Januari 1995
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Malam yang Susut Kelabu


Malam yang susut kelabu
adakah kau dengar itu, kekasihku
seperti kau dengar sauh
tenggelam dalam dasar yang jauh.

Adakah kau dengar suara
antara langit yang gaib dan gerimis reda
yang dekat berbisik pada kita
dan akan berbisik pada dunia
ketika itu angin telah mati dan dingin akan lalu
ketika itu kumandang hilang dalam diriku.
Tetapi mengapa kita bisa menerkanya, seketika
bahwa Kasih turun merendah, dan kita hanya gema.
 

1964
"Puisi: Malam yang Susut Kelabu (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Malam yang Susut Kelabu
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dalam Tahiat


Dalam tahiat
kulihat wajahmu berkelebat
ke mana gerangan kau berangkat?
berhentilah sesaat
beri aku kesempatan munajat
atau sekedar menatap isyarat
sebelum nafsuku menghentikan salat.
 
  
1415 H
"Puisi: Dalam Tahiat (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Dalam Tahiat
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Negeriku


Mana ada negeri sesubur negeriku?
Sawahnya tak hanya menumbuhkan padi, tebu, dan jagung
tapi juga pabrik, tempat rekreasi, dan gedung
perabot-perabot orang kaya di dunia.

Dan burung-burung indah piaraan mereka
berasal dari hutanku.
Ikan-ikan pilihan yang mereka santap
bermula dari lautku.
Emas dan perak perhiasan mereka
digali dari tambangku.
Air bersih yang mereka minum
bersumber dari keringatku.

Mana ada negeri sekaya negeriku?
Majikan-majikan bangsaku
memiliki buruh-buruh mancanegara
brankas-brankas ternama di mana-mana
menyimpan harta-hartaku.
Negeriku menumbuhkan konglomerat
dan mengikis habis kaum melarat
rata-rata pemimpin negeriku
dan handai taulannya
terkaya di dunia.

Mana ada negeri semakmur negeriku
penganggur-penganggur diberi perumahan
gaji dan pensiun setiap bulan
rakyat-rakyat kecil menyumbang
negara tanpa imbalan
rampok-rampok diberi rekomendasi
dengan kop sakti instansi
maling-maling diberi konsesi
tikus dan kucing
dengan asyik berkolusi.

 
  
1414 H
"Puisi: Negeriku (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Negeriku
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Masjid

Kuseru saja Dia
sehingga datang juga
Kami pun bermuka-muka.
Seterusnya ia bernyala-nyala dalam dada
segala daya memadamkannya.
Bersimpah peluh diri yang tak bisa diperkuda
Ini ruang
gelanggang kami berperang
Binasa-membinasa
satu menista lain gila.

"Puisi: Di Masjid (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Di Masjid
Karya: Chairil Anwar