Maret 1994
Dalam Kereta Bawah Tanah, Chicago

“Siapakah namamu?” Barangkali aku setengah tertidur waktu
kautanyakan itu lagi. Bangku-bangku yang separo kosong,
beberapa wajah yang seperti mata tombak, dan dari jendela:
siluet di atas dasar hitam. Aku pun tak pernah menjawabmu,
bahkan ketika kautanyakan jam berapa saat kematianku,
sebab kau toh tak pernah ada tatkala aku sepenuhnya terjaga.

Baiklah, hari ini kita namakan saja ia ketakutan, atau apa
sajalah. Di saat lain barangkali ia menjadi milik seorang
pahlawan, atau seorang budak, atau pak guru yang mengajar
anak-anak bernyanyi – tetapi manakah yang lebih deras
denyutnya, jantung manusia atau arloji (yang biasa
menghitung nafas kita), ketika seorang membayangkan
sepucuk pestol teracu ke arahnya? Atau tak usah saja kita
namakan apa-apa; kau pun sibuk mengulang-ulang
pertanyaan yang itu-itu juga,
sementara aku hanya separo terjaga.

Seandainya -

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Dalam Kereta Bawah Tanah, Chicago
Karya: Sapardi Djoko Damono
Çrenggi, Mahapetir Itu

1
Petapa itu tetap diam
ketika bangkai seekor ular
dikalungkan ke lehernya.
“Kau tampak elok sekarang
karena bisu terhadap
semua pertanyaanku,”
kata Maharaja itu.

Petapa itu tetap diam;
dunia masih berputar
pada sumbunya
ketika serombongan anak sekolah
yang tersesat di hutan
menyaksikan adegan itu.

Mereka seperti pernah menyaksikannya
dalam buku komik.

2
Di kota orang-orang
mendengar mahapetir itu.
“Siapkan bunga
dan binatang kurban
sebelum terdengar
suara tong-tong
dari menara
yang tengah dibangun itu!”

Mantra pun menderap
dari delapan penjuru
menyergap kota
yang biru dan bisu.
Doa pun meretas
lalu mengepul, menyesakkan nafas.

3
“Dari mana gerangan, kalian,
Anak-anak?”
Mereka nyengir lalu tertawa
sambil memamerkan
bangkai-bangkai ular
yang di leher melingkar.

Tangis tak mungkin lagi.
Sesal tak mungkin lagi.
Tak ada yang mungkin lagi
barangkali.

Apa pula gerangan
yang masih bisa mangkir
ketika tong-tong
terdengar seperti petir?
Petapa bisu tak berhak
bicara, meski tahu
menara yang dibangun itu
sia-sia, tapi bersyukur
bahwa anak-anak telah bersaksi
di hutan.

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Çrenggi, Mahapetir Itu
Karya: Sapardi Djoko Damono
Tukang Kebun

Setelah beberapa kali ketukan,
pintu kubuka; rupanya ada tamu
yang, katanya, menjemputku sore hari ini.
Apakah aku sudah pernah mengenalnya?

Waktu kutanyakan pergi ke mana,
jawabnya ringkas, “Ke sana, ke samudra raya!”
Ditunjukkannya pula rajah di lengannya:
gambar jangkar, tengkorak, dan kata tak terbaca.

Aku ini tukang kebun tua yang lahir dan dibesarkan
di pedalaman, sepanjang hidup hanya belajar
menghayati rumput, pohon, dan tanah basah,
mengurus pagar dan membersihkan rumah.

Aku tak mampu apa dan bagaimana lagi.
Pandanganku tinggal sejengkal,
dan telingaku? Suaraku sendiri pun tak dikenal.
Tamu itu membelalak ketika kupersilahkan duduk.

Tuhan, aku takut. Tolong tanyakan padanya
siapa gerangan yang telah mengutusnya.

"Puisi: Tukang Kebun (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Tukang Kebun
Karya: Sapardi Djoko Damono
Peristiwa Pagi Tadi
(kepada GM)

Pagi tadi seorang sopir oplet bercerita kepada pesuruh kantor
tentang lelaki yang terlanggar motor waktu menyeberang.

Siang tadi pesuruh kantor bercerita kepada tukang warung
tentang sahabatmu yang terlanggar motor waktu menyeberang,
membentur aspal, lalu beramai-ramai diangkat ke tepi jalan.

Sore tadi tukang warung bercerita kepadamu
tentang aku yang terlanggar motor waktu menyeberang,
membentur aspal, lalu diangkat beramai-ramai ke tepi jalan
dan menunggu setengah jam sebelum dijemput ambulans
dan meninggal sesampai di rumah sakit.

Malam ini kau ingin sekali bercerita padaku tentang peristiwa itu.

1982
"Puisi: Peristiwa Pagi Tadi (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Peristiwa Pagi Tadi
Karya: Sapardi Djoko Damono
Arjuna
(Kepada R. P. Mr. Singgih)

Aku merasa tenaga baru
Memenuhi jiwa dan tubuhku;
Hatiku rindu ke padang Kuru,
Tempat berjuang, perang selalu.

Aku merasa bagai Pamadi,
Setelah mendengar sabda Guru,
Nerendra Krisjna, di ksetra Kuru:
Bernyala ke dewan dalam hati.

Tidak ada yang dapat melintang
Pada jalan menuju maksudku:
Menang berjuang bagi Ratuku

Mahkota nanti di balik bintang
Laksmi letakkan di atas kepalam
Sedang bernyanyi segala dewa.

"Puisi: Arjuna (Karya Sanusi Pane)"
Puisi: Arjuna
Karya: Sanusi Pane
Malam Ini Aku Akan Tidur di Matamu
(untuk lukisan Jeihan)

Di kota-kata masih ada mata yang hening pandang.
Mata-waktu, mata-sunyi: memanggil, menelan. 
Seperti gua yang menyimpan hangat di dalam.
Ceruk cinta yang haus warna. Ceruk perempuan.

Malam ini aku akan tidur di matamu.

2004
"Puisi: Malam Ini Aku Akan Tidur di Matamu (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Malam Ini Aku Akan Tidur di Matamu
Karya: Joko Pinurbo
Keranda

Ranjang meminta kembali tubuh
yang pernah dilahirkan dan diasuhnya
dengan sepenuh cinta.

"Semoga anakku yang pemberani,
yang jauh merantau ke negeri-negeri igauan,
menemukan jalan untuk pulang;
pun jika aku sudah lapuk dan karatan."

Tapi tubuh sudah begitu jauh mengembara.
Kalaupun sesekali datang, ia datang
hanya untuk menabung luka.

Dan ketika akhirnya pulang
ia sudah mayat tinggal rangka.

Bagai si buta yang renta dan terbata-bata
ia mengetuk-ngetuk pintu: "Ibu!"

Ranjang yang demikian tegar lagi penyabar
memeluknya erat: "Aku rela jadi keranda untukmu."

1996
"Puisi: Keranda (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Keranda
Karya: Joko Pinurbo
Korban

Darah berceceran di atas ranjang.
Jejak-jejak kaki pemburu membawa kami
tersesat di tengah hutan.

Siapakah korban yang telah terbantai
di malam yang begini tenang dan damai?

Terdengar jerit lengking perempuan yang terluka
dan gagak-gagak datang menjemput ajalnya.

Tapi perempuan anggun itu tiba-tiba muncul
dari balik kegelapan
dan dengan angkuh dilemparkannya
bangkai pemburu yang malang.

“Beginilah jika ada yang lancang mengusik
jagad mimpiku yang tenteram.
Hanya aku penguasa di wilayah ranjang.”

1996
"Puisi: Korban (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Korban
Karya: Joko Pinurbo
Durrahman

Mengenakan kemeja dan celana pendek putih,
Durrahman berdiri sendirian di beranda istana.
Dua ekor burung gereja hinggap di atas bahunya,
bercericit dan menari riang.
Senja melangkah tegap, memberinya salam hormat,
kemudian berderap ke dalam matanya yang hangat dan terang.

Di depan mikrofon Durrahman mengucapkan pidato singkatnya:
"Hai umatku tercinta, dalam diriku ada seorang presiden
yang telah kuperintahkan untuk turun tahta
sebab tubuhku terlalu lapang baginya.
Hal-hal yang menyangkut pemberhentiannya
akan kubereskan sekarang juga."

Dua ekor burung gereja menjerit nyaring di atas bahunya.
Durrahman berjalan mundur ke dalam istana.
Dikecupnya telapak tangannya, lalu dilambai-lambaikannya
ke arah ribuan orang yang mengelu-elukannya dari seberang.

Selamat jalan, Gus. Selamat jalan, Dur.
Dalam dirimu ada seorang pujangga yang tak binasa.
Hatimu suaka bagi segala umat yang ingin membangun kembali
puing-puing cinta, ibukota bagi kaum yang teraniaya.
Ketika kami semua ingin jadi presiden,
baju presidenmu sudah lebih dulu kautanggalkan.

2010
"Puisi: Durrahman (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Durrahman
Karya: Joko Pinurbo
Demo

Mengapa ketika sekalian alam
tak sanggup menerima
tugas mengelola bumi
kalian mengajukan diri
tak tahu diri
kini
ketika kalian melibas dan merusak
saling tumpas dan saling gasak
lalu
langit sekalian badai dan petirnya
laut sekalian kerak dan ombaknya
bumi sekalian tanah dan sampahnya
dunia sekalian harta dan bendanya
membantu kalian
mempercepat kehancuran
kalian mengeluh
atau lupa?

2005
"Puisi: Demo (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Demo
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)