April 1994
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pertemuan di Danau

Danau putih
sajak pun putih
di Toba tenggelam sepenggal kasih

Sampan telungkup
aku berenang megap-megap
ke tepi
tapi menang apalah
kalau indah hanya seperti buih

Asap mesiu mengantarku ke danau Maninjau
dan kenangan melayah ke duniaku yang hijau
Sungguh, danau tiada lagi putih seremaja dahulu
dan kebahagiaan hanya tergenggam bagi yang tahu

Jip mendaki dan menyusur danau Sentani
Kota Baru meraih jauh, kami berlari-lari
betapa pun becermin rimbun daun dan akar berjuntai
kemenangan yang remaja, padamu juga hari-tua melambai

Sampai aku di danau paling utara
Tondano, dukamu tak bisa kulupa
Para lelaki tak pulang, entah mengapa aku terkenang
pahlawan kebahagiaan mati di tanah buangan: Ali Archam

Dan di sini, diantar perjuangan yang sedih
danau Batur, kubu dari lahar dan abu menyembur
Para turis kagum berpura sedih
tapi rakyat itu dengan tangannya yang perkasa
Jalan bergandengan dan bernyanyi
meski mengantar mayat ke kubur.


Kintamani
26 April 1964
"Agam Wispi"
Puisi: Pertemuan di Danau
Karya: Agam Wispi
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kota-Kota dalam Tas Koper

Di jendela kereta, ombak bergerak di jendela kereta, seperti tangan waktu yang datang dari Selatan di jendela kereta. Berjalan bersama padi-padi hijau, buih putih di jendela kereta. Tas-tas berjejer dalam kereta, masing-masing menyimpan sebuah kota. Di jendela kereta. Terkunci. Petak-petak garam membuat warna putih dari punggungmu di jendela kereta. Tubuh yang lebih dekat dengan dirinya, suara kereta dan senja di jendela kereta. Aku menciuminya seperti bunga-bunga kopi yang datang dari sebuah pagi di jendela kereta.

Satu jam lagi, Semarang akan datang padaku, seperti kota abad 18 dalam pelukanmu. Tapi masih ada flu di hidungku, yang datang dari kipas angin dalam kereta itu. Soda susu, nasi rawon, dan lontong opor ayam. Sebelum kau terbangun, anak-anak berlarian membuat tawa dari mimpimu. Titik-titik hujan di jendela kereta, membuat lagi kota yang lain, sepanjang ciuman yang membuat tubuhmu bening seperti toples air.

Di luar jendela kereta, pohon-pohon berjalan di luar jendela kereta, bersama langit di luar jendela kereta, kawanan itik di luar jendela kereta, perahu-perahu nelayan di luar jendela kereta, seperti pusaran yang seluruhnya bergerak di dasar tubuhmu. Dan waktu adalah bayi-bayi tanpa ibu.

Satu jam lagi, pagi ini, laut akan datang, mulai menyentuh kaki-kaki kota. Hidup menjadi lebih panjang. Kota, laut, daratan yang bertemu seperti anak-anak yang mengambil sebutir permen dari tasmu. Aih, kenapa di luar juga ada ibu 80 yang datang, membawa pisang dan piring-piring tua. Dia bilang, “aku adalah waktu”. Halaman masa kanak-kanak yang mulai berwarna kecoklat-coklatan, jendela-jendela dari bentangan sawah. Telpon dari bekas kekasih, dan deretan hutan pinus yang masih menyisir kesedihan dari alis mataku. Lalu hujan turun, seperti pelukan yang tak henti-henti membangun kotanya sendiri.

1998
"Afrizal Malna"
Puisi: Kota-Kota dalam Tas Koper
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Lembu yang Berjalan


Aku bersalaman
Burung berita telah terbang 
memeluk sayapnya sendiri
Kota telah pergi jauh sampai ke senja.

Aku bersalaman
Matahari yang bukan lagi pusat,
waktu yang bukan lagi hitungan.

Angin telah pergi,
tidak lagi ucapkan kotamu,
tak lagi ucapkan namamu.

Aku bersalaman
Mengecup pesawat TV sendiri...
tak ada lagi, berita manusia.

1984
"Afrizal Malna"
Puisi: Lembu yang Berjalan
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
My Melancholy Blues

(1)
Aku masih berlayar mengikuti tarikan angin
Menembus rahasia senja. Bukan ke muara
Perjalananku menuju dan tidak juga pada hatimu
Telah kususuri seluruh sungai dan segenap laut
Kureguk dalam mabuk. Seribu sajak kemudian lahir
Menciptakan genangan-genangan airmata:
Langkahku semakin jauh dan terlunta

(2)
Maka akan kupertegas jarak kita:
Lupakan kemurnian yang dibangun seribu doa
Cinta tercipta dari kejatuhan dan berujung pada lubang
Yang sama. Basuhlah mukamu dengan sisa airmataku
Atau sembunyilah di balik sajak-sajakku yang gelap
Dunia sedang bergerak menanggalkan bajunya kelam
Senja memadat dan malam mengeras seperti batu

(3)
Baiklah, aku akan bersujud sebelum fajar tiba
Tapi bukan tobat dari kesalahan yang tak terelakan
Suaraku masih terselip di antara debur gelombang
Dan jika langit masih menyimpan matahari
Atas nama kejujuran dan kebohongan yang purba
Bakarlah sajak-sajakku dan lupakan aku:
Cahaya pagi akan muncul dari kebenaran waktu.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: My Melancholy Blues
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Solitude

Dekat gelombang yang terus mengucapkan namamu
Aku lupa jejak bulan yang dulu menerangi jalanku
Seribu tombak melesat dari obor-obor nelayan
Kunang-kunang berebut membakarku di sudut malam
Dan aku yang tak percaya kata-katanya, hanya terpejam

Paling sunyi mungkin cahaya yang bersahutan itu
Seperti suara yang dikirimkan dari gua-gua
Berkilauan mengoleskan pisau pada jantungku
Ketika kucoba sekali lagi menyebut namamu, pelan-pelan
Aku tenggelam oleh tikaman lembut dini hari

Batu-batu yang bertapa sepanjang sungai di nadimu
Seperti menemukan negeri baru dalam kesepianku
Subuh telah mengkhatamkan ayat-ayat kelamnya
Bintang-bintang terbujur sudah bersama pagi
Dan aku yang tak menyeru siapa-siapa, biarkan sendiri.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Solitude
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sungai Pasig
(Buat Flerida Ann M. Puzon)

Dalam kobaran musim panas
Sungai pun cokelat
Oleh khianat. Perahu-perahu besi
Memintas tanpa janji

Tapi pertemuan terjadi
Di sela tembakan matahari
Seperti menyentuh luka dulu
Kemiskinan nasib kita masing-masing

Maka berlangsunglah sejarah
Seperti sungai mengalirkan sampah
Kita pun hanyut bagai kotoran
Terapung bagai waktu

Dalam kobaran sunyi
Kita minum khianat
Masing-masing. Sambil terus berenang
Menempuh kecemasan.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Sungai Pasig
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Aku Menangis Bersama Rumput

Aku menangis bersama rumput
Kelahiranku ditandai butiran embun
Serta gerimis yang memandikanku
Kemudian angin mengasuhku di balik gunung
Agar berbicara atas nama kesunyian

Bersama itik aku menghitung hari-hari
Bersama batu menghayati dingin dan kediaman
Langkahku melata seperti keong
Suaraku merindukan cakrawala
Menyeru langit yang biru

Aku minum dari getah waktu
Mendung menimbunku agar bermimpi
Udara mengajariku membaca
Aku paham buku musim dan cuaca
Bahasaku sungai yang mengalir ke muara

Bersama lumut aku semadi
Bersama riak air menari-nari
Sujudku matahari yang tersungkur
Kekhusyukanku bulan yang membumbung
Menggapai puncak diri.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Aku Menangis Bersama Rumput
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Zebra

Di tepi sungai sekawan zebra sedang minum air segar
Mereka kehausan karena habis mengembara di hutan belukar
Zebra itu badannya seperti kuda, tapi kulitnya belang-belang
Memang mereka keluarga kuda, cuma lebih kecil badannya

Kawanan zebra itu tidak buas, malahan sifatnya pemalu
Dan kalau sedang takut, larinya kencang bukan kepalang
Sampai enam puluh kilometer sejam larinya laju
Biasanya berkawan-kawan, lari tunggang-langgang

Di belakang pepohonan dan rumput tinggi mereka sembunyi
Karena kulit yang belang-belang, maka mereka tak kelihatan
Oleh singa atau harimau lapar yang sedang mencari
Dan kalau bau mereka tak tercium, maka selamatlah zebra sekawanan

Zebra itu pendengarannya tajam sekali
Dia bisa mendengar suara yang jauh jaraknya
Juga penciumannya kuat membaui
Hewan buas yang sedang mencari mangsanya

Afrika adalah benua kampung halaman mereka
Tetapi hewan ini makin kurang jumlahnya
Karena padang rerumputan liar makin berkurang di sana
Sayang bukan, karena zebra si belang-belang ini amat cantiknya.


"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Zebra
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kelinci

Kelinci, kelinci, bulumu putih bersih sekali
Kamu melompat lincah ke sana dan ke sini
Kelinci, kelinci, matamu itu lucu sekali
Mengerdip-ngerdip sehingga saya jadi gemas sendiri

Kelinciku, kelinciku, aku sayang betul padamu
Aku pelihara kamu di kandang peti yang bersih
Aku beri kamu rumput dan jagung kegemaranmu
Tentu tak lupa pula air minum yang jernih

Senang betul hati saya melihat kamu makan lahap begitu
Habiskanlah makanamu supaya kita bisa main bersama-sama
Senang betul hati saya melihat ekormu yang mungil itu
Dan telingamu panjang, bergerak-gerak ke belakang dan ke muka

Lompat-lompat ke sana
Lompat-lompat ke sini

Hai adik, jangan ditarik pantatnya begitu kalau memangku
Tangan kiri memangku dan tangan kanan ditengkuknya
Begitu caranya supaya dia sehat selalu
Dan kita bisa main-main dengan gembira

Lompat-lompat ke sana
Lompat-lompat ke sini

Kelinciku, kelinciku, aku sayang betul padamu
Aku pelihara kamu di kandang peti yang bersih
Aku beri kamu dedak dan ubi kegemaranmu
Tentu tak lupa pula air minum yang jernih.


"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Kelinci
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu

Ketika rumah-rumahmu diruntuhkan bulldozer dengan suara gemuruh
menderu, serasa pasir dan batu bata dinding kamar tidurku
bertebaran di pekaranganku, meneteskan peluh merah dan
mengepulkan debu yang berdarah.

Ketika luasan perkebunan jerukmu dan pepohonan apelmu dilipat-lipat
sebesar saputangan lalu di Tel Aviv dimasukkan dalam fail lemari
kantor agraria, serasa kebun kelapa dan pohon manggaku di kawasan
khatulistiwa, yang dirampas mereka.

Ketika kiblat pertama mereka gerek dan keroaki bagai kelakuan reptilia bawah
tanah dan sepatu sepatu serdadu menginjaki tumpuan kening kita
semua, serasa runtuh lantai papan surau tempat aku waktu kecil
belajar tajwid Al-Qur'an 40 tahun silam, di bawahnya ada kolam ikan
yang air gunungnya bening kebiru-biruan kini ditetesi

air
mataku,

Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu...

Ketika anak-anak kecil di Gaza belasan tahun  bilangan umur mereka,
menjawab laras baja dengan timpukan batu cuma, lalu dipatahi
pergelangan tangan dan lengannya, siapakah yang tak menjerit serasa
anak-anak kami Indonesia jua yang dizalimi mereka – tapi saksikan
tulang muda mereka yang patah akan bertaut dan mengulurkan
rantai amat panjangnya, pembelit leher lawan mereka, penyeret
tubuh si zalim ke neraka.

Ketika kusimak puisi-puisi Fadwa Tuqan, Samir Al-Qassem, Harun Hashim
Rashid, Jabra Ibrahim Jabra, Nizar Qabbani dan seterusnya yang
dibacakan di Pusat Kesenian Jakarta, jantung kami semua berdegup
dua kali lebih gencar lalu tersayat oleh sembilu bambu deritamu,
darah kamipun memancar ke atas lalu meneteskan guratan kaligrafi

‘Allahu Akbar!’

dan
‘Bebaskan Palestina!’
Ketika pabrik tak bernama 1000 ton sepekan memproduksi dusta,
menebarkannya ke media cetak dan elektronika, mengoyaki
tenda-tenda pengungsi di padang pasir belantara,
membangkangi resolusi-resolusi majelis terhormat di dunia,
membantai di Shabra dan Shatila, mengintai Yasser Arafat,
Ahmad Yassin dan semua pejuang negeri anda, aku pun
berseru pada khatib dan imam shalat Jumat sedunia: doakan
kolektif dengan kuat seluruh dan setiap pejuang yang
menapak jalan-Nya, yang ditembaki dan kini dalam penjara,
lalu dengan kukuh kita bacalah

‘La quwwatta illa bi-Llah!’

Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu
Tanahku jauh, bila diukur kilometernya, beribu-ribu
Tapi azan Masjidil Aqsha yang merdu
Serasa terngiang-ngian di telingaku.

1989
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mimbar

Dari mimbar ini telah dibicarakan
Pikiran-pikiran dunia
Suara-suara kebebasan
Tanpa ketakutan

Dari mimbar ini diputar lagi
Sejarah kemanusiaan
Perkembangan teknologi
Tanpa ketakutan

Di kampus ini
Telah dipahatkan
Kemerdekaan

Segala despot dan tiran
Tidak dapat merobohkan
Mimbar kami.

1966
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Mimbar
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
06:30

Di pusat Harmoni
Pada papan adpertensi
(Arloji Castell)
Tertulis begini : “Dunia Kini
Membutuhkan Waktu Yang Tepat”

Di belakangnya langit pagi
Tembok sungai dan kawat berduri
Pengawalan berjaga. Di istana

Arloji Castell
Berkata pada setiap yang lewat
“Dunia Kini
Membutuhkan Waktu Yang Tepat”.


"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: 06:30
Karya: Taufiq Ismail