Maret 1996
New York, 1971

Hafalkan namamu baik-baik di sini. Setelah baja
dan semen yang mengatur langkah kita, lampu-lampu
dan kaca. Langit hanya dalam batin kita,
tersimpan setia dari lembah-lembah di mana kau dan aku
lahir, semakin biru dalam dahaga.
Hafalkan namamu. Tikungan demi tikungan,
warna demi warna tanda-tanda jalanan yang menunjuk
ke arah kita, yang kemudian menjanjikan 
arah yang kabur
ke tempat-tempat yang dulu pernah ada
dalam mimpi kanak-kanak kita. Berjalanlah merapat tembok
sambil mengulang-ulang menyebut nama tempat 
dan tanggal lahirmu sendiri, sampai di persimpangan 
ujung jalan itu, yang menjurus ke segala arah
sambil menolak arah, ketika semakin banyak juga
orang-orang di sekitar kita, dan terasa bahwa
sepenuhnya sendiri. Kemudian bersiaplah
dengan jawaban-jawaban itu.
Tetapi kaudengarkah swara-swara itu?

1971
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: New York, 1971
Karya: Sapardi Djoko Damono
Pour Dons

Sepanjang jalan layang itu di belakang kemudi ia bersenandung menatap lurus ke depan sesekali mengerdipkan mata dan dengan teratur menghela dan menghembuskan napas sambil dengan sangat cermat mendengarkan cericit angin tipis yang menyusup di sela-sela
kaca jendela.

Ia pernah bilang padaku bahwa menyayangi jalan itu sepanjang jalan layang yang berkelok-kelok yang tanpa tanda lalu-lintas yang tanpa billboard yang tanpa garis putih di sepanjang aspal licin dan legam yang ia bayangkan sebagai sungai di ladang yang sudah lama ditinggalkan yang ia bayangkan sebagai ular yang dengan sangat tenang berenang di sungai itu yang ia bayangkan sebagai benang sutera merah yang dengan sabar pelahan lepas dari gulungannya yang ia bayangkan sebagai garis yang sangat tipis di antara kemarin dan nanti.

Sepanjang jalan layang itu di belakang kemudi ia bersenandung menatap lurus ke depan sesekali mengerdipkan mata dan dengan teratur menghela dan menghembuskan napas sambil dengan sangat cermat mendengarkan cericit angin tipis yang menyusup di sela-sela
kaca jendela.

Ia sesekali mengucapkan terima kasih pada mesin yang kedap suara itu.

Ia pernah bilang padaku bahwa mencintaimu.

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Pour Dons
Karya: Sapardi Djoko Damono
Memilih Jalan
(: Robert Frost)

1
Jalan kecil ini berujung di sebuah makam dan kau bertanya, “Kenapa tadi kita tidak jadi mengambil jalan yang satunya?”

Tapi kenapa kau tidak bertanya, “Untunglah kita tidak mengambil jalan itu tadi?”

Memang absurd, jalan ini kenapa ada ujungnya dan tidak menjulur saja terus-menerus sampai pada batas yang seharusnya juga tidak perlu ada.

2
Kita mungkin keliru memilih jalan tapi itu sama sekali bukan salahmu. Akulah yang mengajakmu mengambil jalan ini sebab kupikir kota yang kita tuju terletak di ujung jalan yang kita lalui ini.

Hanya comberan bekas hujan. Hanya bunyi-bunyian lirih sisa nyanyian yang seperti memberi tahu bahwa dahulu nenek-moyang kita pernah membuka hutan dan mendirikan kerajaan besar dengan bantuan orang-orang dari seberang yang buru-buru pergi lagi begitu mendengar kita dibelah oleh ribut-ribut memperebutkan tahta kerajaan.

Hanya comberan.

Bekas hujan.

Hanya suara sopir taksi yang tak bosan-bosannya bertanya rumah ibadah itu persisnya ada di mana.

3
Jalan buntu ini kemarin tak ada. “Ia muncul dari hakikat suara dan malam yang sangat pekat perangainya,” katamu ketika melihat tampangku tampak konyol.

Ya, tetapi kenapa kemarin jalan buntu ini tak ada? “Sebaiknya kautanyakan saja kenapa jalan buntu ini sekarang ada.”

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Memilih Jalan
Karya: Sapardi Djoko Damono
Pertanyaan Kerikil yang Goblok

“Kenapa aku berada di sini?”
tanya kerikil yang goblok itu. Ia baru saja
dilontarkan dari ketapel seorang anak lelaki,
merontokkan beberapa lembar daun mangga,
menyerempet ujung ekor balam yang terperanjat,
dan sejenak membuat lengkungan yang indah
di udara, lalu jatuh di jalan raya
tepat ketika ada truk lewat di sana.
Kini ia terjepit di sela-sela kembang ban
dan malah bertanya kenapa;
ada saatnya nanti, entah kapan dan di mana,
ia dicungkil oleh si kenek sambil berkata,
“Mengganggu saja!”

"Puisi: Pertanyaan Kerikil yang Goblok (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Pertanyaan Kerikil yang Goblok
Karya: Sapardi Djoko Damono
Catatan Masa Kecil, 4

Ia tak pernah sempat bertanya kepada dua kali dua
hasilnya sama dengan dua tambah dua sedangkan satu kali satu
lebih kecil dari satu tambah satu dan tiga kali tiga lebih besar
dari tiga tambah tiga. Sejak semula ia sayang pada angka nol.

Dan setiap kali ia menghitung dua tambah tiga kali empat
kurang dua ia selalu teringat waktu terjaga malam-malam ketika
ibunya sakit keras dan ayahnya tidak ada di rumah dan di
halaman terdengar langkah-langkah bakiak almarhum neneknya
dan ia ingin kencing tetapi takut ke kamar kecil yang dekat
sumur itu dan lalu kencing saja di kasur.

Sungguh, sejak semula ia hanya mempercayai angka nol.

"Puisi: Catatan Masa Kecil, 4 (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Catatan Masa Kecil, 4
Karya: Sapardi Djoko Damono
Taj Mahal
(Kepada Anjasmara)

Dalam Taj Mahal, ratu astana,
Putih dan permai: pantun pualam
Termenung diam di tepi Jamna
Di atas makam Ardjumand Begam,

Yang beradu di sisi Syah Jahan,
Pengasih, bernyanyi megah mulia
Dalam malam tiada berpadan,
Menerangkan cinta akan dunia,

Di sana, dalam duka nestapa,
Aku merasa seorang peminta
Di depan gapura kasih cinta,

Jiwa menjerit, di cakra duka
Ah, Kekasihku, memanggil tuan.
Hanya Jamna membalas seruan.

"Puisi: Taj Mahal (Karya Sanusi Pane)"
Puisi: Taj Mahal
Karya: Sanusi Pane
Kosong

Rumah masih saja terasa hampa walau sudah kuisi
dengan berbagai macam barang berharga.

Kamar tamu terasa sepi walau kau tahan menunggu
dalam rinduku. Kamar tidur terasa mati walau kau
rajin mendengkur dalam tidurku. Kamar mandi
terasa sunyi walau kau suka menggigil dalam mandiku.

Aku sering bengong dan pusing memikirkan apa
yang membuat rumahku terasa kosong dan asing.
Mudah-mudahan bukan karena aku terlampau banyak
memasang fotoku di hampir semua dinding.

2004
"Puisi: Kosong (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Kosong
Karya: Joko Pinurbo
Boneka

I
Setelah terusir dan terlunta-lunta di negerinya sendiri,
pelarian itu akhirnya diterima oleh sebuah keluarga boneka.

“Kami keluarga besar yang berasal dari berbagai suku bangsa.
Kami telah menciptakan adat istiadat menurut cara kami
masing-masing, hidup damai dan merdeka
tanpa menghiraukan lagi asal-usul kami.
Anda sendiri, Tuan, datang dari negeri mana?”

“Saya datang dari negeri yang pemimpin dan rakyatnya
telah menyerupai boneka. Saya tidak betah lagi tinggal
di sana karena saya ingin tetap menjadi manusia.”

Keluarga boneka itu tampak bahagia. Mereka berbicara
dan saling mencintai dengan bahasa mereka masing-masing
tanpa ada yang merasa dihina dan disakiti.

Lama-lama si pembuat boneka itu merasa asing
dan tak tahan menjadi bahan cemoohan makhluk-makhluk
ciptaannya sendiri. Ia terpaksa pulang ke negeri asalnya
dan mencoba bertahan hidup di dunia nyata.

II
Rumah itu sudah lama ditinggalkan pemiliknya.
Ia minggat begitu saja tanpa meninggalkan pesan apa pun
kepada boneka-boneka kesayangannya.

“Mungkin ia sudah bosan dengan kita,” gajah berkata.
“Mungkin sudah hijrah ke lain kota,” anjing berkata.
“Mungkin pulang ke kampung asalnya,” celeng berkata.
“Jangan-jangan sudah mampus,” singa berkata.
“Ah, ia sedang nonton dangdut di kuburan,” monyet berkata.
“Siapa tahu ia tersesat di tanah leluhur kita,” yang lain berkata.

Mereka kemudian sepakat mengurus rumah itu
dan menjadikannya suaka margasatwa.

Pemilik rumah itu akhirnya pulang juga.
Ia masuk begitu saja, namun boneka macan yang perkasa
dan menyeramkan itu menyergahnya.
“Maaf, Anda siapa ya?”
“Lho, ini kan rumahku sendiri.”
“Bercanda ya? Rasanya kami tak mengenal Anda.
Mungkin Anda salah alamat. Sebaiknya Anda segera pergi
sebelum kami telanjangi dan kami seret ke alam mimpi.”

III
Boneka monyet itu mengajakku bermain ke rumahnya.
Di sana telah menunggu siamang, orangutan, simpanse,
gorila, lutung dan bermacam-macam kera lainnya.

“Kenalkan, ini saudara-saudaramu juga,” monyet berkata.
“Kita mau bikin pesta kangen-kangenan sambil arisan.”

Aku ingin segera minggat dari rumah jahanam itu,
tapi monyet brengsek itu cepat-cepat menggamit lenganku.
“Jangan terburu-buru. Kita foto bersama dululah.”

Kami pun berpotret bersama.
Monyet menyuruhku berdiri paling tengah.
“Kau yang paling ganteng di antara kami,” siamang berkata.

“Siapa yang paling lucu di antara kita?” monyet bercanda.
“Yang di tengah,” lutung berkata.
“Ia tampak kusut dan murung karena bersikeras hidup
di alam nyata,” gorila berkata. Mereka semua tertawa.

1996
"Puisi: Boneka (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Boneka
Karya: Joko Pinurbo
Gambar Porno di Tembok Kota
(Untuk ASA)

Tubuhnya kuyup diguyur hujan.
Rambutnya awut-awutan dijarah angin malam.
Tapi enak saja ia nongkrong, mengangkang
seperti ingin memamerkan kecantikan:
wajah ranum yang merahasiakan derita dunia;
leher langsat yang  menyimpan beribu jeritan;
dada montok yang mengentalkan darah dan nanah;
dan lubang sunyi, di bawah pusar,
yang dirimbuni semak berduri.

Dan malam itu datang seorang pangeran dengan celana
komprang, baju kedodoran, rambut acak-acakan.
Datang menemui gadisnya yang lagi kasmaran.

"Aku rindu Mas Alwy yang tahan meracau seharian,
yang tawanya ngakak membikin ranjang reyot bergoyang-
goyang, yang jalannya sedikit goyah tapi gagah juga.
Selamat malam Alwy."

"Selamat malam Kitty. Aku datang membawa puisi.
Datang sebagai pasien rumah sakit jiwa dari negeri
yang penuh pekik dan basa-basi.

Ini musim birahi. Kupu-kupu berhamburan liar mencecar
bunga-bunga layu yang bersolek di bawah cahaya merkuri.
Dan bila situasi politik memungkinkan, tentu akan
semakin banyak yang gencar bercinta tanpa merasa
was-was akan ditahan dan diamankan.

"Merapatlah ke gigil tubuhku, penyairku.
Ledakkan puisimu di nyeri dadaku."

"Tapi aku ini bukan binatang jalan, Kitty.
Aku tak pandai meradang, menerjang."

Sesaat ada juga keabadian. Diusapnya pipi muda,
leher hangat dan bibir lezat yang terancam kelu.
Dan dengan cinta yang agak berangsan diterkamnya
dada yang beku, pinggang yang ngilu, seperti luka
yang menyerahkan diri pada sembilu.

"Aku sayang Mas Alwy yang matanya beringasat tapi
ada teduhnya, yang cintanya ganas tapi ada lembutnya,
yang jidatnya licin dan luas tempat segala kelakar
dan kesakitan begadang semalaman."

"Tapi malam cepat habis juga ya. Apa boleh buat,
mesti kuakhiri kisah kecil ini saat engkau terkapar
di puncak risau. Maaf, aku tidak punya banyak waktu
buat bercinta. Aku mesti lebih jauh lagi mengembara
di papan-papan iklan. Tragis bukan, jauh-jauh datang
dari Amerika cuma untuk jadi penghibur
di negeri orang-orang kesepian?"

"Terima kasih, gadisku."
"Peduli amat, penyairku."

1996
"Puisi: Gambar Porno di Tembok Kota (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Gambar Porno di Tembok Kota
Karya: Joko Pinurbo
Ranjang Putih

Ranjang telah dibersihkan.
Kain serba putih telah dirapikan.
Laut telah dihamparkan.

Kayuhlah perahu ke teluk persinggahan.

Sampai di seberang
tubuhmu tinggal tulang-belulang
dan perahumu tertatih-tatih sendirian
pulang ke haribaan ranjang.

Ranjang telah dibersihkan.
Laut telah disenyapkan.
Ombak telah diredakan.
Tapi kau tak kunjung pulang.

Mungkin tubuhmu enggan dikubur
di kesunyian ranjang.

1996
"Puisi: Ranjang Putih (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Ranjang Putih
Karya: Joko Pinurbo
Perjamuan Petang

Dua puluh tahun yang lalu ia dilepas ayahnya
di gerbang depan rumahnya.
“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina.
Jangan pulang sebelum benar-benar jadi orang.”

Dua puluh tahun yang lalu ia tak punya celana
yang cukup pantas untuk dipakai ke kota.
Terpaksa ia pakai celana ayahnya.
Memang agak kedodoran, tapi cukup keren juga.
“Selamat jalan. Hati-hati, jangan sampai
celanaku hilang.”

Senja makin menumpuk di atas meja.
Senja yang merah tua.
Ibunya sering menangis memikirkan nasibnya.
Ayahnya suka menggerutu,
“Kembalikan dong celanaku!”

Haha, si bangsat akhirnya datang.
Datang di akhir petang bersama buku-buku
yang ditulisnya di perantauan.
Ibunya segera membimbingnya ke meja perjamuan.

“Kenalkan, ini jagoanku.” Ia tersipu-sipu.
Saudara-saudaranya mencoba menahan tangis
melihat kepalanya berambutkan gerimis.
“Hai, ubanmu subur berkat puisi?” Ia tertawa geli.

Di atas meja perjamuan jenazah ayahnya
telentang tenang berselimutkan mambang.
Daun-daun kalender beterbangan.
“Ayah berpesan apa?” Ia terbata-bata.
“Ayahmu cuma sempat bilang, kalau mati ia ingin
mengenakan celana kesayangannya:
celana yang dulu kaupakai itu.”

Diciumnya jidat ayahnya sepenuh kenangan.
Tubuh yang tak butuh lagi celana adalah sakramen.
Celana yang tak kembali adalah testamen.
“Yah, maafkan aku. Celanamu terselip
di tetumpukan kata-kataku.”

2003
"Puisi: Perjamuan Petang (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Perjamuan Petang
Karya: Joko Pinurbo
Pemeluk Agama

Dalam doaku yang khusyuk
Tuhan bertanya kepadaku,
hamba-Nya yang serius ini,
"Halo, kamu seorang pemeluk agama?"
"Sungguh, saya pemeluk teguh, Tuhan."
"Lho, Teguh si tukang bakso itu
hidupnya lebih oke dari kamu,
nggak perlu kamu peluk-peluk.
Benar kamu pemeluk agama?"
"Sungguh, saya pemeluk agama, Tuhan."
"Tapi Aku lihat kamu nggak pernah
memeluk. Kamu malah menyegel,
membakar, merusak, menjual
agama. Teguh si tukang bakso itu
malah sudah pandai memeluk.
Benar kamu seorang pemeluk?"
"Sungguh, saya belum memeluk, Tuhan."
Tuhan memelukku dan berkata,
"Doamu tak akan cukup. Pergilah
dan wartakanlah pelukan-Ku.
Agama sedang kedinginan dan kesepian.
Dia merindukan pelukanmu.

2015
"Puisi: Pemeluk Agama (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Pemeluk Agama
Karya: Joko Pinurbo
Punggungmu

Ibu kota Jakarta adalah punggungmu.
Punggung yang sabar menanggung beban
kerjamu,
bangun pagimu,
pulang malammu,
perjalanan macetmu,
pegal-pegalmu,
masuk anginmu,
ingin ini ingin itumu,
kenapa begini kenapa begitumu,
aku kudu piyemu,
tunjangan kesepianmu,
jaminan kewarasanmu,
surga sementaramu,
yang berhenti di ngantuk matamu.
Mata yang masih bisa bilang
"selamat pulang, pejuang"
walau perjuanganmu gugur di tempat tidur.
Punggungmu terbungkuk-bungkuk
menggendong kursi kehormatanmu.
Kursi kerjamu.
Kursi makanmu.
Kursi mimpimu.
Kursi mabukmu.
Kursi ibadahmu.
Kursi panasmu.
Kursi yang berganti-ganti kaki.
Kursi saktimu.
Kursi yang diduduki banyak orang.
Kursi sakitmu.
Kursi yang sabar menanggung bebanmu.
Bila aku bersandar di punggungmu
dan menyimak suara tubuhmu,
aku bisa mendengar gemuruh hujan
diiringi tiga letusan petir.
Tiga letusan petir yang, jika diterjemahkan
ke dalam bahasa Indonesia,
berbunyi, "Bubar, bubaarr, bubaaarrr."

2015
"Puisi: Punggungmu (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Punggungmu
Karya: Joko Pinurbo
Doa Kemerdekaan

Ya Allah ya Tuhan kami
Di hari kemerdekaan negeri kami
Kami memohon kepada-Mu, ya Allah
Ilhamilah kami untuk dapat menyadari dan mensyukuri
Dengan benar rahmat agung anugerah-Mu,
Nikmat kemerdekaan kami.

Berilah kepada kami dan pemimpin-pemimpin kami
Kecerdasan memahami arti kemerdekaan yang benar
Berpuluh tahun kami dijajah oleh kebodohan kami
Berpuluh tahun kami dijajah oleh bangsa asing dan bangsa sendiri
Dan kini setelah merasa merdeka kami mulai dijajah
Oleh nafsu dan kedengkian kami sendiri
Ya Allah ya Tuhan kami,
Jajahlah kami, jajahlah kami oleh-Mu sendiri
Merdekakanlah kami
Jangan biarkan selain-Mu, termasuk diri-diri kami,
Ikut menjajah kami.

Jangan biarkan kami terus menjadi hamba-hamba-Mu
Yang tidak menyadari kehambaan
Jangan biarkan kami terus menjadi bangsa budak
Yang tidak menyadari kebudakan
Kuatkanlah kami untuk hanya menghamba kepada-Mu
Dan menjadi tuan atas diri-diri kami.

Ya Allah ya Tuhan kami Yang Mahabijaksana
Karuniailah pemimpin-pemimpin kami kearifan dan kebijaksanaan
Bukakanlah hati mereka bagi menjunjung tinggi kejujuran dan menegakkan keadilan
Bagi mementingkan kepentingan bersama melebihi kepentingan sendiri
Karuniailah bangsa kami pemahaman terhadap makna kemerdekaan yang sesungguhnya
Agar dapat membedakan antara demokrasi dan anarki.
Karuniailah kaum beragama kami pemahaman terhadap makna agama yang sebenarnya
Agar dapat membedakan antara jihad di jalan Tuhan dan jihad di jalan setan.

Ya Allah ya Tuhan kami Yang Maha Pengampun
Ampunilah dosa-dosa kami dan para pemimpin kami
Ya Allah ya Tuhan kami Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Kasihi dan sayangilah kami seperti Engkau mengasihi dan menyayangi para kekasih-Mu.

Amin.

"Puisi: Doa Kemerdekaan (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Doa Kemerdekaan
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)