Radius Bahaya Tiga

Petinggi datang siang-siang
pendampingnya garang
berkata, entah benar entah tiada
: wahai wargaku yang bahagia
(bahagia itu macam apa mak?
tanya bocah telanjang dada
pada perempuan sederhana
ya embuh le! Jawabnya pelan)

: kalian kan pada rela?
Jika dibangun istana teknologi
di hamparan gunung tua ini
ya, ini pengorbanan tanpa pamrih
untuk banyak orang
untuk bukan diri sendiri!
(jadi tak termasuk kita pakne?
tanya perempuan sederhana
pada suaminya lelaki dari utara
ya embuh mbokne, jawabnya parau)

Bagaimana mereka tahu
ini daerah bahaya tiga
nilai pembebasan pun
entah benar entah tiada.

Bogor
April, 1994
"Puisi: Radius Bahaya Tiga (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Radius Bahaya Tiga
Karya: Diah Hadaning

Post a Comment

loading...
 
Top