Madura, Akulah Darahmu

Di atasmu, bongkahan batu yang bisu
tidur merangkum nyala dan tumbuh berbunga doa
biar berguling di atas duri hati tak kan luka
meski mengeram di dalam nyeri cinta tak akan layu
dan aku
anak sulung yang sekaligus anak bungsumu
kini kembali ke dalam rahimmu, dan tahulah
bahwa aku sapi karapan
yang lahir dari senyum dan air matamu.

Seusap debu hinggaplah, setetes embun hinggaplah,
sebasah madu hinggaplah
menanggung biru langit moyangku, menanggung karat
emas semesta, menanggung parau sekarat tujuh benua.

Di sini
perkenankan aku berseru:
-- Madura, engkaulah tangisku.

Bila musim labuh hujan tak turun
kubasahi kau dengan denyutku
bila dadamu kerontang
kubajak kau dengan tanduk logamku
di atas bukit garam
kunyalakan otakku
lantaran aku adalah sapi kerapan
yang menetas dari senyum dan air matamu.

Aku lari mengejar ombak aku terbang memeluk bulan
dan memetik bintang gemintang
di ranting-ranting roh nenek-moyangku.

Di ubun langit 'ku ucapkan sumpah:
-- Madura, akulah darahmu.

1980
"Puisi: Madura, Akulah Darahmu (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Madura, Akulah Darahmu
Karya: D. Zawawi Imron

Post a Comment

loading...
 
Top