loading...

Usai Peringati Proklamasi Kemerdekaan

I
Senja bendera diturunkan dengan upacara
langit temaram lelampu berpendaran
Jakarta terus berderam
lalu lalang tanpa henti
sementara mulut-mulut terkatup
wajah-wajah tak mudah diterjemahkan
barangkali luput dari tatapan
sesosok jiwa kembara menatap di kejauhan
dia bukan siapa-siapa
yang menghadiri apa-apa
hilang bersama raungan kota-kota peradaban
yang mabok kemerdekaan.

Dia hadir dalam warna hitam saudaranya
tandanya dia dalam cemas dan duka
sementara mulut serukan kata merdeka
dia usung derita peradabannya
namun semua harus terus melangkah
di antara pengkhianat.

Senja bendera diturunkan dengan upacara
matanya buram jiwanya lebam
Jakarta kian berderam.

II
Orang-orang bertemperasan di mana-mana
langkah tersangkut di umbul-umbul
pikiran lepas dari buhul-buhul
orang-orang mabuk kemerdekaan
lupa ajaran hidup benar
jadi rakus dan temaha
memangsa segala
orang-orang makin mabuk, berkeliaran
dalam rimba tercipta di angan sendiri
mereka bicara lupa gramatika
merdeka permainkan norma
mereka buat penafsiran baru
tentang makna kemerdekaan.

Merdeka merebut yang bisa direbut!
(Tuhan, termasukkah air mata kami?)

Merdeka bikin yang baru buang yang lama!
(Tuhan, termasukkah warisan leluhur kami?)

Merdeka sulap hutan beton di kota-kota!
(Tuhan, termasukkah tebang pohonan kami?)

Orang-orang bertemperasan di mana-mana
bendera-bendera di trotoar
belum semuanya habis terjual
cinta negeri ada yang ada yang kental.

III
Antara mimpi tragedi kujejer parodi
sambil menatap langit
menyimpan kibas bendera
nyanyian sukma bangkit
bangun harapan jadi bukit-bukit
kemerdekaan ini, saudaraku
jelma panorama lain sepanjang windu
sepotong ambivalensi
digapit-gapit kontradiksi.

Antara mimpi tragedi kujejer ilusik
kutembangkan dan kutangisi
sementara orang-orang sederhana
sesaat lupa hujan air mata
manakala pasang gapura
menulisi: Negeriku Jaya
kemerdekaan ini, saudaraku
selembar mosaik raksasa
orang-orang riuh percikkan warna.

IV
Menikmati kemerdekaan
seperti melangkah tak berkesudahan
di antara manusia penuh temperamen
sesekali diri tertawa sendiri
sambil menatap arah Timur
puncak Rahtawu lembah Muria
mulai kuratapi diam-diam
saat teknologi lapar gelar cakar
kotaku daerah bahaya tiga.

Menikmati kemerdekaan
seperti menarik langit ke dalam hati
diam-diam kusyairkan
diam-diam kupertanyakan
gunung-gunungku
lembah-lembahku
hutan-hutanku
sungai-sungaiku
bahkan kesetiaan petinggiku.

Bogor, 1994
"Puisi: Usai Peringati Proklamasi Kemerdekaan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Usai Peringati Proklamasi Kemerdekaan
Karya: Diah Hadaning

Post a Comment

loading...
 
Top