loading...

Ulang Tahun dalam Penjara
Kepada Saikin dan Alibasah

I
Telah setahun yang lalu
depan dan belakang putih bisu
tapi suaramu jernih riang.

Telah setahun yang lalu
harapan dan impian hanya dinding
tapi matamu menyorotkan kepastian.

II
Sebuah rangka rumah
hitam menjadi arang
asap putih membubung tinggi.

Sebuah danau hijau
kecipak perahu di dayung
gelombang lemah di dasar hati.

III
Jalan berkelok dan mendaki
terjal tanah berbatu
dari rumah menuju pancuran.

Jalan berkelok dan mendaki
licin tanah berlumpur
hidup kini menuju hari depan.

IV
Alangkah tenangnya hutan
kicau burung menyongsong pagi.
Alangkah hijaunya hutan
kicau burung menyongsong hari.

Alangkah megahnya hari depan
kita daki gunung tinggi.
Alangkah megahnya kebanggaan
menunjuk ke dada sendiri.

V
Sebuah gunung hijau
kini gundul saja.
Kampung-kampung lumat, hutan tinggal abu
api merah, darah pun merah.

Sebuah lembah subur
kini gersang, riak-riak siang hari.
Ternak musnah, rumah musnah
kolam ikan retak-retak dasarnya.

VI
Ingatkah kau kepada tawa dan teriak anak-anak
yang mengacungkan tangan serentak, "Hurip!"
Ingatkah kau kepada sorot mata meminta perlindungan
yang menadahkan tapak tangan, "Kasihan ...?"

Meski menadahkan tangan, percuma saja
sia-sia mereka meratap, "Kasihan ..."
Tiada lagi yang tertawa, tiada teriakan
tiada lagi yang mengacungkan tangan, "Hurip!"

VII
Kadang-kadang kecewa dan putus asa
'ku rangkul bumi hitam yang kucintai
memeluk bencana yang mengintip usia
degupan tresna mendebar keras
mendera tubuhku bangkit kembali.

Kadang-kadang kecewa dan putus asa
'ku teriakkan sesak dada padat nestapa
melengking ke ujung lembah
menggaung ke punggung gunung
yang menyeringai, menista.

Kadang-kadang kecewa dan putus asa
'ku lari ke keamanan rumah
namun sesak terasa
'ku dengar rintih anak-anak diterkam serigala
memanggil daku, ayahnya.

VIII
Kadang-kadang masih kusangsi
jalan yang telah kutempuh menuju Matahari
namun impian menyadarkan daku dari impian.
 
Kadang-kadang masih 'ku sangsi
telah 'ku susun batu-batu pendiri hari depan lebih baik
namun kenyataan menyadarkan daku melihat kenyataan.

IX
Kalau kamarmu gelap dan depek
udara mengganggang angin mati.
Kalau jendelamu sempit dan bulat
dirimu terpanggang, kecewa pun menjadi.

Kalau kau teraling dinding tinggi
langkah terhambat, pandangan terhambat.
Kalau pintumu hitam dan berat
dirimu terasing, dendam pun bangkit.

X
Meski duniaku hijau dan terang
dedaunan berdesir, angin menyilir
dinding lebih tinggi dari segala dinding
menghadang langkahku, mematikan suaraku.

Setiap sepuluh langkah ke depan
dan sepuluh langkah ke samping.
Setiap sepuluh kata 'ku ucapkan
berdiri sebuah dinding.

XI
Telah setahun yang lalu
depan dan belakang putih bisu
tapi suaramu jernih riang.

Telah setahun yang lalu
harapan dan impian hanya dinding
tapi langkahmu menandakan keyakinan.

  
"Puisi: Ulang Tahun dalam Penjara (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Ulang Tahun dalam Penjara
Karya: Ajip Rosidi

Post a Comment

loading...
 
Top