Juli 1995
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tembang

Kekawin Jayaprana Layonsari terdengar gemanya di dalam sel
padahal sudah kukuat-kuatkan mata memejam hendak tidur
langkah-langkah patah sepatu bergigi telah lewat di teras
jam duapuluh empat hansip dan piket merobek senyap.

Siapakah menembang menyaingi sepi
tak asing lagi suara nyaring lantang We Sari
tetangga perawan tua suka bercanda

Jayaprana Layonsari
kisah bali masa bercinta
kisah cinta dalam cita-cita.

Gema tembang siapa lagikah itu
tak salah lagi jerit hati penuai padi
mengusir lelah dipanggang matahari.

Ahoi, ahoi, bibi bibi yang bergegas di pagi buta
sapamu manis di jalan setapak menuju ke kali
mengapa mesti kudengar kembali di malam ini?

Oi, masih hidupkah mereka
kenangan masa kanak tak pernah mati

Jauhnya Bali dari Salemba!

Baliku manis, Baliku manis
tak pernah punah di dalam kehilangan.

1976
"Puisi Putu Oka Sukanta"
PuisiTembang
Karya: Putu Oka Sukanta

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mantra Bungsu
(untuk Felix Girindra Rangati Birkhazi)

Kuhauskan diriku
agar kau masuki aku.
Kuringankan jantungku
agar kau layarkan aku.
Kutanahkan jasadku
agar kau hujani aku.
Kukeringkan mataku
dan kau air mataku.

Kau paras samudra
ke pulau mengejar daku.
Kau selubung gempa
ke pintu menghempas daku.
Kau pakaian angkasa
ke atap menghunus daku.
Kau seluas Kata
ke maut menawar daku.

Kian palung tubuhku
bercinta dengan arusmu.
Kian pukat urat darahku
berkelindan ke lubukmu.
Kian matahari mataku
terasuh oleh mata airmu.
Kian terpaling pulangmu - 
lautmu lesap ke akarku.

2005
"Puisi Nirwan Dewanto"
PuisiMantra Bungsu
Karya: Nirwan Dewanto

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Jalan-jalan di Jakarta

Tak lagi kumengerti kemana jalan-jalan ini mampu
berjuta manusia tersesat
bersama kucing-kucing, tikus, dan kecoa
berjalan atas terompah-terompah angkara
berebut piring-piring berisi airmata.

"Puisi Medy Loekito"
PuisiJalan-jalan di Jakarta
Karya: Medy Loekito

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ketemu Hardi

Hidup itu seperti lukisan. Aku mampir ke kantor Hardi bersama Saut dan Helga Worotitjan (Iwan menyusul kemudian). Matahari sepenggalah. Kami makan  nasi padang (atau kapau) sembari membahas banyak hal disaksikan sejumlah lukisan yang digantungkan. Yahya memotret-motret dengan kameranya. Kami mengunyah-ngunyah krupuk. Busa kata berhamburan: Keris. Puisi. Strategi kebudayaan. Modal multinasional. Sun Yat Zen. Neolib. Filsafat. Goethe. Adapun Yahya terus memotret-motret dengan kamerannya. Klik.

27 Desember 2009
"Kurniawan Junaedhie"
PuisiKetemu Hardi
Karya: Kurniawan Junaedhie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||