Juli 1994
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Wolofeo O Wolofeo

(I)
Wolofeo O Wolofeo
bukit kemiri menari-nari
ke pangkuanmu O Wolofeo
pepohonan meniupkan desir sejuk setiap hari
air membasuh kaki tebing menyanyi tiada henti
bagai aliran enerjivital di dalam meridian
menyambut kasih-Mu.

Wolofeo O Wolofeo
bukit kemiri menari-nari
gendang ditabuh angin
berdesau di puncak bukit kemiri
O Wolofeo
seruling satwa menandai pergantian musim
bergayut di dahan-dahan bukit kemiri, O Wolofeo.

Jangan sebut angin, tubuhku berputar-putar
nyeri pada hati, O Wolofeo
keringat dingin meleleh diusap matari
O bukit kemiri, jangan kirimkan angin
batang ubijalar tercerabut dari bundanya
dan kami merayap berlindung di kaki kasih-Mu
Tuhanku, jangan lagi Engkau semburkan angin.

(II)
Jika kau tanya di mana Wolofeo
di dalam peta ia tak tampak, tidak ada titik
Wolofeo
Jika kau tanya di mana rakyat tertimbun
kemiskinan, o Wolofeo
jengkal tanah kelompok nafas tidak tergapai
tangan, o Wolofeo
Orang bilang itu Wolofeo, tersembul di peta
kemiskinan,

O Wolofeo.

(III)
Wolofeo, O wolofeo
seperti semut kami meniti bibir bukit
dari puncak ke lembah membasuh kaki telapak
kepanasan.

Punggung telah bungkuk memikul biji kemiri
sepanjang hari
sampai bersua nasi atau ubi

Orang dataran rendah seperti Paga
bilang kami orang gunung, O Wolofeo bukit kemiri
pelayan yang tidak layak tulis baca
tetap dikurung di bawah tempurung
biar kami orang Wolofeo tetap seperti kerbau.

(IV)
Di lembah Wolofeo
di pangkuan bukit kemiri
koor gereja menghidupkan pagi
meniupkan nafas ke sanubari
api unggun desir hangat
mempertemukan anak gembala dalam kerabat
Wolofeo O Wolofeo
bukit kemiri menari-nari.

Flores, 1996
"Puisi Putu Oka Sukanta"
PuisiWolofeo O Wolofeo
Karya: Putu Oka Sukanta

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Boogie Woogie
(untuk Umar Kayam)

Di Broadway, hanya di Broadway
langit bisa menggirangkan diri
dengan merah, semu merah,
merah Mao, merah Marilyn Monroe,
meski di setiap sudut surai salju
mengintai hendak memberkati
ungu magnolia musim semi,
hitam legam seragam polisi,
kuning taksi dan sepatu Armani,
kuning kunang-kunang tak tahu diri.
Tapi di Broadway, hanya di Broadway
sungguh merah tak pernah sampai
ke surga, betapapun ia meninggi
melampaui puncak menara tertinggi,
menjinjing jantung paling murni,
jantung tercuci kuas Balladan Boccioni.
Di Broadway, hanya di Broadway
merah terkalung tenang ke leherku
(leher kadal gandrung Ragajampi)
sebelum memecah memanjang
seperti akanan, ketika gelombang
jingga memecah pasukan pemadam api,
kelabu membajak lidah para padri,
hijau terampas dari mata Lorca dan Marti.
Tapi di Broadway, hanya di Broadway
langit seperti berbentuk huruf Y
sebelum si lelaki rapi dari Amsterdam,
lelaki lencir kelam seperti daun pandan
(kuhapus namanya di sakuku: Mondriaan)
membentangkan putih, putih semata,
putih seluas sabana senjakala,
dan membariskan tujuh juta noktah
ke atasnya, tegak lurus silang-bersilang
seperti tujuh puluh salib tanpa pokok,
seperti simpang semua jalan New York,
noktah kuning kelabu biru merah,
kuning kunang-kunang tahu diri,
kelabu kaus kaki Januari,
biru dahi kereta bawah tanah,
merah tabah seperti duka nyonya
sebab terlalu lama ia bersandiwara
di Broadway, hanya di Broadway.

2007
"Puisi Nirwan Dewanto"
PuisiBoogie Woogie
Karya: Nirwan Dewanto

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kain Sigli

Kain Sigli, kain jahitan bundaku -
kukenakan jika aku pergi ke dunia.
Kain dengan raut laut dan benua -
milikmu jua jika kauingat namaku.

Kain Sigli, kain yang meninggi segera
jika serdadu melintas di depan pintu.
Kain bundaku, kain yang bisa luka
jika kitabmu membeku di Meureudu.

Noda darah membuat kain Sigli dahaga?
Lalu kaucuci kainku dengan airmata?
Kain ini akan tumbuh jika aku mati -
Kain bundaku akan seluas negeri.

Tanamlah benang ke kain Sigli
demi baju pertama untuk anakmu.
Peliharalah tangan bunda kami
agar kain kami seterang jantungmu.

Kain yang memelukku sepanjang gempa -
kain yang sabar seperti kulit kapulaga -
kini hanya sebentar bernama, kain Sigli
akan kujahit berulang dari balik matahari.

2005
"Puisi Nirwan Dewanto"
PuisiKain Sigli
Karya: Nirwan Dewanto

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Jakarta

Berjuta kenangan terbantai setiap hari di sini
tak guna mencari hari-hari silam
kawan lama pun tak juga jumpa.

"Puisi Medy Loekito"
PuisiJakarta (IV)
Karya: Medy Loekito

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Peristiwa di Suratkabar

Seperti sehelai tenunan,
peristiwa demi peristiwa tersulam rapi
seseorang muncul dari kabin
menodongkan pistol dan granat: membajak pesawat
Seperti sehelai tenunan,
peristiwa demi peristiwa teranyam rapi
tubuhku ditemukan di kakus apartemen: 
seseorang menikamku persis di ulu hati
aku terkapar, usus terburai ke mana-mana

Seperti sehelai tenunan
peristiwa demi peristiwa tersulam rapi
kapal kami bocor di lambungnya
seisi penumpang terjungkal karam
berenangan di makan ikan-ikan
Lalu gempa menggoyang
Lalu lumpur menyembur
Listrik mati, lampu padam
Lalu negeri kami jadi bubur

Ribuan lubang jahitan tak tercatat
Semua  tergantung seperti benang dan jarum
tanpa bentuk,  tidak kasat mata

Seperti sehelai tenunan,
peristiwa demi peristiwa terjalin rapi
kami menggunakannya untuk taplak meja makan
lalu kami memutarinya dengan hidangan.

2009
"Kurniawan Junaedhie"
PuisiPeristiwa di Suratkabar
Karya: Kurniawan Junaedhie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Song for Anna
(Untuk Dara)

Di pantai ini aku berdiri bersamamu. Ombak sedang menjilati pasir dan sejumlah perahu oleng dipermainkan laut. Matahari terbenam di antara jermal, dan wajah cakrawala jadi bengis. Apa yang kamu ketahui tentang semesta? Kita hanyalah sejoli yang ingin bahagia. Sekadar ingin mereguk angin laut sebentar saja. Tapi sebagian besar perasaan datang pergi silih berganti. Hanya engsel pintu rumah yang bisa menebak siapa kita. Terlalu jauh jaraknya memang, antara rumah dengan jermal ini. Orang hanya bisa menerka. Mereka hanya bisa meraba-raba. Seperti kita yang tengah mencoba menduga: adakah matahari yang tenggelam itu akan segera terbit lagi dari ufuk yang sama?

Maret, 2009
"Kurniawan Junaedhie"
Puisi: Song for Anna
Karya: Kurniawan Junaedhie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Keroncong Kebayoran
(Untuk Anny Djati W, Ariana Pegg & Yo Sugianto)

Aku ditinggal oleh perempuan yang suka membaca Sartre dan mendengarkan lagu The Virgin itu. Hatiku somplak. Dunia hancur seperti kaca cermin yang dibanting. Aku patah hati seperti anak kemarin sore. Aku masuk kafe. Dugem. Hidup jadi memble. Alam semesta tertawa. Seperti cangkang kepiting, aku ingin menggigit lehernya.

Aku nyalakan televisi. Aku lihat  seorang presiden dilempar sepatu dan tubuh orang yang terjun dari apartemen terbujur di tanah berdarah-darah. Kulihat juga para penyiar tolol yang suka memotong-motong kata dan mereka-reka berita. Lalu kudengar Indonesia Raya dan suara bendera disobek. Seperti cangkang kepiting, aku ingin menggigit lehernya.

Aku terbang ke Mal di Kebayoran. Bersama Anny,  Yo dan Ariana Pegg minum kopi di Radja Ketjil. Selama ngobrol berkali-kali kami minta asbak diganti. Dan di seberang sana, pesawat televisi menyiarkan gambar presiden sedang marah, penyiar televisi yang suka memotong kata, dan suara bendera disobek. Seperti cangkang kepiting, aku ingin menggigit lehernya.

Sekarang aku ingat masalahku sendiri.

Aku ditinggal oleh perempuan yang suka membaca  Sartre dan mendengarkan lagu The Virgin itu. Hatiku somplak. Dunia hancur seperti kaca cermin yang dibanting. Aku patah hati seperti anak kemarin sore. Aku masuk kafe. Dugem. Hidup jadi memble. Alam semesta tertawa. Maka aku buka mesin fotokopi. Kuletakkan lembaran tubuh perempuan itu  di atasnya. Dan di bagian yang lain, mesin fotokopi itu mengeluarkan tubuh yang lain. Seperti cangkang kepiting, aku ingin membelai lehernya.

14 Desember 2009
"Kurniawan Junaedhie"
PuisiKeroncong Kebayoran
Karya: Kurniawan Junaedhie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Untuk Rita Oetoro

Bintang naik setinggi galah
Kota kenangan terkubur dalam sajak
Hanya bisa kupanggil Dia:
Allah!

2009
"Kurniawan Junaedhie"
PuisiUntuk Rita Oetoro
Karya: Kurniawan Junaedhie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||