Februari 1996
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ayat-ayat yang Tak Terselesaikan

Jarak antara aku dengan-Mu hanya sutera tipis yang tak
tertembus. ayat-ayat yang tak terselesaikan untuk sampai
kepada-Mu, menembusnya bertahun usia, berlintas matahari.
senantiasa terpenggal amin ya, Tuhan. dan kita
tiba-tiba merasa tak perlu menghapus jarak itu. sampai
rindu tak putus-putus mencari-Mu dalam kitab-kitab berdebu.
dan tangan-Mu menyentuh batinku yang sunyi.
aku mengenal-Mu yang berselimut abad-abad yang panjang.
sebab kehidupan masih terus bergerak. aku mengenal-Mu
yang sendirian dalam gambar lautan. sendirian pada sampan
yang karam. berjalan di atas laut, tenang kepadaku.
seperti ombak yang pecah pada karang. mengelus batin
yang mengeras dalam kebisuan dendam. jarak antara aku
dengan-Mu hanya karang - aku bertapa di dalamnya - dan
gemuruh suara-Mu selalu sampai kepadaku. sehingga, aku
hanya ingin amin setelah bait-bait doa selesai kuucapkan.

Jogya, 1989
"Puisi: Ayat-ayat yang Tak Terselesaikan (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Ayat-ayat yang Tak Terselesaikan
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Jakarta di antara Luka-Luka

Dering-dering jahanam
menanam bibit dendam
kata cadas hati culas
hari-hari bagai dilas
Jakarta menggilas
dengan caranya sendiri.

Terseok mengejar esok
sesiapa mengintai di pojok
siap membacok
aku bagai popok teronggok
Jakarta terus menatap sinis
aku rindu sapanya manis.

Siapa suruh datang Jakarta
kudengar nyanyian lama
merayap di udara.

Ke Jakarta aku kan kembali
kudengar orang muda bersaudara
tegar sekali apa pun terjadi.

Jakarta
Mei, 1976
"Puisi: Jakarta di antara Luka-Luka (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Jakarta di antara Luka-Luka
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Pinggir Dermaga Tua

Di pinggir dermaga tua
memadat nasib sekelompok nelayan dalam mantra
manakala menghantar sepasang kepala kerbau
bertudung kembang sesaji seribu isi
matahari dan ombak pun saling bersambut
begitu desah menguncur di setiap geletar mulut
berikan-berikan-berikan
rahmat kepada kami
selamat kepada kami
nikmat kepada kami.

Kepada penguasa samodra doa dironce doa
angin menyambut asap dupa menyambut suara-suara
semua semakin khusuk:
laut jagalah pasang surut
ombak jagalah laut
Neptunus, Aquanus, jagalah ombak
biar selamat kami melaut tujuh turunan.

Gelegarrr!
dinamit membunuh doa membunuh nyanyi samodra
semua pun tercengang menatap ke laut lepas
ada apa-apa-apa-ada apa
sesaji dan tumbal hanyut sendiri
di pinggir dermaga tua tinggal gebalau caci maki
ketika sebuah trawl asing mencuri ikan-ikan tenggiri.

Jakarta, 1980
"Puisi: Di Pinggir Dermaga Tua (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Di Pinggir Dermaga Tua
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Nyanyian Granit-Granit

Lama-lama kudengarkan
kelelawar-kelelawar hitam
ujung-ujung sayapnya menusuk bulan
sambil saling cericitkan makna dahan
bangunkan orang-orang penidur
kehilangan cerita malam.

Lama-lama kudengarkan
dayung-dayung warna wulung
ujung-ujungnya menusuk laut
sambil saling desahkan
nafas-nafas nelayan muda
milik tersisih kampung tanah air.

Sekarang kudengarkan
nyanyian granit-granit
muncul dari hari yang rumit
gaungnya menusuk langit.

Sekarang kukirimkan
nyanyian granit-granit
pengganti harum kopi wedang
dan suara gambang kesayangan
kepada bapa dan semua orang tersayang
yang tak sempat nikmati hari terang.

Jakarta
Nopember, 1983
"Puisi: Nyanyian Granit-Granit (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Nyanyian Granit-Granit
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Nyanyian Hutan Tropis

Bagai lelaki tanpa rompi
biarkan dada telanjang menyambut angin
biarkan peluru serdadu sombong
tak tahu lagi nyanyikan pohon hutan
selain meniup ujung senapan
berjalan dia lelaki pencatat kehidupan
dengan globe di kepala
dan dengus kota-kota bencana
menyumbat nafasnya
dirindukannya nyanyian hutan tropis
cerita panjang tentang perdamaian
anak-anak aman bermain sepanjang jalan
perempuan-perempuan nyisir rambut
dekat jendela terang
anak-anak, domba kecil penuhi padang
perempuan, bunga rumput penuhi lembah
dia terus berjalan, lengan bergoyang
dahi tanpa kerutan oleh auman perang
dia terus berjalan, globe di kepala
nyanyikan hutan-hutan
anak-anak dan perempuan
nyanyian hutan tropis
mendayu sepanjang nadi dan langkahnya.

Jakarta
Desember, 1984
"Puisi: Nyanyian Hutan Tropis (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Nyanyian Hutan Tropis
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mendengar Kata Anak Alam

Bunga-bunga rumput di padang
mekar sepanjang musim kehidupan
mestikah kupindahkan musim kehidupan
mestikah kupindahkan di dada ibu
jika di sana muncul kerajaan raksasa
kemana kerajaan raksasa
akar umbi dan daunan
kemana kerajaan obat diselamatkan
jika di sana muncul kerajaan raksasa
kemana nanti akan dibuang
ampas-ampas penuh rahasia maut
di laut - nelayan dan ikan mati
di pulau - satwa dan damai halau
di bawah tanah - bumi terluka
cerobong-cerobong tumbuh
jadi naga kepala tujuh
koyak cakrawala bumi dan angin
dengar kata anak alam siap lahir
aku ini embrio sedang tumbuh
dalam rahim bumi penuh rahmat
aku ingin berkasih dengan alam
aku takut maut bukan dari-Nya
aku ngeri mata mulur tulang lentur
aku mau kita memuja Dia
dengan kepuasan yang samadya
di sini rahmat tersedia nyata.

Jakarta, 1991
"Puisi: Mendengar Kata Anak Alam (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Mendengar Kata Anak Alam
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Berita dari Kaki Gunung Muria

Menyusuri jalan setapak nini
senyum mekar di kaki gunung
gulir embun di celah daun
simpan cinta moyang sepanjang kurun
kudengar sabda Sang Pemangku:

satwa gunung
sahabat alam sejati
enggan berbagi hati
dengan racun pembunuh
semayam dalam jiwa angkuh
nini bersaksilah hari ini
selalu setia menjaga waktu
tembangkanlah desir air terjun Montel
berkah alam penuh kasih
alam kaki gunung Muria
betapa banyak kan terambil ya nini
wajah hutan punggung gunung
desir angin geriap embun
semua akan berganti rupa

beton-beton baja nusuki angkasa
pilar-pilar kilang merejam bumi
bapakmu khadam sang Wali
kan mati dua kali oleh ruh barat
tanpa kendali, dan semua jadi abu pasti.

Jakarta
Mei, 1991
"Puisi: Berita dari Kaki Gunung Muria (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Berita dari Kaki Gunung Muria
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tenda-Tenda di Bantaran Sungai Manggarai

Tenda-tenda yang bukan rumah
tenda-tenda yang bukan kemah
tak perapian tak api unggun
tenda-tenda adalah:

Ruang suram yang bersaksi
hidup rawan yang terbantai
tubuh redam yang tergadai
sungai mengalir di bawahnya
angin menerpa di atasnya
sungai Manggarai yang diam
endapkan segala beban
endapkan sari lelaki air kehidupan
tenda-tenda selalu menyapa
para pejalan alpa.

Dalam tenda-tenda di bantaran
mimpi-mimpi asing singgah dan lintas
dari malam ke pagi sampai malam kembali
panorama tua nunggu kebijakan baru.

Jakarta
Desember, 1991
"Puisi: Tenda-Tenda di Bantaran Sungai Manggarai (Karya: Diah Hadaning)"
Puisi: Tenda-Tenda di Bantaran Sungai Manggarai
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Catatan Prajurit Perang

Barangkali ini mimpi paling indah
bagi orang-orang negeri terjarah
manakala lilin-lilin menyala di lembah
cahaya, hati anak-anak 'njelma mekar bunga
prajurit perang lepas senjata
wajah luluh lengan terbuka
manakala bunga-bunga kecil 
terulur dari tangan-tangan mungil
tangan anak-anak masa datang
kalau saja prajurit perang
lupakan senjata tak hari ini
lupakan ajaran di medan-medan
manakala di depannya
tapak-tapak kecil bertebaran
nada-nada harap berloncatan
kami mau perdamaian
kami mau main dan makan
kami mau lilin dan kembang.

Mulut-mulut kecil terus bernyanyi
di lembah penuh cahaya
prajurit perang berkata riang:
lihat sudah kulepas senjata
lengan siap dekap cinta
lihat ada air mata dan tawa
derai beriringan.

Bogor, 1993
"Puisi: Catatan Prajurit Perang (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan Prajurit Perang
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Percakapan Burung

I
Di celah pohon-pohon zaman
ingin kusembunyikan kecemasan
manakala kudengar
siapa-siapa bicara
tentang pulau besar
yang akan dibangkitkan
adakah warna-warna akan berubah
hijau pekat pohon tinggi
putih terang buih pantai
biru jernih langit Wamena
harum semak lembah Baliem.

Angin hutan purba
sahabatku setia
masihkah akan
menggerai jurai bulunya.

(Seekor cenderawasih
bercakap dengan kasuari)

II
Angin akan rindu kepak sayapku
tapi ia sulit datang
karena hilang hutan
jika satu saat
di sini segala dibabat 
tanda-tanda sudah mendekat
kau dengarkah
anak manusia satu dusun
mulai mengeluh sungainya kena limbah
nampaknya tiada jua
yang tersisa
sementara anak manusia 
masih terus berlomba.

Angin akan sulit datang
mengantar suara sakti
genderang pada Ondoafi
karena anak manusia rakus
ciptakan perang yang lain

(Seekor kasuari
bercakap dengan kasuari)

Bogor
April, 1994
"Puisi: Percakapan Burung (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Percakapan Burung
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Monolog Nelayan Tua tentang Kemerdekaan

Perjalanan menghela mimpi besar
buah kemerdekaan itu
orang-orang saling menafsirkan
ada tak ada pertanda zaman
hari ini sebuah kenyataan
mozaik peradaban kilas berita rekaman
orang-orang saling bicara
dari mimbar ke mimbar
sesekali menerawang langit lepas
sesekali tenggelam dalam doa-doa
banyak sudah yang berubah
buah kemerdekaan itu
ada dalam saling rampas tata kota
ada dalam angkuh di jalan raya
ada pada orang-orang kehilangan rumah
yang berumah kehilangan makna.

Hari ini sebuah elegi, isteriku
kata seorang nelayan tua kehilangan laut
ingatannya melayang mengapung
di atas ombak-ombak laut suwung
kapalnya dulu ikut bebaskan tanah Irian
darah di nadi dulu jadi ikatan
lusa sebuah mimpi besar, isteriku.

Bogor, 1994
"Puisi: Monolog Nelayan Tua tentang Kemerdekaan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Monolog Nelayan Tua tentang Kemerdekaan
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Nyanyian Zaitun Romansa Perdamaian

Saat kau tembangkan syair zaitun
tumbuhkan benih rembulan
ditaburkan kepak merpati
dihijaukan cahaya matahari
tumbuh daun di rantingnya
di tanahmu terbentang lembah merdeka.

Orang-orang lembut perangai dapatkan
kiriman bunga di depan pintu pagi hari
lalu menyapamu sambil menawarkan harum kopi
adakah kau sahabat masa sekolah
seorang perempuan di seberang jalan lambaikan tangan
anak-anak berlarian di rumputan
sementara matahari
masih di balik pohon yangliu.

Di sini busur panah telah menyatu pada lengkung langit
gamang telah lama dikubur di bukit-bukit
mereka terus melambaimu
panggil angin yang bersarang di dahan rindang
seru seorang bocah matanya bening bintang
indahnya hari jika tanpa dendam sejarah
di jalanan orang lewat dan berbincang.

Bogor, 1995
"Puisi: Nyanyian Zaitun Romansa Perdamaian (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Nyanyian Zaitun Romansa Perdamaian
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Balada Putra Sang Fajar

I
Setiap pagi bangkit di ufuk timur
sentuhan alam murni
melubuk di kedalaman nurani
fajar mengantar matahari merah
puja-puji kemuliaan Ilahi
alam, satwa dan imaji
menyatu pada bayangmu, bapa
abadi dalam ingatan masa bocahku
lima windu silam di kota kecil pantai utara
jiwaku menyapa jiwamu
mencari karismamu pijar
matahari bersaksi anak manusia bersaksi
:Ketika kau bangkitkan rasa berani
terus melangkah ke satu arah
gapura Indonesia merdeka
dan hasrat sejahtera
tatap pandangmu arah cakrawala

Rajawali dan merpati
seakan melintas di angkasa
kutangisi haru bangga
bunga tanjung melati dan gondosuli
kuronce dalam imaji buatmu, bapa

II
Saat tiba masa paling sulit
sejarah jadi padang ilalang tersabit 
kutangisi diam-diam bias wajah buram
namun semangatmu kugenggam
musim bergulir sejarah kuak tabir
puji Tuhan karismamu utuh kembali hadir
kata-kata bernuansa
dan syair-syair dari getar sukma
kupetik dari kebun nurani
pengganti bunga tabur di pusara
angin ombak embun dan kabut
menyatu di hari ini
mewartakan baladamu Putra Sang Fajar

Aku mewakili
anak-anak Indonesia masa itu
langkah-langkahku datang
dari Aceh sampai Irian
nafasku angin pantai sampai pegunungan
suaraku mencari gema suaramu
kucermati mimbar putih itu
dengan pandang mata bocahku
jiwaku bernyanyi balada Putra Sang Fajar.

Bogor, 1995
"Puisi: Balada Putra Sang Fajar (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Balada Putra Sang Fajar
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Fragmen Hujan Siang

Tiada tersisa lagi di balik lembar kelabu
langit ditinggalkan serat-serat cahaya
luruh bersama hujan sesiang
dan orang-orang petualang
menyusuri kota lewat gang-gang
terlalu banyak yang harus diburu
dalam kehidupan ini
hujan siang tak menghalangi
telah basah pepohonan di halaman
bunga-bunga menggigil
berita kota terus bertemperasan di layar kaca
mengabarkan perempuan-perempuan korban peradaban
dan sebuah kesadaran yang terlambat
tentang pentingnya kawasan hijau 
diselamatkan dari kerakusan manusia
pasti kita tengah merasa kehilangan
ada yang lenyap terampas dari kenangan
langkah-langkah masa muda
yang menyimpan getar dunia.

Bogor
Februari, 1996
"Puisi: Fragmen Hujan Siang (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Fragmen Hujan Siang
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Doa Seorang Ibu Bagi Anaknya

I
Jadikan aku sungai jernih, Tuhan
mengalir tenang 'nuju muara
tempat anakku menghilir.

II
Jadikan aku jembatan panjang, Tuhan
merentangi batas waktu
tempat anakku meniti.

III
Jadikan aku telaga hijau, Tuhan
menyimpan sunyi misteri
tempat anakku menyelam.

IV
Jadikan aku segala, Tuhan
dalam sentuh-Mu jua
tempat anakku mendamba.

Bogor
Desember, 1997
"Puisi: Doa Seorang Ibu Bagi Anaknya (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Doa Seorang Ibu Bagi Anaknya
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sebuah Pesan

I
Sebuah pesan
terkirim dari pinggiran

Masih ada kegalauan
masih ada kesangsian

Antara lapar
antara sakit
antara tak sabar
antara jiwa bangkit.

Sebuah pesan
terkirim dari pinggiran

Di pergantian sebuah episode
negeri zamrud yang carut marut.

II
Sebuah pesan
terkirim dari sisa pertokoan.

Telah mereka lunasi
hasrat purba anak manusia
ketika api hanguskan segala
ketika nurani hilang mahkota.

Dengan apa 'kan dicermati
jejak langkah di kegelapan
dengan apa kan diteliti
sperma kering sisa peradaban.

Di pergantian sebuah era
di pemakaman tak tertanda.

Juli, 1998
"Puisi: Sebuah Pesan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sebuah Pesan
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tragedi itu

I
Darah telah tertumpah, bapa
air mata meresap di jalan raya
kata-kata telah diserukan
di antara bunyi tembakan!
Matahari bulan Juli telah bersaksi
ubah langit jadi lembar misteri
ada yang tak bisa mati
rasa cinta pada pertiwi.

Ada apa di dalam kota?
Anak bapa dijaring Kala!
Ada apa di dalam kota?
Anak bapa tetap perkasa!

II
Adalah irama jagad
yang salah seleh yang benar jaya
adalah yang dibikin sekarat
ternyata Kekasih Sang Pencipta
Ada ruh penjaga topo broto
di gapura jalan Diponegoro
kibarlah tinggi kau panji-panji
kibarkan ke mega yang waras hati

Ada apa di dalam kota?
Anak bapa dijaring Kala!
Ada apa di dalam kota?
Anak bapa tetap perkasa!

Juli, 1998
"Puisi: Tragedi itu (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Tragedi itu
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Catatan Wajah-Wajah

Ada wajah-wajah
bikin cermin pecah.

Ada wajah-wajah
bikin langit berdarah.

Ada wajah-wajah
bikin lapar bernanah.

Ada wajah-wajah
bikin jiwa tercacah.

Ada wajah-wajah
bikin orang bilang: payah!

Wajah di sana-sana
wajah di sini-sini
wajah di koran prima
wajah di televisi
wajah itu bukan aku bukan kamu
wajah itu wajah batu
wajah kutukan Kalabendu.

Desember, 1998
"Puisi: Catatan Wajah-Wajah (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan Wajah-Wajah
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Parade Mikropon

Mikropon menelan jutaan kata
terlontar dari gusar
terbakar dari daftar
mikropon parade
wakili selalu
mulut-mulut hangat
mulut-mulut manis
mulut-mulut jahat
mulut-mulut amis.

Mikropon berparade
kata-kata beraubade.

Mikropon tak pecah jua
kata-kata merajalela.

O, mikropon negeri
ada jua yang tak mengerti
apa pesanmu hari ini:
kenalilah ulat diri
kenalilah beranda desa
kenalilah koridor kota
kenalilah cakrawala
di sana selalu ada
hukum alam semesta.

Desember, 1998
"Puisi: Parade Mikropon (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Parade Mikropon
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Catatan Langkah-Langkah

Berapa langkah hari lalu
berapa langkah hari ini
berapa langkah hari lusa.

Di jalan kota ada rajah
di sorot mata ada getah
di batas langit ada sejarah.

Terus hitunglah langkahmu
orang trotoar
terus hitunglah jarimu
orang rumah terbakar
di ruas punggung
beban menggunung.

Langkah-langkah di Semanggi
langkah-langkah di Senayan 
langkah-langkah di Harmoni
langkah-langkah di Ketapang
langkah-langkah terus mencari
garis batas loji tirani.

Desember, 1998
"Puisi: Catatan Langkah-Langkah (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan Langkah-Langkah
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sura, Episode Merah Hitam

Di bawah kibar sang merah putih
di puncak doa diam
wajahnya simpan pabrik-pabrik
sisa demonstran, sepi suara
langkahnya simpan deru mesin
sisa peradaban yang dipertanyakan
ketika greget luruh
jejak kaki mulai melepuh
ada tanya mulai terhela
lusa milik siapa.

Sura wingit menyapa
dalam kelebat warna merah hitam
jiwa gugat dalam diam
windu menjadi sekam
banaspati berubah rupa
wajah siapa
gara-gara di nafasmu
geliat ular di lidahmu 
mengakulah di penghujung suara
sementara merah putih diam.

Bogor
April, 2000
"Puisi: Sura, Episode Merah Hitam (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sura, Episode Merah Hitam
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Catatan Sura Hari Ketiga

Hadir dalam tabir kabut
manakala ingatan hanyut ke sungai lumut
bapa sang pengukir jiwa
dengan tatapan maya:
catatlah anak perempuanku
janji harus ditepati
seni harus dipagari
sumpah harus ditatah
tegur sapa bening
menggugah alam hening.

Kuhitung doa
dalam untaian kenanga bunga pelataran
di hari ketiga
bulan wingit kita
langit bergetaran.

Bogor
April, 2000
"Puisi: Catatan Sura Hari Ketiga (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan Sura Hari Ketiga
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Cerita dari Kampung Tua

Berapa kali banjir menyapa
berapa kali tanganmu tinju udara
musim tetap porak poranda.

Benih-benih ditabur
tak hirau
orang terbahak atau tepekur
tumbuh, tumbuh jika saatnya tumbuh
tak hirau
orang mencaci atau mengaduh
semua sebingkai kenyataan
antara kemarau dan penghujan
dering-dering suara becak
gema dari ucapanmu
yang selalu tak pernah kompromi
selain katamu yang satu itu!

Satu kata yang sangat kuhafal
seperti anak dan istrimu
hafal akan desir kampung tua itu.

Bogor, 2000
"Puisi: Cerita dari Kampung Tua (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Cerita dari Kampung Tua
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Trotoar

Segenggam bunga mahoni yang gugur
bertebaran di trotoar
simpan wingit
aroma mistis
simpan gema
keluh tangis orang-orang kehilangan
karena pendemo
di ujung mimis
anak kandung berkah
bunga rahimnya.

Februari, 2003
"Puisi: Di Trotoar (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Di Trotoar
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tak Henti Mencari

Purnama suri ini
anakmu harus ke Merapi kembali
Romo Sepuh di rasaku ada menanti
Sang Resi pun menunggu kidung pagi
orang-orang bertanya apa yang kucari
selalu kujawab banyak nian yang kucari.

Alam hijau raya seakan menyapa riang ria
hening bening saat bersila di Candi Widayat
bisikku, Romo terima doa ziarah senjaku.

Mega Merapi putih berarak saat pagi
debar itu selalu hadir menyapa
mencari bayang Sang Resi di tabir pagi.

Hari-hari terasa sempurna
Merapi gaibnya mengusap jiwa
Romo Sepuh di alam abadinya
Sang Resi di alam gaibnya
membiarkan kasih dan cinta
wayang sacral telah digelar sesajian ditebar.

Lereng Merapi
Maret, 2004
"Puisi: Tak Henti Mencari (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Tak Henti Mencari
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Membaca Bahasa Kota
Orang-orang Blank Blenk

Kebun Raja membiarkan pohon-pohonnya
bersaksi sambil menjaring angin malam
ketika orang-orang baju hitam
memasang lilin menata kendang
dan kata-kata meluncur dari lidah-lidah
dan doa-doa meluncur dari jiwa-jiwa
kota wartawan saksi zaman masih tersimpan
kebenaran sejarah tak terungkap
sang penerus tak juga meluruskan
selagi masih ada bahasa kemungkinan
simpan cemas seseorang 'nembang bahasa ibu
ingin Blitar buka lembar manuskrip tua
ingin Blitar saksi sembah raga sembah jiwa
ingin Blitar tumpahkan kejujuran air mata
saat makna merdeka punya sisi seribu dua
sementara badai melipat musim
orang-orang utamakan serigala dalam perut
riah-riuh 'dudukkan serigala di kursi kehormatan
seniman gelar tikar di Kebun raja
Agustus bergulir dalam kata-kata
Dari Gunung, 'ngarai sampai pentura
bapa, kulihat serigala di mana-mana
Serigala dalam dada
Serigala dalam kepala
Kebun raja disergap malam.

Blitar
Agustus, 2004
"Puisi: Membaca Bahasa Kota (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Membaca Bahasa Kota
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Membaca Bahasa Transmisi

Setumpuk bara senyala unggun
Adalah lambang orang-orang pejalan kurun
Seruas langit sepotong doa
Adalah gurit jiwa orang-orang tanah utara

Tembang eratkan genggam
Orang-orang saling bungakan masa depan
Jepara pulangkan yang pergi
Jepara ramaikan yang sunyi

Sementara orang Sampit datang malam kelelahan
Tak lagi perang selain tembang
Kubawa cinta dan bunga se-Kalimantan
Didekapnya orang-orang unggun rembulan

Ikan laut gelapar dalam bara
Bara percikkan bunga di udara
Orang-orang masih berbincang
Anak Ki Suto Kluthuk merenung panjang

Suara siapa usung berontak jiwa
Di antara deram genderang dan kibas bendera
Jepara nyala dalam bara
Jepara bangun dalam unggun

Serasa andika bersaksi malam ini
Wahai Shima, Kalinyamat dan Kartini
Anak cucu menandak dan menembang
Kusimak orang-orang akar rimang.

Jepara
Agustus, 2004
"Puisi: Membaca Bahasa Transmisi (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Membaca Bahasa Transmisi
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Gamang

Dibiarkannya orang-orang merangkak
selarat kerbau menarik bajak
dibiarkannya cacing yang tak punya kuasa
kalau anak-anak menyanyi tentang daun-daun hijau
bagus, karena bapaknya parau bagai harimau
musik dan gamelan kadang bikin gamang
sungai dan hutan jangan diurus kancil atau siamang.


"Puisi: Sajak Gamang (Karya D. Zawawi Imron)"
Sajak Gamang
Karya: D. Zawawi Imron
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Senja yang Merah

Batu-batu, rumputan gersang
dan pohon siwalan di punggung bukit
pada tengadah ke atas langit.

Lalu sunyi dipecah talu salampar
yang memantul ke ceruk lembah
orang-orang kampung seperti hapal
seorang lelaki sedang memanjat pohon siwalan
menyadap nira
buat diminum istri tercinta
dan dua orang anaknya.

Turun memanjat di bawah pangkal pelepah
salampar putus, waktu pun tersentak
doa terbang mengetuk surga
nira tergenang di tanah
bercampur darah
tanah pun jadi jingga
dijilati lidah senja.

-- Sampaikan kepada dua harapanku
bahwa bulanku yang kini ungu
buat mereka selalu -

Jengkerik-jengkerik seperti mengaji
teriring sayup kejauhan
melengkapi guram menjelang malam
lancur ayam bersepuh bara
bergantung di pipi senja.

(ping pilu'
awal sebait kidung Madura
barangkali maknanya
berkeping-keping hati yang pilu)

sebatang pohon siwalan
tegak dan diam, tugu alam yang memberi dahaga
tapi nanti seorang ibu
di bawah teratak beratap ilalang
akan menunjuknya
dengan jari ranting gaharu,

-- Anakku, tumpuan harapanku
wangi hati ayahmu
dimulai di pohon itu.

1974
"Puisi: Senja yang Merah (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Senja yang Merah
Karya: D. Zawawi Imron
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Padang Sang

Persasat bondongan semut
orang-orang mengalir ke alun-alun
keris dan golok di pinggang-pinggang
Mereka sudah pamit pada isterinya
Mereka sudah mencium pipi anaknya
untuk tidak kembali pulang
lantaran tak ada dalam sejarah
orang Madura takut bermandi darah
Lalu langkah-langkah membanjir
dari punuk-punuk sapi kerapan
Mereka turun
dari baling-baling musim penghujan.

Maka datanglah
Pangeran Batu Putih
berbusana serba putih
menunggang kuda putih
di bawah kibaran bendera putih
berpengiring tombak
pedang.

Duh, Pengeran Lor!
mestika orang Sumekar
Nanda tak usah turun ke medan!
Biar paman yang mangsu perang

Paman!
Nanda adalah raja
Negara dan rakyat adalah saya
Rakyatku pergi berperang
Nanda tak boleh tidur di ranjang

Demi anak putu!
Yang mungkin disebut orang
keturunan laki-laki tak berempedu
sarang serangga tidak bermadu.

Burung gagak dari utara
Menyambar jatuh kuluk Sang Raja
Apa gerangan maknanya?

"Puisi: Padang Sang (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Padang Sang
Karya: D. Zawawi Imron
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sapi Hitam
Siapa tak sayang padanya?
Sapi hitam bulunya hitam matanya hitam tanduknya hitam
kukunya hitam dagingnya hitam darahnya hitam hatinya hitam
Jangan sembelih ia jangan usik ia. biarkan ia bergerak
seperti arwah silakan ia datang dalam kenangan dan
mencari sepi ke ujung hati
satu saat kau akan merasa bahwa ia milikmu juga
Jangan menjerit kalau ia luka dan jangan tangisi kalau ia
mati sebab matinya matimu pula
di ubun malam ia minta sediakan rumput padamu layanilah
agar kau tak punya hutang!
1979
"Puisi: Sapi Hitam (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Sapi Hitam
Karya: D. Zawawi Imron
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sudah Dulu Lagi

Sudah dulu lagi terjadi begini
Jari tidak bakal teranjak dari petakan bedil
Jangan tanya mengapa jari cari tempat di sini
Aku tidak tahu tanggal serta alasan lagi
Dan jangan tanya siapa akan menyiapkan liang penghabisan
Yang akan terima pusaka: kedamaian antara runtuhan menara
Sudah dulu lagi, sudah dulu lagi
Jari tidak bakal teranjak dari petikan bedil.

1948
"Puisi: Sudah Dulu Lagi (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Sudah Dulu Lagi
Karya: Chairil Anwar
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bercerai


Kita musti bercerai
Sebelum kicau murai berderai.

Terlalu kita minta pada malam ini.

Benar belum puas serah-menyerah
Darah masih berbusah-busah.

Terlalu kita minta pada malam ini. 

Kita musti bercerai
Biar surya 'kan menembus oleh malam di perisai.

Dua benua bakal bentur-membentur.
Merah kesumba jadi putih kapur.

Bagaimana?
Kalau IDA, mau turut mengabur
Tidak samudra caya tempatmu menghambur.
 


7 Juni 1943
"Puisi: Bercerai (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Bercerai
Karya: Chairil Anwar
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mengenang Serayu

Wajah-wajah mengapung di hulu
mencari muara
matahari coba berkaca
di garis-garis arusnya
lalu wajah-wajah dan matahari
menyatu dalam tembang serayu 

Membawa orang-orang
hanyut ke masa silam
saat kehijauan simpan harapan
saat kebeningan simpan kesetiaan
saat kita saling menimang
suka cita masa kanak

Semua tlah menjadi bias-bias
tersisa dalam macapat Banyumasan
terasa sulit hadirkan kembali
saat Serayu ngalir dalam nadi
dan matahari hadir di hati
dan serulingmu hadir di serambi.

Bogor
Oktober, 1995
"Puisi: Mengenang Serayu (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Mengenang Serayu
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kurnia
Kau kurniai aku
Kelereng kaca cerah cuaca
Hikmat raya tersembunyi dalamnya
Jua bahaya dikandung kurnia, jampi kau beri
Menundukkan kepala naga angkara
Kelereng kaca kilauan kasih
Menunjukkan daku tulisan tangan-Mu
Memaksa sukmaku bersorak raya
Melapangkan dadaku, senantiasa sentosa
Sebab kelereng guli riwarni
Kuketahui langit tinggi berdiri
Tanah rendah membukit datar
Kutilik diriku, dua sifat mesra satu:
Melangit tinggi, membumi keji.

"Puisi: Kurnia (Karya Amir Hamzah)"
Puisi: Kurnia
Karya: Amir Hamzah
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Batu Belah
(kabaran)
Dalam rimba rumah sebuah
Teratak bambu terlampau tua
Angin menyusup di lubang tepas
Bergulung naik di sudut sunyi.
           
Kayu tua membetul tinggi
Membuka puncak jauh di atas
Bagai perarakan melintas negeri
Payung menaung jemala raja.

Ibu bapa beranak seorang
Manja bena terada-ada
Lagu lagak tiada disangkak
Mana tempat ibu meminta.

Telur kemahang minta carikan
Untuk lauk di nasi sejuk.

Tiada sayang;
Dalam rimba telur kemahang
Mana daya ibu mencari
Mana tempat ibu meminta.

Anak lasak mengisak panjang
Menyabak merunta mengguling diri
Kasihan ibu berhancur hati
Lemah jiwa karena cinta.

Dengar... dengar!
Dari jauh suara sayup
Mengalun sampai memecah sepi
Menyata rupa mengasing kata.

Rang... rang... rangkup
Rang... rang... rangkup
Batu belah batu bertangkup
Ngeri berbunyi berganda kali.

Diam ibu berpikir panjang
Lupa anak menangis hampir
Kalau begini susahnya hidup
Biar ditelan batu bertangkup.

Kembali pula suara bergelora
Bagai ombak datang menampar
Macam sorak semarai rampai
Karena ada hati berbimbang.

Menyahut ibu sambil tersedu
Melagu langsing suara susah:

Batu belah batu bertangkup
Batu tepian tempat mandi
Insya Allah tiada 'ku takut
Sudah demikian kuperbuat janji

Bangkit bunda berjalan pelan
Tangis anak bertambah kuat
Rasa risau bermaha-raja-lela
Mengangkat kaki melangkah cepat.

Jauh ibu lenyap di mata
Timbul takut di hati kecil
Gelombang bimbang mengharu pikir
Berkata jiwa menanya bunda.

Lekas pantas memburu ibu
Sambil tersedu rindu berseru
Dari sisi suara sampai
Suara raya batu bertangkup.

Lompat ibu ke mulut batu
Besar terbuka menunggu mangsa
Tutup terkatup mulut ternganga
Berderak-derik tulang-belulang.

Terbuka pula, merah basah
Mulut maut menunggu mangsa
Lapar lebar tercingah pangah
Meraung riang mengecap sedap...

Tiba dara kecil sendu
Menangis pedih mencari ibu
Terlihat cerah darah merah
Mengerti hati bunda tiada.

Melompat dara kecil sendu
Menurut hati menaruh rindu...

Batu belah, batu bertangkup
Batu tepian tempat mandi
Insya Allah tiada 'ku takut
Sudah demikian kuperbuat janji.
"Puisi: Batu Belah (Karya Amir Hamzah)"
Puisi: Batu Belah
Karya: Amir Hamzah