebuah Pulau (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Pada Sebuah Pulau
Karya: Goenawan Mohamad
Misalkan kita di Sarajevo
Buat B.B dan kawan-kawan

Misalkan kita di Sarajevo; mereka akan mengetuk
dengan kanon sepucuk
dan bertanya benarkah ke Sarajevo
ada secelah pintu masuk.

Misalkan kita di Sarajevo: tembok itu,
dengan luka-luka peluru,
akan bilang "tidak",
selepas galau.

Tapi kau tahu musim, di Sarajevo
akan mematahkan engsel,
dingin akan menciutkan tangan,
dan listrik lindap.

Orang-orang akan kembali
dari kedai minum,
dan memandangi hangus
di loteng-loteng.
 
Apakah yang mereka saksikan sebenarnya
di Sarajevo: sebentang samun,
tanah yang redam?
Apakah yang mereka saksikan sebenarnya?

Keyakinan dipasak
di atas mihrab dan lumbung gandung
dan tak ada lagi
orang membaca.

Hanya mungkin pada kita
masih ada seutas tilas,
yang tak terseka. Atau barangkali
sebentuk asli kata hati?

Misalkan, misalkan, di Sarajevo: bulan
tak meninggalkan replika,
di dekat menara, tinggal warna putih
yang hilang dari azan.
 
Misalkan angin juga kehilangan
perangai
di pucuk-pucuk poplar kuning
dan taman yang tak bergerak.

Pasti nenek peri, dengan suara kanker di perut,
akan berkata,
"Tinggal cobaan dalam puasa
di padang gurun, di mana kau tak bisa."

Mengapa kita di Sarajevo?
Mengapa gerangan kita pertahankan kota ini?
Seperti dalam sebuah kisah film,
Sarajevo tak bisa takluk.

Kita tak bisa takluk
Tapi keluar dari gedung rapat umum,
orang-orang sipil
akan mengenakan baju mereka yang terbaik,

mencium pipi para isteri, ramah tapi gugup,
meskipun mereka, di dalam saku,
menyembunyikan teks yang gaib itu:
"Bukan roti, melainkan firman."

Batu-batu di trotoar ini
memang tak akan bisa jadi roti
cahaya salju di kejauhan itu
juga tak akan jadi firman.

Tapi misalkan kita di Sarajevo
Di dekat museum itu kita juga akan takzim
membersihkan diri: "Biarkan aku mati
dalam warna kirmizi."

Lalu aku pergi
kau pergi, berangkat, tak memucat
seperti awal pagi
di warna kirmizi.

1994
"Puisi: Misalkan kita di Sarajevo (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Misalkan kita di Sarajevo
Karya: Goenawan Mohamad
Untuk Frida Kahlo


Frida Kahlo menulis dalam catatan hariannya: "Hidup yang
diam, pemberi dunia, apa yang paling penting ialah tiada
harap." Di sana disebutnya juga fajar, pagi, rekan-rekan merah,
ruang besar biru, daun-daun di tangan, burung yang gaduh ...

Apakah yang kita mengerti sebenarnya, tadi: kesederhanaan
lagu tentang nasib, atau arus tak sadar pada tinta, darah dalam
dawat, deretan kata-kata murung? Apa penanda, apa petanda?

Frida tak pernah menjawab. Berhari-hari yang nampak adalah
lelaki, tamu-tamu, yang berdatangan, melalui beranda Rumah
Biru, menyapanya, duduk-duduk, minum teh, mencicipi kue,
dan berceloteh dan melucu, sambil berdiskusi tentang Tuhan
yang mereka ingkari dan kedatangan Trotsky
Mereka berkata, 'Tidak, Frida, kau tak apa-apa'
Tapi di alis itu ...

di alismu langit berkabung
dengan jerit hitam
dua burung.

di ragamu tiang patah
di kamar narkose, ampul tertebar:
sisa sakit dan sejarah.

tapi kijang yang tak menjerit di hutan
pada luka lembing penghabisan
adalah seorang perempuan

uluhati yang tercerabut
tapi terbang, menjemput Maut
adalah seorang perempuan.

Kemudian akan datang lusa: dari Cayougan orang-orang akan
pulang, dan akan datang pula orang lain. Ada yang telah
berangkat mengurus revolusi atau kembali menenteng tas dan
kertas-kertas - manifesto yang kehilangan bunyi. Tapi semua
berkata, "Tidak, Frida, kau, kita, juga Diego Riviera, telah
berusaha untuk setia, tapi kita bukan apa-apa lagi. Dunia
sudah tak seperti dulu."

Bukan apa-apa ...

tapi di matamu kau lihat
piramid-piramid sakit
mencari air kaktus
pada pucat langit

Lalu kau lukiskan airmatamu,
seperti mutiara dan
putih cuka
di tembikar kulitmu

Di atasnya para santo
dan wajah Diego: praba dan cahaya
yang membakar kekal
mimpi Meksiko.

Di ruang Meksiko itu, dengan gaun putih Tehuana, Frida
menghentikan kursi rodanya. Kamar berubah suhu, tapi hidup,
seperti dulu, adalah kini yang berganti-ganti. Kekekalan - yang
telah mengalami semua, dan akan menyaksikan semua - tak
ada. Palet yang memamerkan luka, paras Judas, rangka dari
kertas, buket kembang lavender yang tertahan di tangan:
elemen waktu yang berakhir setiap hari, setiap kali.

Terkadang ia tergoda juga untuk lupa: dilukisnya korsase putih
yang tetap bersih dan Noguchi (di dada seorang perempuan, di
Manhattan, yang jatuh dari gedung-gedung, dengan raut
cemerlang, bunuh diri).

Apakah mati sebenarnya? Konon di tempat tidurnya - sebelum
orang mengangkatnya ke api kremasi - ada seorang yang
datang dan mencium parasnya, penghabisan kali, "Frida, kau
adalah ketakjuban kepada harum brendi, senyum di
percakapan dan ranum pisang dalam sajikan makan malam.
Kau tergetar kepada apa yang sebentar."

Barangkali mati adalah transformasi, perjalanan rama-rama
yang sedih yang menghilang ke arah roh: keabadian yang tak
tahu telah berubah lazuardi.
 
"Apa yang akan kulakukan tanpa yang absurd dan yang
sementara?"
Benar, begitulah ia pernah bertanya.

1993-1994
"Puisi: Untuk Frida Kahlo (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Untuk Frida Kahlo
Karya: Goenawan Mohamad
Zagreb


Ibu itu datang, membawa sebuah bungkusan, datang jauh
dari Zagreb. Ibu itu datang, membawa bungkusan, berisi
sepotong kepala, dan berkata kepada petugas imigrasi yang
memeriksanya: "ini anakku."

Suaranya tertoreh
di beranda kantor tapal batas.
Orang-orang menoleh.
Cahaya cemas.

Jam di atas meja itu seakan-akan menunjuk
bahwa senja, juga senja,
tak akan bisa lagi meninggalkan mereka.

Lalu ibu itu pun mendekat, dan ia perlihatkan
isi bungkusannya, dan ia bercerita:

"Tujuh tentara menyeretnya dari ranjang rumah sakit, tujuh
tentara membawanya ke tepi hutan dan menyembelihnya,
tujuh musuh yang membunuh sebuah kepala yang terguling
dan menggelepar-gelepar dan baru berhenti, diam, setelah
mulutnya yang berdarah itu menggigit segenggam pasir di sela rerumputan."

"Kesakitan itu kini terbungkus di sini, dalam sisa kain kafan.
Umurnya baru 21 tahun. Lihat wajahnya. Anak yang rupawan."

Pohon-pohon platan yang terpangkas, berkerumun
seperti patung-patung purba, bertahun-tahun
lamanya, di pelataran. Gelap mulai diam,
mulai seragam
dan di kejauhan ada sebuah kota, kelihatannya: kaligrafi cahaya,
coretan-coretan api pada ufuk,
isyarat dalam abjad,
kata-kata buruk.

Tak ada yang membikin kita bebas rasanya.
Opsir itu pun terduduk, memimpikan anak-anak, oknum yang
bercerita tentang cheri pertama yang jatuh ke pundak.
Mereka tak ada lagi, bisiknya, tak ada lagi.

Hanya seakan ada yang meneriakkan tuhan, lewat lubang angin
di tembok kiri, ke dalam deru hujan, menyeruakkan ajal,
memekikkan ajal, dan desaunya seperti sebuah sembah
yang tak jelas,
nyeri, sebuah doa dalam bekas.

Apa yang ingin kita lakukan setelah ini?
Ibu itu: ia membungkus kembali kepala yang dibawanya,
dari Zagreb, dan melangkah ke jalan.
Orang-orang tak menawarkan diri untuk mengantarkan.
Di sana, di akanan kejauhan, arah raib, zuhrah raib.
Bintang barangkali hanya puing, dan timur, di mana pun
timur,
hancur.

Tapi barangkali ia tahu apa nama kota berikutnya.



1994
"Puisi: Zagreb (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Zagreb
Karya: Goenawan Mohamad
Sebuah Restoran, Moskwa

Melalui caviar dan vodka
kami langgar sepuluh dosa.
Di atas kain meja yang putih
terbarut tindakan yang sia-sia.
Botol-botol anggur yang angkuh
dan teman wanita yang muda
adalah hiasan malam yang terasa tua.
Hari-hari yang nampak koyak-moyak
disulam dengan manis oleh wajahnya.
Dalam kepalsuan
kami berdua bertatapan.
Bahunya yang halus berkilau biru
oleh cahaya lilin dan lampu.
Pintu-pintu berpolitur
dengan tirai untaian merjan.
Sementara musik berbunyi
jam berapa kami tak tahu.
Di atas kursi Prancis
kami bertukar senyum
dan tahu
masing-masing saling menipu.
Dengan gelas-gelas yang tinggi
kita membunuh waktu
dalam dosa.
Bila begini:
Manusia sama saja dengan cerutu
bistik atau pun whiski-soda
berhadapan dengan waktu
jadi tak berdaya.
 
 
"Puisi: Sebuah Restoran, Moskwa (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Sebuah Restoran, Moskwa
Karya: W.S. Rendra