loading...

Çrenggi, Mahapetir Itu

1
Petapa itu tetap diam
ketika bangkai seekor ular
dikalungkan ke lehernya.
“Kau tampak elok sekarang
karena bisu terhadap
semua pertanyaanku,”
kata Maharaja itu.

Petapa itu tetap diam;
dunia masih berputar
pada sumbunya
ketika serombongan anak sekolah
yang tersesat di hutan
menyaksikan adegan itu.

Mereka seperti pernah menyaksikannya
dalam buku komik.

2
Di kota orang-orang
mendengar mahapetir itu.
“Siapkan bunga
dan binatang kurban
sebelum terdengar
suara tong-tong
dari menara
yang tengah dibangun itu!”

Mantra pun menderap
dari delapan penjuru
menyergap kota
yang biru dan bisu.
Doa pun meretas
lalu mengepul, menyesakkan nafas.

3
“Dari mana gerangan, kalian,
Anak-anak?”
Mereka nyengir lalu tertawa
sambil memamerkan
bangkai-bangkai ular
yang di leher melingkar.

Tangis tak mungkin lagi.
Sesal tak mungkin lagi.
Tak ada yang mungkin lagi
barangkali.

Apa pula gerangan
yang masih bisa mangkir
ketika tong-tong
terdengar seperti petir?
Petapa bisu tak berhak
bicara, meski tahu
menara yang dibangun itu
sia-sia, tapi bersyukur
bahwa anak-anak telah bersaksi
di hutan.

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Çrenggi, Mahapetir Itu
Karya: Sapardi Djoko Damono

Post a Comment

loading...
 
Top