April 1995
Tinoor

Para lelaki sudah pergi
atau mati
yang kembali ketinggalan hati
di tanah seberang di kota ramai
pulangnya tak berarti

Kami yang meromok tinggal di sini
tak lagi bisa bersedih
dulu dari jaman kompeni
para lelaki sudah pergi
atau mati

Maka minumlah saguer, abang
selagi singgah di sini dan gunung akan didaki
Pandanglah lembah menjemput lautan
sebelum Menado ditinggalkan, mari bersenang
Mari bersenang – walau dilupakan.

Tondano
8 April 1964
"Agam Wispi"
Puisi: Tinoor
Karya: Agam Wispi
Mitos-mitos Kecemasan

Kota kami dijaga mitos-mitos kecemasan. Senjata jadi kenangan tersendiri di hati kami, yang akan kembali membuat cerita, saat-saat kami kesepian. Kami telah belajar membaca dan menulis di situ. Tetapi kami sering mengalami kebutaan, saat merambahi hari-hari gelap gulita. Lalu kami berdoa, seluruh kerbau bergoyang menggetarkan tanah ini. Burung-burung beterbangan memburu langit, mengarak gunung-gunung keliling kota.

Negeri kami menunggu hotel-hotel bergerak membelah waktu, mengucap diri dengan bahasa asing. O, impian yang sedang membagi diri dengan daerah-daerah tak dikenal, siapakah  pengusaha besar yang memborong tanah ini. Kami ingin tahu di mana anak-anak kami dilebur jadi bensin. Jalan-jalan bergetar, membuat kota-kota baru sepanjang hari.

Radio menyampaikan suara-suara ganjil di situ, dari kecemasan menggenang, seperti tak ada, yang bisa disapa lagi esok pagi.

1985
"Afrizal Malna"
Puisi: Mitos-mitos Kecemasan
Karya: Afrizal Malna
Menanti Kelahiran

Hari demi hari
Adalah huruf-huruf yang kembali
Ke haribaan bumi. Jalan panjang yang kutempuh
Bumilah ujung dari semua kata-kataku
Dan puisi, kulihat seperti bintang-bintang
Di pelipis anakku yang akan datang

Hari demi hari, menjadi bulan dan tahun penuh debu
Langit redup di lembar-lembar kertasku
Bagaikan malam yang kehilangan salak anjing
Di sebuah hutan. Hari demi hari
Adalah kekalahan sekaligus kemenangan:
Kuburu puisi ke ujung bumi
Ketika orang-orang tak peduli, ketika orang-orang
Tak percaya ucapan penyair

Kuburu puisi, kuburu sunyi ke ujung paling jauh
Dan cinta terwujud dalam birahi kata-kataku
Buah kegelisahan seratus tahun
Aku melihat bintang-bintang di langit
Aku melihat pelipis anakku yang keemasan
Bintang-bintang menjadi isyarat
Anakku menjadi jawaban. Demikianlah puisi lahir
Ketika orang-orang tak percaya ucapan penyair
Tapi setiap buku yang ditulis ibu
Darahlah tintanya
Dan semua yang diucapkan cinta
Menjadi puisi terindah
Tangisan bayi
Yang membentangkan jalan pulang
Bagi pemburu cahaya

Aku memburu cahaya, sekaligus memuja kegelapan
Hasrat paling akhir dari seorang penyair
Adalah melupakan semuanya. Berdiri di puncak batu karang
Tubuhku dililit bendera warna-warni
Yang dijulurkan lidah cakrawala
Di bawah tumpukan jerami
Di antara kebusukan dan kemurnian kata-kata
Kudengar bunyi serangga
Bagaikan nyanyian
Gelombang-gelombang panjang
Melipat suaraku
Ke dalam sunyi
Dan puisi, kulihat seperti anakku
Yang tengah dilahirkan ibunya ke dunia.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Menanti Kelahiran
Karya: Acep Zamzam Noor
Desember

Pada suatu sore bulan Desember
Aku berdiri di tangga gereja
Ketika lonceng mengumandangkan sunyi
Dan serombongan burung dara
Menjengkal setiap ruang yang tersisa
Di antara patung-patung dan reruntuhan
Lalu semuanya kupahami sebagai perlambang agung
Seperti Isa dengan luka-lukanya yang kekal
Kubalut luka-luka dan kesepianku
Dengan baris-baris sajak

Dulu aku pernah sangat berdosa
Memetik buah kehidupan dari pohonnya di sorga
Tapi itulah dunia yang kemudian tersaji buatku
Aku mabuk dan menggedor-gedor ruang hampa
Sebagai pengembara yang terusir dan kehilangan
Tanah air. Ketika bulan Desember kembali menjumpaiku
Dengan kabut dan gerimisnya yang berhamburan
Aku masih mematung di tangga gereja itu
Kulihat seorang gadis muda menuruni anak-anak tangga
Dan cahaya samar menghijau pada setiap langkahnya

Kini aku terpejam mendengar suara-suara
Dalam kediamanku yang liar
Semak-semak dan rumputan basah di hutan
Bau tanah yang dilepaskan angin ladang
Desah pantai serta dengung serangga rawa-rawa
Semuanya seperti memanggil-manggilku lagi
Tapi aku sudah tersalib, mengeras dan retak-retak
Kurenungi setiap kemegahan dan kehancuran:
Perjalanan sejarah yang tersaruk-saruk
Cawan yang dituangi anggur dan darah

Tapi apakah artinya waktu dan ke mana
Hari-hariku akan pergi setelah ini? Aku merasa tegak
Di tengah puing-puing dan kuburan masa lalu
Aku merasa hidup bersama mayat-mayat dan hantu-hantu
Musim demi musim terus berganti
Seperti bertukarnya hidup dengan mati
Tinggal lonceng yang masih sesekali berdentang
Seekor kuda merah menggeliat di udara dan kulihat di sana
Sebuah sekarat dari kematian yang indah.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Desember
Karya: Acep Zamzam Noor
Zikir

Aku mengapung
Ringan
Meninggi padamu. Bagai kapas menari-nari
Dalam angin

Jumpalitan bagai ikan
Bagai lidah api

Bau busuk mulutku, Anne
Seratus tahun memanggi-manggil
Namamu

Inilah zikirku:
Lelehan aspal kealpanaanku, cairan timah
Kekeliruanku, gemuruh mesin keliaranku
Tumpukan sampah keterpurukanku
Selokan mampat kesia-siaanku

Aku tak tidur padahal ngantuk, tak makan
Padahal lapar, tak minum padahal haus
Tak menangis padahal sedih, tak berobat
Padahal luka, tak bunuh diri
Padahal patah hati

Anne! Anne! Anne!

Zikirku seribu sepi menombakmu
Menembus lapisan langit keheninganmu, mengerat
Gumpalan kabut rahasiamu, mengiris pusaran angin
Kesadaranmu, menghanguskan jarak
Ruang dan waktu

Aku mencair
Bagai air
Mengalir padamu. Bagai hujan
Tumpah ke bumi

Menggelinding bagai batu
Bagai hantu

Anne! Anne! Anne!

Inilah rentetan tembakan kerinduanku, lemparan
Granat ketakutanku, dentuman meriam kemabukanku
Luapan minyak kegairahanku, kobaran tungku kecintaanku
Semburan asap kepunahanku

Aku tak mengemis padahal miskin, tak merampok
Padahal banyak utang, tak mencuri padahal terdesak
Tak menipu padahal ada kesempatan, tak menuntut
Padahal punya hak, tak meminta
Padahal putus asa

Anne! Anne! Anne!

Zikirku seribu sunyi mengejarmu
Menggedor barikade pertahananmu, menerobos
Dinding persembunyianmu, mengobrak-abrik ruang
Semadimu, menghancurkan singgasana
Kekhusyukanmu

Bau busuk mulutku, Anne
Seratus tahun memanggil-manggil
Namamu.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Zikir
Karya: Acep Zamzam Noor
On Test

Engkau akan kubawa pergi
Dari candi ini
Ke tempat di mana manusia ada

Coba, coba
Di sana kata
Tidak hanya punya kita
Dan cinta mungkin kabur
Dalam kabut debu
Dan hidup menderu
Melingkungi engkau dan aku

Jalan panjang
Sampai di mana dunia terkembang?
Mata terlalu
Singkat untuk itu

Panjang jangan reka
Tujuan jangan terka
Pandang, di sana ada mereka,
Di sana ada mereka

Engkau akan kubawa pergi
Dari candi ini
Ke dunia: hidup air-dan-api.


"Asrul Sani"
Puisi: On Test
Karya: Asrul Sani
Kepada I Gusti Ngurah Bagus

Dewa telah menciptakan butir-butir padi
dewa telah menciptakan bunga
dewa telah menciptakan gadis yang menjunjung untaian padi
di kepala dan menyematkan bunga di telinga
dewa akan berdiri di gerbang pura pada suatu hari nanti
dan menegur perempuan yang berjalan lewat itu
katanya:"perempuan tua, tumpuklah padimu di
lumbung dan hanyutkan bunga itu di sungai; biar
kuperintahkan orang-orang itu membuat api di tanah
lapang agar terbakar sempurna jasadmu mengabu"

1973
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Kepada I Gusti Ngurah Bagus
Kangguru

Adalah seekor hewan yang aneh rupanya
Dia besar dan bungkuk punggungnya
Lalu dua meter tinggi badannya
Dan ada sebuah kantong di perutnya

Kantong itu tempat menyimpan anaknya sang bayi
Sampai beberapa bulan anak kangguru di situ sembunyi
Enak dan hangat, oleh ibunya disayangi
Sampai dia berani jalan sendiri

Kangguru itu terkenal pandai melompat
Dan lompatannya itu jauh sekali
Sekali lompat bisa delapan meter jauhnya
Dan itu mudah saja baginya

Mengapa kangguru mudah melompat jauh begitu
Karena kakinya amat kuat, juga ekornya membantu
Lihatlah bentuk kakinya yang siku-siku
Kemudian ekornya yang besar guna bertumpu

Kangguru ini hidupnya di benua Australia
Yang letaknya di sebelah tenggara Indonesia
Si tukang lompat ini makanannya adalah rumputan
Ada yang berbulu abu-abu dan ada yang kemerah-merahan.


"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Kangguru
Karya: Taufiq Ismail
Beri Daku Sumba

Di Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu
aneh, aku jadi ingat pada Umbu

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari membusur api di atas sana
Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka
Bilamana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga

Tanah rumput, topi rumput dan jerami bekas rumput
Kleneng genta, ringkik kuda dan teriakan gembala
Berdirilah di pesisir, matahari ‘kan terbit dari laut
Dan angin zat asam panas dikipas dari sana

Beri daku sepotong daging bakar, lenguh kerbau dan sapi malam hari
Beri daku sepucuk gitar, bossa nova dan tiga ekor kuda
Beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari
Beri daku ranah tanpa pagar, luas tak terkata, namanya Sumba

Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh
Sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua
Dan bola api, merah padam, membenam di ufuk teduh

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak melenguh
Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh.

1970
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Beri Daku Sumba
Karya: Taufiq Ismail
Kota, Pelabuhan, Ladang, Angin dan Langit

Dermaga pelabuhan balok hitam pasangan tua
Kawanan undan beterbangan dua-dua
Ketika dingin mencercah kabut Atlantika
Topan berbunyi dalam resah dan bertanya bila

Ada benua baru bagiku, ada benua biru bagiku
Setiap kudatang tak bisa kutolak rindu
Tatkala mengetuk ngetuk pintu kotamu
Ketika ladang-ladang subur bawah langitmu

Ada beberapa pantai karang memanjang
Ada beberapa malam badainya garang
Tapi rencana masih jauh dan jauh lagi
Sementara angin menggaram lalu gerimis jatuh di sini.

Selamat pagi, ujarnya. Selamat pagi, kataku.
Hari segar bukan? Selendang angin berkibar lembut
Palermo cerah pukul sepuluh, langkah keledai manggut-manggut

Ladang tani di tengah benua di tepi perbukitan pina
Kuperah sapi mereka, kusabitkan gandum musim panas
Kakek tua di desa kecil, di muka warung mengisap pipa
Mereka menganggukkan kepala padamu bila kau lalu
Seperti kakekku di kampung, Gaek Ulu
Penanam kol bertelapak kasar dan berjemari besar
Dan istri-istri yang memberiku telur bekal di jalan
Mereka di mana-mana sama karena merekalah manusia
Padang-padang tulip, wahai pandangan mata burung
Berembusan dari utara tetangkai berguguran dalam cuaca

Angin musim dan sepuluh warna berteguran dalam sapa
Warna besi pijar, warna tembaga, warna logam berkarat
Warna perak kasar, warna aluminium, warna-warna yang sarat
Dan peparumu penuh bau daun, kulit kayu dan pupuk bumi

Jalan coklat kecil dalam taman di tengah lubuk hutan
Tiba-tiba danau yang biru dipagari lereng cemara
Daun-daunan jarum, hijaunya hijau abadi
Bunyi angin malam di hutan, risaunya risau sekali
Padang rumput membentang dalam kerdip bimasakti
Baringkan tubuh di luar kemah, bantalkan tangan di kepala
Bisakah kau hitung di atas silang gemintang yang cemerlang?

Tidak. Aku hanya bisa menghitungkan anak-anak sapimu
Baru lahir. Atau membilang orang yang lalu lalang
Di jalan samping sebuah cafe teduh pagi jam sepuluh
Di Lisbon. Baca koran tentang kapal uap dari
Genoa Lalu menyerakkan remah roti pada kawanan burung merpati

Dalam pertamanan bising di tengah kota mekanisasi
Hijau daunmu berdebu dan tanahmu berbau asam arang
Rawa-rawa di kotamu Harlem Berlumpur dan sangat sembarang
Senja pengap di antara lorong beton mengacu langit
Langit pun cuma sepotong-sepotong
Langit yang sesak nafas di atas
Melepas ribuan warga kota sehabis jam kerja
Lewat sekian stasiun, terowongan dan jambatan baja
Lewat komputer statistik dengan ingatan pita magnetik
Delapan ribu operasi dalam satu detik!

Udara dukana dalam bau keringat mesin, keringat sistim
(Kami tersedu untukmu, anak-anak alam yang yatim!)
Malam akhir minggu di Takarazuka, hidangan teh
Dan arak beras. Subuh di kota raksasa
Jalanan abu-abu dan gedung-gedung oleng
Di sinikah mesti kehidupan berlabuh, terdampar
Dalam lumpurmu, dan secara jadwal
Besok bertolak lagi pada Senin pagi?
Wahai meja mahogani, mesin minyak, kartu presensi
Wahai jentera besi, restoran otomat, gua-gua syahwati
Di balik bingkai jendelamu di dalam sini berdenting
Iba sekali. Mengetuk-ngetuk kaca baur dingin pada driji
Ketika tetes air memanjang dan jadi kristal
Ketika badai menguburmu jadi gurun putih bulan Januari

Deret tonggak berlampu natrium Kawat-kawat landai terentang menggigil
Ribuan jendela menutupkan mata di gedung-gedung tinggi

Di jalanan bawah salju subuh jadi lumpur kembali
Kapankah engkau, Manhattan, bisa agak berbaik hati
Salju putih kau ubah jadi lumpur
Zat asam jadi asam arang
Awan dan langit pun kau potong-potong
Pada warga kotamu kau bagi-bagi

Laut dermagamu bau amonia, gedungmu steril kreolin
Senja musim gugur kau bunuh terang-terangan di depanku
Di taman kota. Dan arsitek-arsitek itu (anak buahmu)
Melemparkan karkasnya ke tengah belukar beton bertulang

Rimba baja. Terbaring di antara seribu pejalan di Ginza
Terinjak-injak di halaman stasiun Gambir
Kereta ekspres sebelum lebaran
Terguling sepi ke halte stasiun bawah tanah
Ketika tak seorang pun mengindahkannya
Ketika tak seorang pun menangisinya
Walau pernah terdengar ada kotak di bar memutar
Pengemis-Pengemis di Paris
Atau penyanyi hitam meratapi matahari hampir habis
Menyebut gas air mata dan anjing pengaman demonstrasi
Mengenang presiden yang mati di jalan dan di balkon teater

Wahai pigmentasi epidermis yang demikian tipis!
Mencairlah. Apa yang kau peroleh dari purbasangka
Dan batasan genetika. Mengapa engkau
Meratap-ratap jua, bermalas-malas di tangga. Bangunlah!
Bangunlah dengan kerajinan dan kejujuran tukang sapu
Tukang sapu lantai lobi kantor pusat asuransi
Di suatu jalan Kolombo, atau Nova Skotia
Tak persis kuingat lagi. Matanya bercaya-caya
Seperti mata pak Utjang tukang kandang
Tukang kandang di klinik hewan, Djalan Taman Kencana

Mata yang tak percaya penindasan, tak percaya perang
Mata pedagang kelontong bersampan di Laut Merah
Mata tukang air berbaju hitam, kota Tiongkok tepi lautan

Yang percaya keringat menganyam rezeki
Bahwa bangun pagi memutar sarat jentera kehidupan
Walau begitu banyak yang terjepit
Tergilas sepi di bumi ini
Walau akhirnya berbunyi juga air mata
Yang menitik diam-diam
Karena kezaliman, jaring-jaring kekuasaan dan peperangan

Yang bertindihan ke pundak lelaki, anak dan perempuan
Mereka berdiri bersama di depan rumah kecil mereka, layu
Atau berjalan dengan gerobak barang dan sekedar bungkusan

Di bawah mendung awan perang
Atau mencoba lari melewati suatu perbatasan
Batas ilmu bumi dan batas bebas dengan mati
Begitu benarkah…Wahai mengusap dadalah
Iman-iman yang lemah. Sesuatu menegah, kata tak terucapkan
Bila badanmu lunglai jadi gelombang dan topan

Berdiamlah, jangan munculkan kata lagi
Karena anak-anakmu kini menangis
Di luar badai akan menyapu langit yang gerimis
Berdoalah, agar menjauh banjir, musim kering panjang
Dan marak gunung api, hama pertanian dan gempa
bum!

Dan tirani kekuasaan, tirani kesengsaraan
Serta kelaparan. Juga tirani ketakutan
(bagai Labah-labah-banyak-jari masih menjaringi Leher dunia hari ini)
Dunia dengan kota, pelabuhan, ladang, angin
Dan langit. Dunia dengan kulit coklat
Putih, kuning dan hitam
Yang pada Saat Penciptaan pertama-tama
Ditiupkan dahsyat padanya badai cinta
Kian abad kiaxi pelahan
Kini jadi cincin angin yang kecil
Ulurkan, ulurkan jari manismu kemari
Ulurkanlah tangan yang berdaki dan berpeluh
Dengan kerja.

Di gudang dermaga, gardu kereta
Melintas hutan jati yang sepi
Di kilang tebu, di padang Sumba kuda
Dan kerbau liar ngembara
Leher-leher berhanduk kecil meninggalkan
Pangkalan beca. Berdesing-desing nasib
Dalam angin panas dan embun dini hari
Langit di atas CTC, langit malam
Di atas bangunan hitam. Awan setetes-setetes
Berjajar mengalun dalam kelam
Tercampak lengang pada suara guruh yang jauh
Meluncur-luncur ke ladang, ke pematang
Ke bumi kerontang
Ahoi! Pergilah pergi, musim garang terlalu panjang!
Ahoi! Berlahiranlah anak-anak kambing, sapi dan ayam!
Bermekaranlah bunga-bunga bawang
Membulat-bulatlah daun kacang
Gemburkanlah tanah hai cacing-cacing
Tanah ladang-ladang kentang
Di tengah kebun kol, di bahu kakekku
Ulu Kaleng semprot hama tersandang
Di kakinya beribu kol membulat, hijau muda dan padat
Sejajar bertelentangan di bumi
Matahari dan hujan menyerbuki Tangan Tuhan mengusapi
Gembur dan subur semua jadi
Ayah di kebun kopinya, berperang dengan ilalang
Melawan kawanan tikus, pasukan kera dan babi hutan
Ibuku gemuk sibuk memberi makan ayam dan burung 
parkit
Di jauhan mesin-mesin menerjang hutan dan bukit
Dengan suara bergelegar karena akan membentangkan 
jalan raya
Dan beribu dusun terpencil tersentaklah dari tidurnya

Rimba-rimba, jurang dan rawa kelam menggeliat
Dalam kantuk lama. Durian hutan, salak belukar
Dan ikan-ikan rawa sebesar paha
Bumi pun bersinlah keras-keras
Dan mereka mengalir ke jalan raya
Mengalirlah pelan lendir karet, gambir dan cendana
Terbongkarlah intan, minyak bumi dan
Tambang batu bara. Di atasnya mengapung
Kayu manis, kayu jati dan kayu besi
Dan berlayar ratusan kapal dalam derum tak terhenti
Di antara pulau demi pulau
Mulai benderang dalam cahaya
Cahaya siang dan cahaya malam
Cahaya di antara tulang-tulang dada
Karena telah rampung bendungan alam
Telah dibongkar bendungan hati
Karena kebenaran akhirnya mengibarkan benderanya
Dalam tiupan angin kemerdekaan dan kebebasan sejati
Setelah segala bentuk pengorbanan kita serahkan 
padanya
Setelah satu-satu tiran tersungkur atau mundur
Karena perlawanan adalah kerja, perlawanan dalam doa
Doa untuk bumi seluruh isi dengan cinta abadi
Dunia yang telah luka-luka sepanjang gurun sejarah
Dan kemudian mencoba lagi mengulangi langkah
Dan turunlah malam di bagian bumi kita
Ketika orang-orang mulai berbaring melepas penat
Waktu kebebasan sejati dirasakan benar sebagai nikmat
Waktu senyum dan jabat tangan kita benar dalam ikhlas
Waktu tak ada lagi pengetuk malam membawa dalih
Malam ini syukurku berjalin terima kasih
Setelah tahun tahun yang mendung
Langit luka-luka
Meneteskan bencana duka
Kau selamatkan perjalananku ke benua-benua
Kau torehkan pesan alfabetis itu
Pada gelombang yang menyisir pesisir
Pada langit, angin, ladang dan kota
Dan kerja berat dengan hati yang kuat
Selamat malam dunia
Selamatkan malamku
Selamatkan siangku
Tuhanku.


Catatan pelayaran 14 kota, Agustus 1956 (kapal Itali Saturnia dan Neptunia) dari Juli 1957 (kapal barang Jepang Nissho Maru).
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Kota, Pelabuhan, Ladang, Angin dan Langit
Karya: Taufiq Ismail
Bukit Biru, Bukit Kelu

Adalah hujan dalam kabut yang ungu
Turun sepanjang gunung dan bukit biru
Ketika kota cahaya dan dimana bertemu
Awan putih yang menghinggapi cemaraku.

Adalah kemarau dalam sengangar berdebu
Turun sepanjang gunung dan bukit kelu
Ketika kota tak bicara dan terpaku
Gunung api dan hama di ladang-ladangku.

Lereng-lereng senja
Pernah menyinar merah kesumba
Padang ilalang dan bukit membatu
Tanah airku.

1965
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Bukit Biru, Bukit Kelu
Karya: Taufiq Ismail