Mei 1995
Berlindung di Perahu Nuh

(1)
Bintang tak terlihat lagi di langit gurun
Rembulan mati di balik gunung bebatu
Ribuan burung kehilangan tempat berlindung
Ketika pasir melahirkan beribu laksa air
Ini bukan saatnya berkabung

“Lihat! Lelaki tegap di atas buritan
Matanya sigap menatap senyap
Menangkap gelombang menggelegap
Menyingkap tabir yang mengalir pengap
Terapung di pucuk kurma tanpa buah
Tapi bukan tanpa tujuan”

(2)
Cakrawala tak akan berkata apa-apa
Ketika burung gagak kehilangan kelepak
Perahu Nuh tegak melaju dan berlalu
Berpuluh doa terbujur kaku dan membeku
Ini saatnya membuka jazirah baru

“Perahuku bukan dari kertas
Tak akan tenggelam di samudra bebas
Meski puting angin kelam melibas
Dan badai membanting panas gelombang
-; Tumpahkan wajah! Tumpahkan

Cium hati Sang Pemilik Bumi”

(3)
Tepat sepertiga malam terakhir
Matahari merona merah terjaga
Nuh membuang sauh tanda berlabuh
Banjir gurun telah selesai
-; Tapi jangan turunkan layar!

Karena kisah belum selesai
Perjalanan baru dimulai di sini
Dan sejarah itu seperti janji
Kita hanya debu tanpa arti
Ambil jangkar saat pagi kembali

(4)
“Kalian naiklah ke atas perahuku
Jangan ragu buang selimut jahiliyahmu
Jangan ragu buang kabut gelisahmu
Lupakan raja yang selalu menghunus pedang
Duduk di singgasana tanpa kasih sayang
-; Sepanjang jaman seperti sekarang”

Berlindunglah di perahu Nuh
Menuju negeri damai tanpa pantai
Sebelum salam matahari Subuh.

Januari, 23/1/2012
"Cucuk Espe"
PuisiBerlindung di Perahu Nuh
Karya: Cucuk Espe

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Makan Malam Lima Pengarang di Busan

Mereka menyimpan bahasa yang berbeda dalam tubuhnya
dan rasa lapar menyatukan mereka di sebuah meja makan.
Semerbak Asia, Arab, Eropa, Afrika, dan Amerika Selatan
larut bersama denting mangkok, sumpit, dan garpu logam.
Binhad, Ines, Zhamby, Andres Solano, dan Adania Shibli
menyantap hidangan yang sama seakrab lima orang saudara.
Mereka saling bicara dengan kosakata dan tatabahasa asing
yang didapat dari bangku sekolah di negeri masing-masing.
Lidah mereka bermain drama sambil beradu gelas minuman
tanpa bisa menyembunyikan aroma muasal bangsa mereka.

By the way, Binhad tak makan daging babi
tapi Andres gentar melahap cabe pedas ini.
Apakah ini yang membuat pengarang Asia
sulit menggondol Hadiah Nobel Sastra?”

Listen to me my dear all friends.
Hadiah Nobel terlalu murah harganya
dibanding emas dan lada kami yang pernah dijarah orang Eropa.
Hadiah sastra dunia tak bakal bisa melunasi hutang mereka.”

Tubuh mereka melingkari meja makan dengan kelakar riang
hingga lupa paspor yang tersembunyi dalam saku celananya.
Mereka menguasai meja makan dengan gairah penaklukan
dan menikmati kunyahan dengan perasaan paling merdeka.
Masa silam mengalir dalam darah mereka yang harum anggur
membuat kata kerap sulit dipercaya malam itu tapi menghibur.
Tak ada dentuman bom atau meja perundingan yang tegang
ketika membincang ukuran payudara dan percintaan penyair.
Hasrat mereka tak mengenal batas politik, ras, dan kebudayaan
seintim jabat tangan mereka yang hangat dan menyenangkan.

Dear all authors, love across the universe.
Neruda pernah bercinta dengan perempuan asing di Batavia.
Barangkali itu jadi sumber ilham menulis sajak-sajaknya
sehingga dia bisa menerima Hadiah Nobel Sastra.”

That’s a good idea, man.
Malam ini kita bersama para perempuan pengarang
yang bukan sekadar perempuan asing yang suka boros belanja.
Apakah kita melampaui Neruda setelah bercinta dengan mereka?”

Segala yang dingin menjadi hangat dalam girang kebersamaan
dan bahasa dalam tubuh mereka terasa bangkit namun tertahan.
Mata mereka tampak merahasiakan sesuatu yang ingin dikatakan
serapat perasaan yang indah diucapkan dalam saat-saat yang lain.
Penyair dari Asia tampak asyik menulis sesuatu di selembar tisu
– barangkali puisi atau surat cinta untuk salah satu dari mereka.
Lalu sajian penutup datang dengan aroma yang sulit terlupakan
dan seketika merangsang kelenjar mereka sesedap gelora ilham.
Ketika sisa kerakusan tubuh mereka terserak di atas meja makan
mereka bercanda tentang Amerika yang suka mengirim senapan.

"Binhad Nurrohmat"
PuisiMakan Malam Lima Pengarang di Busan
Karya: Binhad Nurrohmat

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sajak Ziarah

Dengan zikir kuziarahi siti jenarku
yang berpusara di bilik kalbu
Dengan cinta kuziarahi adam-hawaku
yang bertenda di pintu mautmu
Sepanjang waktu aku berziarah padamu
Daun-daun gugur yang mendahului hari tamatku.

Sepanjang langkah aku berziarah
Sepanjang sujud kusebut maut
Sepanjang cinta kutabur bunga
Sepanjang orgasme kusebut kematiannya
Sepanjang hidup kau berziarah-ziarah
Sepanjang mati hidup kauziarahi
Siapa tak kenal ziarah
Takkan kenal makna rumah.

Dengan ilmu kuziarahi nabi hidirku
yang berpusara di sungai jiwa
Dengan kata kubongkar rahasia alima
yang terkunci di bilik sukma
Dengan sajak aku pun berdoa
Membuka tangan al-malik
yang menggenggam jagat raya.

1992
"Ahmadun Yosi Herfanda"
Puisi: Sajak Ziarah
Karya: Ahmadun Yosi Herfanda
Karna

Tembang siapa yang bikin
kantuk singgah? Nina Bobo
apa yang ngangkat jiwa
(nun) terbang ke alam mimpi?

Layang-layang yang
diwahyukan lewat
ayah dan ibu
melayang-layang.

Anaknya lanang apa?
Anaknya wadon apa?
Aku cuma lumut - hanyut
menggelosor dari raut batu.

Sampai yang lebih kukuh
dari pancang: merengkuh.
Tetes tangis menggerus
candi anonim - ayah dan ibu

Yatim-piatu.

"Puisi Beni Setia"
Puisi: Karna
Karya: Beni Setia
Pengungsi

Kami ini barisan
achordeon dada
dengan paru-paru separuh

Rompi zirah indian
jajaran bilah rusuk
setiap saat didera cuaca

Warga kusta yang senantiasa
terengah-engah. Lelah
membongkar tumpukan sampah

Kami ini pewaris
persatuan kusta
di negara cacing pita.

"Puisi Beni Setia"
Puisi: Pengungsi
Karya: Beni Setia