Senja yang Merah

Batu-batu, rumputan gersang
dan pohon siwalan di punggung bukit
pada tengadah ke atas langit.

Lalu sunyi dipecah talu salampar
yang memantul ke ceruk lembah
orang-orang kampung seperti hapal
seorang lelaki sedang memanjat pohon siwalan
menyadap nira
buat diminum istri tercinta
dan dua orang anaknya.

Turun memanjat di bawah pangkal pelepah
salampar putus, waktu pun tersentak
doa terbang mengetuk surga
nira tergenang di tanah
bercampur darah
tanah pun jadi jingga
dijilati lidah senja.

-- Sampaikan kepada dua harapanku
bahwa bulanku yang kini ungu
buat mereka selalu -

Jengkerik-jengkerik seperti mengaji
teriring sayup kejauhan
melengkapi guram menjelang malam
lancur ayam bersepuh bara
bergantung di pipi senja.

(ping pilu'
awal sebait kidung Madura
barangkali maknanya
berkeping-keping hati yang pilu)

sebatang pohon siwalan
tegak dan diam, tugu alam yang memberi dahaga
tapi nanti seorang ibu
di bawah teratak beratap ilalang
akan menunjuknya
dengan jari ranting gaharu,

-- Anakku, tumpuan harapanku
wangi hati ayahmu
dimulai di pohon itu.

1974
"Puisi: Senja yang Merah (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Senja yang Merah
Karya: D. Zawawi Imron

Post a Comment

loading...
 
Top