Februari 1995
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Requiem Bagi Kepompong yang Tak Sempat Bisa Terbang

Di sinikah tepi bagimu, ketika segalanya berubah
abu. tinggal asap. kau tak mampu menyingkapkan tirai
tipis itu. debur laut makin jauh. melongokmu.
di sinikah tepi bagimu?

Mulut-mulut masih bercerita: apa arti kenangan bagi
benang yang tak rampung kaupintal? semua
menyisipkan bunga-bunga pada kata-katanya. masih
kebohongan dan kepalsuan yang melepaskanmu.

Di sinikah tepi bagimu, laut tak memberikan garam.
tapi matahari menyebarkan asing siang yang terik.
keringat-keringat pertentangan. tendang-menendang
kehidupan yang disyahkan. sebuah kota sebelum ajal.
di sinikah tepi bagimu?

Sebuah stasiun bisu. gerbong-gerbong jadi keranda.
bergerit dalam ngilu. kehitaman lokomotif dan dengus
: batuk dalam darah di dadamu! kehidupan inikah
tepi bagimu.

Telegram tak terbaca di mejaku. kado-kado
belasungkawa tak pernah dikirimkan. duka sudah
habis. juga pada toko-toko swalayan. tinggal harapan
pada pantat lalat yang terpeleset kilau keangkuhan lelaki
di belakang loket.

Menontonlah kita di kejauhan!

1992
"Puisi: Requiem Bagi Kepompong yang Tak Sempat Bisa Terbang (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Requiem Bagi Kepompong yang Tak Sempat Bisa Terbang
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Nikah Perkampungan

Dengan sadar, aku kawini rumah-rumah kardus.
tanpa cincin kawin, selain kemiskinan dan
ilmu daur ulang. tanpa perjamuan, selain wabah
dan ilmu tata kota. tanpa nyanyian pengiring,
selain ketergusuran hewan-hewan jelata.

Dengan sadar, aku nikahi dunia yang gelisah.
sambil kuganti doa jadi harapan. kuganti
janji jadi ratapan.

Kunikahi jaman yang sekarat minta susu.
pengantin yang tak pernah kunikahi, tapi
minta menetekku dengan bahasa ketakutan.

1992
"Puisi: Nikah Perkampungan (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Nikah Perkampungan
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Doa Tak Henti

Kuinginkan lautan sunyi dalam hatiku,
Agar aku nikmati gelombang dan katak bergemingan batu karang.
Agar aku nikmati getaran bianglala dan sengatan musim matahari.
Kuinginkan ombak, badai, dan kebuasan ikan-ikan raksasa.
Seorang nelayan: kecil dan jelata!
Kuinginkan cakrawala tak bertepi
- musim panen tak henti-henti.

Kuinginkan perahu-perahu terambing ombak.
Agar aku nikmati kecemasan nelayan.
Kuinginkan lautan luas tak bertepi.
Agar tak sampai kuucapkan amin,
sampai habis kurajutkan robek sampan.
Kuinginkan ....

1992
"Puisi: Doa Tak Henti (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Doa Tak Henti
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Malam

Malam yang tenggelam
bulan yang tenggelam
mimpi yang tenggelam
adakah Kau akan turun
malam ini
mengulurkan tangan putih-Mu
menghapus duka-duka
merangkum doa-doa.

Hitam bayang-bayangmu
hitam air mataku
dan aku meniti
di antara hitam-hitam itu.

Jakarta, 1977
"Puisi: Sajak Malam (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak Malam
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kepada Ulang Tahun

Di kamarku yang putih dan benderang
segala bentuk justru menjadi bayang-bayang
dalam titik, dalam garis, dalam lengkung
yang melingkar pada titian malam
batas antara ratap dan harap
yang aku tak tahu begitu pasti
adakah kemarin lebih bening atau nanti bahkan buram
hanya tadi sempat kucatat
tak ada kembang sama sekali
tak ada basa basi
itu mungkin terlalu kekanak-kanakan untuk hari ini.

Datanglah kau dan setiap sahabatmu
ah, tanpa senyum-senyum dan jabat tangan
mestinya biasa akan lebih terbuka
kita bicara-bicara tentang kota dan desa
kita bicara juga tentang pohon tua di panti wredha
kita sebutir biji yang saling bersemi dari sana
kita sebuah batu yang luput dari bencana.

Di kamarku yang putih dan benderang
seribu cerita hari lalu pengganti ayam panggang
di kamarku yang putih dan benderang
kita mengganti bintang sepanjang malam
dan memutar lagu-lagu yang mengalun dari pita-pita kalbu
kita semua harus setuju
sebelum keluar meninggalkan pintu rumahku.

Jakarta, 1979
"Puisi: Kepada Ulang Tahun (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Kepada Ulang Tahun
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ada Sebuah Ketakutan

Di sebuah pedalaman terdengar doa sederhana
ibu bumi bapa angkasa jagalah kami jua
aki pakukuhan nyai pakukuhan
berikan tambah kekuatan
aki rejasari nyai rejasari
berikan pengayoman
dan tiada lain semua tadi karena kehendak Allah jua .

Hari ini semilir angin menghantar badai
hari ini nyanyi ombak menjadi gemuruh laut
hari ini hijau hutan-hutan tak lagi
tempat burung pulang bersarang
hari ini sawah-sawah tak lagi
tampak menggoda pipit 'tuk singgah
bukan kami tak melihat cahaya gemerlap jauh di kota
atau tak mendengar mesin-mesin besar melagukan
derap kerja membangun segala tercinta di negeri ini
bukan karena berpaling wajah
sebelum menyatu pada debu-debu tanah kelahiran
tapi kami yang jauh dari segala gemerlap itu
kami yang terasing di tanah sendiri
kami yang tak mengenal Kalpnax dan Wrinkle Zero-O
kami yang tak pernah mendengar tentang penetrasi
dan kami yang terasing dari bayangan Ibu Theresa Tua
atau pun segala resep Ibnu Sina
hari ini kami dalam bencana
ketakutan pada bayang diri sendiri!

Jakarta, 1980
"Puisi: Ada Sebuah Ketakutan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Ada Sebuah Ketakutan
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kedung Ombo, Getirmu Saara-Ara

Anak lanang, anak lanang
menangis panjang sepenuh siang
Gusti Pengasih - ternyata kenang
kehilangan berpuluh kandang
mimpi-mimpi indah masa bocah
kudengar tembangnya nada lirih

di antara genangan
tapak-tapak hilang jejak
dosakah mencari makna
lewat silir angin budiman
sementara gebyar cerita Jratunseluna
kudengar lewat berita koran
hari ini jaring langkahku

Anak lanang, anak lanang
pada siapa kau berbincang
sedang angin musim pun
menelan tembang dolanan
saat panggil angin kencang
'tuk terbangkan layang-layang.

Jakarta
Maret, 1989
"Puisi: Kedung Ombo, Getirmu Saara-Ara (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Kedung Ombo, Getirmu Saara-Ara
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Lembah Lontar Ketika Langit Terbakar

Orang-orang dari kaki bukit padas
menelusuri jalan setapak
mencari ladang bunga, tempat peparu
rindu hirup udara dengan aroma
pohon menangisi renggasnya sendiri
lantaran langit hati manusia terbakar
mercik bakar langit sesama
mimpi bayi-bayi dalam palung rahim
sia-sia, dan menangislah penuhi hari
pertama, gaungnya tak lagi melodious
'nyusup mengalir ke lembar lontar
ketika langit tengah terbakar
di balik aneka bendera berkibar
sampai merangsak layar-layar kaca
suara moyangku kini samar
tersisip antara nyanyian bisnis
dan nafas keangkuhan yang amis
sementara langit terbakar
sementara perempuan manja jender
moyangku - datuku - dayangku
benarkah hidup hanya 
imaji yang mekar
dalam khaos umur ke umur.

Jakarta
Nopember, 1990
"Puisi: Lembah Lontar Ketika Langit Terbakar (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Lembah Lontar Ketika Langit Terbakar
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Senandung Air Tanah

Mendengar senandung murung
mengalir di bawah lahan-lahan
hanyut lewati banyak jembatan
ada yang hilang tak terbilang
mengental dalam warna-warna hitam
sungai limbah dan genangan.

: Yang cemerlang hijau kuning
tinggal dalam mimpi anak kota
berupa sketsa-sketsa
padang rumput ladang bunga
arus tenang di muara
burung terbang di angkasa

Mendengar senandung murung
mengalir di bawah jembatan-jembatan
antara Muara Angke dan Kampung Duku
Betawi lama hijau maya tersua
hanya senandung air tanah
hitam-rawa-kutuk zaman
kita mendengar orang-orang berkata
apa yang dapat kita lakukan segera
apa yang dapat kita lakukan lusa.

Jakarta
Desember, 1991
"Puisi: Senandung Air Tanah (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Senandung Air Tanah
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Catatan Tanah Merdeka

Gelisah acara di layar kaca
gelisah jiwa di tanah merdeka
gelisah langkah pencari makna
baur dalam kota terbakar
ini catatan sejarah
mestikah ditulis dengan darah?
Inikah tanyamu
sambil menyepaki angan-angan
anak-anak yang tertawa pada plaza
anak-anak yang marah pada rumahnya
anak-anak yang memanjati menara mimpi
baur dalam kota nanar.
Inikah tanyamu
sambil 'nelan darah di lidah
sementara sejarah diselewengkan
sementara jiwamu terus meradang
mata merah senyum hilang
o, anak lanang cobalah 'nembang
ingat pesan bapakmu di awal perang
pahit getir kemerdekaan
setia dikumandangkan.

Jakarta, 1991
"Puisi: Catatan Tanah Merdeka (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan Tanah Merdeka
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Catatan Parit

Panglima melepas aba
tak di balik parit
prajurit siap siaga
di dalam parit
anak kota perang tersungkur
mendekap parit
sementara berhamburan peluru
bagai turun dari langit
mengkoyak udara kota
mengkoyak punggung anak pejuang
yang lari bertemperasan
menuju parit perlindungan.

Parit
terus digali tangan-tangan sunyi
Parit
terus untuk sembunyi hati-hati sunyi
Parit
terus menyimpan doa-doa sunyi
samar-samar ada pencarian KASIH sunyi
Parit
terus kirimkan ruh-ruh sunyi
Parit
terus sebarkan bau dosa-dosa sunyi
Parit.

Bogor, 1993
"Puisi: Catatan Parit (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan Parit
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Jakarta 94

Jakarta
lampu besar pendar-pendar
senantiasa nyala
undang laron teperdaya
merubuh dan tersabung

Jakarta
kampung besar hingar-bingar
senantiasa terjaga
undang orang-orang terperangkap
meraung dan lumat.

Jakarta
hutan rimba beton baja
senantiasa angkuh
menggiring yang mengeluh
terjajar dan gaduh.

Jakarta
coklat hitam kotak kaca
sarang mimpi-mimpi dunia
sudah penuh punggung luka
tak juga kita meninggalkannya.

Jakarta
kemas ambivalensi anak manusia
pagi lidah berliur caci
malam menjulur leleh cinta
kita masih belum anak kandungnya.

Jakarta, 1994
"Puisi: Jakarta 94 (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Jakarta 94
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Jakarta dan Orang-orang

Mereka datang setiap musim
bunuh ingatan akan jalan setapak
hasrat menyatu lahan industri baru
tak beri kesempatan ikut bersaing
ke kota barangkali bisa
menimba apa saja
mereka terus datang setiap musim.

Di sepanjang kali Manggarai
tawa mereka berderai 
hidup itu sederhana
selagi matahari masih ada
lalu rame-rame bertanam dosa
anak siapa berkeliaran
tanya petugas malam
anak zaman, sahutnya ringan
dihantar angin basah
hilang di tikungan
hilang dari tikungan
barangkali tersuruk
di bawah jembatan layang
barangkali mencari peradaban.

Esok Jakarta kembali membara
esok matahari kembali menyala
esok kehidupan diberi warna
meski tanpa smaradhahana
kelembutan telah menjelma
jadi nada belingsatan.

Jakarta
Agustus, 1994
"Puisi: Jakarta dan Orang-orang (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Jakarta dan Orang-orang
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Usai Peringati Proklamasi Kemerdekaan

I
Senja bendera diturunkan dengan upacara
langit temaram lelampu berpendaran
Jakarta terus berderam
lalu lalang tanpa henti
sementara mulut-mulut terkatup
wajah-wajah tak mudah diterjemahkan
barangkali luput dari tatapan
sesosok jiwa kembara menatap di kejauhan
dia bukan siapa-siapa
yang menghadiri apa-apa
hilang bersama raungan kota-kota peradaban
yang mabok kemerdekaan.

Dia hadir dalam warna hitam saudaranya
tandanya dia dalam cemas dan duka
sementara mulut serukan kata merdeka
dia usung derita peradabannya
namun semua harus terus melangkah
di antara pengkhianat.

Senja bendera diturunkan dengan upacara
matanya buram jiwanya lebam
Jakarta kian berderam.

II
Orang-orang bertemperasan di mana-mana
langkah tersangkut di umbul-umbul
pikiran lepas dari buhul-buhul
orang-orang mabuk kemerdekaan
lupa ajaran hidup benar
jadi rakus dan temaha
memangsa segala
orang-orang makin mabuk, berkeliaran
dalam rimba tercipta di angan sendiri
mereka bicara lupa gramatika
merdeka permainkan norma
mereka buat penafsiran baru
tentang makna kemerdekaan.

Merdeka merebut yang bisa direbut!
(Tuhan, termasukkah air mata kami?)

Merdeka bikin yang baru buang yang lama!
(Tuhan, termasukkah warisan leluhur kami?)

Merdeka sulap hutan beton di kota-kota!
(Tuhan, termasukkah tebang pohonan kami?)

Orang-orang bertemperasan di mana-mana
bendera-bendera di trotoar
belum semuanya habis terjual
cinta negeri ada yang ada yang kental.

III
Antara mimpi tragedi kujejer parodi
sambil menatap langit
menyimpan kibas bendera
nyanyian sukma bangkit
bangun harapan jadi bukit-bukit
kemerdekaan ini, saudaraku
jelma panorama lain sepanjang windu
sepotong ambivalensi
digapit-gapit kontradiksi.

Antara mimpi tragedi kujejer ilusik
kutembangkan dan kutangisi
sementara orang-orang sederhana
sesaat lupa hujan air mata
manakala pasang gapura
menulisi: Negeriku Jaya
kemerdekaan ini, saudaraku
selembar mosaik raksasa
orang-orang riuh percikkan warna.

IV
Menikmati kemerdekaan
seperti melangkah tak berkesudahan
di antara manusia penuh temperamen
sesekali diri tertawa sendiri
sambil menatap arah Timur
puncak Rahtawu lembah Muria
mulai kuratapi diam-diam
saat teknologi lapar gelar cakar
kotaku daerah bahaya tiga.

Menikmati kemerdekaan
seperti menarik langit ke dalam hati
diam-diam kusyairkan
diam-diam kupertanyakan
gunung-gunungku
lembah-lembahku
hutan-hutanku
sungai-sungaiku
bahkan kesetiaan petinggiku.

Bogor, 1994
"Puisi: Usai Peringati Proklamasi Kemerdekaan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Usai Peringati Proklamasi Kemerdekaan
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bunga Sejarah
bagi sang proklamator

Di laut dialah badai
di langit dialah matahari
di tanah merdeka ini
dialah pohon yang akarnya
tak pernah tercabut
dari buminya
kita selalu memilikinya
sejarah telah memberi bunga.

Segala epos, ode, balada sampai elegi
tak sempurna merangkum perjalanan paling indah
karisma, cinta dan cita-cita.

Suaranya masih di udara
menyulut bara di dalam dada
di laut di langit di tanah merdeka ini
dialah segala warna menyatu di bianglala.

Bogor, 1994
"Puisi: Bunga Sejarah (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Bunga Sejarah
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Doa Pertobatan

Dhuh Gusti Sang Maha Asih
mohon ampun dan belas kasih
hamba telah jadi Durna
lupa arah dan segala.

Dhuh Gusti Sang Pemberi Hidup
mohon cahaya hati redup
hamba ini insan pendosa
ciptakan derita bagi sesama.

Dhuh Gusti Sang Maha Murah
mohon petuah jiwa serakah
hamba hanya ngejar nilai dunia
bikin poranda bagi Muria.

Dhuh Gusti Sang Maha Agung
mohon hamba tak terkutuk
di Muria hamba pusing duri
di Muria hamba merasa punya taji.

Bogor
April, 1995
"Puisi: Doa Pertobatan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Doa Pertobatan
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tentang Orang-Orang Cikal Bakal

Cikal bakal Ujung Watu
ya moyangku
bertanya lewat isyarat angina Utara
apa orang-orang tak tahu
indah hidup jika tanpa rasa cemas
mengeram, dalam lubuk jiwa
yang menetaskan bencana.

Cikal bakal Ujung Watu
ya moyangku 
hadir pada malam tanpa kalam
bisikkan naga kepala tujuh
sembunyi dalam rakus manusia
mencacah yang telah pecah
membatukan yang telah batu.

Cikal bakal Ujung Watu
ya moyangku
dalam kesiur angin abad
puja bumi lestari tak kan sirnakanmu
karena mata rantai kehadiran
ujungnya pada satu gapura
sangkan paraning dumadi.

Bogor
Mei, 1995
"Puisi: Tentang Orang-Orang Cikal Bakal (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Tentang Orang-Orang Cikal Bakal
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Jakarta 95

Manakala
bumi mulai buram hijaunya
Manakala
langit mulai buram birunya
Manakala
musim mulai tak menentu.
Penyair
temukan yang hilang itu
di lubuk
hati sendiri.

Manakala
kota merimba beton ke beton
Manakala
bantaran sungai memadat rumah
Manakala
musim mulai berdahak.
Penyair
temukan senyum mentari pagi
di hampar
jiwa sunyi.

Jakarta yang dikejar
Jakarta yang empati ambyar
Jakarta yang janji tak mekar.

Jakarta
Oktober, 1995
"Puisi: Jakarta 95 (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Jakarta 95
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Menyusuri Lorong Kota
Mendengar Bocah Menembang Resah

Suaranya tak jelas di antara 
lengking nyaring penjaja minyak
kaukah itu anak kecil dalam anganku
suaramu mewakili resah zaman
perjalanan masih panjang
mengantar abad dan musim
kubiarkan kaki melepuh
bunga rumput di baju lusuh
barangkali cinta sesiapa akan hadir
di antara bercak merah mentari petang.

Suaranya kian mengambang
kulihat hutan terbakar kembali semi
kulihat sungai berlimbah bening lagi
setiap kupuja engkau Ibu Kemerdekaan
dalam niatan kuciptakan lahan-lahan
agar lembah penuh satwa
agar jiwa penuh taqwa
tapi aku hanya sendiri
di sekelilingku raung gergaji
Ibu kembalikan aku dalam rahimmu

Aku terpana di lorong kota raya
suara anginkah telah menerpa dinding tua
memantul lindap ke lubuk jiwa.

Bogor, 1995
"Puisi: Menyusuri Lorong Kota (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Menyusuri Lorong Kota
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bayi Perempuan dalam Impian itu
Kunamakan Kemerdekaan

Menjadi impian sepanjang musim
adalah sepasang mata bening
seraut wajah tanpa dosa
gerak lembut sarat makna 
hadir dari rahim waktu
yang menyatu dengan rahimku
ketika hari-hari makin menjauh
terbangkan angan-angan dan segala 
melihat luas lahan kehidupan
menyimak padang-padang perburuan
ke gemuruh laut arungan kubawa dia
ke Mendut langit berkabut kubawa dia
dia harus belajar tentang suara
anak manusia yang sarat beban 
dari katarsis ke katarsis
dia kubawa
dari pencarian ke pencarian
dia serta
bayiku menyatu tanpa tangis
karena
dia ruhku, zatku, sepercik ujud
Kuasa-Mu.

Mendut, 1995
"Puisi: Bayi Perempuan dalam Impian itu Kunamakan Kemerdekaan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Bayi Perempuan dalam Impian itu Kunamakan Kemerdekaan
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sebutir Bintang di Langit

Suara-suara malam mengapung
di udara basah
sehabis hujan senja
orang-orang duduk diam
mendengarkan biografi mimpi.

Lembaran kain-kain anyar
warna merah hitam
sembunyikan bersit obsesi
anak manusia sederhana
pemilik hari lusa.

Barangkali malam ini
kota terasa asing
akankah gitar terus dipetik
isyaratkan getar hati
orang-orang yang mencari.

Suara-suara malam memberat
menyapa trotoar
meluncur di celah angin
menjadi sebutir bintang
di langit Serang.

Serang
November, 1997
"Puisi: Sebutir Bintang di Langit (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sebutir Bintang di Langit
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mozaik Juli di Pinggiran

Di halaman sanggar
ada kesenian masih digelar
di antara denyut lapar.

Di halaman berumput
ada yang masih menggigil
jiwanya sedang terpanggil.

Sang dayang menyapa:

Syukur kau sadar
Ya, aku harus abadikannya
Syukur kau setia
Ya, aku sudah mabok derita
Jaga terus kau punya jiwa
Ya, aku wereng jikalau alpa
Jangan sampai dimangsa kala
Ya, aku siagakan angin di dada
Kala kini 'nggegirisi
Ya, aku tak kapok jadi manusia.

O, negeriku hijau
kini mirip kar bakau
tapi cintaku selalu kemilau.

Juli, 1998
"Puisi: Mozaik Juli di Pinggiran (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Mozaik Juli di Pinggiran
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Jakarta dan Kesaksian

Orang-orang menjadi tua
di abad muka
bercerita dengan suka cita
saat listrik mati
rembulan kembali
mastodon jadi fosil
durna menjadi reptil
para pendusta hilang muka
para petinggi hilang nyali
kau dengar kesaksiannya?
Ia hadir di mana-mana
ia ruh abad.

Di celah-celah musim
yang ingkar menjadi jisim
di celah-celah misi
yang ingkar menjadi basi
di celah-celah gelora masa
yang ingkar menjadi lelawa.

Itulah kesaksiannya
ada di malam dan siang
ruh jagad ruh abad.

Juli, 1998
"Puisi: Jakarta dan Kesaksian (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Jakarta dan Kesaksian
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Masih Ada Tembang itu

Dalam badai
suara apa bisa dipercaya
dalam hiruk pikuk kota
bicara siapa bisa dipercaya
reruntuhan belum dibangun kembali
simpan erang abadi
perempuan rahim terbelati.

Dalam badai
telah asing suara diri
dalam galau musim
janji siapa bisa dipatri.

Di celah gedung tinggi
di balik kampung terbakar
masih ada tembang itu
merayapi debu
mencari ruang sunyimu
jika orang jalanan telah tidur
tembang itu melulur.

Desember, 1998
"Puisi: Masih Ada Tembang itu (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Masih Ada Tembang itu
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ziarah

I
Deru mesin pabrik di pinggir makam
getarkan langit Utara
ekspresi kerakusan
landa tanah ketenangan
nyaris tergusur tanah istirah
jalan raya mengapit makam
doa-doa masih ditata
bunga tabur masih ada
selebihnya diam mengapung
pohon-pohon sonokeling
memayungi jalan setapak
ekspresi ketedukan
yang mulai kucemaskan.

II
Senyum yang maya rumput ilalang
membawa serta masa silam
di manakah cinta itu bersarang
di pematang berumput
di angin tak lagi lembut
di nisan batu tiga saudara
atau jauh di dasar rasa.

ziarah hari ini ziarah kecemasan
ziarah hari ini ziarah pemahaman
ziarah hari ini ziarah kepasrahan.

Jepara
April, 2000
"Puisi: Ziarah (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Ziarah
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Episode Mosaik

I
Sesudah episode kabut
di antara mosaik negeri zamrud
lukiskan nuansa
sejuta makna
engkau mencoba mengeja
di antara alif ba ta
di antara ha na ca ra ka.

Kini hadir episoda baru
angka-angka menyapamu
dengan bahasanya sendiri
menghitung langkah dan umur
menghitung mawar dan anggur
di antara satu - dua - tiga
di antara eka - sapta - nawa.

Langkahmu terus berdetak
tinggalkan padang-padang kembara
seiring musim dan desing angin.

II
Langkahmu terus berdetak
bahkan ketika kota terbakar
api telah mulai padam
di gedung agung masih ada yang menggeram
namun Allah Maha Rahman
bagimu dihadirkan-Nya taman
sambutlah Karunia
patrikan Bunga Menara
jadi relief dalam jiwa.

Itulah mahkota kehidupan
kemilau dalam keagungan
nafas taqwamu yang mawar
terus mewangi 
dari subuh ke subuh
dari magrib ke magrib
mengendap gemerlap
mengental bak kristal
memutih jadi tasbih.

Bogor
Juli, 2000
"Puisi: Episode Mosaik (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Episode Mosaik
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Setitik Air

Setitik air
dari ujung lidahku
di lantai berdebu
melebar menerjang pintu
banjir pelataran
jalanan
dan tegalan mengusung ruh
bah
jiwa
penuh jelaga
mencari para pendosa
telah lukai rahim bunda.

Februari, 2003
"Puisi: Setitik Air (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Setitik Air
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Setitik Api

Setitik api di halaman jiwa
penuh ilalang
menyambar langit senja tak bertuan
mencari air di bumi retak
api berderak gemeretak
membakar tulang iga
kuludahi, sang kala menuding murka
kucibiri, sang waktu menghunus pedang
kutabiki, mereka diam.

Februari, 2003
"Puisi: Setitik Api (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Setitik Api
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Membaca Sebuah Fragmen Pengingkaran


I
Rumah-rumah masih berjajar di bayang gunung
kali kecil celah dusun memanggili matahari
siapa datang - anak manusia kain hitam
dia datang - orang jauh bawa tembang
perempuan kain hitam hela langkah panjang
menggiring hasrat jiwa dengan bahasanya sendiri
mencari purnama gunung
tautkan abad dan windu
mereka-reka lorong waktu
dan suara-suara mengepung kaki gunung
: cermati awal sebuah ingkar
lukisan pasir dan janji galir
basuh syairan ilir-ilir.

II
Orang-orang datang siang
mengaku pengusung peradaban
mulai tebar kerakusan
toreh luka di mana-mana
orang tua memandang diam di beranda
pasir gunung menuju kota
lembah menganga simpan seringai berhala
gunung tua dusun tua kidung kuna
janji wingit tepis pengingkaran
dalam pasang surut peradaban
ziarahi leluhurmu bisik halimun
cari rumput gading dan pohon panca bumi
pengingkaran akan diakhiri.


Lereng Merapi
Maret, 2004
"Puisi: Membaca Sebuah Fragmen Pengingkaran (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Membaca Sebuah Fragmen Pengingkaran
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dialog Bukit Kemboja

Inilah ziarah di tengah nisan-nisan tengadah
di bukit serba kemboja. Matahari dan langit lelah.

Seorang nenek, pandangnya tua memuat jarum cemburu
menanyakan, mengapa aku berdoa di kubur itu.

"Aku anak almarhum,"
jawabku dengan suara gelas jatuh
Pipi keriput itu menyimpan bekas sayatan waktu.

"Lewat berpuluh kemarau
telah 'ku bersihkan kubur di depanmu
karena kuanggap kubur anakku."

Hening merangkak lambat bagai langkah siput
Tanpa sebuah sebab senyumnya lalu merekah
seperti puisi mekar pada lembar bunga basah

"Anakku mati di medan laga, dahulu
saat Bung Tomo mengipas bendera dengan takbir
Berita itu kekal jadi sejarah: Surabaya pijar merah
Ketika itu sebuah lagu jadi agung dalam derap
Bahkan pada bercak darah yang hampir lenyap."

Jauh di lembah membias rasa syukur
pada hijau ladang sayur, karena laut bebas debur

"Aku telah lelah mencari kuburnya dari sana ke mana
Tak 'ku temu. Tak ada yang tahu
Sedang aku ingin ziarah, menyampaikan terimakasih
atas gugurnya: mati yang direnungkan melati
Kubur ini memadailah, untuk mewakilinya."

"Tapi ayahku sepi pahlawan
Tutur orang terdekat, saat ia wafat
jasadnya hanya satu tingkat di atas ngengat
Tapi ia tetap ayahku. Tapi ia bukan anakmu."

"Apa salahnya kalau sesekali
kubur ayahmu kujadikan alamat rindu
Dengan ziarah, oleh harum kemboja yang berat gemuruh
dendamku kepada musuh jadi luruh."

Sore berangkat ke dalam remang
ke kelepak kelelawar

"Hormatku padamu, nenek! Karena engkau
menyimpan rahasia wangi tanahku, tolong
beri aku apa saja, kata atau senjata!"

"Aku orang tak bisa memberi
padamu bisaku cuma minta
Jika engkau bambu, jadilah saja bambu runcing
Jangan sembilu,
atau yang membungkuk depan sembilu!"

Kelam mendesak kami berpisah. Di hati tidak
Angin pun tiba dari tenggara
Daun-daun dan bunga ilalang
memperdengarkan gemelan doa
Memacu roh agar aku tak jijik menyeka nanah
pada luka anak-anak desa di bawah
Untuk sebuah hormat
Sebuah cinta yang senapas dengan bendera
Tidak sekadar untuk sebuah palu.

1995
"Puisi: Dialog Bukit Kemboja (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Dialog Bukit Kemboja
Karya: D. Zawawi Imron
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Gumuk Candi

Di sini selembut salam
sesendok garam meresap ke lalap semanggi
ke dalam rempeyek teri
oleh tangan Si Minah perawan sunti
Lantaran gunung biru berbalut kabut
menyimpan seberkas janji.

-- Mbok Randa Dadapan
Ingin 'ku tanyakan kepadamu
letak kolam jernih berpagar rindu
Karena bila ketemu
cundrik di sanggul Sayut Wiwit itu
aku ingin bercermin di sana.

-- Duh, anak dari pulau seberang
Aku mengerti seperti daun semanggi
Di balik tapak sepatumu setahun lalu
kembang kopi gugur jadinya
Bila nanti malam
di paras bulan sehabis gerhana
Kaulihat seorang wanita
menggali kubur di bawah pohon kemadu
Ia sedang mencari bayang-bayangmu.

1976
"Puisi: Di Gumuk Candi (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Di Gumuk Candi
Karya: D. Zawawi Imron
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Padang Kaduwang

Dua utas dodot sutera
diikat kuat tak mungkin lepas
pertanda sehidup semati
gusti dengan kawula.

Gemuruh bunyi senjata
Pukul-memukul tangkis-menangkis
padang Kaduwang adalah padang orang-orang gila
Sorai topan di laut
mengamuk batu-karang
Mata-hati merah kesumba
melihat mayat bertumpang tindih.

Alangkah deras darah
yang mengalir dari jantung-jantung menyala
Segar dada dan segar langkah Pangeran Lor.

Hai, orang seberang,
Jangan hanya mengadu rakyat!
  raja dan menteri jadi penonton
Keris dan tombak di dalam perang
bukan semata barang hiasan.

Ubun jengkerik telah disengat kembang rumput
Gusti Pemecut turun ke gelanggang
baling-baling tombak jadi perisai
Majulah Pangeran Lor
Segagah Brawijaya, setenang Puteri Kamboja
Dua jantan ayam sabungan
berkelebat bagai bayangan
bergilir tebas dengan tangkis.

Walau tombak musuh menembus lambung
Langeran Lor tidak terhuyung
Macan yang lapar
garang dan lahap
dan sempatlah
keris pusaka berpamur janur setangkai
bersinggah di dada musuh.

Maut tanpa suara
Burung gagak terbang ke arah utara
Mengaduh tanah Braji,
Hai, perempuan-perempuan di atas bukit!
      Kabar amis bagimu
      Sediakan daun widara
      dan rautlah kayu cendana!

Dodot: ikat pinggang
"Puisi: Padang Kaduwang (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Padang Kaduwang
Karya: D. Zawawi Imron
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Nagasari
Membuka kulit nagasari
isinya bukan pisang madu
tapi mayat anak gembala
yang berseruling setiap senja.

Membuang kulit nagasari
seorang nakhoda memungutnya
dan merobeknya jadi dua
separuh buat peta
separuh buat bendera kapalnya.
1978
"Puisi: Nagasari (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Nagasari
Karya: D. Zawawi Imron
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Panji di Hadapanku
Kau kibarkan panji di hadapanku.
Hijau jernih di ampu tongkat mutu-mutiara.
Di kananku berjalan, mengiring perlahan,
Ridlamu rata, dua sebaya,
Putih-putih, penuh melimpah, kasih persih.
Gelap-gelap kami berempat, menunggu-nunggu,
Mendengar-dengar, suara sayang, panggilan-panjang,
Jatuh terjatuh, melayang-layang,
Gelap-gelap kami berempat, meminta-minta,
Memohon-mohon, moga terbuka selimut kabut,
Pembungkus halus, nokta utama,
Jika nokta terbuka-raya, jika kabut tersingkap semua
Cahaya ridla mengilau kedalam
Nur rindu memancar keluar.

"Puisi: Panji di Hadapanku (Karya Amir Hamzah)"
Puisi: Panji di Hadapanku
Karya: Amir Hamzah