Januari 1996
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sagu Ambon


Ombak beralun, o, mamae.
Pohon-pohon pala di bukit sakit.
Burung-burung nuri menjerit.
daripada membakar masjid
daripada membakar gereja
lebih baik kita bakar sagu saja.

Pohon-pohon kelapa berdansa.
Gitar dan tifa.
Dan suaraku yang merdu.
O, ikan,
O, taman karang yang bercahaya.
O, saudara-saudaraku,
lihat, mama kita berjongkok di depan kota yang terbakar.

Tanpa 'ku sadari
laguku jadi sedih, mamae.
Air mata kita menjadi tinta sejarah yang kejam.

Laut sepi tanpa kapal layar.
Bumi meratap dan terluka.
Di mana nyanyian anak-anak sekolah?
Di mana selendangmu, nonae?
Di dalam api unggun aku membakar sagu.
Aku lihat permusuhan antara saudara itu percuma.
Luka saudara lukaku juga.


9 Mei 2002
Camoe-camoe, Jakarta
"Puisi: Sagu Ambon (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Sagu Ambon
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Tentang Mata


Mata kejora! Mata kejora!
Mata kekasih dalam dekapan malam.

Dalam kehidupan yang penuh mata bisul
hatiku meronta ditawan rangkaian mata rantai.
Sawah gersang tanpa mata bajak.
Mata gergaji merajalela di rimba raya.
Mata badik memburu mata uang.
Mata kail termangu tanpa umpan.

Mata sangkur! Mata sangkur!
Mata sangkur menghujam ke mata batin.
Mata kejora! Mata kejora!
Mata kekasih dalam dekapan malam.

Padang rumput termakan mata api.
Tetapi, kekasihku,
di dalam kalbuku yang murung ini,
engkaulah mata air pengharapanku!



Cipayung Jaya
6 November 1998
"Puisi: Sajak Tentang Mata (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Sajak Tentang Mata
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Senja Pun Jadi Kecil Kota Pun Jadi Putih


Senja pun jadi kecil
kota pun jadi putih.
Di subway
aku tak tahu saat pun sampai.

Ketika berayun musim.
Dari sayap langit yang beku.
Ketika burung-burung, di rumput-rumput dingin
terhenti mempermainkan waktu.

Ketika kita berdiri sunyi
pada dinding biru ini.
Menghitung ketidakpastian dan bahagia.
Menunggu seluruh usia.
 
1966
"Puisi: Senja Pun Jadi Kecil Kota Pun Jadi Putih (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Senja Pun Jadi Kecil Kota Pun Jadi Putih
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Gemuruh Laut Malam Hari


Gemuruh laut malam hari adalah
gemuruh cemara.

Di siang, di padang-padang
bertahan sepi antara daun dan cabang....
Dan sepi itu satu aja, satu suara
tak menyebut nama-nama....

Gemuruh laut malam hari adakah ia cinta?
Gemuruh angkasa
gemuruh kereta-kereta larut senja?

Barangkali seseorang memandang jauh di sana....
Tapi tak ada pernah menyapa: 
Hanya angin yang turun
Di bahunya.
 
1992
"Puisi: Gemuruh Laut Malam Hari (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Gemuruh Laut Malam Hari
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Taman Pahlawan


Di Taman Pahlawan beberapa pahlawan sedang berbincang-
bincang tentang keberanian dan perjuangan.
Mereka bertanya-tanya apakah ada yang mewariskan semangat
perjuangan dan pembelaan kepada yang
ditinggalkan.
Ataukah patriotisme dan keberanian di zaman pembangunan ini
sudah tinggal menjadi dongeng dan slogan?
Banyak sekali tokoh di situ yang diam-diam ikut mendengarkan
dengan perasan malu dan sungkan.
Tokoh-tokoh ini menyesali pihak-pihak yang membawa mereka
kemari karena menyangka mereka juga pejuang-
pejuang pemberani. Lalu menyesali diri mereka sendiri yang dulu
terlalu baik memerankan tokoh-tokoh gagah
berani tanpa mengindahkan nurani.
(Bunga-bunga yang setiap kali ditaburkan justru membuat mereka
lebih tertekan)
Apakah ini yang namanya siksa kubur?
Tanya seseorang di antara mereka yang dulu terkenal takabur
Tapi kalau kita tak disemayamkan di sini, makam pahlawan ini
akan sepi penghuni, kata yang lain menghibur.
Tiba-tiba mereka mendengar Marsinah.
Tiba-tiba mereka semua yang di Taman Pahlawan,
yang betul-betul pahlawan atau yang keliru dianggap pahlawan,
begitu girang menunggu salvo ditembakkan dan genderang
penghormatan ditabuh lirih mengiringi kedatangan
wanita muda yang gagah perkasa itu.
Di atas, Marsinah yang berkerudung awan putih
berselendang pelangi tersenyum manis sekali:
Maaf kawan-kawan, jasadku masih dibutuhkan
untuk menyingkapkan kebusukan dan membantu mereka
yang mencari muka.
Kalau sudah tak diperlukan lagi
biarlah mereka menanamkannya di mana saja di persada ini
sebagai tumbal keadilan atau sekedar bangkai tak berarti.
 
  
1441 H
"Puisi: Di Taman Pahlawan (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Di Taman Pahlawan
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mimpi
Aku bermimpi puteri Cina
Mau mengajaknya jalan-jalan
Tapi ibunya menjaganya, menjaganya dengan ketat.

Dia rindu kepada Lian,
Dia terpekik menyambut aku
Tidak mengira aku cinta padanya
Aku bekerja, bekerja, bekerja
Habibie senang tersenyum
Senang tersenyum melihat aku bekerja.

Buku-buku dicetak,
Buku-buku baru dan cetak ulang
Buku-bukuku dicetak
Banyak, banyak sekali.

Aku salat, salat Tahajud,
Subuh, Lohor, Asar, Maghrib dan Isa,
Aku salat sunah tiap salat wajib
Dan mengirim doa kepada kedua orang tuaku,
Kepada Hamka dan kawan-kawanku
Subagio Sastrowardojo dan lain-lain.

Hidupku hidup nyata dan impian
Tak dapat 'ku bedakan mana yang nyata mana impian
keduanya sama dalam hidupku.

Aku berdoa: Ya Allah,
Bukakanlah hati semua orang
Bukakan hatinya menerima Al-Quran Berwajah Puisi
Dan menyebarkannya ke seluruh penjuru.

Tak dapat aku bedakan pengalaman nyata,
impian dan harapan
Aku membaca, bacaanku pun menjadi nyata
Aku terbang ke istana Harun Al-rasyid,
Melihat Hikayat Seribu satu Malam.

Pagi-pagi ku baca koran,
Berita-berita terlukis di mata
Waktu tidur berita menjadi nyata
Bercampur baur peristiwa dan impian
Apa yang masuk dan keluar benakku
Keduanya mempunyai nilai yang sama
Benakku sungguh luar biasa
Apa yang keluar dari benak Taufik Ismail, Hamid Jabbar,
dan Sutardji Calzoum Bachri, menjadi bagian dari benakku
Alangkah besar alangkah Agung Tuhanku!
  
Jakarta, 1996
Sajak ini ditulis oleh HB Jassin tahun 1996, sebelum terserang penyakit stroke
"Puisi: Mimpi (Karya Aldian Aripin)"
Puisi: Mimpi
Karya: Aldian Aripin
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Isa
Kepada Nasrani Sejati

Itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah

rubuh

patah

mendampar tanya: aku salah?

kulihat Tubuh mengucur darah
aku berkaca dalam darah
terbayang terang di mata masa
bertukar rupa ini segera

mengatup luka

aku bersuka

Itu tubuh
mengucur darah
mengucur darah.



November, 1943
"Puisi: Isa (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Isa
Karya: Chairil Anwar
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Diponegoro


Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

1943
"Puisi: Diponegoro (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Diponegoro
Karya: Chairil Anwar
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Sebuah Juni

Di sebuah Juni yang seperti asma
kutemukan kau tanpa nama.

Sore sepucat pasien
cahaya
hampir absen

Karbol
tercium di udara dan seperti pada satu titik 0
angin itu juga tak kuasa

Kota ini seakan sebuah kotak kaca, rasanya,
di mana orang setengah bicara, setengah membaca

menaruh tubuh sepanjang lorong
dan bayang juga, seperti kau bilang,
bertebar kosong

Tentu saja kau coba
selubungi sepi

Dan dengan sebuah topi
kauinginkan sebagian matahari
di teras restoran ini

menahan vakum
di sebuah ruang yang tak terangkum

Tentu saja...

Tapi kita, mereka berkata, akhirnya adalah kata
pada spanduk:
cat tebal di pojok yang sibuk

di Juni yang seperti asma
yang ditemukan tanpa nama

Atau ada yang tak tereja, barangkali
sepatah maklumat,
pada kaki advertensi

Kemudian aku cuma lewat
dan hari lari
dan kau tak ada lagi.
 


1996
"Puisi: Di Sebuah Juni (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Di Sebuah Juni
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
30 Tahun Kemudian


30 tahun kemudian mereka bertemu di restoran dekat danau.

Hujan dan kenangan berhimpitan, berbareng,
seperti lalulintas yang langgeng.

Terkadang badai meracau,
langit kian dekat, dan dari tebing dingin berjalin dengan basah
pucuk andilau

ketika mereka duduk berlima,
dengan tuak putih tua,

bertukar cerita tentang lelucon angka tahun
dan rasa asing pensiun,

mengeluhkan anak yang pergi dari tiap bandar
dan percakapan-percakapan sebentar.

Terkadang mereka seakan-akan dengarkan teriak trompet dari
kanal seperti jerit malaikat yang kesal

dan mereka tertawa. Sehabis sloki ketiga,
waktu pun berubah seperti pergantian prisma:

masa lalu adalah huruf yang ditinggalkan musim pada
marmar makam Cina.
Kerakap memberinya warna. Kematian memberinya kata.

Dan pada sloki ke-4 dan ke-5 mereka dengarkan angin susul
menyusul, seakan seorang orang tua bersiul

dengan suara kisut
ke bulan yang berlumut.

Pada sloki ke-6 mereka menunggu malam singgah dalam
topeng Habsi. Dan tuhan dalam baju besi.

30 tahun kemudian mereka tak akan bertemu lagi di sini.


1996
"Puisi: 30 Tahun Kemudian (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: 30 Tahun Kemudian
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bintang Pagi


Bintang pagi: seperti sebuah sinyal
untuk berhenti. Di udara keras kata-kata berjalan, sejak malam,
dalam tidur: somnabulis pelan, di sayap mega, telanjang,
ke arah tanjung

yang kadang menghilang. Mungkin ada
sebuah prosesi, ke sebuah liang hitam,
di mana hasrat - dan apa saja yang teringat - terhimpun
seperti bangkai burung-burung

di mana tepi mungkin tak ada lagi.
Siapa yang merancangnya, apa yang mengirimnya?
Dari mana? Dari kita? Ada teluk yang tersisih
dan garis lintang yang dihilangkan, barangkali.

Sementara kau dan aku, duduk, bicara,
dalam sal panjang.
Dan aku memintamu: Sebutkan bintang pagi itu,
hentikan kata-kata itu. Beri mereka alamat!

Kau diam. Mungkin ada sejumlah arti yang tak akan hinggap
di perjalanan, atau ada makna, di rimba tuhan,
yang selamanya menunggu tanda hari:
badai, atau gelap, atau -
bukan bintang pagi.


1996
"Puisi: Bintang Pagi (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Bintang Pagi
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Selatan
Buat Y.Y

Ia lepas topi kepada burung-burung
dan sore hari orang Samarkand.

Ia lihat matahari menitipkan parasnya pada pualam.

Asar lewat, sekelebat
asar seorang komisar

ketika bayang dan cahaya yang silau
saling memburu
di madrasah biru.

Ia dengar surah
seperti Tuhan belum pernah
dikalahkan

seperti desau kapas
dari ladang pedalaman

Tapi di dalam balai ada orang nyanyi, kisah caravan
dan sajak orang Bukhara
yang mereka bacakan, mereka bacakan, sampai
Lenin-Lenin plastik
leleh di aula
dan orang terdiam
dalam perjamuan.

Barangkali ia dengar juga bunyi esok
yang lain lagi?

Bunyi waktu, yang seperti pisau,
bunyi mimpi yang robek,
bunyi malam yang kadang sampai
di langit Uzbek?

Ia lihat burung-burung bertambah hitam,
hinggap,
seperti tirai.

Di malam itu ditulisnya surat
(meski ia tak tahu di mana kau, Yevgeny),
"Di Samarkand sesuatu terlindung di kedap daun,
aku melihatnya
di pohon-pohon lampai."

1996
"Puisi: Sajak Selatan (Karya Goenawan Mohamad)"
Sajak Selatan
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Berlin, 1993


Berlin berteriak
dalam bengis sirene
Kau tersentak:
"Jangan tinggalkan aku di Friedrichstrasse"

Kucium pelupukmu, kelopak yang gelap
di kaca etalase:
Kenapa luka itu tak pernah nampak
seusai berita dan parade?

Pohon-pohon linden sebelum Mei
seperti rangka, seperti berdiri,
nyeri, di kamp tahun '42
pagi hari.

Kulihat rautmu yang turki,
rambutmu yahudi
Berlinmu yang lain,
setelah aku pergi.

Aku pun bertanya, bisakah kita berlindung
pada senja yang tak memihak,
pada malam sejenak,
dan metamorfose?

Berlin hanya berteriak
hanya berteriak
dalam serak
dan bengis sirine.



1994-1996
"Puisi: Berlin, 1993 (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Berlin, 1993
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pada Album Miguel De Covarobias


Kuinginkan tubuhmu
dari zaman
yang tak punya tanda,
kecuali warna sepia.

Pundakmu
yang bebas,
akan kurampas
dari sia-sia.

Akan kuletakan sintalmu
pada tubir meja:
telanjang
yang meminta

kekar kemaluan purba,
dan zat hutan
yang jauh, dengan surya
yang datang sederhana.

Akan kubiarkan waktu
mencambukmu,
lepas. Tak ada yang tersisa
dalam pigura

juga api yang tertinggal
pada klimaks ketiga,
juga para dewa, juga kau
yang akan runduk

Kematian pun akan masuk kembali
kembali, kembali...
Mari.
Kuinginkan tubuhmu

dari zaman
yang tak punya tanda
kecuali
warna sepia


1996
"Puisi: Pada Album Miguel De Covarobias (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Pada Album Miguel De Covarobias
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sang Minotaur
Pada sebuah sketsa Picasso

Di ranjang itu sang Minotaur datang, dan mengendus
tubuhmu, bulu tubuhmu,
yang kian panas,
yang melepas
aroma adas.

Parasmu ranum
seperti biji gandum
di ladang penghabisan.

Dan lenguh yang mengguncang kelambu
membujukmu: kau goyangkan susumu
ke arah seram dan seluruh bau asam,
tatkala hasrat menjulurkan lidah
yang merah
ke syahwat
yang membasah.

Setelah itu, siuman. Dan kematian
di arena di mana lembu jantan
mengais-ngaiskan kaki
di mana detik seperti gugur dari karat matahari,
di plasa tempat nasib menarik picu
pada rembang petang Sabtu.

Kemudian kamar jadi terang.
Dan dari ranjang itu sang Minotaur menghilang.

Jam pun memasuki tanah.

Hanya maut luput,
dari lezat
yang lewat
di pusarmu
di pantatmu
yang tak akan musnah.


1996
"Puisi: Sang Minotaur (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Sang Minotaur
Karya: Goenawan Mohamad