Mei 1994
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dornasia, Negeri Seribu Janji

Namaku Dorna
Aku lahir di negeri yang indah dan ramah
Negeri jarang terjamah, jauh dari rasa gundah
Sungai-sungai mengalir lirih
Kicau burung pagi menyambut mentari
Membangunkan wajah negeri dari mimpi
Menyambut hari tanpa menjual harga diri.

Namaku Dorna
Mirip nama tokoh pewayangan
Berjalan pada sepertiga malam terakhir
Mengayun takdir hingga titik nadir
Dorna yang penjagal nasib baik
Dorna sang penghasut lalu hilang dibalik kabut
Menyisakan tangis sampai maut menjemput.

Dan inilah awal kisah manis itu…

“Aku datang membawa kelam malam
Ke negeri yang penuh muslihat
Miskin akal sehat, gudang kaum melarat
Anak-anak telanjang dada bermain di pematang
Para perempuan meregang mimpi menahan lapar
Hujan datang menghantam setumpuk kedinginan”

“Kutemui perempuan menggamit putri mungilnya 
Wajah bening, berbibir kecil, menggantung senyum ketidakmengertian.
Berlari menelusuri pematang dengan langkah meradang.
Putri mungilnya pun menangis
Menahan gerimis, tipis menusuk nadi”

“Ibu… 
Kenapa aku dilahirkan di negeri seperti ini?
Kenapa aku dilahirkan disini…?
Ketika semua tidak bisa kumengerti
Negeri yang membuat ibu susah
Negeri yang membuat ibu lelah”

“Ibu… 
Dimana senyum yang kurindukan?
Dimana canda nyaman yang kuimpikan?
Dimana makanan kecil yang selalu ada di meja makan?
Dimana peluk yang tersedia setiap malam?” 
Sang ibu membingkai senyum
Mengurai asa digaris senja
Menjawab tanya sesuai doa
Ibu dan putri mungilnya itupun melangkah pelan
Sepelan gerimis mengalir ringan.

Aku Dorna,
Sebenarnya tak sanggup meneruskan cerita ini
Cerita yang tak seindah dongeng
Atau semanis nyanyian pengantar tidur
Tentang negeri impian yang dipenuhi bunga
Dan senyum kebahagiaan.

“Putri kecilku…
Kutak minta kau dilahirkan disini
Kutak minta kau meregang lapar disini
Kutak minta kau kehilangan harapan di negeri ini”

“Lihatlah! 
Mereka sibuk mendongeng sendiri
Membakar ketulusan, membungkam keikhlasan
Di negeri ini, kita belajar menjual harga diri
Menyobek martabat, menggandeng segudang laknat”

“Dan Putri kecilku… 
Kita bagian dongeng itu
Legenda yang tidak mampu dimengerti
Legenda cinta penuh muslihat
Kalimat busuk terhidang dalam perjamuan suci”

Negeri ini semakin compang-camping saja
Negeri ini semakin liar!
Doa dan dosa menjadi muslihat yang keramat
Rakyat menjadi korban tanpa tobat
Pejabat mengumbar tingkah bejat
Kebaikan adalah dosa besar!
Ketulusan haram hukumnya.

Aku Dorna,
Dan kuberi nama negeri ini; Dornasia!
Kelak anak-cucuku akan mengenang kenyamanan menyiksa ini
Dornasia, negeri mimpi yang dipenuhi janji
Ya! Sekedar janji!

“Ibu…
Meski bergelimang janji
Aku bangga lahir di negeri ini
Negeri yang penuh muslihat
Dan perilaku sulit dimengerti

Aku bangga disini 
Meski harus melacurkan hati
Menjual diri demi sesuap mimpi.

Lihat mereka! 
Bangga tanpa kata-kata, itulah seharusnya
Tuhan mengajariku doa;
Suatu saat kelak, rapuh mimpiku mengubah mereka
Lemah jemariku menggandeng siapa saja
Kembali menjejak pada kebenaran”

Aku berjanji, 
'Pabila dewasa nanti, kuubah negeri ini
Menjadi negeri penuh harga diri
Tegak diatas mimpi bangsa sendiri
Tersenyum menggenggam budaya tinggi
Kaya diatas tanah air pribumi

Aku berjanji, 
Menyapu bersih teras dan ruang tamu
Dari muslihat gaya baru
Menyeka meja-kursi dari debu masa lalu
Mengguyur baju-baju dari noda saudara-saudara tuaku.

Ibu, aku berjanji 
Negeri ini akan bening
Rakyat akan hening
Jika penguasa bijak tanpa berpaling"

Dornasia Raya! 
Berparas cantik, bermata lentik
Meski cuma sedetik.

Dornasia! Tanah airku, Tanah tumpah darahku
Di sanalah aku berdiri, jadi beban bangsaku...

Ya! Cuma berdiri tanpa berbuat apapun!
Akulah Dorna
Maaf, jika ibu dan anak itu, akhirnya...
Menjual diri di negeri sendiri
Merampok milik sendiri
Membunuh kerabat sehati

Dornasia!
Negeri seribu janji
Membentang tepat di khatulistiwa peradaban.


Jombang
4 Maret 2010
"Cucuk Espe"
PuisiDornasia, Negeri Seribu Janji
Karya: Cucuk Espe

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Obsesi Futurista

Manusia masa depan berdiri tegak di layar
Komputerku. Di tangan kanannya jaringan internet
Di tangan kirinya hutan lebat menghijau
Rambutnya mengkilat tanpa shampo
Giginya kristal-kristal cahaya, mata kanannya
Radar, kirinya antena parabola, otaknya Einstein
Hatinya Sunan Kalijaga. Ia simpan kitab kuning
Dalam disket, filsafat di saku baju
Sejarah ia lipat dalam sepatu.

Manusia masa depan mencipta badai dengan
Tuts piano, mencipta gelombang dalam lagu sangsai
Mencipta hutan di kota-kota beton dan baja, ombak
Laut ia tampung dalam katub jantungku. Manusia masa depan
Tak takut kehilangan kursi dalam syairmu
Manusia masa depan membangun sejarahnya sendiri
Yang merdeka dari rencanamu hari ini.

1989
"Ahmadun Yosi Herfanda"
Puisi: Obsesi Futurista
Karya: Ahmadun Yosi Herfanda
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Memoriam Peziarahan
(Pemakaman Kaliwungu)

Salam padamu, bapak-simbok, kakek-nenek
buyut-biyungku. Telah lama kalian tidur
tanpa degup dan gairah hati. Sendiri
doa bagimu tanpa bunga tujuh warna
bakti bagimu tanpa kepulan asap dupa
ziarahku dalam sederhana
sebelum diziarahi anak cucu.

Pohon semboja kutanam
tumbuh subur penuh bunga
ialah saksi waktu dan usia
yang menipis di mulut batara kala
ialah pertanda kesuburan cinta
tertanam abadi di hati kita.

Takzim padamu, penghuni misteri
penunggu akhir tanpa mimpi.

1981
"Ahmadun Yosi Herfanda"
Puisi: Memoriam Peziarahan
Karya: Ahmadun Yosi Herfanda
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dinding Amarah

Sisa panas siang naik dari ladang
angin darat menating dan menebar
di atas deru ombak dan lenguh lumba-lumba.

Tanpa atap. Tanpa dinding. Di tengah
instalasi reruntuk bombardir dini hari
Azan subuh bagai jamaah yang tersesat.

Tersaruk mencari ceruk. Sisa mihrab buat
mengeluh. "berapa kilo lagi," katanya,
"berapa hari lagi untuk tiba di Jerusalem ...?"

Kami tak punya apa-apa. Hanya amarah
yang dihidangkan dengan tangan kosong
yang akan dihidangkan dengan tangan kosong.

"Puisi Beni Setia"
Puisi: Dinding Amarah
Karya: Beni Setia
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Babibubabubabibli

Lemak babi jelas haram
karena berasal dari babi.
Tapi:
Bagaimana dengan babi lemak?

Sang cu pat-kay
yang memakan apa saja
dan setiap saat ingin makan
sehingga tubuhnya berlemak?

Dan bagaimana dengan si tidak berlemak
tapi terus memakan apa saja di mana saja
dan dengan merenggut apa
yang tersedia di tangan
anak-anak rakyat si duafa?


"Puisi Beni Setia"
Puisi: Babibubabubabibli
Karya: Beni Setia
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Airmata Hujan

Jangan bidikkan aku, ronta 
Bedil sambil menggigil. Diam!
Bentak Tangan. 
Aku harus meledakkan anak-anak itu.
Tapi mereka masih belia! 
Lihatlah senyumnya yang muda
dan mereka tidak meminta selain kesejahteraanmu juga.
Bukankah engkau sering mengumpati gaji yang tak cukup
nafas hidup yang sempit, hingga harus berderap kian-kemari
mengutip sesuap nasi.

Jangan bidikkan aku, raung Bedil. Diam!
Ini bukan persoalan pribadi, hardik Tangan.
Ini masalah politik. Satu dua nyawa
sebagai taktik. Tapi ini bukan soal angka,
bukan soal satu dua
tapi soal ibu meratap kehilangan,
soal dimusnahkannya satu kehidupan
soal masa depan manusia yang dibekam. Soal hak ...
Tutup mulutmu barang dinas! Kamu hanya alat

dan jangan berpendapat. Itu urusan politisi di majelis sana.
Tapi mereka hanya bahagia! Sergah bedil.
Mereka tak pernah peduli padamu, pada mereka,
pada yang miskin dan teraniaya.
Mereka tak mengurusi siapa-siapa
selain dirinya. Dor! Bedil itu tersentak. Jangan ...
Dor ... dor ... dor ... dor...  Selesai  sudah

gumam Tangan. Bukankah ini sudah berlebihan, isak Bedil.
Entahlah, gumam Tangan, aku tak tahu. Aku penat.
Aku hanya ingin istirahat. Semoga istri
dan anak-anakku di rumah sana
semuanya selamat.

Bedil itupun menjelma hujan. Tak putus-putusnya
mencurahkan airmata.


"Agus R. Sarjono"
Puisi: Airmata Hujan
Karya: Agus R. Sarjono