loading...

Jakarta 94

Jakarta
lampu besar pendar-pendar
senantiasa nyala
undang laron teperdaya
merubuh dan tersabung

Jakarta
kampung besar hingar-bingar
senantiasa terjaga
undang orang-orang terperangkap
meraung dan lumat.

Jakarta
hutan rimba beton baja
senantiasa angkuh
menggiring yang mengeluh
terjajar dan gaduh.

Jakarta
coklat hitam kotak kaca
sarang mimpi-mimpi dunia
sudah penuh punggung luka
tak juga kita meninggalkannya.

Jakarta
kemas ambivalensi anak manusia
pagi lidah berliur caci
malam menjulur leleh cinta
kita masih belum anak kandungnya.

Jakarta, 1994
"Puisi: Jakarta 94 (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Jakarta 94
Karya: Diah Hadaning

Post a Comment

loading...
 
Top