Februari 1994
Puisi Tak Selesai

Betapa abadi tangisan yang disimpan awan
antara laut dan matahari.

Aku menunggu di sawah-sawah, bersama
suara katak dan serangga bernyanyi.

Kutulis puisi dengan airmata petani
yang menanti musim panen,
dan janji musim.

Tiba-tiba kaujadikan ayat-ayat
: yang kubaca di gereja
dan kusebar di jalan raya.

Aku masih mencari kebenaran
sebuah puisi yang tak pernah jadi.

"Puisi Tak Selesai (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi Tak Selesai
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Surat Lorena

Masih kausimpankah pisau itu?
Jangan kaubasuh darahnya. masih kudengar erangan manis itu.
kucatat dalam berhalaman buku cinta. kita baca malam-malam,
ketika darah mendidih dan memancur bersama nafas
yang memburu.

Kaunikmati ketakberdayaan.
seperti ikan yang kau pelihara dalam rahimmu.
menggelepar dalam lumatan-lumatan nafsu
dan rintihan halus dan gaib dari mulut terbukamu.

Masih kausimpankah pisau itu?
sebelum kaucapai puncak cinta, ribuan wanita
akan menghunus dan menikamkannya: entah pada 
daratan tubuh dan gumpalan daging yang mana.

2000
"Puisi: Surat Lorena (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Surat Lorena
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Ketika Agustus telah Lewat

Janur-janur kuning layu
terbuang di jalan-jalan dan hanyut di kali
tiang-tiang bendera telah pula bersandar damai
sepi dari angin sepi dari kibas kain
ada sesuatu di jantung kota, adikku
pekik dan tawa bukan lagi berbunyi: merdeka!
Tapi: ayo santai sampai pagi!
Tidakkah kau percaya
ini tanda orang lupa merdeka itu untuk apa
tinggalkan ruangan
sebelum hatimu tersangkut pada yang remang
ada kerja yang belum selesai
ada matahari yang semakin tinggi
hari ini.

Jakarta, 1977
"Puisi: Ketika Agustus telah Lewat (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Ketika Agustus telah Lewat
Karya: Diah Hadaning
Sajak Daun Kayu

Daun-daun katu yang luruh siang-siang
mengabarkan tentang angin yang sederhana
yang datang dan pergi tanpa permusuhan.

Daun-daun katu yang luruh petang-petang
mengabarkan tentang duka-duka perempuan
kesetiaan dan janji yang usai
dan naskah kehidupan yang terbengkalai

Daun-daun katu yang selalu melayang dan selalu jatuh
juga mengabarkan 'ntentang gagak yang garang
yang melesat dari arah-arah angin
menaklukkan kehidupan.

Dan angin
dan daun katu
dan gagak-gagak garang
menyatu di pojok umur
hari ini, dalam sebentak bayang-bayang diri.

Yogya, 1978
"Puisi: Sajak Daun Kayu (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak Daun Kayu
Karya: Diah Hadaning
Sajak Ada

Ada malaikat menyisir kabut bumi dan cinta manusia
ada setan menyisir kegelapan dan nafas durhaka
sempurna sudah kemunafikan abadi
ketika keduanya menyatu di hari ini
dalam nafas dalam darah mereka yang lelap
penuntun barisan yang khianat.

Ku cari kau di situ
ku cari diriku di situ
dalam ketakutan yang memburu
memang padamu padaku ada jua
ada cinta ada duka
ada nafsu ada durhaka
tetapi percayakah kau
dalam ujung sembahyang-ku
ku harap kita bukan dari mereka.

Manakala kita bicara lewat gelisah kata
lantas menatap lewat gelisah mata
aku berdoa agar Tuhan memberi satu keajaiban
ada Kennedy yang perkasa dalam sukmamu
ada Theresa tua dari Calcuta dalam sukmaku
ada Tuhan tersenyum di hadapan kita
ada homo sacra res homini di sini dan di setiap mana.

Jakarta, 1979
"Puisi: Sajak Ada (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak Ada
Karya: Diah Hadaning
Pada Hari Jadi

Suara-suara semula menggema
suara-suara kian mereda
suara-suara diam menyatu sukma
empat roh saudara menyalami
kelima, roh pancar menyantuni
di bawahnya api, air, angin, tanah
api, air, angin, tanah di bawahnya
ku jilat api,
ku reguk air,
ku hirup angin,
ku kunyah tanah,
sempurnalah aku menjadi kehendak-NYA
yang bermula dari nafsu luluh dalam doa.

Suara-suara yang diam
suara-suara kian bergumam
suara-suara jadi bergema
kuberikan kembali api, air, angin, tanah
lewat nasi berkalang arang dan sebokor kembang
di situ menyatu tentang lahir dan usai
dan roh putih menjagaku dan roh hitam menjauhiku
tak lagi hanya terbatas pada diri.

Jakarta, 1980
"Puisi: Pada Hari Jadi (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Pada Hari Jadi
Karya: Diah Hadaning
Tinggalkan Lorong-Lorong Lusuh Itu

Glamour hari ini hanya di jantung kota
di jantungmu, desah belukar desa
tapi tidak harus diterima ucapan mereka:
kalian orang-orang lapar kaki lima
adalah alas sepatu, kaleng apkiran di tanah ini.

Nyanyian hari ini, hanya dalam aubade saja
hari-harimu sederhana yang tercabik
cuma dengus nafas anyir tanpa suara
tapi tidak harus kalian cuma tanya-tanya:
siapa-siapa berani dan peduli
membawa kami serta dalam barisan panjang perjalanan
kami ini produk jaman atau apa lagi?

Kalian orang-orang lapar kaki lima
yang bukan kaleng apkiran atau alas sepatu
tinggalkan seribu Tanya di ujung tumitmu
tinggalkan saja lorong-lorongmu yang lusuh
berbarislah penuhi jalanan kota
bernyanyilah, beri salamlah, dengan sopan dan ceria
kepada segala Tetua Nusa dan ikrarkan pada mereka
kalian setia sampai sorga mau pun neraka
menjadi perjurit mau pun tukang negeri ini
yang bukan gombal tapi pijat lelatu
tapi mintalah janji: sejahtera sama-sama!

Jakarta, 1980
"Puisi: Tinggalkan Lorong-Lorong Lusuh Itu (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Tinggalkan Lorong-Lorong Lusuh Itu
Karya: Diah Hadaning
Muara Angke di Satu Siang

Muara Angke wajah kita hari ini
Muara Angke nafas kita hari ini
Muara Angke harapan-harapan kita tersimpan
dari berbagai siang mengambang
musim datang musim melenggang.

Masihkah kau bersaksi
lalu musim pergi dan berganti
wajah bocah di balik kisi jendela
entah menatap siapa
sementara perahu motor meluncur tiap hari
dengan ceritanya sendiri
barangkali menatap kita
yang melintas baru pertama kali
Muara Angke tiba-tiba menjadi cermin retak
yang bingkainya sajak-sajak
sementara tahun-tahun menimbun
kisah turun-temurun
lumut pun menebal di teritis bambu
air kuning kecoklatan selalu
mengguyur tubuh-tubuh bocah dimandikan.

Dan parabola-parabola di balik sana
tak lebih fatamorgana
tapi bocah-bocah masih tertawa
sesekali mendongak angkasa
tanpa sempat lagi membaui udara
karena tiap hari terasa sama saja.

Jakarta
Desember, 1991
"Puisi: Muara Angke di Satu Siang (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Muara Angke di Satu Siang
Karya: Diah Hadaning
Catatan Kawat Beduri

Kawat berduri mencabik mata
tak leluasa menatap langit
barikade menahan dlengan
ingin meraih pejuang muda
luka terperangkap pongah dunia
kawat berduri mencabik hati
tak leluasa menjabat sesama hati
di antara gelegar artileri
siapa lagi kita tangisi hari ini
kawat berduri mencabik rahim
lahir anak zaman sebelum waktu
di antara dendam membara desing peluru.

kawat berduri mencabik segala
kepala - rahim - dada perempuan
darah mengalir dari pusar dan bibir
merahkan kawat-kawat berduri
merahkan tanah limbah dosa penguasa
merahkan jarak yang terus 'nganga
perbedaan
kepentingan
tahta dunia.

Bogor, 1993
"Puisi: Catatan Kawat Beduri (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan Kawat Beduri
Karya: Diah Hadaning
Doa Orang-orang Sederhana

Tuhan Yang Maha Segalanya
dengarlah doa kami
jauhkan kami dari keangkuhan teknologi
di kota keratin ada seminar
kata orang kita tidak butuh nuklir
(Tuhan mohon maaf
kami tak bisa jelaskan apa itu
teknologi, seminar dan nuklir)

Tuhan Yang Maha Segalanya
berilah eling nurani para petinggi
kami bukan barang komoditi
kami telah kenyang sakit hati 
menjadi tumbal selama ini
tawa bahagia kapan giliran kami
(Tuhan mohon maaf
kami tak bisa jelaskan apa itu
komoditi selain pedih dan perih)

Sesungguhnya mereka orang-orang
sederhana, sering keplesed-plesed
akhirnya suka plesedan
di mana-mana yang dilihat kadal-kadal
hidup mereka jadi kidal.

Bogor
April, 1994
"Puisi: Doa Orang-orang Sederhana (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Doa Orang-orang Sederhana
Karya: Diah Hadaning
Radius Bahaya Tiga

Petinggi datang siang-siang
pendampingnya garang
berkata, entah benar entah tiada
: wahai wargaku yang bahagia
(bahagia itu macam apa mak?
tanya bocah telanjang dada
pada perempuan sederhana
ya embuh le! Jawabnya pelan)

: kalian kan pada rela?
Jika dibangun istana teknologi
di hamparan gunung tua ini
ya, ini pengorbanan tanpa pamrih
untuk banyak orang
untuk bukan diri sendiri!
(jadi tak termasuk kita pakne?
tanya perempuan sederhana
pada suaminya lelaki dari utara
ya embuh mbokne, jawabnya parau)

Bagaimana mereka tahu
ini daerah bahaya tiga
nilai pembebasan pun
entah benar entah tiada.

Bogor
April, 1994
"Puisi: Radius Bahaya Tiga (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Radius Bahaya Tiga
Karya: Diah Hadaning
Abstraksi Jiwa Murka

Lengan-lengan terpotong berdarah
sepatu larsa berdebu basah sendiri
dan senjata-senjata tak bertuan menangisi
induk lambing asal muasalnya
trauma panjang tak berkesudahan
menggilas bintang di langit hatimukah
hingga kegelapan tak terenyahkan
sementara matahari tetap bersaksi
seribu hening menebar di guguran bunga mahoni
balutkan pada luka jiwa murka
langit ruang merdeka
bagi jiwamu yang kembara.

Mendut
Maret, 1995
"Puisi: Abstraksi Jiwa Murka (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Abstraksi Jiwa Murka
Karya: Diah Hadaning
Kesaksian Seorang Istri Veteran

Sepanjang musim tak pernah berubah 
suaranya itu matanya itu
pekik rajawali
kilau matahari
keduanya kekayaan langit.

Dia lelaki hati mimis
dari bui ke bui tak habis-habis
jenawi dan senapan sahabatnya
pernah musuh jadi ilalang olehnya
jangan ubah dia punya hati
cintanya satu hanya
tanah raya yang merdeka
dia lelaki kuda sembrani
jiwanya angin sabana dari tenggara.

Mastodon-mastodon jadi fosil di nafasnya
pengkhianat jadi reptil di suaranya 
pendosa jadi berhala di sentuhnya
dia ada di mana-mana dalam sosok lelaki
tabah, tak pernah sangsi kebenaran sejarah.

Bogor, 1995
"Puisi: Kesaksian Seorang Istri Veteran (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Kesaksian Seorang Istri Veteran
Karya: Diah Hadaning
Berlayar Sepanjang Pantai
Berpikir tentang Kemerdekaan

Sebuah tumbal paling mahal 
bagi bendera di angkasa hari ini
adalah air mata tak pernah sudah
iringi kepergian tanpa kembali
saat mimis iris dada tipis seorang lelaki
sementara orang-orang tak beriman
diam-diam lakukan transaksi pengkhianatan
kini kueja kembali makna kemerdekaan
di antara ladang bunga
dan kampung-kampung gusuran
anak siapa menangisi air matanya
telah jadi genangan bekas galian
: mari berlayar sepanjang pantai tanah air
akan kau mengerti kemerdekaan yang lain
angin berhembus di sauh kepucatan
ombak sentuh kakimu yang berjuntaian
lalu kau berseru ke arah matahari
seleret burung melintas tinggi
kebebasan yang hakiki milikmu
sementara perahu kita terus melaju.

: Jangan kembali ke daratan, pintamu
aku akan terperangkap dan menangis lagi
aku mengerti, ibumu laut bapamu langit
dan kita kuik elang sisa peradaban.

Bogor, 1995
"Puisi: Berlayar Sepanjang Pantai (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Berlayar Sepanjang Pantai
Karya: Diah Hadaning
Pesan Bapa Sebelum Pergi Berjuang

Jangan sampai engkau 'henti
menabur benih di tanah perdikan
jika melangkah pantang kembali
Jangan sampai engkau terlena
hari tinggi masih berdawai
jaga jiwa jangan lunglai.

Bapa, bapa, aku berjanji
kata-katamu bunga melati.

Jangan sampai engkau resah
jadi saksi kebenaran sejarah
tatap langit penuh gairah
Jangan sampai engkau mundur
nanti bisa jadi jamur
aku ingin engkau jadi anggur.

Bogor, 1995
"Puisi: Pesan Bapa Sebelum Pergi Berjuang (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Pesan Bapa Sebelum Pergi Berjuang
Karya: Diah Hadaning
Saat Menghitung Biji Tanjung

Aku datang ke istana purbamu
bawa bunga dalam eksplorasi warna
mencoba menarikan mimpiku
menghela langkah menjadi jangkah
menuju altarmu pemilik segala purba.

Dalam kidung ada gema suwung
saat kuterima biji tanjung
hitunglah karena engkau telah kuberi
katamu dalam sandi
aku mulai menghitung dari kata siji.

Sebuah gapura maya
menghela bayangmu sirna
aku semakin cepat menghitung
memanggilmu lewat mantra 
pagi kutemukan biji tanjung di pangkuan.

Kuta, 1996
"Puisi: Saat Menghitung Biji Tanjung (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Saat Menghitung Biji Tanjung
Karya: Diah Hadaning
Sketsa

Batu dan pohon
burung dan ternak
sketsa senja
kota lama
Yogya mengapung
menyapu mendung
perempuan pejalan kurun
mengeja dengan bahasanya sendiri.

Kali Code barangkali masih simpan
bayangmu dalam embanan
hamper tiga windu lalu
pohon duri di bantaran
telah jadi sketsa di awan
garisnya kutambah lagi
engkau yang ingin jadi lelaki
sementara bara membakar dunia
tak reda oleh tembang cinta
angin gemetar
rindu kepak kelelawar.

Yogya
November, 1997
"Puisi: Sketsa (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sketsa
Karya: Diah Hadaning
Menyimak Layar Kaca

I
Layar kaca terus nyala
suaranya berdentang-dentang
layar kaca terus nyala
mengusung hingar-bingar.

Di luar layar terus menggila
ada yang membanjir
di luar layar terus 'nggelombang
ada yang anyir.

Siapa menyimak buku tua
ramalan sang jaya baya
siapa segera berkata
nyata awalnya gara-gara.

Layar kaca terus mengerang
layar kaca terus berdentang
bikin kaki ingin menendang
bikin tangan ingin melayang.

II
Orang-orang 
haus berita baru
orang-orang
melahap koran-koran
pagi siang sore malam.

Orang-orang
haus gambar baru
orang-orang
mengunyah layar kaca
fajar ke senja.

Orang-orang lapar bicara:
Luar biasa!
Yang mana?
Penjarahan itu!
Itu kan dosa?
Itu kan adil!
Ah... masa?
Kalau yang dijarah kaya banget
kalau yang dijarah arogan banget
kalau yang dijarah kikir banget
kalau yang dijarah oportunis banget
jadi bikin gemes banget!
jadi begitu syaratnya?

Juli, 1998
"Puisi: Menyimak Layar Kaca (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Menyimak Layar Kaca
Karya: Diah Hadaning
Episoda Kala

Kalamakara
di gapura-gapura
menanti yang alpa
penebus karma.

Carilah jalan putih
kata orang bijak bertasbih
hanya yang terkasih
dari bencana tersisih.

Gabah ditampi
zamannya onggo-inggi.

Perseteruan itu
harus diselesaikan
di antara warna rancangan
di antara kibar lambang
di antara lambai tangan
kembali angka akan bicara
salah satu pasti berhala
mintalah janji Tuhan
yang berhala dijauhkan.

Desember, 1998
"Puisi: Episoda Kala (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Episoda Kala
Karya: Diah Hadaning
Merapi dalam Gemercik Sungai Jiwa

Mengusung sendiri tanpa henti
harapan-harapan anak manusia
di musim perbatasan
antara sirnanya Sang Kalabendu
dan hadirnya Sang Kalasuba
doa purba
menyesaki dada yang gambang
menyesaki kepala yang padang perburuan
tembang purba menandai peta
mozaik dan bapang tak lagi maya.

Candi putih simpan asih bersaksi
bunga doaku bagi Andika
kupetik dari taman nurani
jagad aroma meniskala
saat seekor ular kecil meluncur
di wajah kolam, kutangkap isyaratnya
jejaknya di air hasratku tak pernah cair
gemercik sungai jiwaku yang berdesir
sentuh panggilan itu
tuntas pemberian itu
mengapung dalam air Merapi
menyatu dalam regukku
awali lengkap langkahku.

Lereng Merapi
April, 2000
"Puisi: Merapi dalam Gemercik Sungai Jiwa (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Merapi dalam Gemercik Sungai Jiwa
Karya: Diah Hadaning
Merapi Menyatunya Jagad Alit dan Jagad Agung

Datang jauh oleh panggil-Mu
getar jiwa oleh asih-Mu
teduh rasa oleh sapa-Mu
yang kucari Kau tunjukkan
yang kutanya Kau jawabkan
yang kuhitung Kau lengkapkan
yang kuimpi Kau nyatakan
menyatunya jagad alit jagad agung
di perdikan semesta melembayung
tembang sukma bergaung.

Jalan mendaki
pendakian mimpi-mimpiku
tarian sakral
sakralnya doa-doaku
rembulan sempurna di puncak malam
di langit wingit lereng giri
rembulan pernah dijanjikan
wanodya mulia di tahun silam
jadi penerang berjalan malam
mereguk tuntas
segelas kasih sayang purba
leluhur di lereng giri
retak bertaut duka sirna.

Lereng Merapi
April, 2000
"Puisi: Merapi Menyatunya Jagad Alit dan Jagad Agung (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Merapi Menyatunya Jagad Alit dan Jagad Agung
Karya: Diah Hadaning
Bahasa Warna

I
Menyimak warna
merah hitam
berkelebatan
di tanah jauh
antara rerawa
dan tanah puso
antara puing bencana
dan berita radio
di kawasan timur
antara jamur dan jamur
antara mimpi 
dan angka umur
ada doa dalam warna bunga
ruwat tangis anak negari
seperti yang
Andika kehendaki
alam bersaksi.

II
Warna-warna berkelebat
mengusap
air mata yang diruwat
amuk di laut amuk di darat
bapa, betapa berat
tapi langkah tak harus henti.

Windu-windu telah menumpuk
menjadi tugu prasasti
orang masih menunggu
tumpasnya sang kalabendu
orang masih berikrar
meski tanah rengkah
kota terbelah
ada warna hijau hitam merah
orang kukuhkan sumpah
segala jadi menyakitkan
saat ajaran purba
senilai kulit lokan.

Blitar
Juni, 2000
"Puisi: Bahasa Warna (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Bahasa Warna
Karya: Diah Hadaning
Setitik Keringat

Setitik keringat
tetes dari sendi umurku
mengusung garam yang selama ini telah bikin kehidupan
kelewat asin
mencari saudara-saudaranya
di lautan
aku tak ingin tahu
apa yang mereka bicarakan
barangkali saja
mereka membasuh
rembulan dan matahari.

Februari, 2003
"Puisi: Setitik Keringat (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Setitik Keringat
Karya: Diah Hadaning
Catatan yang Berbeda

Catatan para pengurus:
Bendera-bendera sudah dipasang
spanduk-spanduk sudah dipancang
amplop-amplop sudah dipagi
kaos dan sembako tak sisa lagi
hanya honor petugas belum diberi.

Catatan para pemilih:
Suara-suara sudah dijual
selagi ada yang membeli
nasihat didengar apa salahnya
mereka beri kita terima
tidak harus pilih lambangnya.

Hari kelima bagai luka bernanah
para tokoh marah pengamat marah
wong gede wong cilik marah
harapan besar yang bermasalah
seorang urban bersandar di kekumuhan
semua gila dalam peradaban gila
gulung saja Tuhan, bagai jagad sonyaruri
sebelum malam ditinggal purbani
dengar doaku, Tuhan
selagi doa belum terkena gusuran.

Bogor
April, 2004
"Puisi: Catatan yang Berbeda (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan yang Berbeda
Karya: Diah Hadaning
Lelaki Tua dan Lambang-Lambang

Berdiri diam di antara orang-orang
mengusung harapan
mendekap kenangan
1955 yang lama silam
lelaki tua menata nyalang
kotak-kotak di meja panjang
mencoba renungi satu-satu
nasihat semalam jelang jam tujuh.

Untuk masa depan
jangan sampai lakukan kesalahan
punggungnya ditepuk saying
lalu terima amplop dan bungkusan
lelaki tua mengangguk-angguk
senyumnya lepas mereka tangguk
pagi ini lain sekali
saat buka lembar kertas penuh lambing
warna-warna beraneka beterbangan
seiring raibnya nasihat semalam
Gusti, Gusti, kenapa gambar ini?
Lelaki tua berdiri menggigil
lambing-lambang porak-poranda
bertemperasan berubah bentuk
garuda perkasa dan si Bung pujaan jiwa.


Bogor
April, 2004
"Puisi: Lelaki Tua dan Lambang-Lambang (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Lelaki Tua dan Lambang-Lambang
Karya: Diah Hadaning
Kelanjutan Sebuah Narasi II

Seseorang angkat pedang
Tumbal berjatuhan di seberang jalan kenangan
Sebuah fragmen terenggut dari tabirnya
Rembulan gerhana dan purnama bergantian
Matahari mencari narasi sendiri
Narasi baru telah diambil bocah-bocah masa depan
Dilipat-lipat jadi perahu impian
Diapungkan di sungai air mata
Mereka terus bermain dalam gelar semesta
Meraih-raih mega menghela-hela rasa
Sampai akhirnya matahari padam
Hilang terang hilang bayang
Yang tersisa hanya gema selawatan
Dalam hitam.

Cimanggis
September, 2004
"Puisi: Kelanjutan Sebuah Narasi II (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Kelanjutan Sebuah Narasi II
Karya: Diah Hadaning
Madura, Akulah Darahmu

Di atasmu, bongkahan batu yang bisu
tidur merangkum nyala dan tumbuh berbunga doa
biar berguling di atas duri hati tak kan luka
meski mengeram di dalam nyeri cinta tak akan layu
dan aku
anak sulung yang sekaligus anak bungsumu
kini kembali ke dalam rahimmu, dan tahulah
bahwa aku sapi karapan
yang lahir dari senyum dan air matamu.

Seusap debu hinggaplah, setetes embun hinggaplah,
sebasah madu hinggaplah
menanggung biru langit moyangku, menanggung karat
emas semesta, menanggung parau sekarat tujuh benua.

Di sini
perkenankan aku berseru:
-- Madura, engkaulah tangisku.

Bila musim labuh hujan tak turun
kubasahi kau dengan denyutku
bila dadamu kerontang
kubajak kau dengan tanduk logamku
di atas bukit garam
kunyalakan otakku
lantaran aku adalah sapi kerapan
yang menetas dari senyum dan air matamu.

Aku lari mengejar ombak aku terbang memeluk bulan
dan memetik bintang gemintang
di ranting-ranting roh nenek-moyangku.

Di ubun langit 'ku ucapkan sumpah:
-- Madura, akulah darahmu.

1980
"Puisi: Madura, Akulah Darahmu (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Madura, Akulah Darahmu
Karya: D. Zawawi Imron
Tamu

Pohon siwalan melambai kabut
karena angin tak mungkin memanggil senja
dan siang
tak seteduh lagu seruling itu,

yang masih hanya ayun kembang buncis
di penghujung kokok ayam terhamparlah laut
oi, ada perahu melempar sauh
membongkar muatan bunga-bunga subuh.

1976
"Puisi: Tamu (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Tamu
Karya: D. Zawawi Imron
Padang Katelong

Bergoyang kuda putih
gempita padang katelong
Bergerak satria putih
mayat-mayat bergelimpangan.

Kebowaju agul-agul tanah seberang
mekar alisnya bagai duri
kumis sebelah sekepal tangan
Mengamuklah si celeng hitam
mandi keringai air cabai
Di pusat ladang
mereka bertemu dalam nyala
runtasan dengan runtasan
Kelopak langit memuntahkan asap kemenyan
mengaburkan wajah siang
Keris satria putih terjatuh
Aduh, direbut oleh musuh
ditikamkan ke dada yang punya
Semburat darah putih
Tubuh rebah mencium bumi
Karena bumi adalah ibu.

Ketika musuh akan memenggal lehernya
malaikat tak tega menyaksikannya
Satria putih lenyap entah ke mana
Ke manakah ia dibawa?
Sari podak harum menembah rimba.

"Puisi: Padang Katelong (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Padang Katelong
Karya: D. Zawawi Imron
Kolam

Kutunjukkan padamu sebuah kolam
hai, jangan tergesa engkau menyelam!
Di situ sedang mekar setangkai kata
yang para pendeta tak tahu maknanya.

Dari manakah seekor capung yang biru itu?
Ia datang tanpa salam dan pergi tanpa pamitan
tapi ekornya
jelas menuding pusat keheningan.

Ketika langit jadi gulita
senandung malam makin mendasar
dari kolam itu tumbuh keikhlasan
mengajarkan sujud yang paling tunjam.

1979 
"Puisi: Kolam (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Kolam
Karya: D. Zawawi Imron
Ketemu Juga Akhirnya

Kucari sosok tubuhmu
pada bias sukma di langit
meski langit tak mungkin secantik kenangan.

Nyatanya kau termangu di tikung sungai
merenungi percakapan daging dan tulang.

Ketemu juga akhirnya
bayang-bayang yang akan kekal
terkatung pada ranting penyesalan.

Kalau besok kubangun bendungan di sungai hijau
maka air harus mengalir
menyusul roh-roh yang belum pulang.

1979
"Puisi: Ketemu Juga Akhirnya (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Ketemu Juga Akhirnya
Karya: D. Zawawi Imron
"Betina"-nya Affandi

Betina, jika di barat nanti
menjadi gelap
turut tenggelam sama sekali
juga yang mengendap,
di mukamu tinggal bermain Hidup dan Mati.

Matamu menentang - sebentar dulu! -
Kau tidak gamang, hidup kau sintuh, kau cumbu,
sekarang senja gosong, tinggal abu…
Dalam tubuhmu ramping masih berkejaran
Perempuan dan Laki.
 
1946
"Puisi: "Betina"-nya Affandi (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: "Betina"-nya Affandi
Karya: Chairil Anwar
Mabuk...
Ditayangan ombak bujang bersela
dijunjung hulu rapuh semata
dikipasi angin bergurau senda
lupakan kelana akan dirinya ...

Dimabukkan harum pecah terberai
diulikkan bujuk rangkai-rinangkai
datanglah semua mengungkai simpai
hatimu bujang sekali bisai.

Bulan mengintai di celah awan
bersemayam senyum sayu-sendu
teja undur perlahan-lahan
mukanya merah mengandung malu.

Rumput rendah rangkum-rinangkum
tibun embun turun ke rumpun
lembah-lembah menjunjung harum
mendatangkan khayal bujang mencium.

Melur sekaki dibuaikan sepoi
dalam cahaya rupa melambai
pelik bunga membawaku ragu
layu kupetik bunga gemalai.

Bunga setangkai gemelai permai
dalam tanganku jatuh terserah
kelopak ku pandang sari kunilai
datanglah jemu mengatakan sudah ...

Bulan berbuni di balik awan
taram-temaram cendera cahaya
teja lari ke dalam lautan
tinggallah aku tiada berpelita.

"Puisi: Mabuk... (Karya Amir Hamzah)"
Puisi: Mabuk...
Karya: Amir Hamzah
Barangkali
Engkau yang lena dalam hatiku
akasa swarga nipis-tipis
yang besar terangkum dunia
kecil terlindung alis.

Ku junjung di atas hulu
ku puji di pucuk lidah
ku pangku di lengan lagu
ku daduhkan di selendang dendang.

Bangkit gunung
buka mata mutiaramu
sentuh kecapi firdausi
dengan jarimu menirus halus.

Biar siuman dewi-nyanyi
gambuh asmara lurus lampai
lemah ramping melidah api
halus harum mengasap keramat.

Mari menari dara asmara
biar terdengar swara swarna
barangkali mati di pantai hati
gelombang kenang membanting diri.

"Puisi: Barangkali (Karya Amir Hamzah)"
Puisi: Barangkali
Karya: Amir Hamzah
Subuh

Kalau subuh kedengaran tabuh
semua sepi sunyi sekali
bulan seorang tertawa terang
bintang mutiara bermain cahaya.

Terjaga aku tersentak duduk
terdengar irama panggilan jaya
naik gembira meremang roma
terlihat panji terkibar di muka.

Seketika teralpa;
masuk bisik hembusan setan
meredakan darah debur gemuruh
menjatuhkan kelopak mata terbuka.

Terbaring badanku tiada berkuasa
tertutup mataku berat semata
terbuka layar gelanggang angan
terulik hatiku di dalam kelam.

Tetapi hatiku, hatiku kecil
tiada terlayang di awang dendang
menangis ia bersuara seni
ibakan panji tiada terdiri.
"Puisi: Subuh (Karya Amir Hamzah)"
Puisi: Subuh
Karya: Amir Hamzah
Bambu Jepang


Tahun lalu di halaman 'ku tanam bambu serumpun
Sekarang tumbuh dalam hatiku daunnya merimbun.
 
  
"Puisi: Bambu Jepang (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Bambu Jepang
Karya: Ajip Rosidi
Bulan


Cuma bulan mampu mencium hatiku
Bulan yang biru.

Cuma perempuan yang bakal 'ngerti dukaku
Perempuan yang rindu.
 
  
1956
"Puisi: Bulan (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Bulan
Karya: Ajip Rosidi
Pantun Dari Kyoto


Kyoto kota seribu jinja
Tujuan orang berwisata
menonton Matsuri sepanjang hari;
Hidup sejahtera di dunia
Tanpa engkau tidak bermakna
Seperti terbuang ke lorong sunyi.

Dalam istana peninggalan Shogun
Taman luas pohon pun rindang
Benteng dan parit di sekelilingnya;
Mencari engkau bertahun-tahun
Tiada henti malam dan siang
Namun engkau tetap rahasia

Benteng dan parit mengelilingi
Menjaga dari serangan musuh
Meski jumlahnya beratus ribu;
Hidup terasa tak punya arti
Karena engkau terlalu jauh
Entah dimana aku tak tahu.
 

***
Jinja: Bangunan suci penganut Sinto, seperti gerej abagi orang kristen
Matsuri: Festival
Shogun: Panglima militer penguasa sebenarnya di Jepang ketika Kaisar (Tenno) hanya sebagai lambang 
"Puisi: Pantun Dari Kyoto (Karya Ajip Rosidi)"
Pantun Dari Kyoto
Karya: Ajip Rosidi
Pantun Bulan Purnama


Di atas Mino bulan purnama
Langit bersih terang sekali;
Menyebut nama memuja nama
Hanya engkau di dalam hati.

Bulan purnama meskipun terang
Kalah oleh cahaya lilin;
Kasihku hanya engkau seorang
Tak nanti ada yang lain.

Bulan Purnama di atas bukit
Cahaya menerangi kebun bambu;
Tanpa engkau hidup jadi pahit
Segala yang lain hanyalah batu.

Bulan purnama bulan perbani
Bulan gerhana kentongan dipalu;
Baru hidupku mengandung arti
Bila denganmu aku bertemu.
 
   
"Puisi: Pantun Bulan Purnama (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Pantun Bulan Purnama
Karya: Ajip Rosidi
Pantun Burung Pipit


Burung pipit terbang melayang
turun minum di dalam paya
paya dinaung pohon kelapa;
Terasa sempit hidupku sekarang
engkau tinggalkan tak berdaya
meraba-raba hilang cahaya.

Burung bangau pulang ke sarang
pohon asam di atas atap
ditunggu anak sudah dahaga;
Hanya engkau pemberi terang
bagi hidupku dalam gelap
agar selamat dari neraka.

Batang kelapa sangat tinggi
beruk meloncat sekali jadi
buah menimpa pedagang sayur;
Aku mengharap kau kasihani
hati menangis tiada henti
sia-sia ingin kau tegur.
 
   
"Puisi: Pantun Burung Pipit (Karya Ajip Rosidi)"
Pantun Burung Pipit
Karya: Ajip Rosidi