Maret 1995
Sonet 11

Terima kasih, kartu pos bergambar yang kaukirim dari Yogya
sudah sampai kemarin. Tapi aku tak pernah mengirim apa pun,
kau tahu itu. Aku sedang kena macet, Jakarta seperti dulu juga
ketika suatu sore buru-buru kau kuantar ke stasiun.

Tapi aku tak sempat menulis apa pun akhir-akhir ini.
Aku suka membayangkan kau kubonceng sepeda sepanjang Lempuyangan
berhenti di warung bakso di seberang kampus yang sudah sepi.
Kau masih seperti dulu rupanya, menyayangiku? Bayangkan
kalau nanti kita ke sana lagi! Di kartu pos itu ada gambar jalan
berkelok, bermuara di sebuah taman tua tempat kita suka nyasar
melukiskan hutan, sawah, kebun buah, dan taman
yang ingin kita lewati: gelas yang tak pernah penuh. Hahaha, dasar!

Aku suka membayangkan kartu pos itu memuat gambarmu,
residu dari berapa juta helaan dan hembusan napasku dulu.

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Sonet 11
Karya: Sapardi Djoko Damono
Ruang Sempit

di sela-sela kemarin dan besok
tersedia ruang sempit buatmu
untuk menganyam batang ilalang
menjadi boneka bayang-bayang

kautinggalkan begitu saja bayang-bayang itu –
tak akan diingat lagi siapa telah menggambar mata
dan meniupkan nyawa
ketika anak-anak memainkannya

di antara kemarin dan besok
tersedia ruang tunggu buatmu –
kau tak perlu tahu lakon apa
yang mereka pergelarkan di seberang sana.

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Ruang Sempit
Karya: Sapardi Djoko Damono
Jakarta Juli 1996

Katamu kemarin telah terjadi
ribut-ribut di sini.
Sisa-sisa pidato, yel, teriakan,
umpatan, rintihan, derum truk,
semprotan air, dan tembakan
masih terekam lirih sekali di got
dan selokan yang mampet.

Aku seperti mengenali suaramu
di sela-ela ribut-ribut yang lirih itu,
tapi sungguh mati aku tak tahu
kau ini sebenarnya sang pemburu
atau hewan yang luka itu.

"Puisi: Jakarta Juli 1996 (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Jakarta Juli 1996
Karya: Sapardi Djoko Damono
Ruang Ini

Kau seolah mengerti: tak ada lubang angin
di ruang terkunci ini.

Seberkas bunga plastik di atas meja,
asbak yang penuh, dan sebuah buku yang terbuka
pada halaman pertama.

Kaucari catatan kaki itu, sia-sia.

"Puisi: Ruang Ini (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Ruang Ini
Karya: Sapardi Djoko Damono
Kepada Krisjna

Aku berdiri sebatang kara,
Tidak berteman, tidak berkawan.
Tangan tertadah ke atas udara.
Jiwa menjerit disayat rawan.

Hatiku kosong, tanganku hampa,
Tidak ada yang sudah tercapai:
Aku bermimpi di dalam tapa.
Mengingat untung termenung lalai.

O, Krisjna tiadakanlah kembali
Titah yang dulu menyuruh daku
Meniup suling di tanah airku.

Biarkan daku sekali lagi.
Jatuh ke dalam jurang gulita,
Supaya lupa, tidak bercita.

"Puisi: Kepada Krisjna (Karya Sanusi Pane)"
Puisi: Kepada Krisjna
Karya: Sanusi Pane
Rumah Sakit

Rumah adalah rumah sakit yang paling nyaman
dan murah, sebab, kalau mau, kau bisa sakit sepuasmu.
Ada perawat seksi yang, meskipun bawel, tak pernah
bosan menemanimu, sangat sabar mengasuh sakitmu
supaya makin kuat dan dewasa dan makin mengasihimu.
Sementara nafasmu terengah-engah dan nyerimu
bertambah parah, enak saja ia bicara, “Hanya orang lemah
yang tak mau sakit.” Bahkan ia suka menantang,
“Kalau mau sakit, jangan setengah-setengah.”

Perawat yang satu ini selalu hadir di setiap sudut rumah.
Di album foto yang banyak bercerita tentang masa kecil
kurang bahagia. Di almarhum kalender yang cuma bisa
meninggalkan sekian banyak rencana. Di ruang tidur
yang penuh dengan insomnia. Di kamar mandi yang saat
kau mandi pintunya tetap kaukunci walau kau cuma
sendirian di rumah -- entah kau takut atau malu pada siapa.
Di robekan celana yang kaujahit malam-malam
sambil tersedu-sedu sehingga kau malah menjahit jarimu.

Bila tak ada lagi obat yang kauanggap mujarab,
dengan lembut dan hangat perawatmu mencium jidatmu:
“Minumlah aku, telanlah aku, makanlah aku.”

2004
"Puisi: Rumah Sakit (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Rumah Sakit
Karya: Joko Pinurbo
Pulang Malam

Kami tiba larut malam.
Ranjang telah terbakar
dan api yang menjalar ke seluruh kamar
belum habis berkobar.

Di atas puing-puing mimpi
dan reruntuhan waktu
tubuh kami hangus dan membangkai
dan api siap melumatnya
menjadi asap dan abu.

Kami sepasang mayat
ingin kekal berpelukan dan tidur damai
dalam dekapan ranjang.

1996
"Puisi: Pulang Malam (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Pulang Malam
Karya: Joko Pinurbo
Jalan Kecantikan

Kau telah menemukan jalanmu:
jalan berliku dan berbatu-batu
menuju mata airmu di celah bukit itu.
Malam meremang-redupkan cahaya.
Sunyi meninabobokan suara.
Kecantikanmu terbuat dari mata
yang tak hangus oleh air mata,
bibir yang mampu mengatasi gincu,
kaki yang lebih kenangan dari sepatu,
hati yang melampaui hati-hati.
Kau kecantikan yang bergerak
di jalan-jalan yang tak ada dalam peta.
Kau kecantikan yang bernyanyi
di hari-hari yang hilang mimpi.
Kau kecantikan yang bangkit dari mati.

2015
"Puisi: Jalan Kecantikan (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Jalan Kecantikan
Karya: Joko Pinurbo
Doa Seorang Pesolek

Tuhan yang cantik,
temani aku yang sedang menyepi
di rimba kosmetik.

Nyalakan lanskap
pada alisku yang gelap.

Ceburkan bulan
ke lubuk mataku yang dalam.

Taburkan hitam
pada rambutku yang suram.

Hangatkan merah
pada bibirku yang resah.

Semoga kecantikanku tak lekas usai
dan cepat luntur seperti pupur.

Semoga masih bisa kunikmati hasrat
yang merambat pelan menghangatkanku

sebelum jari-jari waktu
yang lembut dan nakal
merobek-robek bajuku.
Sebelum Kausenyapkan warna.

Sebelum Kauoleskan lipstik terbaik
ke bibirku yang mati kata.

2009
"Puisi: Doa Seorang Pesolek (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Doa Seorang Pesolek
Karya: Joko Pinurbo
Di Timur

Di timur
di timur
'ku saksikan pemujaan
terhadap reruntuhan peradaban
oleh generasi yatim
yang silau dan panik.

Di barat
'ku saksikan kebiadaban
peradaban terhadap peradaban
oleh generasi lalim
yang gagu dan mekanik.
di mana-mana
kusaksikan manusia
membunuh dirinya
dengan canggihnya.

Semarang-Jakarta
15 Desember 2005
"Puisi: Di Timur (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Di Timur
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)