Wolofeo O Wolofeo

(I)
Wolofeo O Wolofeo
bukit kemiri menari-nari
ke pangkuanmu O Wolofeo
pepohonan meniupkan desir sejuk setiap hari
air membasuh kaki tebing menyanyi tiada henti
bagai aliran enerjivital di dalam meridian
menyambut kasih-Mu.

Wolofeo O Wolofeo
bukit kemiri menari-nari
gendang ditabuh angin
berdesau di puncak bukit kemiri
O Wolofeo
seruling satwa menandai pergantian musim
bergayut di dahan-dahan bukit kemiri, O Wolofeo.

Jangan sebut angin, tubuhku berputar-putar
nyeri pada hati, O Wolofeo
keringat dingin meleleh diusap matari
O bukit kemiri, jangan kirimkan angin
batang ubijalar tercerabut dari bundanya
dan kami merayap berlindung di kaki kasih-Mu
Tuhanku, jangan lagi Engkau semburkan angin.

(II)
Jika kau tanya di mana Wolofeo
di dalam peta ia tak tampak, tidak ada titik
Wolofeo
Jika kau tanya di mana rakyat tertimbun
kemiskinan, o Wolofeo
jengkal tanah kelompok nafas tidak tergapai
tangan, o Wolofeo
Orang bilang itu Wolofeo, tersembul di peta
kemiskinan,

O Wolofeo.

(III)
Wolofeo, O wolofeo
seperti semut kami meniti bibir bukit
dari puncak ke lembah membasuh kaki telapak
kepanasan.

Punggung telah bungkuk memikul biji kemiri
sepanjang hari
sampai bersua nasi atau ubi

Orang dataran rendah seperti Paga
bilang kami orang gunung, O Wolofeo bukit kemiri
pelayan yang tidak layak tulis baca
tetap dikurung di bawah tempurung
biar kami orang Wolofeo tetap seperti kerbau.

(IV)
Di lembah Wolofeo
di pangkuan bukit kemiri
koor gereja menghidupkan pagi
meniupkan nafas ke sanubari
api unggun desir hangat
mempertemukan anak gembala dalam kerabat
Wolofeo O Wolofeo
bukit kemiri menari-nari.

Flores, 1996
"Puisi Putu Oka Sukanta"
PuisiWolofeo O Wolofeo
Karya: Putu Oka Sukanta

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Post A Comment:

0 comments: